
Langit tiba-tiba menjadi gelap, mungkin hujan pun tau raja kejahatan akan muncul.
"Ayo kembali ke villa." Ucap Kenzie membiarkan Eden naik ke punggungnya. Sementara Giovani berjalan mengikuti mereka membawa anggur yang baru mereka petik. Benar-benar bagaikan liburan keluarga bukan?
Area villa yang tidak begitu luas. Tiga orang yang terdiam sesaat, menatap pintu depan yang terbuka. Kenzie menghela napas kasar, menurunkan Eden dari punggungnya.
"Lindungi Eden!" perintahnya pada Giovani, menduga ada perampok yang masuk.
Hingga pada akhirnya dirinya mulai mendekat dengan jantung yang berdegup cepat. Apa mungkin Kenzie jatuh cinta pada William? Hingga jantungnya berdegup cepat setiap kehadiran William?
Kala pintu villa dimasuki ke-tiga orang itu, wajah polos makhluk pengganggu itu terlihat. Pemuda yang duduk di sofa, penuh senyuman.
"Hai!" tangan Corrie melambai pemuda itu sedang berada di lantai dua. Sedangkan William kini duduk di sofa menyambut kedatangan mereka.
Kenzie mengenyitkan keningnya."Kenapa kamu kemari?"
"Menyusul istri dan anakku." Jawaban dari William mulai bangkit. Beberapa kotak hadiah terlihat di atas meja. Benar-benar pria yang tiba-tiba dapat menjadi royal.
"Istri dan anak?" Kenzie tertawa kecil. Tidak akan membiarkan keluarga impiannya direbut.
Langkah demi langkah, pemuda itu tetap tersenyum mendekati Eden."Hai, namaku William, aku adalah suami ibumu. Jadi kamu adalah anakku. Mau ke Disneyland denganku? Aku juga punya beberapa oleh-oleh untukmu."
Eden mengenyitkan keningnya, inilah pria dengan dosa terbesar. Anak yang tiba-tiba tersenyum cerah, menatap seorang pemuda mensejajarkan tinggi dengan dirinya. Benar-benar mirip seperti kelakuan Kenzie.
Apa akan melakukan hal yang sama? Tentu saja.
"Paman, aku belajar banyak hal belakangan ini. Mau aku tunjukkan?" tanyanya tersenyum cerah.
"Apa?" William bertanya terlihat antusias.
"Ini,"
__ADS_1
Brak!
Sang anak menendang tulang kering William. Ditambah menendang lengannya hingga hilang keseimbangan dan jatuh ke belakang.
Corrie menutup mulutnya sendiri terkejut. Sementara Kenzie mati-matian menahan tawanya. Putranya tercinta memang dapat diandalkan.
Giovani, memijit pelipisnya sendiri."Jangan begitu pada paman ini ya? Enden harus sopan pada paman yang tidak Eden kenal."
"Jangan panggil paman, aku ayahmu." Diluar dugaan William tidak marah sama sekali, pemuda itu malah tersenyum. Mengangkat tubuh Eden yang meronta ingin diturunkan.
"Ayah tolong aku!" teriak Eden ingin menggapai Kenzie.
"William, turunkan Eden." Kalimat yang keluar dari mulut Giovani.
"Secara hukum aku adalah ayahnya. Ingin berpisah dariku? Jangan fikir kamu dapat melakukannya." Senyuman menyeringai dari bibir William. Matanya sedikit melirik ke arah Kenzie. Kemudian menurunkan Eden.
"Taukah kamu 12 tahun lalu tunanganmu berselingkuh denganku. Dia bahkan menarik celana panjangku hingga sempat terlepas. Kami menghabiskan setiap malam---" Dengan cepat Giovani menutup mulut busuk William. Apa pemuda ini tidak tahu malu?
William menepis tangan Giovani. Kemudian kembali berucap."Aku tidak bohong, 12 tahun tahun lalu kami menghabiskan tiap malam bersama. Jika ada anak yang lahir itu pasti anakku."
Brak!
"Kapan aku berselingkuh!? Kapan kita pacaran!?" teriaknya murka.
Tapi senyuman tidak tahu malu bahkan masih menyungging. Pria ini benar-benar, membuat geram tidak mengerti."12 tahun lalu. Kamu tinggal di villa. Kita bertemu setiap malam tanpa sepengetahuan tunanganmu. Kalau Eden sampai lahir berarti itu anakku denganmu."
