When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Meet


__ADS_3

"Kalian bertengkar, tidak apa-apa meninggalkan Giovani dalam keadaan seperti ini?" tanya Corrie yang sejatinya enggan bertemu dengan Yesy.


"Giovani sudah mengatakan dia mengerti dengan hubunganku dan Yesy. Tidak akan ada masalah." William menghela napas berkali-kali, sejatinya ada perasaan cemas dalam dirinya entah mengapa.


"Penyesalan datang di akhir. Pada saat itu tidak ada jalan untuk kembali. Dan hanya satu kata yang tertinggal. Mampus!" tegas Corrie terkekeh, masih menyetir mobilnya menuju apartemen tempat Dominic berada.


Penyesalan datang di akhir? Mungkin itulah yang lebih cocok tersemat di hidup Corrie. Wanita yang diincarnya dari TK, SD, SMP, kemudian pada akhirnya dirinya diterima saat SMU masih mencarinya hingga kini. Putri tunggal dari keluarga konglomerat yang benar-benar cantik bahkan memasang iklan di koran, menyebarkan informasi di media sosial. Dengan tulisan dicari hidup atau mati. Imbalan uang yang cukup besar mencapai miliaran rupiah.


Dimana lagi wanita itu dapat mencari pria humoris dan penyabar seperti Corrie? Tidak pernah ada pria yang cocok dengannya. Semuanya diakhiri dengan pertengkaran. Tapi tidak dengan Corrie, semuanya diakhiri dengan tingkah konyolnya. Tapi 11 tahun telah berlalu, Corrie yang kusam dan kurus kini sudah glowing, tidak ada yang dapat mengenali foto lama hitam putih berukuran 3 kali 4 yang dipajang wanita tersebut, guna mencari mantan kekasihnya.


Dikhianati berkali-kali menjadi penyebabnya, sang putri tunggal konglomerat lebih memilih mencari mantan yang dulu disia-siakan olehnya. Tidak apa tidak tampan, tidak apa tidak kaya, yang terpenting membuatnya nyaman, tersenyum dan membahagiakannya.


Itulah hidup Corrie, seseorang yang tidak pernah lelah menyatakan cinta pada seorang wanita. Tidak terpaku pada masa lalu, jika ditanyakan apakah dirinya ingin kembali pada sang mantan? Jawabannya tidak, tidak ingin menjadi lelucon dari seorang wanita yang dicintainya, sudah cukup mencintai dari TK hingga SMU. Saatnya move on dan menjalani hidup bebas bagaikan awan di langit.


Matanya melirik ke arah William yang terlihat tidak tenang."Belum terlambat untuk kembali saat ini," ucapnya.


Tapi William hanya diam, entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Benar-benar tidak tenang, sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi malam ini.


Hingga mobil berhenti di sebuah tower apartemen. Hujan gerimis masih menerpa, memasuki area parkir bawah tanah. Ingin segera pulang, hanya itulah yang ada di otak Willam, ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat kemudian menemui Giovani.


Tombol lift ditekannya tidak sabaran. Sedangkan Corrie mengenyitkan keningnya benar-benar jenuh menghadapi semua ini. Andai saja saat kecelakaan teknis 2 tahun lalu dirinya tidak tengah membantu Aksa, William tidak mungkin terjerat dengan dalil hutang budi.


O negatif, itulah golongan darah William. Berbeda dengan golongan darah lainnya dimana dapat mendapatkan donor dengan mudah. Golongan darah O sendiri dapat mendonorkan pada semua golongan darah dalam situasi mendesak A, AB, maupun B. Tapi golongan darah O hanya dapat menerima dari golongan darah O saja.


Selain itu Yesy yang hanya pernah ditemuinya sekali, bolos kuliah berhari-hari demi menemaninya di rumah sakit. William menghela napas kasar, hutang budi yang harus segera diakhirinya, sebelum semuanya menjadi kacau.


Matanya menatap pantulan bayangannya pada pintu lift yang tertutup. Jemari tangannya gemetar, untuk pertama kalinya Giovani menangis di hadapannya. Namun, Giovani juga tidak boleh sekeras ini, menjerat Dominic untuk tidur dengan wanita lain.


