
Hari pertama bekerja kembali? Usai menghadiri acara TV bebas berkeliaran? Entahlah William hanya dapat menghela napasnya. Matanya mendelik mengamati Aksa yang menyetir sembari melantunkan lagu cinta dengan suara fals.
"Sebenarnya apa yang dilakukannya padamu hingga kamu bisa seperti ini?" tanya William memincingkan matanya.
"7 tahun lalu, saat ayahku belum pensiun. Ayahku yang membantumu mengelola aset almarhum ayahmu, kamu ingat?" tanya Aksa dijawab dengan anggukan kepala oleh William.
"Saat itu aku kuliah di luar negeri. Menempuh pendidikan mencari gelar bachelor. Sedangkan Giovani ada di kampus yang sama mencari gelar magister. Walaupun usianya lebih muda dariku tapi dia terkenal memiliki daya intelektual tinggi. Aku mulai menyukainya saat pergi ke supermarket yang sama dengannya. Ada delapan orang perampok bersenjata disana. Gilanya lagi dia mengalahkan 5 orang diantaranya, sedangkan satu orang pria yang baru datang mengalahkannya 3 orang berkulit hitam dengan badan yang besar lainnya." Jelasnya benar-benar mengingat peristiwa itu.
Dimana 8 orang perampok kalah tidak berkutik, oleh sepasang pria dan wanita. Dengan beberapa tulang yang mungkin patah.
"Pria yang baru datang?" tanya Corrie semakin tertarik.
Aksa mengangguk."Tunangan Giovani, karena itu aku tidak berani mendekatinya dulu. Status sosial tunangannya yang setara denganmu, kekuasaan, uang, kecerdasan, bakat di berbagai bidang, semua dimiliki olehnya. Bisa dibilang dia seperti seorang kaisar. Kemana pun melangkah akan menjadi bahan sanjungan dan pujian."
"Tidak ada orang yang sesempurna itu..." Corrie tertawa kecil.
"Tidak pernah lihat, boleh saja tidak percaya. Aku bahkan tidak mengerti sampai sekarang bagaimana bisa William menikah dengan Giovani. Tidak masuk akal..." gumamnya penuh penekanan.
Sementara William terdiam memincingkan matanya menatap ke arah langit mendung di daerah Utara. Entahlah, dirinya tidak peduli, yang ada di fikirannya saat ini apa Yesy dapat hidup dengan baik?
"Aku ingin bertemu dengan Yesy. Turunkan aku di dekat minimarket." Ucapnya meraih masker dan topi.
Dua orang yang saling melirik kemudian mengangguk. Benar-benar wanita yang bagaikan lintah, menghela napas kasar, menatap betapa aneh kelakuan sahabat mereka.
"Kamu yakin menyukai Yesy dalam artian cinta? Coba kamu fikirkan baik-baik. Kamu benar-benar mencintainya atau hanya menganggapnya sebagai keluarga." Corrie memberi nasehat.
"Sebagai sahabat aku juga harus jujur. Kamu tidak pernah sekalipun cemburu pada pria yang dekat dengan Yesy. Sedangkan Giovani? Baru saja Aksa ingin menyentuh tangannya, kamu sudah menggebrak meja. Labil!" sindir Corrie menghela napas kasar.
"Aku benar-benar tidak sengaja menggebrak meja tadi pagi. Tidak mungkin aku cemburu pada wanita agresif sepertinya. Yang aku sukai tentu saja wanita lembut seperti Yesy. Sudah aku mau keluar!" Ucap William terburu-buru tidak ingin mendengar ceramah dari kedua temannya. Dengan cepat keluar dari mobil berjalan menuju minimarket yang dibangunnya untuk Yesy.
"Bodoh..." gumam Corrie.
__ADS_1
"Lain kali jangan mengingatkan William. Semakin cepat dia melepaskan Giovani semakin baik. Asalkan tunangannya tidak ada aku akan mendekatinya pelan-pelan." Ucap Aksa mulai kembali melajukan mobilnya.
*
...Terkadang perasaan manusia bagaikan sebuah kabut....
...Ingin menyentuh dan mengetahui rupanya. Namun, hanya akan tersesat pada sebuah kekecewaan....
...Jika aku dapat memilih, walaupun hati menuntun, aku tidak ingin memasuki hutan berkabut ini. Terlalu menyakitkan untuk melangkah, namun enggan untuk pergi....
Giovani...
William mulai berjalan hendak memasuki minimarket di hadapannya. Ada dua minimarket yang dibuatkannya khusus untuk Yesy. Apa mungkin sebuah kebetulan? Wanita itu terlihat pada akhirnya.
Namun Dominic juga ada disana. Kala dirinya hendak berjalan dan menghampiri. Entah bagaimana Shine tiba-tiba ada di dekatnya.
"Maaf, aku mengikutimu. Tapi nona memberikanku tugas, agar kamu tidak menemui wanita itu selama seminggu." Ucap Shine menghentikannya.
"Apa kamu fikir nona baik-baik saja? Jika aku mengadukan ini maka berapa lama kamu akan dikurung." Senyuman terlihat di wajah Shine. Apa yang diinginkannya? Tentu saja mengakhiri obsesi nona mudanya.
Ingin nona mudanya membenci William. Hingga tidak memaksanya ikut menghadiri konser lagi. Masih teringat jelas dibenaknya kala dipaksa membawa poster berukuran besar dengan nama dan foto William.
