When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Hanya Superstar


__ADS_3

Gelagapan, ketakutan, itulah yang ada dalam hati Yesy saat ini. Menatap William yang menghempaskan dirinya berjalan pergi.


"Aku bisa mendapatkan yang lebih baik darimu." Ucap Yesy dengan bibir bergetar meyakinkan dirinya sendiri.


"Apa benar?" Corrie mengenyitkan keningnya wajahnya tersenyum."Pernah mendengar pebisnis dengan nama Sanjaya? William adalah putra tunggalnya, bahkan Sandayu Group masih di bawah Sanjaya. Menyesal? Kasihan..." ejekan dari Corrie berjalan pergi mengikuti William.


Sedangkan Yesy benar-benar gemetar saat ini matanya melirik ke arah Dominic.


"Katakan kamu orang kaya!" bentaknya menarik kerah pakaian Dominic. Namun Dominic hanya bisa diam. Tidak mengatakan apapun. Pintu gudang mulai tertutup, dua orang pengawal menggiring mereka.


"Kalian harus menikah malam ini. Kurang baik apa aku, sudah menemukan calon suamimu ditambah menikahkan kalian..." gumam Aksa, melirik ke arah Yesy.


"Ka... katakan pada William, aku mencintainya! A...aku tidak pernah mencintai Dominic. Katakan padanya!" teriak Yesy histeris.


Aksa mendekatinya kemudian tersenyum."Maaf aku dan Corrie sengaja. Kami tidak ingin memiliki majikan sepertimu. Pertemuan William dan Giovani semuanya ide Corrie. Merahasiakan identitas asli Dominic juga bagian dari rencana kami. Hati manusia dapat dibelokkan, jika sudah bertemu orang yang tepat. Tapi bisnis yang hancur perlu waktu yang lama untuk memulihkannya. Memiliki majikan sepertimu, hanya akan membuatku dan Corrie tidak memiliki pekerjaan."


Seringai yang benar-benar keji. Dirinya juga baru mengetahui betapa picik seorang Corrie. Pria yang mengetahui seorang wanita kalangan atas diantara jajaran para fans William. Sengaja tidak menemani William kala akan dijerat oleh Dewa. Tapi malah memberikan informasi pada Giovani untuk menolongnya.


Tidak disangka bukan, semua orang berada dalam kendali Corrie sejak awal bagaikan boneka tali. Namun, untuk hati Corrie benar-benar tidak menduga William akan dapat dengan mudah mencintai Giovani.


"Kurang ajar! Katakan pada William aku mencintainya! Dia berhutang budi padaku!" Yesy masih berteriak histeris. Rasa sakit menjalar dalam dirinya nama Sanjaya tentu saja pernah diketahuinya pebisnis yang memiliki perusahaan besar. Siapa sangka anaknya adalah seorang selebriti.


Tak!


Tak!


Aksa menodongkan senjata apinya pada kepala Yesy."William sudah tidak peduli padamu. Lebih baik kamu mati saja, dari pada hanya akan menjadi beban di kehidupan kami,"


Wanita itu menunduk dengan tangan gemetar."Aku akan menikah," ucapnya dengan air mata mengalir. Bagaikan telah memiliki tiket untuk menjadi nyonya keluarga konglomerat namun pada akhirnya tersungkur menjadi istri kedua seorang pecundang.


*


Mobil milik William kembali melaju. Malam ini pemuda itu sama sekali tidak tidur. Tidak pulang selama lebih dari seminggu, entah akan semurka apa istrinya.

__ADS_1


Tepat pukul 3 pagi, pemuda aneh yang kali ini tidak akan tinggal diam. Menghubungi butik ternama agar buka lebih awal.


William saat ini tengah duduk dengan seorang pengawal di belakangnya. Dua orang pramuniaga serta pemilik butik yang masih acak-acakan melayaninya.


"Aku ingin ini, ini, dan ini..." ucapnya menunjuk beberapa barang.


"Ada perhiasan?" tanya William kembali.


Sama seperti sebelumnya sejajaran set perhiasan diperlihatkan tiga orang wanita yang bahkan belum mandi dengan rambut yang disisir tidak rapi. Namun, setidaknya mereka tidak masih menggunakan piyama, telah menggunakan seragam butik.


"Entah taipan dari mana..." batin sang pemilik butik menatap belanjaan yang bertumpuk.


"Anak sultan..." batin pramuniaga.


"Keturunan bangsawan Inggris..." Anggapan satu pramuniaga lainnya dalam hati.


"Aku ingin ini..." ucap William menunjuk sebuah kalung cantik bernilai tinggi memberikan kesan modern namun terkesan simpel. Benar-benar citra seorang Giovani.


Wajahnya tersenyum terlihat manis tidak berdosa, dengan begini istrinya tidak akan marah lagi.