Kali ini Kenzie tidak dapat berkata-kata. Logika yang benar-benar aneh untuk membenarkan tindakannya.
Giovani berusaha bersabar, berbicara dengan orang yang kesetanan harus pelan-pelan."Eden berapa umurmu?" tanya Giovani.
"9 tahun." Jawab Eden jujur.
__ADS_1
"Kamu dengar sendiri kan 9 tahun!? Apa aku hamil selama tiga tahun!? Kita bahkan tidak pacaran! Aku hanya mengajarimu bermain piano 12 tahun yang lalu!" kali ini Giovani membentak emosinya benar-benar terpancing.
"Mungkin saja kamu hamil selama tiga tahun. Kita harus bertanya pada dokter untuk itu..." Lagi-lagi kalimat tidak sesuai logika keluar dari mulutnya.
Giovani menepuk jidatnya sendiri, tidak mungkin dirinya mengatakan Eden bukan anak yang dilahirkannya kan? Lagipula dirinya tidak melakukan apapun dengan William. Eden adalah anaknya? Dokter pun akan menertawakan dirinya jika mereka benar-benar bertanya.
"I...ibu orang ini aneh..." Eden tidak dapat berkata-kata menatap ke arah William.
"William sebaiknya kamu pulang. Urus surat pembatalan pernikahan kalian." Kenzie benar-benar berusaha tersenyum saat ini. Tidak mungkin beradu mulut di hadapan putranya. Maksudnya beradu mulut dalam hal bertengkar, bukan berciuman. Karena sekali lagi William dan Kenzie tidak saling mencintai.
"Tidak akan." Jawaban dari William, kembali mendekati Eden."Aku adalah ayahmu. Karena sering menghabiskan malam dengan ibumu. Aku minta maaf karena pernah menyakiti ibumu. Jika bisa aku ingin menembusnya dengan menjaga kalian."
Kalimat penuh kesungguhan darinya. Benar-benar pria yang tebal muka.
"William sebaiknya kamu pergi," tegas Kenzie namun wajahnya masih berusaha tersenyum.
"Aku masih suami Giovani, akan tetap tinggal disini. Jikapun aku diusir aku akan membuat tenda di halaman." William kini lebih tegas lagi.
Sedangkan dari lantai dua Corrie mulai berjalan menuruni tangga. Menghela napas kasar ingin meluruskan semua ini. Tidak dipungkiri semua logika William memang tidak masuk akal. Tapi itulah William membenarkan hal yang salah, jika dalam keadaan terdesak.
"William benar mungkin saja Eden anakmu dan William. Tapi walaupun tidak, kamu mengadopsinya kemudian menikah dengan William. William akan menjadi ayah Eden secara hukum. Dengan kata lain, jika William tidak mengajukan pembatalan pernikahan. Kamu hanya dapat mengajukan gugatan perceraian. Dengan resiko William dapat merebut hak asuh Eden. Karena itu terimalah kenyataan kamu sudah memasukkan parasit dalam hidupmu. Parasit yang benar-benar sulit untuk dilepaskan." Kalimat yang terucap dari bibir Corrie dua orang yang bagaikan Sengkuni dan Duryudana. Tidak dapat dibantah walaupun secara logika mereka salah.
Pandawa, maksudnya Giovani, Kenzie dan Eden hanya dapat menghela napas kini.
Sedangkan William kini mulai berjalan mendekat.
"Aku minta maaf. Tidak mengerti dengan perasaanmu. Tidak pernah mengutamakanmu. Aku memang bodoh. Apa kamu akan memaafkanku?" tanya William pada wanita di hadapannya. Benar-benar berharap wanita ini akan kembali padanya, berucap dengan penuh ketulusan.
Jika sudah seperti ini wanita mana yang akan menolak.
"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Dari awal kita hanya fans dan superstar nya saja. Tidak ada perasaan tulus sama sekali. Kita melangkah melewati jalan masing-masing ya?" pinta Giovani penuh senyuman.
__ADS_1
"Hanya fans dan superstar. Kamu dengar? Setidaknya menjadi teman lebih baik." Kenzie menipiskan bibir berusaha agar tidak tertawa.
"Aku berkata akan berbuat brutal." William masih setia tersenyum.