
Perasaan yang berubah-ubah terkadang sulit dikendalikan, ini benar-benar aneh. Dengan pakaian yang basah tekena noda darah Giovani berjalan meminta kepala pelayan mengantarnya menuju stasiun radio. Dengan tujuan untuk menghajar seorang pemuda.
Simson (kepala pelayan) yang sudah bekerja 19 tahun di rumah itu mengenyitkan keningnya. Ada yang tidak wajar dengan nona mudanya. Terutama tentang luka goresan pisau yang telah di balut perban pada pergelangan tangan kirinya.
"Nona, lebih baik kita ke rumah sakit. Ini sudah terlalu malam. Luka anda harus diobati." Ucap Simson.
"Aku harus menghajar seseorang sebelum dia melarikan di---" Kalimat Giovani berganti dengan teriakan. Sang kepala pelayan mengangkat tubuhnya bagaikan karung beras. Di rumah ini memang tidak ada yang tidak bisa dikalahkan kecuali sang kepala pelayan.
"Aku ingin---" kata-kata Giovani disela.
"Anda harus menurut. Jika tidak saya akan melaporkan ini pada tuan dan nyonya." Kalimat dari kepala pelayan yang mungkin sudah menganggap Giovani sebagai keluarganya.
"Aku majikannya atau kamu!?" bentak Giovani.
"Anda sedang sedih bukan? Ini tidak terjadi sekali. Anda bahkan sering memanjat pohon agar dapat terjatuh, menahan sakit di dada agar cepat mati." Sang kepala pelayan asal menebak, ingin mengetahui kondisi psikologis remaja ini.
Gadis yang awalnya bersemangat tiba-tiba menitihkan air matanya."Kenzie menyukai orang lain. Dia hanya iba padaku..." hanya kalimat itu yang diucapkannya.
Sang kepala pelayan menurunkannya di tempat parkir kemudian memeluknya. Membiarkan Giovani menangis dalam pelukannya. Pelukan seorang ayah? Inikah rasanya. Ayahnya sendiri, tuan Sandayu sibuk mengurus bisnis. Bahkan hari ini langsung pergi setelah perayaan ulang tahun Jimmy.
Ibu dan adiknya akan berangkat lusa mengikuti sang ayah. Dengan alasan Jimmy masih belum mandiri jika ditinggalkan sendiri. Ada bahu orang dewasa untuk tempat sang remaja menangis.
"Kita ke rumah sakit..." kalimat hangat dari Simson.
*
Luka di pergelangan tangannya memang diobati. Sekaligus menemui seorang psikiater. Berbagai hal ditanyakan, ada kalanya Giovani menangis seperti tanpa tenaga. Ada kalanya juga bersemangat, berbinar menjadi ceria seperti semula.
Remaja yang dengan antusias menceritakan berbagai penghargaan yang didapatkannya. Serta tentang pria br*ngsek yang sembarangan bicara mengatakan mereka memiliki hubungan.
Namun segalanya berubah setelah Giovani diminta menceritakan tentang keluarganya. Seluruh anggota keluarganya perhatian padanya hanya di hadapannya saja, selebihnya hanya keluhan yang didengarnya.
Ada kalanya dirinya terbangun tengah malam. Ingin meminum air dengan alat bantu pernapasan yang masih terpasang.
"Kambuh lagi! Gara-gara kambuh lagi aku tidak bisa hadir di pertemuan! Sial!" keluh sang ayah saat itu.
Ada juga pertengkaran antara ibu dan ayahnya. Tentang siapa yang akan menjaganya di rumah sakit.
"Aku harus mengurus butikku juga! Tidak bisa begitu! Hari ini stok barang datang!" tegas sang ibu.
"Proyek ini bernilai puluhan miliar! Kamu fikir bawahanku bisa menghendel. Terkadang... terkadang aku berfikir kenapa putri kita tidak mati saja. Maaf... tidak seharusnya aku begitu..." sang ayah menangis terisak menyesali kata-katanya yang seakan mengutuk putrinya sendiri.
Hanya pura-pura tidur, pura-pura tidak mendengar.
Ada juga saatnya dimana Jimmy yang terlalu muda sakit demam berdarah mungkin karena usianya yang terlalu muda memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Sama seperti sebelumnya, mereka tidak berkata di hadapannya. Hanya tersenyum di hadapannya.
