When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Terbalik


__ADS_3

Pemuda itu membuka lemari es kembali. Kemudian mengecek balkon."Apa mungkin ada cara untuk turun dari lantai 9?" gumamnya masih mengira William menyembunyikan seorang wanita.


Benar-benar tidak mengerti dengan cara fikir Shine. William hanya dapat duduk dengan raut wajah dongkolnya.


"Kamu benar-benar tinggal sendiri?" Shine mengenyitkan keningnya. Dari segi isi lemari es memang hanya minuman dan telur khas seorang pria yang tinggal sendiri.


"Aku tinggal dengan Corrie tapi dia sedang ada pertemuan dengan salah satu brand ambassador yang sebelumnya membatalkan kontrak." William menghela napas kasar. Menatap sisi lain dari Shine.


Pemuda yang mengacak-acak isi lemari es, mengambil dua kaleng soda. Kemudian duduk bersebrangan dengan William, memberikan sekaleng soda padanya.


"Sebenarnya bagaimana caramu menggoda Giovani?" tanya Shine penasaran.


Dalam bayangannya, William naik ke ranjang Giovani ketika mabuk. Mungkin beberapa tahun yang lalu. Atau mungkin mereka menjalin cinta masa kecil? Entahlah, dirinya benar-benar penasaran bagaimana caranya menaklukkan seorang Giovani.


"Aku tidak tau! Bahkan aku baru mengenal Giovani!" Jawaban aneh dari William.


Shine sedikit mendekat, kemudian berucap dengan nada kecil."Aku tidak menyukaimu, jadi aku dapat membantumu berpisah dari Giovani. Lagipula aku lebih suka jika Giovani dengan Sakha..."


"Sakha?" William mengenyitkan keningnya, pria mana lagi ini?


"Dasar playgirl!" batin William kesal di dalam, berusaha tersenyum di luar.


"Iya! Dia anak angkat keluarga Sandayu. Lebih tua dua tahun dibandingkan Giovani. Dia mengikuti pendidikan militer, sekarang bergabung di angkatan udara." Terang Shine, mengingat sang pemuda gagah memakai seragam biru tua.


Jika CEO pria dikelilingi banyak pelakor berpakaian minim, mulai dari sekretaris, tunangan sampai sahabat yang berkhianat. Bagaimana dengan CEO wanita? Tentunya pebinor akan lebih kejam bukan?


Inilah kenyataannya wanita kalangan atas yang serba sempurna. Banyak pemuda yang mencintainya, juga dari kalangan atas. Namun pada akhirnya menikah dengan selebriti? Siapa yang akan mengira.


"Bahkan Giovani menggoda tentara? Berapa pria yang sudah ditidurinya!? Dasar agresif, murahan!" geramnya, menyimpan kekesalan dalam hati.


"Jadi setelah tiga bulan, tinggalkan Giovani. Dia berhak bahagia dengan orang yang benar-benar mencintainya." Kata-kata menusuk tapi tidak berdarah dari Shine.


"Aku men---" Kalimat spontan dari William terhenti, menutup mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Hampir keceplosan! Mulut jahat!" geramnya dalam fikiran yang kesal pada dirinya sendiri. Bagaikan memiliki sisi lain yang memberontak.


"Men apa?" Shine mengenyitkan keningnya, memincingkan matanya.


"Membencinya! Dia hanya wanita murahan yang---" Kalimat Wiliam disela.


"Aku mengenal Giovani selama 9 tahun. Dia tidak pernah dekat atau menanggapi pria manapun. Kamu yang pertama, didekatinya. Jangan menganggapnya murahan, jika belum benar-benar mengenalnya. Dia tidak pandai mendekati pria, tidak seperti wanita yang pura-pura lemah untuk mencari perhatian. Dia memiliki cara tersendiri untuk mencintai seseorang..." Shine menghela napas kasar.


"Mengekang seseorang untuk mencintainya. Membuatnya tidak nyaman dan meremehkannya. Tapi saat dia tidak mencintaimu lagi, kamu akan merasa kehilangan. Tapi siapa peduli, kamu tidak mencintai Giovani kan?" tanya Shine.


"Te... tentu tidak sama sekali!" jawab William cepat. Tidak yakin.


"Bagus! Malam ini ayo kita bersenang-senang! Hidup tanpa tekanan dari Giovani!" teriak Shine penuh semangat. Hidupnya bagaikan benar-benar tertekan oleh bos sekaligus sahabatnya yang harus diawasinya hampir 14 jam sehari.


"Bersenang-senang?" William mengenyitkan keningnya. Menghela napas berkali-kali. Mungkin yang dimaksud bersenang-senang oleh Shine adalah bermain catur. Mengingat betapa kolot nya sang asisten.


