When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Perpisahan


__ADS_3

Dekapan hangat dari ayah dan ibu dirasakannya setelah 16 tahun berlalu. Wajah cerahnya yang tersenyum, benar-benar menyayangi kedua orang tuannya.


"Kamu terlalu muda untuk menikah..." celetuk sang ibu mengenyitkan keningnya.


"Tapi dua tahun lagi aku boleh menikah kan Kamal (pemuda desa) saja sudah menikah padahal umurnya 17 tahun." Kalimat polos darinya, membuat Erin terdiam mengerutkan kening. Sedangkan Sanjaya malah tertawa kencang.


"Menikah tidak boleh. Kamu belum bisa bertanggung jawab dan mencari uang. Jika kamu menyukai seseorang gadis, ayah berjanji akan mengatur perjodohanmu dengannya." Kalimat dari sang ayah yang berjanji dalam hatinya akan mencari cara membahagiakan putranya.


"Jangan! William umurmu baru 16 tahun. Masih kecil ingin pacaran!" geram sang ibu.


"Anak ini akan terus memberontak jika kamu melarangnya. Bagaimana jika dia pacaran diam-diam dan tiba-tiba membawa pulang pacarnya dan tes peck bergaris dua? Kalau kita kenal wanita yang disukainya, setidaknya kita dapat mengawasi batasan mereka." Kalimat masuk akal yang diucapkan Sanjaya. Membuat Erin bersungut-sungut membuang muka.


"Jadi siapa? Apa gadis di desa? Atau teman sekolahmu?" tanya Sanjaya benar-benar penasaran dengan kehidupan pribadi putranya.


Apakah putranya seorang playboy? Atau mencintai gadis desa lugu seperti film-film jaman dulu, tentang cinta bersemi di sawah, mungkin juga cinta bersemi di kandang sapi.


Dengan cepat William menggeleng."Mereka di bawah standar ku. Wanita yang aku sukai sering mengajariku bermain piano setiap malam. Dia juga yang membayar biaya operasi ibu, sehingga mendapatkan penanganan dengan cepat."


"Mem... membayar biaya operasi ibu? Kamu tidak menggadaikan sertifikat rumah pada Wan Abu?" tanya Erin, mengira putranya meminta bantuan pada rentenir paling terkenal di desa.


Dengan cepat William menggeleng."Aku sempat mau menitipkan sertifikat rumah sebagai jaminan di rumah sakit. Tapi rumah sakit tidak mau. Pada akhirnya paman pelayan yang membayarnya. Orang suruhan wanita yang aku sukai."


Sanjaya dan Erin saling melirik. Menghela napas kasar, menatap betapa antusiasnya putra mereka pada cinta monyetnya. Namun, kali ini mereka memang harus berterimakasih. Jika tidak ada gadis itu mungkin Erin tidak akan selamat dan William tidak akan pernah memaafkan Sanjaya.


*


Beberapa hari setelahnya. Keadaan Erin berangsur pulih. Barang-barang sudah dikemas dalam bagasi mobil.


Sedangkan William tengah memakai pakaian baru yang dibelikan ayahnya. Menyemprot tubuhnya dengan parfum mahal, menyisir rambutnya menatap ke arah cermin. Wajahnya tersenyum-senyum sendiri mengingat remaja yang sempat menyeret tubuhnya hingga celana panjangnya terlepas.


Memakai topeng Venesia yang terlihat aneh. Lonceng pada ujung topeng akan berbunyi setiap sang gadis bergerak. Rasa cemas ada dalam dirinya, bagaimana jika ditolak. Pernyataan cinta pertama sang remaja.

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya sang ayah ingin rasanya tertawa melihat putranya kini. Wajah playboy, tapi hati lembek. Namun, itu lebih baik putranya tidak akan membuat kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya dulu pada Erin.


"Sudah..." jawaban dari William, mengikuti langkah ayahnya. Pembicaraan yang akan berujung pada perjodohan di usia dini. Itulah yang akan terjadi.


*


Setelah berkendara selama beberapa menit villa itu terlihat pada akhirnya. Namun sepi tidak seperti biasanya. Beberapa kali William menekan bel rumah, tidak terlihat seorang pun yang keluar.


Hingga setelah 15 menit, seorang penjaga villa keluar membukakan pintu gerbang."Ada perlu apa ya?" tanyanya tanpa mempersilakan mereka masuk.


"Bapak kenal pemilik villa ini? Saya ingin bertemu," jelas Sanjaya.


"Pemilik villa ini orang Indonesia yang tinggal di Manila. Tidak pernah datang sejak 10 tahun lalu. Mereka hanya rutin mengirim uang untuk perawatan villa, gaji saya dan penyewa selalu datang membayar langsung padanya." jelas sang penjaga villa.