Tapi dirinya mengetahui terkadang di lubuk hati mereka yang terlalu lelah menjaganya mengharapkan kepergiannya. Sama dengan hari ini dirinya merasa tidak diperlukan, menatap dirinya yang ada diantara Kenzie dan Fifi.
__ADS_1
"Lebih baik mati..." satu kalimat itu diucapkannya di hadapan psikiater di akhir cerita dan pertanyaan yang dilontarkan sang psikiater.
Sang psikiater mulai menggeleng-gelengkan kepalanya mendiagnosa."Bipolar disorder," gumamnya.
"Bipolar disorder? Tapi nona tumbuh di lingkungan yang baik dan---" Kalimat Simson disela.
"Ini dari bagaimana dia menyikapi suatu masalah itulah penjelasan singkatnya. Mungkin pada awalnya hanya sekedar melukai diri sendiri. Tapi kejadian traumatis hari ini---" sang psikiater menghela napas kasar menatap pergelangan tangan kiri pasien yang berbalut perban. Sudah menduga apa yang terjadi.
Giovani tertawa kecil."Bipolar disorder? Aku?" gumamnya."Jangan katakan ini pada orang tuaku..." pintanya menangis tidak ingin ada orang yang mengurusnya atau iba padanya lagi.
*
Pagi mulai menyapa Kenzie terbangun di atas matras. Merutuki hal yang terjadi, menyadari yang ada di sampingnya bukan tunangannya. Pemuda yang memakai pakaiannya dengan cepat, meraih botol wine yang sebelumnya dibawa Fifi.
"Bau obat..." gumamnya, menyadari bau khas kimia. Pemuda yang sudah terbiasa meminum wine itu tidak mungkin mabuk begitu saja.
Prang!
Botol dipecahkannya membuat isinya berhamburan. Membangunkan wanita yang tengah terlelap.
"Kenzie? Apa yang ki...kita lakukan? Kamu akan bertanggung jawab kan? Karena sudah mengambil kesucianku. Aku---" Kalimatnya terhenti kala Kenzie mencengkeram erat pipinya.
"Wanita penghibur," gumamnya meremehkan."Mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku!? Ingin rasanya aku mencabik-cabikmu."
"Aku mencintaimu..." ucap Fifi.
"Aggh! S*al!" teriak Fifi murka, namun wanita itu tersenyum sejenak menyadari tanpa diberitahu pun Giovani sudah melihat segalanya dari balkon.
*
"Taruh di mobilku!" perintah Kenzie pada seorang pelayan.
"Baik tuan..." ucapnya melangkah pergi.
Jantung pemuda itu berdegup cepat, bingung bagaimana jika Giovani mengetahui segalanya. Ingin rasanya merutuki kebodohannya. Kenapa dapat terjerat trik semudah itu?
Hingga gadis itu terlihat, tersenyum padanya."Kenzie, kamu baru bangun? Sebaiknya mandi dulu di kamarku," ucap Giovani yang sepertinya baru datang bersama kepala pelayan.
Dirinya bernapas lega, setidaknya tunangannya tidak mengetahui kesalahan yang telah dilakukannya.
"I...iya, tunggu aku untuk sarapan," pemuda yang bergerak cepat ingin rasanya segera membersihkan dirinya. Risih! Wanita yang mungkin pernah ditiduri pria lain. Setidaknya dirinya mengetahui dari beberapa temannya di luar negeri. Tidak semudah itu selaput dara dirobek, apa dirinya akan terkena penyakit menular? Bagaimana jika Giovani tau?
Semoga dirinya hanya dihajar habis-habisan. Tidak ada istilah bertengkar atau didiamkan. Lebih rela jika tubuhnya diremukkan dari pada harus melihat tunangannya mendiamkannya atau memutuskannya.
Kenzie memasuki kamar Giovani yang tidak terkunci. Dua orang pelayan terlihat berada di sana membersihkan kamar.
"Tuan..."
__ADS_1
"Tuan..."
Ucap mereka bersamaan tertunduk memberi hormat.
