
Dentingan suara sendok beradu terdengar. Anak yang tersenyum menyiapkan meja makan. Sedangkan dua orang terlihat fokus masak. Perfeksionis mungkin itulah sosok dua orang yang tengah menghidangkan satu persatu makanan yang mereka buat.
Wajah hangat mereka tersenyum pada sang putra. Ibu dan ayah yang sama-sama memakai appron. Duduk di hadapan putra mereka yang makan dengan tenang.
"Ibu dan ayah tidak makan?" tanya Eden pada dua orang di hadapannya.
"Tidak,"
"Tidak,"
Jawaban mereka bersamaan. Menatap penuh harap pada putra mereka.
"Eden, masakan mana yang paling enak. Masakan ibu atau ayah?" tanya Kenzie menelan ludahnya. Sedangkan Giovani terdiam menunggu jawaban putranya.
Sang anak mencoba menilai masakan. Hingga kala dirinya mencoba menelan makanan satu persatu. Anak itu terdiam sesaat membuat suasana semakin tegang.
"Aku... masakan ayah lebih enak." Jawaban darinya.
"Yes! Yes! Yes!" Kenzie berteriak kegirangan. Kemudian menunjuk-nunjuk ke arah Giovani menunjukkan selebrasinya."Aku menang kamu kalah. Aku menang lagi!"
Jiwa kompetisi yang tidak berubah sama sekali. Sedangkan wajah Giovani terlihat ditekuk bagaikan anak kecil. Wanita yang segera bangkit dengan cepat memutar pergerakan Kenzie kemudian membanting tubuhnya.
"Agghhh..." Kenzie meringis belum siap menerima serangan."Curang! Ini kekerasan dalam rumah tangga..." ringisnya.
Sedangkan Eden mengenyitkan keningnya. Berjalan mendekati ibunya."Masakan ibu yang terbaik!"
"Anak pintar..." wajah Giovani tersenyum mengacak-acak rambut putranya gemas.
Waktu yang dilalui bersama. Detik demi detik yang paling menyenangkan dalam hidup Eden. Ada kalanya dirinya naik ke troli belanja. Dengan Kenzie yang mendorongnya, berteriak tertawa bersama. Giovani mengejar mereka dengan cepat, sambil membawa belanjaan yang diturunkan.
Hasilnya, mereka berlutut sambil dimarahi. Namun senyuman tetap mengembang di wajah dirinya dan sang ayah. Pada akhirnya walaupun berdecak beberapa kali, Giovani tetap membuatkan makanan hangat. Kembali tersenyum seperti sedia kala. Inikah rasanya memiliki keluarga yang sempurna?
Hingga kalimat itu tercetus dari mulutnya kala dirinya Kenzie dan Giovani tengah memetik anggur bersama.
"Kenapa ibu dan ayah harus berpisah? Kenapa tidak menikah saja?" Pertanyaan dari wajah polosnya.
Kalimat yang membuat Giovani terdiam, meminum beberapa butir obat sekaligus tanpa air sedikit pun. Pipinya terlihat sedikit basah akibat air mata, tapi wajahnya kini tersenyum.
__ADS_1
"Karena kami adalah sahabat yang diberikan seorang anak. Kami tidak dapat menikah." Itulah kalimat yang diucapkan Giovani.
Kenzie terdiam sesaat, tidak mengerti sama sekali. Namun, wajahnya tersenyum memeluk Eden dan Giovani."Dia menganggap sahabat, tapi ayah menganggapnya pasangan hidup."
Giovani mengenyitkan keningnya, berusaha keluar dari pelukan Kenzie. Namun wajah damai putranya terlihat. Hanya beberapa menit, membiarkan suasana hening sesaat.
Kediaman memang hal yang sulit untuk ditemukan.
Kala sore menjelang, harum aroma perapian menyebar. Menghangatkan tubuh di hadapan api yang membakar kayu kering. Dua orang yang sama-sama terdiam. Sedangkan Eden telah terlelap di dalam kamarnya.
"Kamu mencintainya?" tanya Kenzie memulai pembicaraan. Menghela napas berkali-kali menyadari sudah 10 tahun berlalu sejak hubungan mereka kandas.
"Iya..." Kalimat yang terucap dari bibir Giovani membuat pemuda itu membulatkan matanya.
"Tapi kini tidak..." lanjut Giovani.
Dua orang yang kembali terdiam sesaat. Menghela napas berkali-kali."Sebenarnya tidak masuk akal. Apa yang terjadi?"
"Psikiater yang memintaku. Perasaan manusia dapat berubah seiring waktu. Begitupun perasaanku padamu atau pun padanya (William). Aku ingin melupakanmu, dan itu perlahan dapat aku lakukan. Perlahan aku juga akan melupakannya." Wanita yang menatap ke arah perapian terlihat tanpa ekspresi sama sekali.
Seperti komputer yang dapat di restart. Apa hati manusia juga? Entahlah tapi raut wajah lelah menghinggapi Giovani saat ini. Tangan Kenzie menggenggam erat jemari tangannya.
"Mau main catur?" tanya Giovani penuh semangat.
Inilah yang membuatnya tidak dapat melupakan Giovani 10 tahun ini. Semua wanita yang mendekatinya, sama saja. Hanya menggodanya dengan kecantikan, tidak ada yang benar-benar ingin mendekati hatinya.
Sama saja, mementingkan diri sendiri. Cara berfikir yang berbeda, itulah dalam diri Kenzie. Dirinya tidak memerlukan wanita cantik atau cerdas, yang diperlukannya wanita yang membuatnya nyaman. Tidak pernah tersemat kata bosan setiap melihat gerak-geriknya.
