
Giovani menghela napas kasar, pasca operasi tidak ada yang menjenguknya sama sekali. Bahkan Kenzie lebih sibuk mengejar gelar doctorate sambil membantu mengurus usaha keluarganya. Tidak ada yang istimewa menurutnya tentang pemuda desa bernama William. Hanya bertemu beberapa hari, hanya temannya selain Fifi, itulah yang ada di fikiran Giovani saat meninggalkan villa sewaannya.
Tipikal wanita yang setia itulah dirinya. Menatap ke arah langit, setelah ini dirinya dapat memasuki sekolah umum, menjadi mahasiswi di usianya yang baru akan menginjak 17 tahun. Pandai di bidang akademis, hanya saja sakit-sakitan dari kecil, mungkin itulah yang membuatnya baru akan dapat memasuki universitas. Kemampuan yang sejatinya setara dengan Kenzie.
*
Mobil sport hadiah dari orang tuanya berhenti di depan parkiran kampus. Sudah satu tahun Giovani menjadi mahasiswi di kampus ini. Memakai pakaian casual yang tidak begitu mencolok tepatnya celana panjang hitam dengan atasan putih. Namun kecantikannya tidak memudar sama sekali.
Sedangkan Fifi keluar dari pintu penumpang bagian depan. Wanita yang telah menginjak usia 19 tahun itu berada di semester dan jurusan yang sama dengan Giovani yang lebih muda darinya.
Penampilannya tentu saja glamor, memakai mini dress yang diambilnya dari lemari milik Giovani. Hadiah dari Sakha untuk adik tercintanya, tapi Fifi malah mengambil dan memakainya. Sepatu hak tinggi, rambut digerai, serta make up mahal yang melapisi wajahnya. Siapa sangka dirinya adalah anak pelayan.
Berjalan penuh percaya diri mengikuti langkah Giovani. Beberapa orang mahasiswa menggoda Giovani dengan sengaja, tapi gadis yang telah memakai cincin pertunangan itu memilih untuk tetap berjalan berlalu. Sangat berbeda dengan Fifi.
"Cantik, boleh minta nomormu? Nanti kita makan bersama," ucap salah seorang dari tiga mahasiswa yang sebelumnya menggoda Giovani.
"Boleh, ini nomorku," ucap Fifi tersenyum, menunjukkan phonecellnya. Membiarkan mereka mencatatnya."Namaku Fifi, nanti kirim saja pesan,"
Tiga pemuda yang mengangguk sembari tersenyum. Melihat wajah cantik, tentu saja harus tersenyum bukan. Meskipun tidak secantik Giovani, nona muda yang selalu datang dengan Fifi.
Sedangkan Fifi tersenyum, setidaknya dirinya terkenal lebih ramah dari Giovani. Banyak pria yang memuja kecantikannya. Apa gunanya menang di bidang akademis?
Namun, langkahnya terhenti kala beberapa mahasiswi kasak kusuk membicarakannya. Mengapa? Karenanya seorang mahasiswi bertengkar hebat, hingga putus dengan kekasihnya.
"Fifi, aku mencintaimu!" teriak sang mahasiswa yang sudah menunggu kedatangan Fifi. Dirinya sejatinya hanya sekedar iseng saja mendekati pria ini. Tapi siapa sangka pria ini malah menganggap serius.
"Maaf, kita hanya teman aku ingin lebih fokus pada kuliah dari pada pacaran..." Kalimat yang diucapkan Fifi penuh senyuman, membuat sang pemuda membulatkan matanya. Perhatian yang ditunjukkan Fifi hanyalah tipu daya. Dirinya tertipu hingga memutuskan kekasih yang mencintainya. Pemudanya yang berlutut dengan tangan gemetar.
*
"Agh..." Seorang dosen masih duduk di sofa dalam keadaan tidak mengenakan bawahan. Hanya menggenakan kemeja dan dasi.
Sedangkan wanita itu tertunduk meracau merasakan kenikmatan dari tubuh sang dosen. Hingga pasangan itu memekik bersamaan, mengakhiri permainan dengan ciuman.
"Apa tidak bisa membuat nilaiku mengalahkan nilai Giovani?" tanya Fifi, kala membuang alat pengaman yang sebelumnya dipakai sang dosen, sambil memakai bajunya sendiri.
