
"Tidak!" Ucap William cepat mengalihkan pandangannya, meremat tangannya sendiri. Sejenak menghela napas kasar, dirinya adalah pria tidak boleh kalah dari wanita. Posisinya saat ini bagaikan tokoh utama wanita yang dicintai CEO pria sombong. Sangat menyedihkan bukan?
"Jadi tidak menyukaiku?" tanya Giovani tersenyum simpul, kembali mengemudikan mobilnya entah kemana. William hanya dapat berusaha menormalkan detak jantungnya. Tidak boleh tegang sama sekali, bagaimana jika malam pertama nanti? Tidak mungkin Giovani memimpin permainan kan?
Dalam bayangannya Giovani mengikat kedua tangannya menggunakan dasi. Menyerangnya habis-habisan sementara dirinya hanya dapat meracau pasrah. Ini tidak boleh! Dirinya adalah seorang pria!
"Aku mencintaimu..." Ucap William tiba-tiba memegang jemari tangan Giovani.
"Mencintaiku? Ingin ke hotel? Mau menyerahkan keperjakaanmu?" tanya wanita itu melepaskan tangan Willam malah meraba paha sang pemuda.
Dengan cepat sang pemuda polos sok Casanova menampik tangan Giovani. Mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Darahnya berdesir hebat tapi terlalu malu untuk menerkam wanita di sampingnya.
Menghela napas berkali-kali, menetralkan dirinya. Wanita agresif yang mengerikan, sentuhan jarinya di paha William bahkan masih dapat dibayangkan William hingga kini. Jika saja sedikit naik lagi... berharap sedikit naik lagi...
Tidak! Tidak boleh, William kembali bingung harus bagaimana. Pada akhirnya memulai pembicaraan."Kamu mempunyai tunangan?"
Giovani mengangguk."Itu dulu... Besok aku pulang sedikit terlambat. Tidak apa-apa kan?"
"Terlambat?" William mengenyitkan keningnya. Apa mungkin istrinya berselingkuh? Bagaikan seorang istri tidak dicintai dari CEO dingin yang dicintai banyak pelakor, maaf posisi berbalik, jadi kali ini pebinor.
"Ada tempat yang harus aku datangi. Ini penting." Ucap Giovani menghentikan kendaraannya.
Tempat mereka berada saat ini, hanya padang ilalang dengan telaga di bagian depannya. Perahu kecil dan dayungnya berada di sana.
Beberapa kunang-kunang terbang seiiring dengan langkah mereka, menyibak padang ilalang setinggi pinggang. Pemandangan yang indah bagi William. Kepalanya menonggak menatap jutaan bintang berpadu cahaya redup kunang-kunang yang terlihat.
Dua orang yang kemudian menaiki perahu kecil. Tangan mereka mendayung hingga bagian pinggir telaga di sisi lain. Tempat dengan pepohonan yang teduh, suara angin pelan berhembus membuat rimbunnya pohon bambu bertubrukan, menyisakan melodi alam yang tenang.
"Tempat ini sering aku sebut sebagai telaga kunang-kunang. Jika terlalu lelah, aku sering melarikan diri ke tempat ini. Bisa dikatakan tempat ini adalah tempatku bersembunyi." Kata-kata dari mulut Giovani.
Tempat yang memang benar-benar tenang. Mungkin penerangan di tempat ini hanya lentera kecil yang memang ada di perahu. Giovani memang sering ke tempat ini, dilihat dari banyaknya lilin yang dibungkus plastik dalam kotak aneh di perahu kecil. Perahu yang memang sering digunakannya.
Lentera unik yang terbuat dari bahan permanen, bukan lentera kertas. Kala lilin yang ada di dalamnya akan habis maka akan diganti dengan nyala lilin yang baru.
Wajah wanita itu ditatapnya. Wanita yang tersenyum mengelus pucuk kepal William. Namun, tangan Giovani dihentikan oleh William.
__ADS_1
"Aku seorang pria kamu tau? Dan kamu hanyalah seorang wanita." Kata-kata dari mulut pemuda yang masih memakai seragam bagaikan tentara, mengecup tangan Giovani.
"Bagaimana jika kita---" Ucapan Giovani yang ingin kembali mengolok-oloknya terhenti.Tiba-tiba William meraih tengkuknya tidak membiarkannya berucap. Ada apa dengan pemuda ini? Memimpin permainan lidah tanpa jeda bagaikan serakah ingin memilikinya. Tidak ingin direbut sama sekali.
Jembatan liur terlihat kala permainan itu terhenti. Kesulitan mengatur napas. Dua dahi yang saling bersentuhan, deru napas hangat yang bertubrukan.
"Jangan pernah menggodaku. Karena aku seorang pria." Senyuman yang terlihat berbeda. Sinar redup dari lentera, beberapa kunang-kunang terbang di pinggir danau. Bayangan sepasang suami-istri itu terlihat dari pantulan air telaga.
"Aku seorang pria, kamu dengar?" tanyanya pada Giovani. Tanpa sedikitpun jawaban, kembali memejamkan mata meraup rasa hangat dari bibir wanita itu.
*
Sementara itu di tempat lain, Jimmy, Corrie dan Sakha makan dalam keadaan canggung. Dua orang berusaha tidak tertawa, sejatinya tidak aneh, terlihat benar-benar rupawan. Tapi mengingat bagaimana aslinya seorang Rambo berubah menjadi boyband, siapa yang tidak ingin tertawa berguling-guling.
"Kak..." Jimmy hendak bicara.
"Jangan menertawakan ku," Satu kalimat dari Sakha yang membuat Jimmy menelan ludahnya. Bukan bentakan, tapi anak angkat orang tuanya ini memang cukup kaku dari dulu. Bukan juga orang jahat, hanya saja tidak pandai bergaul.
