When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Hanya Mimpi Bagimu


__ADS_3

Tidak ada acara makan malam romantis antara dua pria kali ini, atau adegan ranjang geng pelangi. Dua orang itu duduk diam saling berhadapan. Wajah mereka terlihat tenang tanpa ekspresi. Sedikit senyuman mencibir terlihat dari bibir mereka.


Segelas susu dan white coffee terhidang di hadapan mereka.


"Bunga peony mendayu-dayu..." cibir Kenzie dengan sedikit senyuman.


"Jangan salah paham, aku tidak mencintaimu..." sindir William juga ikut tersenyum mengingat hal memalukan yang baru saja terjadi.


Aura permusuhan tingkat tinggi menyeruak di ruangan ini. Sementara Corrie berada di lantai dua mengamati segalanya dari atas tangga. Senyuman terlihat di wajahnya, semakin menarik saja. Sudah lama tidak melihat William serius.


"Apa kamu fikir dapat mengintimidasi Giovani dengan mudah? Aku akan melindunginya." Kata-kata yang diucapkan Kenzie.


"Awalnya aku berfikir keras bagaimana cara untuk menyingkirkan Giovani. Tapi aku berubah fikiran, dia cukup pantas untukku," William tersenyum aneh, meraih segelas susu miliknya.


"William Virgon Nugraha, anak dari Sanjaya Dinata. Ayahmu adalah saingan terberat kedua keluarga kami. Tentu aku mengenal bagaimana pengusaha tua tidak beretika itu. Anaknya? Tentu akan sama saja dengan ayahnya kan?" cibiran dari Kenzie tertawa kecil.


Sejenak menghentikan tawanya."Jika tujuanmu berpura-pura polos untuk mengambil alih Sandayu Group, tidak akan pernah bisa. Aku akan melindungi Giovani darimu,"


William menggeleng."Tunanganmu yang pertama menjeratku untuk menikah. Aku hanya ingin tau apa tujuannya, jadi aku diam. Tapi ada saatnya aku berubah fikiran. Aku tidak tertarik dengan bisnis, berbeda dengan ayahku. Akan lebih baik mempunyai istri seorang Giovani, membuatnya melahirkan keturunanku, tentang Sandayu Group. Mungkin lebih baik mengembangkannya dengan keturunan kami."


"Merebut tunangan orang lain? Apa bisa? Cepat atau lambat kalian akan berpisah." gumam Kenzie meminum white coffee di hadapannya.


"Merebut istri orang lain? Aku akan menghancurkanmu perlahan." Kata-kata penuh kebencian, wajah mereka sama-sama tersenyum. Tapi membuat, tidak ada yang berani mendekati mereka. Aura yang benar-benar pekat.


Corrie memakan keripik kentangnya dari atas sana. Menghela napas kasar, wajahnya tersenyum. Setiap detik semakin menarik saja rasanya, jarang-jarang dapat melihat William serius.


"Cium! Cium! Cium! Cium!" sorak Corrie dari lantai dua. Dua orang yang menoleh bersamaan ke arahnya, bagaikan ingin mencabik-cabiknya.


Pemuda itu menelan ludahnya."Kalian lanjut saja pacarannya, aku tidak akan menggangu..." gumamnya terkekeh.


"Mereka benar-benar tidak bisa diajak becanda..." batin Corrie, masih saja menonton.


*


"Berapa? Tidak, maksudku kesepakatan apa yang dapat membuatmu melepaskan Giovani." Kalimat Kenzie terus terang.

__ADS_1


Siapa yang akan percaya pada anak Sanjaya Nugraha? Menikahi Giovani tanpa tujuan, tidak mungkin. Melindungi tunangannya adalah prioritasnya saat ini.


"Aku rasa kamu benar-benar salah paham dengan hal ini. Sudah aku bilang dia milikku." Kalimat yang diucapkannya, menampakan senyuman hangat yang ganjil.


"Milikmu?" Kenzie tertawa, perlahan mendekat."Pecundang sepertimu akan aku injak dengan kakiku."


"Hanya mengeluarkan sedikit uang, aku dapat mengurus pemakamanmu." Kalimat balasan dari William.


"Gila!" gumam Corrie dari lantai dua. Bagaimana bisa ada yang mengimbangi William jika sudah serius? Pemuda itu menggeleng takjub, kemudian mengunyah keripik kentangnya dengan cepat.


Hingga suara pintu yang terbuka terdengar Jimmy datang masih menggunakan pakaian prakteknya. Aura ruangan seketika berubah, Kenzie berjalan mendekatinya membawa sebuah paperbag.


"Jimmy!" Ucapnya mendekat seperti seorang sahabat."Bagaimana sudah punya pacar?" tanya Kenzie terkekeh, memukul pelan bahu Jimmy.