Dirinya benar-benar bingung saat ini. Menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. Bagaimana jika Corrie benar dirinya terlalu menganggap remeh suatu masalah?


Hingga pintu lift terbuka. Berjalan dengan cepat menuju unit apartemen tempat Dominic tinggal saat ini. Pintu itu setengah terbuka, suara tangisan seorang wanita terdengar.


"Kakak!" teriak Yesy ingin memeluknya. Namun William mundur, menghela napas kasar.


"Aku sudah menikah. Kamu harus mengingat batasan." Kalimat darinya.


Namun Yesy mulai bangkit, air matanya masih mengalir."Ini pasti ada campur tangan Giovani. Tidak mungkin tidak..."

__ADS_1


Corrie menghela napas kasar mulai angkat bicara."Dominic bukan pemilik perusahaan besar. Aku sudah menyelidikinya, dia sudah menikah dan hanya memiliki warung kopi kecil yang menjual jajanan anak-anak, itupun hanya usaha istrinya. Giovani terlibat? Tanpa dia campur tangan juga semua akan seperti ini."


"Diam kamu! Kamu hanya bekerja pada kak William! Kak tolong aku, uang untuk investasi semua aku serahkan padanya. Sertifikat rumah dan minimarket sekarang ada pada bank. Aku juga sedang hamil..." Wanita itu berlutut menangis terisak.


"Jadi apa maumu?" pertanyaan dari William padanya.


"A...aku ingin bertemu dengan Dominic. Aku yakin dia hanya marah. Setelah ini dia akan kembali, kami akan menikah dan tinggal di rumah impian kami di Singapura." Kalimat yang diucapkan oleh Yesy menghela napas berkali-kali. Masih meyakini Dominic tidak mungkin menipunya.


"Ini bantuan terakhir dariku. Benar-benar terakhir, menemuimu sudah mengecewakan Giovani. Aku tidak ingin merusak hubunganku dengannya lagi." William menghela napas kasar, tidak tahu harus bagaimana.


"Tolong aku, aku ingin mati. Ini terlalu memalukan..." hanya itulah kalimat yang diucapkan Yesy. Mengambil simpati William adalah tujuannya. Setidaknya dirinya masih memiliki tempat sebelum Dominic kembali.


William terdiam sejenak, berjalan menjauh, pada akhirnya menghubungi Aksa. Pemuda yang memijit pelipisnya sendiri duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan gedung pencakar langit.


Foto Dominic lengkap dengan nama dan profilnya dikirimkan olehnya. Isak tangis Yesy masih terdengar. Tidak mungkin meninggalkan Yesy dalam keadaan sekacau ini.


Pemuda yang mengirimkan pesan pada Giovani.


'Dominic pergi. Aku akan sibuk beberapa hari ini mencarinya. Aku janji setelah menemukan Dominic tidak akan menghubungi Yesy lagi.'


Sebuah pesan yang dikirimkan William pada Giovani. Tanda centang biru telah terlihat.


'Ya.'


Hanya dua huruf, setidaknya Giovani tidak marah. Mungkin sedikit marah, dirinya akan lebih baik lagi setelah ini. Mungkin menunjukkan semua miliknya untuk membahagiakan istrinya.


Tapi apa benar sebuah pesan yang dikirimkan oleh Giovani? Tidak, anak berumur 9 tahun yang mengirimkannya. Air matanya mengalir menatap ibunya yang tengah diobati, wajah rupawan sang ibu yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya.


Eden membelai pelan luka ibunya. Lebih baik hanya tinggal berdua. Wanita itu tetap tersenyum di depan putranya, dengan air mata mengalir."Ibu tidak apa-apa jangan cemas."


Eden mengangguk."Ibu, bisa kita kembali ke Jerman?"


"Shine, bisa aku berlibur?" tanya Giovani tiba-tiba.


Shine mengangguk."Untuk sementara aku dan orang-orang yang sudah kamu pilih akan memegang perusahaan di bawah tangan Jimmy."


"Ka...kakak aku tidak bisa. Aku---" Kalimat Jimmy disela.

