
Seorang pemuda tersenyum ramah pada seorang anak kecil."Ini untukmu..." ucapnya menggunakan bahasa asing.
"Apa apaan kamu!" teriak seorang pria berkebangsaan asing menggunakan bahasa setempat. Mengetahui dari anak laki-lakinya yang mengadu tentang hal yang dilakukan sang pemuda. Memberikan banyak makanan pada sang anak yang terlihat kurus kering.
Anak yang ditolongnya terlihat kelaparan, memakan kue lumpur pemberian orang lain. Benar-benar kue lumpur, terbuat dari lumpur dan dicampur tepung lalu dijemur di bawah sinar matahari. Anak berkulit hitam yang kesulitan mendapatkan makanan. Diberikan beberapa kue bernilai tinggi yang dibeli sang pemuda di restauran hotel tempatnya menginap.
Anak yang dianggap sebagai penyihir karena memiliki ciri tertentu yang entah apa. Beberapa anak yang dianggap penyihir memang diasingkan oleh orang tua mereka, dibiarkan menggelandang di jalanan, menadapatkan makanan dari orang yang lewat. Aneh bukan? Tapi ini benar-benar terjadi di negara tempat pemuda itu berada saat ini.
Sang pemuda tersenyum remeh. Anak yang terlihat gemuk iri pada anak kurus yang ditolongnya. Kemudian mengadu?
"Seharusnya makanan itu dibagikan pada anak-anak lainnya! Dia itu penyihir!" Kata-kata dari pria berkulit hitam yang mendekat.
"Jika aku mengambilnya bagaimana? Akan ada tempat untuk anak-anak terlantar di negara lain yang mau menampungnya." tanya Kenzie Mahardika, pada pemuda berkulit hitam di hadapannya.
"Boleh! Tapi makanan yang kamu berikan seharusnya dibagikan---" Kalimat sang pria berkulit hitam terhenti. Kala Kenzie menggendong sang anak kurus yang mungkin mengalami mal nutrisi. Sedangkan dua orang bodyguard di belakang Kenzie mengacungkan senjata api pada sang pria.
Bagaimana sebenarnya watak Kenzie Mahardika? Tidak jauh beda dengan tunangannya, ambisius, angkuh, sombong, menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Termasuk cara licik sekalipun.
Pria berkulit hitam dan anak gemuk yang mengadu itu hanya dapat mundur dan menurut. Mengetahui dari gelagatnya pemuda ini punya backing-an.
"Nak, menurutmu apa yang harus dilakukan jika pacarmu merajuk?" tanya Kenzie pada anak dalam gendongannya, menggunakan bahasa setempat.
"Apa itu pacar?" pertanyaan polos dari sang anak berkulit hitam membuat Kenzie menghela napas kasar. Pertanyaan yang 10 tahun ini tidak terjawab, tidak bisakah Giovani memaafkannya?
Pemuda yang membawa sang anak menyerahkannya pada asistennya untuk dibawa pada panti asuhan di negara lain. Berjalan memasuki lobby hotel tempatnya menginap.
Pada akhirnya ada sinyal juga di handphonenya. Mengingat dirinya harus ke beberapa tempat belakangan ini bulak-balik menggunakan mobil Jeep-nya. Wallpaper foto 19 tahun lalu masih ada di handphonenya. Wajahnya yang ceria saat itu karena memenangkan kompetisi piano. Sedangkan anak perempuan di sampingnya terlihat menipiskan bibir menahan tawanya, bagaikan mengejek.
Mengira dirinya hebat dan dapat menang dengan mudah. Tapi Kenzie salah, Giovani saat itu mengalah, karena berontak pada orang tuanya yang mendandaninya bagaikan boneka Barbie dengan berbagai ornamen pink saat kompetisi.
__ADS_1
Pink? Mungkin hanya pakaian berwarna hitam dan putih yang cocok dengan karakternya. Senyuman di wajah Kenzie berubah menjadi derai air mata yang membasahi pipinya.
"Aku akan pulang, dan kembali untuk meminta maaf..." ucapnya tersenyum, kesalahan terbesar dalam hidupnya. Mencobanya kembali merekatkan guci yang pecah. Apa bisa?
Dirinya masih mengingat kalimat sebelum Giovani pergi ke Jerman."Aku tidak mencintaimu lagi..."
Satu kalimat darinya saat itu, berjalan cepat menarik koper dengan air mata yang mengalir. Terlihat banyak rasa sakit di mata gadis yang dicintainya.