"Belum..." ucapnya terlihat lelah berjalan ke arah sofa kemudian duduk bersandar.


William mengenyitkan keningnya, mengambil kue kering kemudian memakannya penuh senyuman. Seperti biasa menjadi kakak ipar lugu tanpa dosa.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Jimmy, dijawab dengan anggukan kepala oleh mereka berdua bersamaan.


Jimmy menghela napas kasar."Kak William, dia kak Kenzie tunangan kakakku. Apa kamu menyukai kakakku? Jika tidak kamu boleh melepaskannya."


Jimmy sedikit melirik ke arah Kenzie memandang iba padanya."Ini jalan yang dipilih kak Giovani. Aku harap kak Kenzie menghormatinya."


"Aku tidak apa-apa..." Kenzie menghela napas kasar terlihat berusaha tersenyum. Siapa pun yang melihatnya mungkin akan memandang iba."Mencintai dari jauh sudah cukup. Menunggunya, menjadi tempat untuknya pulang. Itulah aku..."


Kata-kata yang terlihat tulus, entah dimana tadi pria yang mengancam William.


Jimmy menghela napas berkali-kali. Pria kekanak-kanakan dan pria baik. Bagaimana caranya menjelaskan pada mereka. Jujur dirinya tidak enak hati saat ini. Mengepalkan tangannya, dirinya harus tau jalan mana yang terbaik untuk kakaknya.


*


Brak!


William masuk ke ruang kerja. Mulai meletakkan setoples kue kering yang dibawanya. Wajahnya tetap tersenyum, diikuti oleh Corrie yang baru saja memasuki ruangan.

__ADS_1


"Jadwal besok---" Kalimatnya terpotong.


"Bagaimana dia bisa tau?" tanya William.


"Ibunya Eveline memiliki banyak orang suruhan. Ayahmu dulu sering menyinggung banyak orang, mungkin Eveline salah satunya." Jawab Corrie, menyodorkan tab berisi e-mail kiriman Aksa pada William.


"Belikan aku ramen, bawa ke kamarku kalau sudah jadi..." Kalimat dari William berjalan tanpa dosa menuju kamarnya.


"Aku bukan pelayan," gumam Corrie menahan rasa geram.


"Bukan pelayan. Tapi manager yang mengurus semua keperluanku. Omong-ngomong bisa kirimkan orang untuk---"


Plak!


Corrie memukul kepala William."Dewa yang tiba-tiba jatuh miskin. Terjerat hutang miliaran, kamu fikir itu gampang. Dan sekarang menyuruhku bertarung dengan monster!?"


"Iya! Iya! Jika dia bergerak, kali ini aku yang akan menginjaknya," kalimat penuh senyuman cerah dari William. Berjalan menelusuri lorong.


*


Sedangkan di tempat lain...


Yesy menghela napas kasar, menatap dokumen di hadapannya. Matanya sedikit melirik ke arah Dominic.


"Apa ini benar-benar menguntungkan?" tanyanya.


"Berinvestasi pada sektor pertambangan sudah pasti hasilnya besar. Dalam dua setengah tahun modal sudah kembali. Aku memberimu penawaran karena tidak ingin kamu setelah aku nikahi direndahkan oleh ibuku. Setelah menikah walaupun tidak bekerja, hasil dari saham akan terus mengalir. Lagipula rumah dan minimarket tidak dijual, hanya digadaikan." Jelas Dominic, menggenggam erat jemari tangan kekasihnya.


"Kamu bisa meruntuhkan Sandayu?" tanya Yesy yang memang menyimpan dendam pada Giovani.


Dengan cepat Dominic mengangguk."Kita akan segera menikah. Hadiah pernikahan dariku nanti adalah menjadikan Giovani Sandayu sebagai pelayanmu,"


"Menjadikan Giovani Sandayu sebagai pelayan? Gila! Memasukkan lamaran kerja ke Sandayu Group saja sampai hari ini aku tidak diterima," batin Dominic, menertawakan ucapannya sendiri dalam hati.


Yesy tersenyum, menandatangani berkas pengajuan pinjaman ke bank. Menjadi wanita karier, tidak bekerja tapi uang mengalir. Memiliki suami seorang pengusaha sukses. Tidak ada yang kurang, benar-benar tidak ada. Dirinya bagaikan putri negeri dongeng yang hidup bahagia untuk selama-lamanya setelah menyingkirkan ratu jahat (Giovani).

__ADS_1


Dalam imajinasinya Giovani akan memakai daster dengan rambut acak-acakan. Makan di lantai, tugasnya mengepel, membersihkan piring, bahkan kamar mandi. Sedangkan dirinya menjadi nyonya Dominic yang selalu bersama dengan kaum sosialita kelas atas.


Imajinasi yang indah bukan?


__ADS_2