__ADS_1


"Tugasmu hanya tandatangan bila perlu. Baca apa saja yang kamu tandatangani. Selebihnya Shine yang akan mengurus segalanya. Perusahaan cukup stabil. Satu lagi---" Giovani menjeda kata-katanya. Wanita itu meraih map yang ada di laci bawah meja kerjanya. Kemudian menandatangani beberapa berkas yang sudah dipersiapkan olehnya.


"Jika William datang, berikan ini padanya. Sesuai janjiku aku membebaskannya." Dokumen pembatalan pernikahan, dengan bukti terlampir dirinya yang melakukan paksaan agar William menikah dengannya.


Apa tujuannya menikah? Membuktikan dirinya memang tidak mampu, dan ternyata benar memang tidak mampu.


"Psikiater sudah datang..." sang kepala pelayan menunduk memberi hormat. Mengantar seorang pria paruh baya yang sudah lama tidak ditemui Giovani tepatnya saat keberangkatan ke Jerman dulu.


Deo itulah nama sang dokter. Matanya menelisik mengamati luka di tangan Giovani yang telah diperban. Membuka kacamatanya."Masalahmu ternyata tidak selesai-selesai ya?" gurau sang psikiater ingin membuat suasana lebih santai.


"Lusa aku ingin berangkat ke France mungkin menetap di sana untuk sementara waktu. Temanku memiliki usaha anggur, aku sempat berinvestasi di sana, juga membeli sebuah villa kecil. Apa aku bisa membesarkan putraku dengan baik?" tanya Giovani, dengan raut wajah yang masih tersimpan banyak kekecewaan.


Sang psikiater mengangguk."Bisa kamu melupakan masalahmu? Jangan sekaligus, lupakan perlahan. Ceritakan padaku apa saja yang terjadi, kita atasi bersama. Jika dapat lupakan orang yang menyakitimu seperti dulu. Anggap kenangan itu tidak berharga."


Jimmy tertegun, apa karena ini kakaknya tidak pernah menganggap keberadaan Kenzie? William sudah melukai perasaan kakaknya, apa lagi yang diharapkan olehnya. Matanya sedikit melirik ke arah Eden.


"Shine, siapa anak ini?" tanyanya sedikit berbisik.


"Putra Kenzie, tapi aku tidak tau siapa ibunya. Giovani hanya ibu angkatnya." Jawaban dari Shine dengan suara kecil.


Jimmy hanya terdiam sudah dapat menerka-nerka ibu dari anak itu. Kakaknya memang gila, membesarkan anak tunangannya dengan wanita lain.


"Kamu sudah gila, lebih baik masuk rumah sakit jiwa saja." Jimmy memijit pelipisnya sendiri. Mendengar semua kelakuan absurb kakaknya.


"Ibu... bicara sambil makan ya? A..." anak yang begitu menggemaskan itu menyuapi Giovani.


"Aku memang sudah gila, gila karena memiliki putra semanis ini." Ucap Giovani dengan mulut penuh.


"Aku tidak mau bicara denganmu! Dasar kakak s*nting! Ada masalah sebesar ini tidak menceritakan pada keluargamu! Aku membencimu, karena itu kamu harus makan tiga kali sehari! Saat berlibur nanti, carilah pria yang tidak akan selingkuh. Tidak, kamu tidak perlu pria dalam hidupmu kamu sendiri sudah seperti monster!" umpat Jimmy komat-kamit tidak jelas.


Giovani tersenyum, setidaknya dirinya tidak benar-benar sendiri kala ingin menutup sebuah buku dongeng. Dirinya akan tinggal dengan Eden setelah ini.


*


Sedangkan di tempat berbeda, Kenzie menghela napas kasar berjalan menelusuri lorong. Setelah mengambil suntikan dana dari uang pribadinya.


Lawannya kali ini anak dari Sanjaya. Memang ini yang diharapkannya. Lawan yang sepadan. "Kali ini aku berada dalam posisi bertahan..." gumamnya, dengan wajah tersenyum tunangan kecilnya sudah tumbuh dewasa.

__ADS_1


Apa alasan Giovani tiba-tiba berubah menjadi fans William? Bahkan berusaha menikah dengannya? Ini masih menjadi hal yang tidak dimengerti Kenzie. Mungkin setelah bertemu dengan Giovani semuanya akan menjadi lebih jelas.


__ADS_2