
Hari berikutnya...
Remaja berusia 16 tahun yang mengamati situasi.
Bug!
Tembok tinggi dilompatinya hanya untuk bertemu kekasihnya, pemilik piano, maaf salah, piano classic putih yang mungkin berharga ratusan juta rupiah.
Menghela napas kasar kali ini dirinya akan belajar lebih banyak lagi. Namun, perhatiannya teralih kala menatap buku dasar-dasar bermain piano yang ditinggalkan entah oleh siapa.
Tidak sabar rasanya mulai mencoba satu persatu nada. Mencoba memainkan partitur di hadapannya meski banyak nada yang salah.
Sedangkan gadis itu masih mengamatinya dari jauh. Benar-benar William bodoh, yang memainkan piano tapi berharap tidak ada penghuni rumah yang mengetahui. Apa remaja itu kira ini acara horor dimana piano berbunyi sendiri tengah malam.
Entahlah...
Namun wajah gadis muda yang pucat pasi itu tersenyum. Sudah tiga bulan dirinya memulihkan diri usai mendapatkan donor jantung dari pasien mati otak di negara lain. Namun, tidak ada satupun keluarga yang ada bersamanya. Sahabat? Dirinya tidak memiliki sahabat, hanya tunangan yang tengah mengejar gelar bachelor. Sedangkan dirinya sendiri akan menempuh ujian akhir di usianya yang baru menginjak usia 16 tahun.
Pasangan sempurna, itulah yang diucapkan semua orang jika membicarakan dirinya dan tunangannya. Dua orang yang jenius di segala bidang, akademis, seni, maupun olahraga.
Mencintainya? Tunangannya yang kini telah berada di universitas di usia 18 tahun adalah cinta pertamanya. Saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, juga saling menyayangi.
Sedang sibuk di universitas, mungkin itulah alasan yang selalu dikatakan oleh tunangannya. Bersabar menunggu pemuda itu kembali.
Namun, Giovani mengigit bagian bawah bibirnya kini. Wajah rupawannya yang pucat terlihat bengis."Mainan..." gumamnya ingin membully pemuda desa yang tengah memainkan piano classic miliknya.
Tidak menemukan sesuatu yang menarik tiga bulan ini. Semua orang terlalu sibuk untuk sekedar menjenguknya. Jadi ketika ada hal yang menarik tentu harus dikerjakan.
Tangannya bergerak cepat, menggeledah, membuka tempat penyimpanan. Oleh-oleh dari ibunya, tahun lalu, topeng pesta Venesia.
Mengambil kemudian memakainya. Entah apa yang ada di fikiran Giovani saat itu. Yang jelas, kesempatan untuk memergoki pencuri.
*
Sedangkan William mulai menikmati nada demi nada yang dimainkannya. Walaupun terdengar sumbang.
"Anak kecil, kamu sedang apa?" tanya seorang gadis, entah darimana duduk di ayunan, dengan topeng menutupi wajahnya.
"Se... setan!" teriak William mengingat ini masih tengah malam. Pemuda yang segera berlari hendak memanjat dinding.
Tapi wanita itu bergerak lebih cepat, celana panjang karet yang dikenakan William ditariknya. Tidak akan membiarkan pemuda itu lolos."Jangan memanjat! Atau aku teriak pencuri."
"Kamu tidak mengenalku! Setelah pergi aku tidak mungkin kembali tertangkap! Dasar manusia berwujud setan!" teriak William masih berusaha memanjat walaupun wanita itu masih menarik celana panjangnya.
Hingga, hal yang memalukan terjadi. Celana panjang pemuda itu melorot. Menunjukkan ********** yang hanya ditutupi segitiga bermuda tanpa boxer.
"Tolong! Dasar agresif!" umpat William menahan malu, masih berusaha memanjat.
Namun, tanpa diduga wanita itu membanting tubuhnya dengan tiga gerakan. Sialnya lagi, dirinya di tarik, lebih tepatnya di seret pada lantai marmer yang licin, dengan kaki kirinya yang di tarik paksa oleh gadis itu.
"Jangan! Celanaku mau lepas! Siluman! Wanita kurang ajar!" umpat William memegang kaki kursi.
__ADS_1
Giovani menghentikan langkahnya, lonceng pada ujung topengnya sedikit berbunyi. Menandakan wanita itu berbalik, berjongkok di hadapannya.
"A...aku tau aku ini tampan. Jika menyukaiku jangan berbuat seperti ini!" Ucap pemuda itu sombong, mengingat di desa ini entah ada berapa wanita yang mengejarnya. Kemudian berdiri memperbaiki celananya yang melorot.