"Aku akan menunggu kalian selesai. Aku mau mandi..." ucapnya duduk di tepi tempat tidur. Matanya menelisik, mengamati ada yang aneh dari air bathtub yang terkuras. Hanya samar karena air surut dengan cepat. Warna merah bagaikan bercampur dengan darah. Ditambah seorang pelayan yang memasukkan pisau berukuran kecil yang berlumuran darah ke tempat sampah.
Kenzie terdiam termenung sendiri. Belum mengerti dengan apa yang terjadi. Dengan cepat membersihkan dirinya, kala kamar mandi telah dibersihkan total.
Banyak hal yang ada di fikirannya kala membiarkan derasnya shower menerpa tubuhnya. Jemari tangannya mengepal mengingat segala hal tentang Fifi. Tidak ada rasa benci, lebih pada rasa menjijikkan.
Bahkan dirinya terlalu takut untuk mencium Giovani, mengingat usia tunangannya yang masih terlalu muda tidak ingin keterusan hingga meniduri dan melukainya. Tapi malah ada kejadian seperti ini.
Bug!
Pemuda yang memukul tembok menatap pantulan wajahnya di cermin."Giovani tidak akan tau..."
*
Namun kala pemuda itu telah kembali dari membersihkan dirinya. Matanya menelisik menatap ekspresi Giovani yang tidak seperti biasanya.
"Giovani, ayahmu membawakan perhiasan baru. Boleh aku pinjam untuk pergi ke pesta." Kalimat yang diucapkan Fifi.
Giovani menghentikan aktivitas makanannya."Sebenarnya aku heran kenapa kamu masih tinggal di sini. Sedangkan ibumu sudah dipecat satu tahun lalu," ucapnya menyeringai.
"Ki...kita teman, bahkan seperti saudara. Jadi---" Kalimat Fifi disela.
"Benar, sampai-sampai setengah dari perhiasan pemberian ayahku aku pinjamkan padamu. Jumlah pakaianmu lebih banyak dari pakaianku, karena kamu memintanya dengan dalil sahabat. Kakakku Sakha yang berstatus anak angkat saja dapat begitu menyayangiku dan Jimmy. Ingat hari ulang tahunku untuk memberikan hadiah. Apa kamu pernah memberikan hadiah?" tanya Giovani masih setia tersenyum, mengiris daging di hadapannya.
Sementara Sakha yang pulang satu malam hanya untuk merayakan ulang tahun Jimmy menahan tawanya.
Status? Fifi hanya anak pelayan yang disayangi karena Giovani. Mendapatkan segala fasilitas yang seakan direbutnya dari Giovani. Bahkan pakaian, wanita ini benar-benar gila. Bukan hanya malas untuk belajar, tapi terkadang dirinya memelas meminta uang bulanan milik Giovani.
Gadis yang tidak memiliki seorang teman itu, pada akhirnya memberikan setengah jatahnya setiap bulan. Biaya kuliah Fifi pun sejatinya ditanggung oleh Denisa. Jadi terlalu dimanjakan beginilah akibatnya, semua uang dihamburkannya, selalu merasa melebihi anak kandung.
Sakha yang tersenyum simpul."Tidak tau diri." Hanya itulah kalimat yang diucapkannya, tertuju pada Fifi.
Mengacak-acak rambut Giovani, penuh senyuman."Jika sudah jenuh padanya carilah teman lainnya. Usir dia dari rumah sebelum nanti meminta warisan karena mengira dirinya anak kandung." lanjutnya, berjalan menuju pintu depan dengan membawa koper. Karena hari ini juga dirinya harus kembali ke akademi militer.
"Akhirnya Giovani waras!" batin Sakha pergi penuh senyuman.
Sementara Fifi hanya dapat mengumpat kesal dalam hatinya berusaha tersenyum."Itu karena kamu mempunyai banyak hadiah. Karena itulah aku terlalu bingung memberikan hadiah apa untuk ulang tahunmu."
Giovani tersenyum remeh."Tidak terlalu banyak, karena lebih dari setengah hadiahnya kamu ambil."
"Giovani! Kita ini seperti saudara kamu jangan---" Kalimat Fifi yang tersulut emosi disela.
"Kembalikan perhiasan yang kamu pinjam. Termasuk kalung berlian yang dijual tanpa surat-surat." Giovani menatap dingin, pada wajah Fifi yang terlihat pucat pasi.
__ADS_1