
Pedal gas diinjaknya. Bayangan ayahnya yang ditinggalkan ibunya selama bertahun-tahun berkutat di fikirannya. Pemuda yang menatap ke arah GPS. Wanita ini berani untuk pergi lagi dari kehidupannya.
Beberapa kilometer mengejar pada akhirnya mobil itu terlihat juga. Mobil yang sebelumnya terparkir di villa.
Seringai aneh terlihat di wajahnya. Pria yang benar-benar nekat. Mencari jalur lain ingin menghadang jalan mobil itu. Matanya menatap lekat ke arah GPS.
Kriet!
Pada akhirnya William menghentikan mobilnya di dekat jalur perlintasan kereta api. Beberapa menit lagi mobil itu akan sampai.
Dan benar saja, jalan dihalangi oleh mobilnya yang melintang. Wajah tersenyum Willam terlihat berdiri di depan mobilnya sendiri. Jalanan yang tidak begitu luas membuat akses jalan benar-benar tertutup.
"Hai," Sapanya pada Giovani.
Wanita yang membulatkan matanya. Tidak mau kalah, memutar balik mobilnya. Tidak membiarkannya begitu saja, William segera berlari menghadang.
"Jangan pergi!" ucapnya merentangkan tangannya. Pria yang masih ingat betapa menderitanya hidup ayahnya tanpa ibunya.
"Minggir!" teriak Giovani membunyikan klakson.
"Tidak mau!" Ucap William lagi.
"Aku akan mengajukan perceraian!" Giovani kembali berteriak.
"Aku akan menyewa pengacara paling mahal agar surat cerai tidak turun!" Kembali William berteriak dari depan mobil Giovani.
"Tidak peduli!" Giovani menginjak pedal gas. Hendak menabrak William. Pemuda itu bukannya minggir malah memejamkan matanya.
Kriet!
Giovani kembali menginjak rem, bagian depan mobilnya kini benar-benar tepat berada di tubuh Willam. William membuka matanya, dirinya belum mati tertabrak, masih hidup.
"Apa maumu! Kita bicara! Minggir dari mobilku!" Ucap Giovani lagi.
"Tidak mau! Setelah aku minggir kamu akan langsung pergi menginjak gas!" William masih saja keras kepala.
"Tau saja..." batin Giovani kesal, rencananya sudah ditebak terlebih dahulu.
Eden masih ada dalam mobil, tertidur lelap. Giovani menghela napas berkali-kali. Mungkin memang lebih baik bicara pelan-pelan dengan William. Ini juga kesalahannya, psikiater benar jika menganggapnya sebagai perasan Fans dan superstar nya semua akan lebih mudah. Jemari tangannya mengepal saat ini, wanita yang berusaha baik-baik saja.
"Kita bicara!" Giovani pada akhirnya turun dari mobil.
__ADS_1
*
Dua mobil terparkir asal setelah ditepikan. Tidak ada banyak pemandangan di sana hanya hamparan hutan Pinus. Dua orang yang duduk di atas rumput, menatap pemandangan malam. Sedangkan Eden masih tertidur dalam mobil Giovani.
"Sudah aku jelaskan ini kesalahanku. Aku minta maaf." Ucap Giovani memulai pembicaraan.
"Fans dan superstarnya?" William tertawa kecil.
"Iya, Fans dan superstarnya." Jawaban dari Giovani.
"Aku memang pria br*ngsek. Tapi aku tidak pernah berbohong jika sudah menyukai seorang wanita. Maaf..." Itulah yang diucapkan William.
"Maaf?" Giovani mengenyitkan keningnya.
William tertawa kecil air matanya mengalir. Matanya sedikit melirik ke arah jemari tangan Giovani. Terdapat bekas luka yang belum benar-benar sembuh disana.
"Aku tidak tau apapun tentang kesulitanmu. Saat kamu menghilang aku baru mengetahuinya, apa arti sebenarnya dari kelemahan yang kamu katakan." Ucap William ingin menyentuh tangan wanita itu, namun mengurungkan niatnya.
"Luka di tanganmu karenaku kan? Yesy bukan orang yang aku cintai. Aku menyadarinya, tapi kamu---" William menghentikan kata-katanya.
"Aku tidak memiliki perasaan padamu. Jadi---" Kalimat Giovani disela. William tiba-tiba menciumnya paksa dengan cepat juga Giovani mendorongnya.
"Kenapa menciumku!" bentak Giovani.
"Aku bicara baik-baik padamu. Aku hanya salah paham dengan perasaanku. Semua hal harus kembali pada tempatnya. Begini, 10 tahun yang lalu aku mengalami depresi. Psikiater ingin aku melupakan segalanya tentang Kenzie pelan-pelan dan belajar menyukai orang yang menyukaiku. Semenjak itu aku menjadi fansmu. Terobsesi padamu, ini bukan cinta." Pelan-pelan Giovani menjelaskan tanpa jeda.
William tersenyum kemudian menghela napas kasar."Bukan cinta? Jika kamu tidak mencintaiku tapi aku tetap mencintaimu."
"Tidak bisakah kamu mengerti seperti Kenzie!?" Ucap Giovani sengaja memancing emosi William. Menginginkan pria itu marah karena membandingkan dirinya kemudian pergi.
"Tidak," jawaban tanpa diduga oleh William."Apapun kesalahannya, tapi kesalahanku lebih besar darinya. Kamu fikir aku akan menyerah dengan mudah."