"Aku tidak akan menertawakan kakak. Hanya saja sudah lama kakak tidak pulang. Mungkin terakhir kali tahun lalu." Jimmy menghela napas kasar.
Sakha menghentikan aktivitas makannya."Kenapa Giovani tiba-tiba menikah?"
"Siapa peduli!" Hanya dua kata itu yang ada di otaknya.
Hingga tatapan Sakha tiba-tiba terlihat serius."Jika calon kakak ipar idamanmu tau bagaimana?"
"Dia tidak akan tau untuk sementara waktu ini. Mungkin beberapa hari lagi dia baru akan menyadarinya. Kakak taukan dia sedang mengatur produk ekspornya ke negara berkembang di Afrika. Ada beberapa wilayah dimana untuk mendapatkan sinyal internet pun susah." Jawaban dari Jimmy, membuat Corrie mulai tertarik mendengarkan.
"Kamu tau Giovani ada masalah apa dengannya hingga Giovani memutuskan pertunangan sepihak?" tanya Sakha setelah sekian tahun mencari tahu, hasilnya nihil. Tidak ada celah hingga hubungan mereka retak.
Jimmy menggeleng."Saat itu seingatku kak Giovani mengurung diri beberapa hari dalam kamar. Dia (tunangan Giovani) mengetuk pintu bertulang kali sambil menangis. Menemui kak Gio saat khusus, tapi kak Gio tidak menggubris sama sekali. Lalu beberapa minggu kemudian kakak mengambil seluruh perhiasannya untuk dijual, juga menarik hampir semua saldo rekeningnya. Pergi ke luar negeri dengan cepat. Tapi ada hal mengganjal sampai saat ini, uang dalam jumlah besar yang dibawa kakak tidak tau digunakannya untuk apa. Karena kakak tinggal di apartemen sempit di Jerman."
"Bukannya Gio menerima kiriman uang dari ayah dan ibu?" tanya Sakha tidak mengerti.
"Ayah dan ibu mengirimkan uang dengan nominal tidak sedikit setiap bulannya. Tapi kakak memilih jalur beasiswa. Beberapa bulan setelahnya kak Giovani sempat pulang kembali. Tapi hanya satu hari. Setelah itu kembali tinggal di Jerman." Jimmy mencoba mengingat-ingat tentang perilaku aneh kakak perempuannya.
__ADS_1
Sedangkan Corrie mencoba menerka-nerka apa yang terjadi, mungkin Giovani pernah menjadi pecandu narkotika? Tapi menjadi pecandu bagaimana bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah? Atau mungkin Giovani memiliki pacar lain seorang mafia yang memerasnya?
*
Sedangkan ditempat lain. Seorang anak berpakaian ala detektif Conan berlarian di lorong. Anak rupawan yang lengkap memakai dasi kupu-kupu.
Tepatnya di sebuah panti asuhan. Tidak seperti anak lainnya yang tinggal berhimpitan, dirinya memiliki kamar sendiri.
Berlarian aktif, benar-benar cerdas dengan wajah rupawan terlihat seperti putra kalangan atas.
"Nek!" teriaknya mengetuk pintu pemilik panti.
"Eden," Sang pemilik panti tersenyum.
"Dua hari lagi ibu akan datang. Katanya dua bulan lagi Eden akan kembali tinggal di Jerman bernama ibu." Ucap anak itu antusias. Tidak sering datang, namun ibunya tetap menyempatkan diri setiap ada kesempatan.
"Ibumu tidak pernah mengingkari janjinya. Jadi Eden tidak boleh berbuat nakal lagi pada penghuni panti lainnya ya?" tanya sang pemilik panti.
Anak itu tersenyum dan mengangguk, segera berjalan menuju kamarnya. Seorang anak yang terlihat benar-benar senang.
Kamar dengan kasur tingkat? Tidak, kamar ini memiliki tempat tidur seukuran king size. Dengan berbagai macam perabotan berkelas. Buku-buku tersusun rapi, begitu juga berbagai mainan dengan harga tidak murah berada dalam lemari khusus.
Empat tahun tinggal di Jerman dengan sang ibu. Sedangkan lima tahun tinggal di tempat ini, awalnya dirinya membenci ibunya. Tapi kini dirinya paham kala sang ibu menangis di hadapannya. Berjanji setelah menyelamatkan perusahaan sang kakek, akan kembali tinggal di Jerman bersamanya.
Anak yang benar-benar manis, setiap hari mengirimkan pesan pada ibunya. Mengetahui betapa tertekannya kehidupan sang ibu.
Memakan makanan manis. Sedikit melirik ke arah fotonya dan Giovani."Ibu! Aku ingin cepat pulang!" jeritnya.
Namun, menghela napas kasar mengingat beberapa bulan lalu sang ibu mengirimkan foto seorang pemuda. Matanya menelisik mencari foto itu di galerinya. Membandingkan wajahnya sendiri dengan pria yang dinikahi ibunya.
"Tidak mirip, berarti bukan ayahku." Gumamnya menyadari wajah dirinya dan sang ibu memang tidak mirip sama sekali, berarti seharusnya mirip dengan ayahnya. Sedangkan orang yang menikah dengan ibunya tidak mirip dengan ayahnya.
Anak itu membenahi kacamatanya."Kebenaran hanya ada satu!" kalimat yang ditiru nya dari detektif Conan. Berasumsi jika Giovani tidak menikah dengan ayah kandungnya.
Tidak apa, yang penting ibunya bahagia. Namun, jika ibunya menangis lagi itu tidak akan dapat diterima olehnya.
__ADS_1
Seorang anak yang bersikap mengenakan piyama nya, setelah melepaskan kacamatanya.
Merindukan pelukan seorang ibu, dan mungkin sang ayah.