"Jadi yang sebelumnya tinggal hanya penyewa? Lalu apa kamu tau alamatnya?" tanya Sanjaya dijawab dengan gelengan kepala oleh sang penjaga villa.


"Namamu William?" tanya sang penjaga villa pada remaja di hadapannya. Pertanyaan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh William.



'Untuk sahabat pertamaku William'


'Dua minggu ini merupakan hal yang menyenangkan untukku. Apa mungkin karena aku tidak pernah mempunyai sahabat? Tapi satu yang pasti, kita tidak dapat bertemu lagi. Biarkan aku melihatmu menjadi bintang yang terang dari jauh, jadilah orang terkenal seperti impianmu. Agar aku bisa melihatmu tersenyum dari jauh.'


Itulah isi surat yang tertulis, membuat pemuda itu patah hati. Ini cinta pertamanya, namun sudah seperti ini. Air matanya mengalir membasahi surat dengan tulisan tangan itu. Topeng Venesia masih ada di tangannya, topeng yang biasanya digunakan oleh cinta monyet yang tidak dikenalnya. Bahkan nama saja tidak tahu.


"Ayah dia ingin putus!" racauan William sambil menangis, membuat Sanjaya ingin tertawa rasanya.


Remaja itu bahkan terduduk di tanah."Ayah apa aku kurang tampan?" tanyanya narsis, namun tetap saja masih menangis.


"Tidak, kamu yang tertampan." Sanjaya malah menertawakan putranya, yang masih saja memeluk topeng dengan lonceng di bagian ujungnya itu.

__ADS_1


Mengapa Giovani pergi tanpa mengatakan perpisahan atau namanya? Tentu saja karena ini akan berakhir, sahabat pertama yang dimilikinya. Pergaulan yang selalu dibatasi menjadi penyebabnya. Tidak boleh bergaul dengan kalangan bawah. Itulah yang selalu ditekankan kedua orang tuanya.


Karena itulah, begitu kondisinya membaik Giovani segera kembali ke kota. Tidak ingin remaja itu mencarinya.


*


Tahun demi tahun berlalu banyak hal yang telah dilewati William. Dimulai dari kematian ibunya akibat sesak napas, sedangkan sang ayah yang memang menderita kanker otak menyusul Erin tiga minggu setelahnya.


William yang menjaga ayahnya hingga akhir hayatnya. Mungkin hanya dua tahun kebahagiaan itu berlangsung dapat menjadi keluarga yang sempurna. Satu pesan dari ayahnya, pembicaraan saat sarapan di hari kematian ayahnya.


Sebuah pesan agar dirinya mencari pasangan yang mencintainya dengan tulus. Bersedia menemaninya kala sakit maupun sehat. Seperti Erin yang menjaga Sanjaya, sepasang suami istri yang akhirnya berkumpul selama dua tahun. Terpisah akibat maut, namun mungkin akan kembali bertemu di sisi-Nya.


Mungkin karena itulah William mati-matian mengejar Yesy yang merawatnya ketika sakit. Tidak mempedulikan sejatinya ada perasaan atau tidak. Mungkin mengsugesti hatinya sendiri untuk mencintai seseorang yang mungkin hanya dianggapnya sebagai keluarga.


*


Saat ini...


William terdiam sejenak, kala tengah berkemas mencari kostum yang sesuai di mobilnya. Matanya menelisik, kotak yang sudah ada bertahun-tahun di mobilnya. Selalu dibawanya ketika pergi kemanapun.


Setelah dua tahun dilupakannya, tepatnya setelah kehadiran Yesy dalam hidupnya. William kembali membuka kotak tersebut. Tangannya terangkat, wajahnya tersenyum meraba setiap inci topeng aneh dengan lonceng di bagian ujungnya tersebut.


"Sedang apa?" tanya Corrie tuba muncul.


"Sedang bertanya pada diri sendiri. Mengapa aku diputuskan sepihak." Gumam pemuda yang masih menganggap hubungan persahabatan kala dirinya diajari bermain piano adalah hubungan cinta. Dalam kata lain pacaran ala cinta monyet.


Dirinya yang menganggap demikian. Tapi tidak dengan sang wanita yang saat itu sudah memiliki tunangan, hanya menganggap William remaja sebagai satu-satunya orang yang mau menjenguknya setiap malam.


*


Sedangkan gadis pemilik piano, kini berjalan diikuti sekretaris dan asistennya. Setiap pegawai yang dilewatinya selalu menunduk memberi hormat.

__ADS_1


Perlahan turun dari lift, ingin bertemu wanita yang berani-beraninya mendatanginya di tempat umum. Matanya mendelik, kala wanita yang katanya dicintai William itu, membentak seorang office boy, hanya karena salah memberikan minuman.


__ADS_2