"Giovani, apa benar kamu tidak mencintaiku?" satu pertanyaan dari William.
"Benar!" jawaban dari Giovani.
"Jangan memakai tenagamu. Bisa kamu diam hanya beberapa menit. Jika bisa aku akan meninggalkanmu, mengajukan surat pembatalan pernikahan. Aku berjanji, tapi satu hal jangan bergerak beberapa menit ini hanya lima menit." Pintanya.
Giovani menghela napas kasar kemudian mengangguk. Dirinya cukup mengetahui akar dari kekuasaan tuan Sanjaya walaupun pria itu sudah mati. William adalah anaknya? Ini adalah sebuah kesialan untuk Giovani. Mungkin ini adalah satu-satunya kesempatannya untuk benar-benar menghindar.
Seperti janjinya Giovani terdiam. Pemuda itu menatapnya lekat, air matanya mengalir, mencium pucuk kepala Giovani."Terimakasih, karenamu aku dapat melihat wajah ibuku lebih lama beberapa tahun."
__ADS_1
"Tapi bukan hanya itu. Terimakasih sudah memberikan cinta pertama untukku." William mencium pipinya pelan lelehan air mata Willam terasa di pipi Giovani.
Wanita ini benar-benar membuatnya takluk. Tangan William gemetar meraih tengkuknya."Terimakasih sudah menjadi istriku. Aku mencintaimu," kalimat yang diucapkannya mencium bibir Giovani singkat.
Hanya ciuman singkat."Ini bukan karena rasa terimakasih. Tapi karena aku menginginkanmu, menganggapmu sebagai wanita paling tegar. Hingga aku meninggalkanmu pergi."
"Kamu wanita yang rapuh, seharusnya aku menjagamu pelan-pelan. Maaf..." kalimat yang diucapkan William.
Iba, Giovani meneteskan air matanya."Jangan lupa urus surat pembatalan pernikahannya ya? Sudah lima menit."
"Tidak kamu melanggar janji untuk tidak bergerak. Buat apa aku juga harus mengurus pembatalan pernikahan. Kamu yang menjebakku untuk menikah. Jadi harus terima jika aku akan ada tetap bersamamu!" tegas William, menghapus air matanya.
"Ingkar janji apa!? Aku bahkan tidak bergerak?" tanya Giovani emosi.
"Bernapas, peredaran darahmu juga tetap berjalan, jadi tubuhmu bergerak." Jawaban tidak masuk akal dari William penuh senyuman.
"Kalau darahku tidak beredar! Jika aku tidak bernapas, artinya aku sudah menjadi mayat!" bentak wanita itu.
"Mayat? Walaupun kamu mati aku tidak akan menceraikan atau berpisah denganmu!" Senyuman di wajah William menyungging. Sedangkan Giovani melihat ke arah lain. Kenapa William yang tidak berdaya bisa berubah tidak tahu malu begini.
*
Semuanya kembali seperti semula, Kenzie yang berada di negara lain. Mungkin ada investor baru yang ingin bekerja sama dengannya. Itulah yang dikatakan Shine.
Sudah terbiasa, Kenzie memang terlalu sibuk. Cepat atau lambat segalanya akan terulang, mereka sudah terbiasa tanpa satu sama lain. Hubungan yang terjalin dulu bisa dibilang juga hubungan jarak jauh.
Dua orang yang gila kerja, akan seperti apa anak mereka? Mungkin itulah juga alasan Giovani tidak ingin kembali. Menjalani hidup normal seorang diri tanpa siapapun pria di hidupnya mungkin lebih baik.
Suara sayuran yang dipotong terdengar. Seorang pria mulai belajar memasak dari gerak-geriknya. Menghidangkan semangkuk sup untuk dirinya dan Eden.
"Apa enak?" tanya pemuda itu.
Dirinya dan Eden menggeleng. Sejatinya waktu liburan Giovani sudah hampir berakhir. Satu bulan kepergiannya sudah ada beberapa masalah di perusahaan. Mungkin besok atau lusa dirinya akan kembali. Tepat satu minggu juga William di sini.
"Akan aku coba lagi," ucapnya mengacak-acak rambut Eden gemas. Pemuda yang mungkin mengetahui betapa buruknya hidup tanpa kasih sayang seorang ayah.
Sampai sekarang William masih menganggap Eden adalah anak Giovani dan Kenzie. Lebih tepatnya anak di luar nikah. Lalu kenapa? Apa anak di luar nikah sudah pasti bukan orang baik? William bagaikan melihat cermin kala menatap sorot mata anak itu. Mengingatkannya pada dirinya yang menatap Sanjaya yang telah melukai ibunya.
Karena itu satu minggu ini dirinya cukup paham. Mendekati anak sambungnya pelan-pelan. Dirinya sudah sempat melukai hati Giovani jadi ini sudah seharusnya.
Sama seperti Sanjaya yang mendekatinya pelan-pelan. Itu juga yang dilakukannya pada Eden. Hingga anak itu tiba-tiba mendekat."Aku tidak suka basil jadi jangan tambahkan pada sup."
__ADS_1
Satu kalimat sudah cukup membuat William memeluknya. Anak yang begitu manis walaupun wajahnya mirip dengan Kenzie. Tapi lebih mirip dengan dirinya, benar! Dirinya adalah ayah Eden.
Sedangkan Giovani masih di sana mengenyitkan keningnya. Enggan berkomentar, menatap pria yang begitu lebay bahagia dengan beberapa kata.