
Seperti janjinya dirinya akan datang menemui Yesy di rumahnya hari ini. Sedangkan Giovani akan berangkat pukul 8 malam entah kemana.
Tidak tenang, benar-benar tidak tenang rasanya. Apa Giovani akan bertemu dengan tunangannya? Pria yang tidak diketahuinya hingga saat ini seperti apa bentukannya.
"Mungkin hanya klien..." William menghela napas kasar, bagaikan istri yang takut diselingkuhi. Fikiran buruk melayang dalam benaknya mengingat semua orang memuji tunangan Giovani yang entah dimana rimbanya.
"Aku harus kembali," gumam William ingin putar balik. Namun setelah sekitar 100 meter dirinya kembali ingat tentang Yesy. Masih berhutang budi itulah yang ada di fikirannya saat ini, hanya memberikan uang bulanan. Tidak terbersit fikiran untuk menjadi kekasih Yesy lagi. Pada akhirnya William kembali pindah lajur, berbalik arah kembali ke rumah Yesy.
Mengemudikan mobilnya menuju rumah Yesy. Tapi hatinya tidak tenang, ingin mengetahui dengan siapa Giovani akan menghabiskan waktunya hingga ijin untuk pulang larut. Berbekal rasa cemburu, pemuda itu kembali putar arah, ingin menuju kediaman Sandayu.
Tapi dirinya harus percaya pada Giovani. Selain itu tujuannya juga hanya memberikan uang bulanan untuk Yesy, bukan berselingkuh. Apa salahnya? William kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah Yesy yang dibelinya.
Pemuda aneh yang mengemudikan mobilnya bolak-balik. Seorang penjaga counter handphone mengenyitkan keningnya menatap mobil yang sudah beberapa kali bolak-balik.
Tangannya bergerak cepat menghubungi rumah sakit jiwa setempat. Mungkin saja ada pasien yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa, kemudian mencuri mobil, mengemudikannya di jalan raya.
*
Pada akhirnya Willam putuskan untuk pergi ke rumah Yesy. Tidak ada tujuan lain hanya untuk memberikan uang bulanan. Walaupun sejatinya penghasilan minimarket yang diberikan William juga cukup besar. Tapi sekali lagi, Yesy mungkin terbiasa dimanjakan 2 tahun ini.
Tidak ada perasaan lagi. Membuat William menatap mobil Dominic yang terparkir tanpa rasa kesal sedikitpun.
Seperti biasa, pelayan profesional yang dipekerjakan William menunduk memberi hormat padanya. Pemuda yang langsung melangkah masuk, menatap ke arah Dominic dan Yesy tengah tertawa bersama di sofa ruang tamu sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Ambilkan lemon tea..." perintah William pada seorang pelayan, kemudian mulai duduk di sofa yang terpisah dengan mereka.
"Kak William..." Yesy membenahi posisi duduknya, kemudian tersenyum malu-malu. Sungguh sok imut, bagaikan marmut.
"William, apa kabar?" sapa Dominic.
"Baik..." kali ini William membalas senyuman Dominic dengan benar-benar hangat. Tidak ada rasa kesal sama sekali, karena semuanya sejatinya diciptakan berpasangan. Sebagai contoh sandal jepit, sarung tangan, dan bahkan truk saja gandengan.
Dirinya sudah menemukan pasangannya dan Giovani-lah ternyata permata hatinya, belahan jiwanya, bunga cintanya. Jujur saja, perasaan William pada Yesy kini disadarinya hanya sebagai keluarga dan rasa terimakasih. Jika dihitung-hitung William hanya pernah benar-benar jatuh cinta dua kali. Pada nona pemilik villa ketika dirinya berusia 16 tahun walaupun berakhir dicampakkan dan saat ini pada Giovani.
"Jadi kapan kakak akan bercerai dari Giovani?" tanya Yesy, satu pertanyaan yang datangnya bersamaan dengan minuman yang dipinta William pada pelayan.
"Bercerai?" William mengenyitkan keningnya. Kapan dirinya mengatakan ingin bercerai. Mungkin lebih dari satu bulan lalu, diawal pernikahan memang. Tapi sekarang tidak.
"Iya! Kak William tau, dia mempermalukan ku di hadapan umum! Mengatai ku sebagai pelakor! Aku tidak terima, dia tidak cocok menjadi istri kak William!" tegas Yesy dengan nada tinggi.
Yesy bangkit, mengambil uang dalam amplop. Uang belasan juta itu kemudian dilemparkannya di udara. Tidak terima sama sekali kini William lebih membela wanita lain.
"Aku tidak memerlukan uang darimu! Dominic dapat membiayai hidupku ke depannya! Aku...aku membenci Giovani! Sebaiknya kak William ceraikan dia atau aku tidak akan menganggapmu lagi!" suara bentakan yang menggelegar.