"Aku tidak akan menemuinya. Tapi apa boleh jika aku mengikutinya? Aku hanya ingin mengetahui keadaannya saja." Pinta William pada pemuda di hadapannya.
Pada akhirnya Shine mengalah. Mengikuti keinginan kecoa ini. Sebenarnya apa yang membuat Giovani mengejar-ngejar William? Dirinya tidak mengerti sampai saat ini. Hanya majikan dan asisten? Memang hanya itulah hubungan Shine dan Giovani. Saling mengenal dari semasa kuliah.
Hanya mengikuti keinginan pemuda ini? Itulah yang dilakukan Shine. Sesekali melirik ke arah William yang terlihat begitu cermat mengawasi Yesy dari jauh.
Dua orang yang menjadi obat nyamuk kala melihat Dominic dan Yesy ke bioskop bersama, bahkan ada saatnya mereka ke kamar mandi bersama. Entah apa yang dilakukan pasangan itu di dalam salah satu bilik. Namun ada yang aneh William hanya diam saja, tidak ada air mata sama sekali.
Terakhir kala pasangan kekasih tersebut makan di restauran bersama. Saling menyuapi membuat semua orang iri. Tentu saja terkecuali William, dari pada seseorang yang mencintai wanita, pemuda itu lebih terlihat seperti seorang kakak yang tengah mengawasi pergaulan adiknya.
__ADS_1
Sedangkan Shine yang kini duduk satu meja dengannya hanya dapat memijit pelipisnya sendiri tidak mengerti dengan pria di hadapannya.
"Kamu tidak cemburu?" tanya Shine mengenyitkan keningnya.
"Aku cemburu," jawaban aneh dari William yang hanya mengawasi mereka sambil makan dengan tenang.
Cemburu dari mananya. Pemuda itu hanya bagaikan menatap adiknya sedang makan bersama calon adik iparnya. Kecemburuan seorang pria pada wanita? Terlihat dari mananya?
"Kamu yakin menyukai Yesy?" tanya Shine lagi.
"Yakin, saat aku terluka dia merawatku selama tiga hari. Bahkan mendonorkan darahnya untukku. Aku berhutang padanya..." jawaban dari William dengan mulut penuh. Tidak mengetahui sejatinya dulu Yesy terpaksa melakukannya. Tidak ingin pihak William melaporkannya ke polisi selaku kelalaiannya sebagai pihak penyelenggara kegiatan kampus. Juga untuk menghindari hukuman sosial dari sesama mahasiswa dan dosennya.
"Begini kamu menyayanginya, belum tentu mencintainya." Ucap Shine, bingung menjelaskan pada pemuda polos di hadapannya.
"Dia menemaniku dari aku yang bukan apa-apa. Belum terkenal seperti sekarang." William meminum air di hadapannya. Pemuda yang terlihat benar-benar yakin dengan perasaannya.
Tentu saja Yesy menemaninya dari statusnya yang bukan artis terkenal, karena bahkan sebelum William terkenal pemuda itu sudah royal pada Yesy. Dimanfaatkan karena terlalu baik, ingin membalas hutang budi. Perasaan sayang yang dianggap cinta olehnya.
"Satu yang harus kamu sadari ada dua cinta yang berbeda cinta karena kasih sayang dan cinta karena napsu. Cinta antara pasangan kekasih memerlukan keduanya untuk bertahan. Singkatnya seperti ini, cinta karena kasih sayang kamu dapat memilikinya pada semua orang termasuk keluarga. Sedangkan cinta karena napsu kamu ingin memilikinya, tidak ingin orang lain menyentuhnya."
"Bagi pasangan kekasih harus memiliki keduanya agar hubungan dapat bertahan. Jika hanya memiliki cinta karena kasih sayang maka hubungan kalian hanya sebatas teman atau saudara. Tapi jika hanya memiliki cinta karena napsu kamu hanya akan menyakiti pasanganmu tanpa mempedulikan hatinya. Karena itu apa kamu memiliki keduanya pada Yesy? Cinta karena napsu dan kasih sayang?"
"Jika kamu hanya memiliki cinta karena kasih sayang, berarti perasaanmu pada Yesy seperti perasaanku pada Giovani. Sebagai sahabat atau saudara yang hanya menginginkan kebahagiaannya. Tapi tanpa napsu untuk memiliki." Kata-kata dari Shine membuat William tertegun sejenak.
Apa perasaan yang selama ini dimilikinya pada Yesy? Dirinya menyayanginya tapi selalu membiarkan Dominic melakukan apapun padanya. Tidak ada perasaan marah sama sekali, hanya tidak ingin Yesy disakiti saja pada akhirnya.
Hingga tiba-tiba suara canda tawa terdengar, dari meja lain tempat Yesy duduk.
"Kamu cemburu pada William? Sudah aku bilang dia itu hanya pemuda bodoh yang menyatakan cinta padaku. Aku benar-benar hanya menganggapnya sebagai kakak saja. Lagipula setelah ini, aku akan kembali berteman dengannya. Aku tau kak William tidak benar-benar mencintai Giovani. Mungkin kakak bermaksud mendekati Giovani karena uang yang dimilikinya." Kalimat penuh tawa yang diucapkan Yesy pada Dominic.
Ekspresi William terlihat dingin mendengar satu persatu kalimat yang diucapkan olehnya. Menggenggam pisau steak erat.
__ADS_1