"Menyukaimu? Kenapa?" tanya Giovani tidak peduli apapun, menarik tangan sang pemuda.
"Ka...karena aku tampan," jawaban dari William canggung, merasakan untuk pertama kalinya tangannya di genggam seorang wanita.
"Tampan?" tanya gadis itu malah tertawa.
"Iya! Tampan!" geram William bersungut-sungut kesal.
"Sifatmu tidak terlihat tampan." Giovani mulai duduk kembali di kursi depan piano. Satu persatu nada dimainkannya dalam tempo cepat. Inilah kelebihannya, selalu memenangkan gelar pianis muda terbaik.
William mengenyitkan keningnya."Terlihat indah, walaupun memakai topeng." batinnya menelan ludah. Aura dari wanita ini benar-benar berbeda. Jantungnya berdegup cepat, merasakan perasaan aneh ingin menyaksikan ini lebih lama. Apa ini aura selebriti yang sesungguhnya?
Hingga pada nada terakhir semuanya terhenti. Keajaiban yang bagaikan lenyap."Yang terpenting agar terlihat tampan adalah tunjukkan skill mu."
"Tunjukkan skill?" William mengenyitkan keningnya.
Lonceng di bagian ujung atas topeng berbunyi kembali, pertanda gadis itu mengangguk."Ada seseorang yang selalu mendapatkan juara dua di bidang ini. Dia setiap hari terus mengumpat padaku dan berlatih."
"Lalu dia berhasil mendapatkan juara pertama?" tanya William tertarik.
"Tentu saja tidak! Juara pertama tetap aku..." Wanita itu tertawa dengan bangganya.
"Sudah aku duga," William mengenyitkan keningnya.
"Kenapa memakai topeng?" tanya William penasaran.
"Agar kamu tidak jatuh cinta padaku. Kenapa!? Kamu jatuh cinta padaku? Pesonaku memang tidak terbantahkan." Gadis menyebalkan yang lebih narsis lagi dibandingkan dengan William.
Pemuda yang hanya dapat menghela napas kasar menatap kelakuan gadis ini. Hingga tangannya ditarik, William dipaksa duduk kembali tangannya diarahkan menekan tuts piano. Posisi yang bagaikan sang gadis memeluknya dari belakang. Hatinya berdebar saat itu, cukup sulit untuk belajar di saat seperti ini. Namun, hal yang membuat hatinya terasa hangat.
"Belajar perlahan..." Kata-kata tulus dari mulut sang wanita. Tanpa ada teriakan kagum atau bermaksud menggodanya. Hanya saja hatinya terasa hangat. Apakah ini yang dinamakan cinta pertama?
*
Keesokan harinya, sama seperti sebelumnya. Pemudanya itu datang tepat tengah malam. Hal yang sama sang wanita juga kembali mengajarinya. Memberikan partitur dengan lagu yang lebih mudah dipelajarinya.
"Bodoh!" wanita yang memukul bahunya cukup kencang jika membuat kesalahan.
Wanita yang tersenyum di balik topengnya. Setidaknya ada seseorang yang ingat untuk mengunjunginya. Diiringi suara jangkrik dan suara katak yang nyaring. Akhirnya dirinya memiliki sahabat, walaupun hanya untuk sementara. Mengingat dirinya yang harus kembali ke kehidupan nyata.
Kenapa harus memakai topeng? Karena tidak ingin mengenal kesedihan ketika perpisahan itu datang dengan orang yang dikenalnya. Tidak ingin remaja desa yang memakai sandal jepit ini memiliki jejak untuk mencarinya ketika dirinya menghilang nanti.
Bagaikan peri ajaib yang hanya berteman dan mengajarinya. Menghilang suatu saat nanti, tanpa jejak sedikitpun. Status sosial yang menekan dirinya untuk tidak memiliki sahabat satupun.
Hingga ada kalanya William tidak datang sama sekali.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin itulah yang ada di fikiran Giovani. Sudah dua minggu ini setiap malam pemuda desa itu datang, hanya saja kali ini tidak.
"Nona..." seorang pelayan menunduk memberi hormat, setelah dipanggil oleh nona mudanya yang masih terlihat pucat. Masih dalam masa penyembuhan pasca operasi besar yang dijalaninya.
__ADS_1
"Ini! Pergi ke rumah orang dengan nama William. Jika dia memiliki masalah, bantu dia! Katakan saja kamu seorang dermawan dari kota!" perintah dari sang nona muda, menyodorkan kartu kredit miliknya.