*


Tapi apa benar? Pakaian William dikenakannya. Memakai pakaian yang terkesan fashion able, lengkap dengan blazer dan kacamata hitam. Sedangkan William, pemuda itu hanya memakai celana jeans hitam, pakaian hitam, lengkap dengan masker dan topi.


"Kamu selebriti, pasti terbiasa dengan dunia malam kan? Ayo bersenang-senang!" teriak Shine, merangkul seorang wanita berpakaian minim. Tangannya mengambil kaleng minuman berakohol yang dipesannya.


Menikmati musik, sambil sesekali mencium wanita yang bahkan tidak diketahui namanya. Sedangkan William mengenyitkan keningnya, merasa lebih heran lagi. Mulai berjalan menuju bar hendak menghilangkan penatnya.


Suara dentuman musik, riuh orang-orang yang berteriak, bau alkohol, rokok semuanya tidak begitu disukai olehnya. Pemuda yang hanya menghela napas kasar menyingkap sedikit maskernya hingga bagian dagu.


Matanya menelisik menatap ke arah Shine di yang tengah bergerak menari-nari tidak jelas sambil merangkul seorang wanita berpakaian minim."William! Ayo bersenang-senang! Lagipula tiga bulan lagi, statusmu akan kembali lajang!" teriaknya pada pemuda yang tengah duduk di bar.


William hanya tersenyum, level tepatnya berusaha tersenyum. Tidak pernah dekat atau menyayangi wanita selain Yesy, tapi kali ini dirinya dihadapkan dengan wanita agresif seperti Giovani?


Pemuda yang lemah terhadap alkohol itu segera memesan minuman. Ingin menolak tentang fikirannya yang menganggap betapa cantiknya Giovani.


"Ini! Boleh minta tandatangan, adikku adalah penggemar beratmu..." Ucap bartender, meracik minuman dengan kadar alkohol tidak begitu tinggi. Kemudian menyodorkan kertas putih dan pena.

__ADS_1


Seperti biasa, Willam menandatangani kertas. Kemudian mulai minum, rasa menyengat dan tidak mengenakan dari alkohol terasa di mulutnya.


"Aku tidak cemburu! Aku senang jika harus berpisah!" gumamnya mulai sedikit mabuk. Terlalu mudah mabuk bahkan hanya dengan beberapa teguk alkohol.


Hingga seorang wanita duduk di dekatnya, memakai pakaian minim."Hai? Boleh kenalan? Kamu William kan? Aku salah satu fansmu." Ucap seorang wanita.


Mata William menelisik."Giovani?" gumamnya tertawa-tawa sendiri.


"Aku bukan Giovani. Aku..." Kata-kata wanita itu disela.


"Aku menyukaimu," ucap William tertawa, memukul-mukul bahu wanita di hadapannya."Aku bodoh berfikir aku menyukaimu?"


Fans yang bertemu artis idolanya dalam keadaan mabuk? Wanita yang memang berstatus pemilik bar itu tersenyum. Dirinya tidak akan melewatkan kesempatan ini. Suami Giovani? Tidak apa-apa, hanya menikmati satu malam, one night stand...


"Kamu! Bantu aku membawanya ke kamar." perintah sang wanita pada dua orang pegawai bar.


"Baik..." Dua orang pria itu membawa William dalam keadaan mabuk. Pemuda yang berjalan terhuyung-huyung sambil meracau tiada henti.


Bayangan yang ada dalam dirinya? Mungkin melihat wanita yang baru dikenalnya itu sebagai Giovani.


"Jangan bertingkah seperti CEO sombong! Aku seorang pria! Seharusnya aku yang mendominasi!" bentak William. Namun sejenak kemudian tertawa, ditarik paksa dalam sebuah kamar.


Sungguh tragis, pria satu ini dua kali mengalami hal yang sama. Seperti wanita tidak berdaya dalam film atau novel. Apakah sang CEO akan menyelamatkannya kali ini?


*


Suara dentuman musik masih terdengar. Shine kali ini merangkul dua orang wanita sekaligus. Tapi hanya sejenak, Seorang wanita masuk terlihat dari pakaiannya baru saja datang dari tempatnya bekerja.


"Shine, kamu bawa kemana suamiku?" tanyanya dengan nada dingin.


Suara yang dikenali Shine. Menoleh ke hadapan wanita di belakangnya."Wi... William ada di sana..." Shine terbata-bata menunjuk ke arah meja bar yang kosong.


"Ta...tadi ada disana." Ucap Shine mulai ketakutan. Sedangkan Giovani hanya mengenyitkan keningnya, tanpa senyuman sedikitpun.

__ADS_1


"Mampus!" gumam Shine dengan suara kecil.


__ADS_2