Biasanya William akan tersenyum dan menuruti permintaannya apapun itu. Tau kenapa? Dalam fikiran Yesy pemuda bodoh ini bucin sejati pada dirinya. Mungkin iya, kala salah menganggap perasaannya. Mengira Yesy adalah tipikal wanita ideal yang dikatakan almarhum kedua orang tuanya.
Tapi kini? Tidak, dirinya meminta pilihan sendiri. Tidak terpaku pada tipe almarhum ibu dan ayahnya lagi.
__ADS_1
William menghela napas kasar."Jadi jika aku tidak bersedia memberi Giovani pelajaran atau menceraikannya kamu tidak mau menerima uang dariku? Tidak menganggap kita saling mengenal lagi?"
Dengan angkuh Yesy mengangguk. Tapi di luar dugaan William berlutut. Bertambah sombong lah Yesy saat ini.
"Jika ingin minta maaf---" Kalimat Yesy terhenti menyadari William sedang tidak berlutut untuk minta maaf. Pemuda itu tengah memunguti uang yang berceceran di lantai. Setelah memastikan tidak ada yang tersisa lagi, uang itu kembali dimasukkannya ke dalam amplop.
"Penghasilanku sebagai artis tidak banyak. Jadi aku harus hidup berhemat. Ini hanya pesan terakhirku sebagai saudaramu. Mengingat karenamu nyawaku dapat selamat. Jangan terlalu boros dan menyepelekan uang! Aku pernah bekerja dari pulang sekolah hingga sore membuat keranjang bambu. Penghasilanku cuma 15 ribu, memanjat pelan-pelan hingga saat ini tidak mudah. Satu lagi, tanggal 1 bulan depan jangan lupa membayar gaji pelayan, security dan supir." Kata-kata dari William penuh senyuman. Yesy sudah mendapatkan pacar kaya, tidak perlu membiayai hidupnya lagi. Dirinya dapat fokus memanjakan Giovani.
Yesy membulatkan matanya. Bukan ini maksudnya. Dirinya hanya ingin William bersikap tegas pada istrinya. Namun, wanita itu sedikit melirik ke arah Dominic yang tengah memakan cemilan dengan tenang.
Perusahaan batu bara yang dimiliki kekasihnya, berbanding dengan penghasilan William yang hanya seorang selebriti. Walaupun rajin syuting dan manggung tentu berbeda kasta. Dalam imajinasinya menjadi istri seorang pengusaha yang menyaingi perusahaan milik Giovani. Mungkin setelah pernikahan dirinya akan menghadiri pesta kalangan atas, memakai tas dan perhiasan bernilai tinggi. Dapat menghina Giovani. Jadi untuk apa mengharap uang receh dari William. Toh, Dominic cepat atau lambat akan menjadi suaminya. Menjadi kalangan atas, mungkin akan meminta Dominic membukakan butik atau restauran untuknya setelah menikah nanti.
"Hanya membayar segitu saja, tentu aku bisa! Kamu jangan sombong, mentang-mentang istrimu kaya! Jika Dominic mau, Dominic dapat membuat Sandayu Group bangkrut!" Kalimat angkuh dari Yesy.
Sementara Dominic hanya dapat makan dengan tenang, menyimak hal yang diucapkan Yesy. Dua minggu lagi mereka memang rencananya akan menikah.
Namun, niat Dominic untuk menjadikan Yesy istri kedua berubah. Wanita dengan gaya hidup tingkat tinggi, sedangkan penghasilan minimarket rasanya tidak akan dapat menutupi segalanya.
Apa sebaiknya kabur saja? Mungkin itu yang ada dalam benaknya, hanya dapat makan sambil melihat perdebatan Yesy dan William.
William menipiskan bibir menahan tawanya. Tidak takut sama sekali, pemuda yang memang tidak pernah terjun dalam bisnis. Tapi satu hal yang diketahuinya, dengan uang dirinya dapat berbuat apapun, termasuk menyokong Sandayu Group dari belakang jika Dominic memang benar pengusaha yang memiliki status tinggi dan dapat meruntuhkan perusahaan besar milik istrinya.
Seberapa kaya William? Entahlah...
__ADS_1
"Nah, yang jelas jika terjadi sesuatu jangan ragu menghubungiku." Hanya itulah satu kalimat yang diucapkan William. Meninggalkan rumah yang memang dibelinya untuk Yesy.
Hatinya senang dan lega. Tidak akan ada lagi perdebatan soal hutang budi dengan Yesy. Dan bunga hati, belahan jiwa, agresif tersayangnya cemburu akibat wanita yang hanya dianggapnya sebagai saudara.