Sang pelayan meraihnya. Mengikuti perintah nona mudanya. Saat ini jam telah menunjukkan pukul 3 pagi.
Apa yang sebenarnya terjadi? Saat itu Erin (ibu William) mengalami sakit perut yang hebat. Bidan desa merujuknya ke rumah sakit, dibawa menggunakan mobil pickup warga yang biasa digunakan untuk mengangkut ayam.
Bau kotoran ayam yang menyengat tidak diindahkan. Hanya menangis memegangi jemari tangan ibunya."Wi... William anak yang pintar. Jangan menangis, ibu tidak apa-apa." Kata-kata dari mulut renta itu lirih, menatap anak tunggalnya yang tidak ada hentinya menitikkan air mata.
Hanya memiliki sang ibu, tidak memiliki hal lainnya."Ibu..." Satu kata yang dapat diucapkannya. Merasakan angin menyibakkan rambutnya, diselingi dengan bau kotoran ayam menyengat.
Kini dirinya menyadari betapa berartinya lembaran uang. Mungkin jika dirinya mencari ayah kandungnya semua tidak akan seperti ini.
Para perawat memindahkannya ke atas tempat tidur dorong. Mendorong tempat tidur menuju UGD. Anak yang hanya dapat menangis menanti segalanya, tangannya merogoh isi saku celananya. Hanya ada 14 ribu rupiah disana. Tabungan? Dirinya hanya memiliki tabungan 900.000 rupiah di rumahnya. Sedangkan ibunya sendiri mungkin hanya 1.200.000, itupun dalam buku tabungan yang harus ditarik di ATM atau bank terdekat.
Anak laki-laki yang tengah kebingungan. Hingga seorang dokter keluar dari ruangan."Maaf dimana keluarga pasien?" tanyanya.
"Sa...saya anaknya," Kalimat dari mulut William.
"Ayahmu dimana?" tanya sang dokter pada remaja di hadapannya.
William hanya diam sambil menunduk, tidak dapat menjawab. Sang dokter menghela napas kasar."Ibumu terkena usus buntu, harus dioperasi malam ini juga. Apa ibumu memiliki jaminan kesehatan?" tanya dokter itu pelan.
Remaja itu menggeleng, bingung harus bagaimana."P...pak boleh saya menaruh jaminan sertifikat rumah."
Tidak ada yang dapat difikirkannya lagi, remaja berumur 16 tahun yang kebingungan.
Sang dokter menggeleng, bingung harus menjelaskannya bagaimana. Hingga tiba-tiba seseorang datang, menepuk bahu anak dengan pakaian berwarna pudar, serta memakai sandal jepit biru dengan alas kaki putih, biasa dijual di warung dengan harga 13.000 itu.
Pria dengan pakaian yang terlihat rapi."Aku mendengar masalah kalian. Bisa aku membantumu? Aku akan melunasi biaya operasi ibumu."
"Ta...tapi..." Ucapan William disela.
"Aku murni hanya ingin membantu. Tenang saja, jangan menangis. Laki-laki tidak boleh menangis agar bisa menjaga ibu dan istrinya kelak..." Kalimat dari sang pria membuat William tertegun.
Remaja itu menghapus air matanya."Terimakasih!" ucapnya berlutut, dengan air mata yang masih juga mengalir. Pria tidak dikenal yang paling berjasa dalam hidupnya.
*
Sedangkan Giovani menatap topeng Venesia miliknya. Tengah mengangkat telepon dari seseorang.
"Aku tidak apa-apa. Tidak juga kesepian disini. Sebaiknya cepatlah pulang!" Ucapnya tersenyum masih menghubungi seseorang.
"Kamu akan kagum saat aku pulang," Kalimat seseorang dari seberang sana. Terdengar seperti suara seorang pemuda.
"Kagum? Di bidang seni aku masih menang darimu!" Giovani terkekeh.
"Lain kali aku akan membanting mu di matras!" celoteh sang pria. Mengingat pertarungan judo terakhir mereka.
"Kenapa tidak sekalian dibanting di tempat tidur saja!" suara Jimmy terdengar dari seberang sana. Menyela pembicaraan sang pemuda dan Giovani.
Hanya tawa yang terdengar. Saling mengenal sejak dini. Hingga tumbuh menjadi remaja, pada akhirnya bertunangan. Hubungan yang begitu hangat, bukan karena sentuhan fisik atau apapun.
Tapi apa yang ada di hati manusia tidak akan ada yang tahu. Hal-hal yang menyakitkan akan dirasakan olehnya. Gadis yang memang selalu seorang diri sejak awal.
__ADS_1