Tang!
Tang!
Sang dosen memungut celana panjangnya, memakai ikat pinggangnya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak ingin berdebat soal ini lagi. Nilaimu benar-benar buruk, menjadikannya sebagai nilai diatas rata-rata aku masih bisa. Tapi nilai tertinggi? Maka semua orang akan curiga, reputasi kampus juga akan hancur saat kamu bekerja nanti," ucapnya penuh bujuk rayu pada Fifi. Memberikan sepuluh lembar uang ratusan ribu."Ini untukmu jajan,"
Fifi berjinjit mencium pipi keriput sang dosen. Memiliki hubungan berdasarkan keuntungan itulah yang dilakukannya kini.
*
Mobil mulai memasuki pekarangan, terlihat mobil yang tidak asing disana. Benar! Mobil milik Kenzie yang telah lama kuliah di luar negeri.
Giovani berjalan cepat diikuti oleh Fifi. Mata Fifi menelisik mengamati adegan itu lagi. Nona muda yang tidak ada feminim-feminimnya melompat ke dalam pelukan Kenzie. Pemuda rupawan yang membawa beberapa paperbag untuknya.
"Kita latihan parkur?" Ucap Giovani antusias. Kenzie hanya tersenyum dan mengangguk.
Fifi menghela napas kasar, menemukan celah. Sebuah celah dimana dirinya akan dapat menginjak Giovani. Cukup lelah baginya semua orang memuji-mujinya dan mengatakan dirinya menumpang hidup. Walaupun apa yang dimilikinya diberikan oleh Giovani. Tapi Fifi sudah minta ijin bukan? Seandainya ibunya yang hanya seorang pelayan mati. Mungkin keluarga Sandayu akan mengadopsinya seperti mengadopsi Sakha, hingga tidak ada yang berani membicarakannya.
Mungkin... mungkin langkah ini harus diambilnya. Bibirnya tersenyum berjalan mendekat."Kenzie aku---" kalimatnya tidak diindahkan.
Kenzie menggendong Giovani di punggungnya, tertawa bersama menuju ruang latihan. Fifi tersenyum kecut pria yang tidak mudah didekati. Tapi tetap saja seorang pria.
Pria dewasa yang tinggal di luar negeri, memiliki pacar berusia 18 tahun, mungkin menjadi sebuah tekanan. Tidak dapat menyentuh kekasihnya yang terlalu muda. Satu celah yang didapatkannya, mengetahui Kenzie tidak akan tinggal terlalu lama di negara ini. Mengingat betapa sibuknya pemuda itu belajar berbisnis dari sang ibu, mungkin hanya beberapa minggu ini kesempatannya.
*
Hari ini adalah pesta ulang tahun Jimmy. Dihadiri kalangan atas, tentu saja karena Jimmy laki-laki kandung satu-satunya dari Sandayu Group. Seseorang yang berkemungkinan menjadi pewaris perusahaan keluarga.
Sedangkan Kenzie duduk di area belakang rumah. Meminum red wine yang dibawanya. Fifi mengepalkan tangannya, mungkin hanya inilah kesempatannya.
"Hai, Giovani dimana?" tanya Fifi, membawa sebotol wine dan gelas kosong miliknya.
"Sedang istirahat." Jawaban dari Kenzie, menghela napas kasar. Pemuda yang memang sering meminum wine di luar negeri, mengingat tempat yang dingin dan kebudayaan di negara tempatnya kuliah.
"Mau minum bersama?" tanyanya.
"Boleh," jawaban dari Kenzie yang memang tidak begitu mengenal Fifi.
"Pasti tertekan memiliki kekasih seperti Giovani. Usianya masih terlalu muda." Ucap Fifi menuangkan wine ke dalam gelas Kenzie yang telah kosong.
"H*srat yang tertahan..." Kenzie tertawa kecil, hanya menganggap itu adalah candaan. Tapi ada yang aneh dengan wine yang dibawa, kepalanya sakit dengan lebih cepat. Apa kadar alkoholnya tinggi?
"Iya..." Ucap Fifi juga meminum wine walau hanya sedikit.
