When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Tau Diri


__ADS_3

Wanita itu mundur selangkah, menatap ke arah Giovani."Ke... kenapa kamu bisa ada di sini?" ucapnya gugup.


Giovani mulai bangkit dari kursi tempatnya duduk. Apa yang sebenarnya terjadi? Orang suruhan Shine selalu mengikuti William diam-diam. Saat itulah orang suruhan itu, memberikan informasi tentang seorang fans bernama Gia dan lebih dari 8 orang wartawan infotainment yang bersembunyi di restauran.


Menyadari lebih awal? Itulah Giovani, wanita yang tidak ingin mengalami hal yang sama dua kali. Mengantisipasi langkah lawan sebelum lawan mulai melancarkan serangan.


"Apa kamu kira aku tidak serius saat aku mengatakan dapat menghancurkanmu?" tanya Giovani tersenyum mengelus pelan pipi Yesy.


Yesy menelan ludahnya, mengepalkan tangannya berusaha untuk terlihat berani."Lalu apa maumu!? Kak William akan---"


Kalimatnya disela."Sudah aku bilang akan menghancurkan hidupmu."


Ancaman terakhir dari Giovani berjalan penuh senyuman diikuti Shine dan para wartawan, serta Gia yang ditangkapnya. Tujuannya setelah ini, membereskan masalah sampai ke akar-akarnya.


Yesy hanya diam terpaku, menatap ke arah punggung Giovani. Apa-apaan itu? Apa hanya ancam kosong?


*


Dalam mobil yang melaju, barulah Shine memberanikan dirinya untuk bicara.


"Gio..." ucapnya.


"Em?" Giovani mengenyitkan keningnya.


"Tidak jadi," Shine tertunduk terlihat ragu, namun tangannya mengepal memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Apa kesalahan Kenzie hingga kamu tidak mau memaafkannya?" tanyanya ragu.


Giovani menyandarkan punggungnya di kursi penumpang bagian belakang. Menghela napas kasar."Dia tidur dengan sahabatku. Dia dijebak, mengingatnya ingin rasanya aku mati. Psikiater menyarankanku untuk belajar melupakannya."


"Tapi Kenzie sudah berusaha untuk---" kalimat Shine disela.


"Eden, anak angkat yang aku rawat. Kenzie pernah memberi uang, memberikan pilihan untuk menggugurkannya. Apa dia akan menjadi ayah yang baik untuk putraku? Putraku, semua tentang putraku. Jika William juga tidak menerimanya maka aku juga akan belajar melupakannya." Sebuah prinsip aneh dari seorang wanita yang bahkan belum memiliki anak.

__ADS_1


Benar-benar aneh seharusnya Giovani membenci anak itu, mengutuk dan mengumpat padanya. Niat awalnya benar-benar ingin menjadikan anak itu pengganti Kenzie dan Fifi, menggantikan orang tuanya yang berhutang padanya. Tapi hanya dengan pertemuan pertama, wajah bayi mungil yang mirip dengan Kenzie itu membuatnya tertegun. Putranya, Eden adalah anaknya, bukan milik Kenzie ataupun Fifi, bukan juga pengganti mereka. Karena wajah tulus putranya yang menyayanginya.


Handphone Giovani berbunyi, sehari tiga kali putranya mengirim sebuah foto. Benar-benar merindukan ibunya. Ibu yang membesarkannya, seseorang yang seharusnya benar-benar membencinya. Tapi nyatanya menjadi satu-satunya orang yang mencintai Eden di dunia ini.


'Ibu nanti malam pulang,' itulah pesan yang dikirimkan putranya. Menemui Eden setelah pulang kantor memang rutin dilakukan Giovani. Menghabiskan waktu bermain walaupun hanya satu jam. Anak cerdas, mandiri yang mewarisi sifat Kenzie.


Wajah Giovani tersenyum, inilah yang membuatnya tetap bertahan hidup di masa terpuruknya. Jika dirinya mati, maka siapa yang akan mengasihi putranya.


*


Brak!


Tepatnya 8 orang wartawan bersama wanita bernama Gia berlutut di hadapannya.


"Hapus gambar yang kalian ambil! Dan berikan memory card kamera kalian." Perintah tegas dari Giovani yang tengah duduk di kursi ruang kerjanya dalam Sandayu Group.


Dalam tekanan para wartawan pada akhirnya memberikan memory kamera mereka. Tidak ingin terlibat masalah dengan wanita mengerikan ini, pergi berlalu setelah beberapa pengawal mengusir mereka.


Sedangkan untuk Gia. Giovani menatap wajahnya."Cukup cantik..." gumamnya menyeringai.


"Jika kamu ingin selamat, setelah ini dekati kekasih Yesy. Tidur sekali dengannya, kirimkan aku foto kalian, tapi ingat kamu harus dapat memilikinya semalam dengan bujuk rayu, bukan menjeratnya..." perintah dari Giovani tersenyum menyeringai.


Wanita mengangguk menyanggupi. Sedangkan Giovani tersenyum, bersamaan dengan Shine memberikan sejumlah uang pada Gia. Wanita yang melangkah pergi dengan cepat.


"Nona..." Shine menghela napas kasar.


"Kehidupan Yesy sudah hancur sejak awal. Aku melakukan ini karena tidak ingin dia menyerang istri sah Dominic. Lebih baik bersiteru dengan Gia kan?" gumam Giovani.