"Wa... wanita suka perhiasan dan pakaian kan? Jadi Giovani akan luluh." Ucap William menyadari ini seorang Giovani, apapun dapat dibelinya.


"Kenzie juga bisa membelikan ini padanya. Mungkin saja, mereka sudah akan menikah, setelah Giovani meninggalkanmu. Atau mungkin sedang membuat anak. Dapat aku bayangkan tubuh yang sama-sama berkeringat. Kenzie yang tersenyum mengombang-ambing tubuh Giovani, sesekali menciumnya. Giovani yang mencakar punggungnya." Kalimat tidak tau situasi dari Corrie terhenti kala William menatap tajam padanya.


"Hatiku terasa sakit membayangkannya..." kalimat dari mulut William berjalan keluar dari butik setelah black card-nya dikembalikan.


"Tapi memang benar kan!? Jika jadi Giovani aku akan memilih Kenzie yang sudah pasti bisa membahagiakanku." Corrie berlari cepat menyusul langkah William.


Bukan hanya belanjaan yang bertumpuk, tepat pukul 7 pagi tiga mobil memasuki pekarangan rumah keluarga Sandayu. Dua orang security membukakan gerbang. Masih terlalu pagi. Apa yang akan dilakukan Giovani? Mungkin berlari memeluknya. Itulah yang ada dalam imajinasi seorang William.


Pintu utama dibukakan pelayan, William segera naik ke lantai dua tempat kamarnya dan Giovani berada. Tapi setelah di absen ternyata nihil, satu persatu tempat diperiksanya keberadaan istri agresifnya tidak ditemukan.


"Giovani! Giovani!" panggilnya mulai cemas, firasat tidak enak ada dalam dirinya. Benar-benar tidak enak, apa yang sebenarnya terjadi? Hingga langkahnya terhenti kala bertemu dengan kepala pelayan.

__ADS_1


"A...apa Giovani sedang ke luar kota?" tanya William pada pria di hadapannya.


"Tuan, sebaiknya anda bertemu dengan tuan Jimmy." Kepala pelayan menunduk memberi hormat memimpin jalan mereka menuju ke kamar Jimmy.


"Giovani kawin lari dengan Kenzie. Atau mungkin dia selama ini menyukai adiknya..." Corrie merapatkan bibirnya berusaha tidak tertawa menatap raut wajah cemas William saat ini.


Ceklek!


Pintu dihadapan mereka dibuka, terlihat seorang calon dokter yang tertidur dengan nyenyak. Wajah damai tidak berdosa yang masih terlelap, memakai pakaian dengan print black pink.


"Tuan muda...tuan muda...tuan muda..." Sang kepala pelayan berusaha membangunkannya, perlahan Jimmy menggeliat, menatap keberadaan William disana. Menggaruk-garuk tengkuk dan b*kongnya kemudian lanjut tidur.


"Tuan!" bentak kepala pelayan.


"Apa!?" Jimmy menguap beberapa kali. Menatap malas kali ini. Tapi ini memang kesalahan kakaknya.


"Maaf," itulah satu kata yang keluar dari mulut Jimmy, menatap William dengan sorot mata dingin.


"Maaf?" William mengenyitkan keningnya.


"Tunggu 15 menit lagi di lantai satu akan aku jelaskan semuanya." Ucap Jimmy hanya dapat menghela napas berkali-kali.


*


Menunggu dalam waktu yang cukup lama, pemuda yang tidak tahu bunga apa yang disukai Giovani, membeli hampir seluruh bunga yang ada di toko.


Ruang tamu kini terlihat benar-benar indah. Wanita mana yang tidak akan terharu melihat belanjaan yang menumpuk dan keromantisan tingkat tinggi. Hingga pada akhirnya Jimmy turun dari lantai dua, membawa sebuah map hijau.


Mata pemuda itu menelisik, bagaikan sebuah kebun bunga. Pada akhirnya duduk di hadapan Corrie dan William.


"Kamu menyumpahi kakakku mati sampai-sampai membawa bunga sebanyak ini!? Kenapa tidak sekalian saja karangan bunga." Gerutu Jimmy.


"Maaf, intinya dimana Giovani aku ingin minta maaf padanya." Kalimat yang diucapkan William dengan nada lugu penuh rasa bersalah.

__ADS_1


"Maaf tapi bagi kakakku kamu hanya superstar. Bintang yang tidak tergapai. Jadi mohon urus surat pembatalan pernikahan. Kembalilah menjadi lajang. Kakakku hanya ingin minta maaf padamu atas kekeliruannya." Kalimat demi kalimat yang diucapkan Jimmy.


"Mampus!" suara tawa Corrie terdengar nyaring.


__ADS_2