"Andai waktu dapat diulangi. Apa kebaikan yang aku lakukan kurang, untuk dapat mengulangi waktu? Kembali ke masa lalu..." gumamnya, menghela napas berkali-kali. Berimajinasi dapat kembali ke masa lalu, mencegah dirinya yang dulu belum dapat bersikap dewasa melakukan kesalahan.
Pemuda itu menghela napas kasar, menyadari waktu tidak akan mungkin dapat terulang. Kenzie mengambil selembar kartu.
Srak!
Benar-benar dilempar dengan cepat hingga tertancap pada buah semangka. Membuat sang asisten yang baru masuk mengeluarkan keringat dingin. Mungkin kartu itu hampir menggapai tubuhnya.
Sedangkan Faro sang asisten tiba-tiba terduduk di lantai dengan kaki gemetar tidak dapat berdiri. Wajah dingin seorang CEO pria rupawan itu tersenyum, mengingat wanita yang dicintainya. Sifat yang mirip bukan? Sama-sama keji.
Sang asisten menghela napas berkali-kali. Sebaiknya menunda untuk mengatakan pada tuannya tentang pernikahan Giovani. Jika tidak nasibnya mungkin akan sama dengan buah semangka di sampingnya. Tertancap puluhan kartu remi.
"I...iya dalam satu minggu ini akan selesai. Tuan muda, banyak wanita menyukai anda. Apa tidak sebaiknya---" Kalimat Faro disela.
"Tidak, aku yang bersalah maka aku juga yang harus memperbaikinya. Aku mencintainya." Jawaban dari Kenzie tersenyum, menatap kartu Joker di tangannya.
"Tuan muda, bagaimana jika nona menyukai atau menikah dengan pria lain." Kalimat dari Faro yang seketika membuat Kenzie tertawa.
Sejenak raut wajahnya berubah tersenyum tapi bagaikan menahan kesal."Jangan bicara seperti itu," kalimat Kenzie penuh senyuman, tangannya melempar kartu yang kali ini menembus buah semangka lebih dalam.
Faro menelan ludahnya, monster di hadapannya menyukai monster. Jika menikah maka anaknya akan menjadi seperti apa? Mungkin raja iblis.
__ADS_1
*
Kediaman Sandayu.
Giovani menatap mobil William meninggalkan gerbang besar dari balkon kamarnya. Menghela napas kasar, dirinya memang tidak pernah beruntung dalam cinta. Kali ini mungkin hanya dijadikan pelampiasan.
Walaupun yang berjalan menuju tempat tidur meraih beberapa butir obat dengan tangan gemetar. Kemudian meminumnya dengan cepat. Wanita yang kemudian membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit ruangan, dengan tatapan kosong. Air matanya mengalir, namun wajah itu tersenyum.
Siapa yang dicintainya? Entahlah, tapi sejatinya tidak pernah ada yang mencintainya. Hanya menganggapnya sebagai wanita pengganggu yang banyak bicara. Seorang istri yang tidak sempurna.
Sejatinya dirinya hanya ingin menghabiskan tiga bulan ini dengan William. Selepas William akan mencintainya atau tidak, dirinya akan pergi. Mengapa? Karena dirinya tidak sempurna, tidak akan dapat menjadi ibu dan istri yang baik. Mungkin hidup sendiri akan lebih baik, hanya dirinya dan putranya.
Giovani meraih phonecellnya, menatap foto seorang anak manis yang gemar memakai cosplay detektif Conan. Anak manis yang selalu menjadi penghapus lelahnya. Tidak rugi, benar-benar tidak rugi rasanya menghabiskan uang puluhan miliar untuk anak ini 9 tahun lalu. Dirinya menjadi seorang ibu, ini kehidupan yang sempurna untuknya.
Mengetahui malam ini William akan menemui Yesy. Tidak ada yang salah, karena dari awal dirinya lah yang memaksa untuk menikah. Hanya sebuah permainan? Tidak, benar-benar ingin menikah. Tapi tidak ingin memiliki raga tanpa jiwa. Menyatakan cinta padanya, namun hatinya masih terikat dengan Yesy.
Siapakah yang sebenarnya dicintai William? Tentu saja Yesy. Dirinya hanya seorang antagonis yang akan pergi pada akhirnya. Hidup tenang di negara lain bersama putranya. Sama seperti dulu.
...Daun musim gugur....
...Kala aku berwarna hijau tidak terlihat di matamu....
...Kala aku berwarna merah terlihat cantik, diinginkan olehmu, namun enggan di raih....
...Kala aku terjatuh di tanah, mengering. Hanya dapat melihat langkah kakimu meninggalkanku....
...Aku hanya daun musim gugur....
Giovani...
__ADS_1