"Apa kamu kasihan pada Giovani hingga memutuskan untuk menurut bertunangan dengannya?" tanya Fifi, sedikit melirik ke arah Giovani yang ternyata mengerjakan tugasnya di beranda ruang baca. Melihat dan mendengar semuanya dari atas sana.
__ADS_1
"Aku takut dia mati, karena saat itu aku yang mengajaknya untuk latih tanding." Jawaban asal dari Kenzie yang kembali meminum wine. Tidak menyadari ada yang aneh dengan minumannya. Tingkat kesadarannya juga memudar dengan cepat.
Matanya sedikit melirik, Giovani kini yang ada disampingnya, bukan Fifi."Aku mencintaimu, aku takut kehilanganmu."
Fifi sedikit melirik ke arah raut wajah dingin Giovani di lantai dua. Tanpa ekspresi sama sekali bahkan tidak ada tangisan.
Hujan gerimis perlahan turun. Kenzie tiba-tiba mencium bibir Fifi, merasakannya panas yang aneh di tubuhnya sendiri.
"Ini Gio..." itulah yang ada dalam benaknya kala memangut bibir itu. Sebuah benang yang terputus, takdir yang terpisah. Derai hujan sedikit bertambah deras. Kala itulah Fifi menuntun Kenzie ke gudang belakang.
Hal yang benar-benar disaksikan Giovani. Belum juga ada tangisan yang terdengar dari mulutnya. Menonggakkan kepalanya menatap ke arah langit malam yang gelap.
Cincin pertunangan masih dipakainya. Gadis yang bagaikan kehilangan pijakannya. Berjalan gontai menuju kamar mandi. Dress putih masih dipakainya.
Byur!
Wanita yang memasukkan dirinya dalam bathtub kamarnya, setelah menyalakan radio dengan volume tinggi. Tidak ingin ada orang yang mendengarkan tangisannya. Kenzie hanya kasihan padanya, merasa bersalah. Bahkan mencintai Fifi?
Tangisannya pecah, benar-benar terdengar. Mengapa tidak datang dan menghentikannya saja. Untuk orang-orang dengan emosi normal akan melakukannya. Tapi tidak dengan dirinya, mereka saling mencintai, lalu apa yang harus dihentikan?
Tangannya meraih sebuah pisau hendak mengakhiri segalanya. Tingkat depresi yang tidak diketahui siapa pun. Mengiris urat nadinya sendiri. Darah mengalir membasahi air, bahkan mengotori gaun putihnya.
Rasa sakit yang bagaikan menghujam dadanya tiada henti. Benar-benar sakit, ingin berdiri lagi tapi akan terasa sulit.
Tubuhnya melemah sedikit demi sedikit.
"Namamu William? Aku dengar-dengar kamu bahkan awalnya menyebarkan brosur tentang dirimu sendiri..." Kalimat dari penyiar radio yang tengah mewawancarai seorang penyanyi yang tidak terkenal sama sekali. Baru saja memulai debutnya.
"Iya, saya menyebarkan brosur album saya sendiri di lampu merah." Suara tawa William terdengar.
"Wah gigih sekali ya?" sang penyiar radio tertawa.
"Ini belum apa-apa aku memanjat ke villa rumah orang kaya. Lalu belajar bermain piano di sana. Benar-benar seperti pencuri," Ucap William tertawa lebih kencang.
"Lalu bagaimana? Apa kamu dilaporkan pada pihak kepolisian?" tanya sang penyiar antusias.
"Tidak, aku pacaran dengan nona pemilik villa. Walaupun akhirnya aku dicampakkan. Tapi aku mencintainya." Pernyataan cinta dari William di radio, membuat Giovani yang awalnya galau melow meradang kesal.
Wanita yang mungkin jika lebih lama mengalirkan darah dari tangganya itu akan mati. Memotong gaunnya sendiri, membalut tangannya.
Dengan cepat meninggalkan kamar mandi hendak mengambil kotak P3K. Dirinya belum boleh mati, sebelum dapat membungkam mulut William yang bicara sembarangan. Memang kapan mereka pacaran? Tidak ada pernyataan cinta. Dan dicampakkan? Apa pemuda itu halu, sampai-sampai bicara di radio.
__ADS_1
Percobaan bunuh diri yang gagal, hanya karena pemuda halu yang bicara di radio.