"Untung saja aku tidak jatuh cinta padamu..." Shine terkekeh, mengambil beberapa berkas yang menumpuk. Belakangan ini Giovani mengambil banyak proyek besar, bahkan merekrut banyak tenaga profesional yang dapat dipercaya ke perusahaan. Entah apa tujuannya melakukan hal tersebut.


Tapi ini seperti hari tenang sebelum badai, entah kenapa itulah yang ada di benak Shine saat ini, sedikit melirik ke arah majikannya yang masih fokus bekerja.


*

__ADS_1


Semua barang di apartemen sudah dikemasi oleh Dominic. Begitu juga uang senilai 14 miliar hasil dari menggadaikan rumah dan minimarket milik Yesy. Pemuda yang menghela napas kasar, tidak ada gunanya mempertahankan hubungannya dengan Yesy. Cepat atau lambat semuanya akan terbongkar.


Kemana dirinya akan pergi? Ke rumahnya? Mungkin untuk istri sahnya cukup diberi uang 100 juta sudah cukup. Enak saja ingin menikmati uang hasil jeri payahnya. Juga terlalu merepotkan jika harus melarikan diri bersama anak istrinya.


Hingga bel pintu apartemen berbunyi. Dengan perasaan berdebar Dominic melihat dari CCTV, sejujurnya dirinya takut Yesy mengetahui segalanya. Hasil dari uang pinjaman dengan rumah dan minimarket sebagai jaminannya, hanya puluhan juta saja yang masuk ke kantong Yesy. Sisanya tentu saja dirinya yang membawa dengan dalih investasi.


Namun bukannya Yesy, Gia berada di sana. Teman Yesy yang berprofesi sebagai wanita penghibur. Wajah yang lebih cantik dari Yesy, penampilannya yang menggoda, kali ini memakai pakaian ketat membuat Dominic menelan ludahnya.


Perlahan dirinya membuka pintu, matanya menelisik mengamati kecantikan Gia. Namun tanpa diduga Gia mencium bibirnya agresif.


"Aku menginginkanmu. Semenjak pertama kali aku bertemu denganmu. Kita lakukan sekali untuk perpisahan ya? Aku tidak akan mengatakannya pada Yesy..." Ucap Gia tersenyum menggoda.


Kucing yang diberikan ikan? Siapa yang akan menolak. Dominic mencium bibir Gia rakus, membuka kemeja yang dipakainya. Serta sehelai pakaian ketat yang digunakan Gia.


Bug!


Tubuh itu dijatuhkan di atas sofa. Wanita yang sesekali mengambil gambarnya menggunakan kamera phonecell sambil bercumbu. Ini sudah biasa baginya, tapi kali ini dibayar mahal oleh Giovani.


Berharap mendapatkan William? Tentu saja tidak, dirinya dibayar hanya untuk berpura-pura berkencan dengan William. Lagipula Giovani terlalu berbahaya baginya.


Membiarkan pria itu melepaskan seluruh pakaiannya. Menghela napas kasar benar-benar kurang perkasa. Apa yang membuat Yesy lebih memilih Dominic? Entahlah, apa benar-benar kaya?


Sejujurnya Gia sering berkencan dengan banyak pria terutama kalangan atas atau pun terkadang kalangan menengah. Dirinya cukup tau bau parfum mahal yang melekat di tubuh pria.


Parfum? Jika difikirkan sekali lagi Dominic yang tengah mengguncang tubuhnya hanya memakai parfum seharga 15 ribu yang dijual sales keliling. Sedangkan William? Ada ciri khas tersendiri dengan bau parfum pemuda itu parfum merek Dior dengan harga sekitar 3 juta rupiah satu botol kecilnya. Menurutnya pemuda itu masih terbilang berhemat.


Kala menggantikan dirinya membayar bill terdapat black card di dompetnya. Bukan black card biasa, black card yang dikeluarkan bank dunia dengan nilai transaksi minum yang benar-benar tinggi. Walaupun pemuda itu membayar menggunakan kartu biasa tidak mengeluarkan black card-nya. Tapi dugaannya tersebut dapat membuktikan William lebih kaya dibandingkan Giovani.


Bukan hanya satu terdapat deretan kartu berbeda disana. Dirinya yang terbiasa menilai sesuatu dengan uang sudah dapat memperkirakan, tapi untuk bersaing dengan Giovani? Mendapatkan Willam? Dirinya tidak akan mengambil resiko. Menjerat William taruhannya nyawa, pemuda itu dapat menyingkirkannya dengan mudah, ini menurut instingnya.


Sedangkan bersaing dengan Giovani? Terkadang tempramen wanita itu mengerikan. Hanya satu benang merah yang dapat ditariknya dalam menilai pria. Yesy benar-benar bodoh melempar William ke tempat sampah, demi menjadikan Dominic yang sok kaya menjadi suaminya.


Seperti biasanya, setelah hubungan selesai, Gia segera berpakaian mengirim foto pada Giovani, meninggalkan Dominic yang tertidur setelah satu jam."Durasi yang singkat," cibir Gia tidak puas.

__ADS_1


Mengirim pesan pada Giovani, berhadapan dengan orang seperti Giovani? Lebih baik menjadikannya sebagai teman daripada menjadikannya sebagai musuh.


'Jika ada tugas lagi, jangan ragu menghubungiku.' Itulah pesan yang dikirim Gia lengkap dengan emoticon senyum.


__ADS_2