*
William tersenyum menatap ke arah jendela pesawat. France menjadi tujuannya, perlahan pesawat yang ditumpanginya mulai mendarat.
Menarik koper miliknya, pemuda yang memakai kacamata hitam. Memakai pakaian casual.
Sedangkan Corrie yang berada di belakangnya membawa dua koper besar."Kamu yang punya anak! Kenapa aku yang repot!" gerutunya mengingat benda-benda yang ada dalam koper.
Siapa sangka Giovani memiliki anak angkat. Bahkan anak angkat yang mirip dengan Kenzie.
__ADS_1
Dua orang yang masuk ke dalam taksi. Corrie menghela napasnya berkali-kali setelah memasukkan barang mereka ke dalam bagasi.
"Kamu yakin itu hanya anak angkat. Bisa saja sebelum menikah Kenzie dan Giovani sempat melakukannya. Lalu untuk menutupi aib..." Kalimat Corrie disela.
"Apa urusannya? Anak dari istriku artinya adalah anakku. Bukan anak Kenzie." Pemuda yang tersenyum. Benar-benar dapat tersenyum. Pernahkah mendengar obsesi dan cinta menjadi satu? Itulah yang dialaminya saat ini.
Masa bodoh, Giovani pernah melahirkan anak Kenzie. Yang jelas sekarang Giovani adalah istrinya, anak itu adalah anaknya. Dicampakkan 12 tahun lalu sudah cukup untuknya. Kali ini tidak akan membiarkan dirinya dicampakkan lagi.
"Itu anak Kenzie dan Giovani. Lihat saja wajahnya benar-benar mirip Kenzie kan?" Corrie kembali mengeluarkan phonecellnya menunjukkan foto Eden.
"Kamu tidak lihat mata dan bibirnya mirip denganku? Anak istriku adalah anakku!" Kalimat yang terucap dari bibir William. Terdengar tidak ada sedih-sedihnya sama sekali.
Sedangkan Corrie mengenyitkan keningnya kembali memasukkan phonecell ke dalam sakunya."Inti dari ucapanmu, 10 tahun lalu kalian membuatnya bertiga. Satu wanita melawan dua pria..."
Plak!
"Sudah aku bilang dia istriku. Jangan bicara sembarangan tentangnya." Kalimat penuh penekanan dari William usai memukul kepala Corrie.
"Kenapa kamu berubah seperti ini!? Sebelumnya kamu hanya budak cinta! Tapi sekarang malah menjadi kacung dengan senang hati!" Ucap Corrie tidak mengerti.
"Karena dari awal dia adalah milikku. Kamu tau hadiah ulang tahun ke 18 yang belum sempat diberikan ayahku?" tanya William, dengan cepat Corrie menggeleng.
"Seminggu ini aku kembali ke rumah ayah untuk mengambil beberapa dokumen. Dan mengambil alih beberapa usaha sampingan ayah yang sudah tidak begitu produktif. Ayahku menyembunyikan tentang Giovani." Pemuda itu meraih sebotol air putih kemudian meminumnya sedikit.
"Menyembunyikan?" Corrie mengenyitkan keningnya.
"Sanjaya, ayahku memiliki banyak musuh termasuk Sandayu. Saat berumur 16 tahun aku terobsesi dengan seorang wanita. Merengek meminta pada ayahku untuk menemukannya. Tapi ayahku mengatakan tidak ada informasi sama sekali. Padahal kenyataannya ayah mengetahui semuanya. Aku menyukai putri keluarga Sandayu. Karena itu di setiap kesempatan selama dua tahun ayah merendahkan harga dirinya di hadapan keluarga Sandayu. Melepaskan beberapa kesempatan bisnis untuk mereka. Ingin menjalin hubungan yang lebih baik. Agar dapat menarik putri mereka untuk menjadi menantunya. Ayahku berniat akan pergi ke kediaman keluarga Sandayu, setelah mengetahui putusnya pertunangan Giovani dan Kenzie. Berkata akan memberikan hadiah ulang tahun padaku. Tapi, pagi hari sebelum sempat mendatangi kediaman Sandayu, ayahku dinyatakan meninggal karena penyakitnya." William tersenyum, menghela napas berkali-kali. Mengingat sang ayah yang hanya 2 tahun dikenalnya.
"Kamu tau darimana?" Corrie mengenyitkan keningnya.
"Dalam barisan dokumen, ada beberapa aset ayah dimana keuntungannya digunakan untuk menggaji beberapa orang. Bawahan ayah sudah berada di Sandayu Group selama 12 tahun. Membantu Sandayu menghadapi krisis, mengandalkan relasi almarhum ayah. Ayah ingin memberikan Giovani padaku sebagai hadiah di ulang tahunku yang ke 18." Jawaban dari William.
"Intinya?" Corrie menghela napas kasar. Semuanya tidak merubah kenyataan di hadapan mereka saat ini. Kecuali William mengancam meruntuhkan Sandayu Group, dengan mengandalkan orang-orang ayahnya. Tapi jika melakukannya Giovani akan membencinya.
"Intinya aku mendapatkan restu dari almarhum ayah." Kesimpulan aneh yang keluar dari mulut William membuat Corrie memijit pelipisnya sendiri. Untuk apa mendapatkan restu dari orang yang sudah mati?
"Kamu tidak apa-apa jika harus menerima anak Giovani dan Kenzie?" tanya Corrie memastikan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, dia yang membuatku tersenyum setiap malam. Juga membuat hidup ibuku sedikit lebih panjang. Hanya menerima seorang anak, tidak masalah samasekali."