When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Ingin Bertemu


__ADS_3

"Panggil pengawal! Atur CCTV! Sekarang." Sebuah perintah dengan aura dingin menyengat dari Giovani.


Dengan cepat Shine berlari melakukan perintahnya. Sedangkan wanita itu melangkah menuju bar, memberikan tiga lembar uang 100 dolar pada sang bartender.


"Kamu melihat orang ini? Jika dapat memberikan informasi uang ini untukmu," ucapnya tersenyum ramah, menyodorkan phonecell dengan gambar William sebagai wallpaper nya, beserta yang 300 dolar.


"A...aku," sang bartender terlihat ragu.


Prang!


Giovani memecahkan gelas red wine, menyodorkannya pada leher sang bartender."Katakan! Atau kamu ingin mati disini?" tanya gadis itu menyeringai.


"I...iya! Pemilik bar membawanya ke kamar. Ada di lantai dua! Kamar dengan cat pintu berwarna hitam pekat!" jawab sang bartender dengan celana yang mulai basah berbau pesing.


Menunggu Shine dan pengawal? Itu terlalu lama. Hingga pada akhirnya Giovani melangkah seorang diri menuju lantai dua sedangkan sang bartender segera mendatangi security untuk menghentikan Giovani.


*


Apa yang terjadi dalam ruangan? William mulai tersenyum hampir tertidur. Sedangkan wanita itu baru membersihkan dirinya. Tidur dengan selebriti idolanya? Tentu saja harus terlihat sempurna, agar pria ini ketagihan.


Masih memakai jubah mandi, berjalan mendekati tubuh sang pemuda.


"Giovani mesum!" teriak William, melempar bantal ke arah sang wanita.


Hingga mereka bertambah dekat, beberapa centimeter lagi. Dan...


Brak!


Seperti yang sudah diduga wanita itu datang, dua orang pegawai club'malam sudah terjatuh tidak berdaya di hadapannya. Menatap tajam ke arah wanita di hadapannya.


"Mengambil milikku? Apa kamu bosan hidup?" tanyanya menyeringai.


"Wanita si*lan!" wanita itu hendak menyerang Giovani. Mungkin ingin bermain jambak-jambakan dan cakar-cakaran. Tapi apa bisa?


Kaki jenjangnya, menendang perut sang pemilik club'malam. Bukan bermain cakar-cakaran lagi, jangan harap ada adegan jambak-jambakan.


Brak!


Wanita yang mengaduh kesakitan itu dibantingnya. Roboh seketika.


Namun, hal yang tidak diduga, William bangkit memeluknya. Bagaikan kucing kecil yang ketakutan dengan air."Giovani!" ucapnya tertawa.

__ADS_1


Senyuman terlihat di wajah wanita itu. Hingga seorang pegawai club'malam yang sudah dirobohkannya bangkit memegang botol bir. Hendak memukul ke arah kepala Giovani.


Sesuatu yang disadari William dalam penglihatannya yang samar. Dengan cepat posisi mereka dibaliknya.


Prang!


Tetesan darah terlihat, punggung William yang terkena benturkan dari botol bir. Menyisakan banyak pecahan kaca di lantai.


"Giovani, kamu tidak apa-apa?" tanya William yang masih dalam keadaan mabuk. Tersenyum, sejenak kemudian tidak sadarkan diri dalam pelukan Giovani. Tangan wanita itu gemetar, merasakan punggung sang pemuda yang mengeluarkan darah segar.


"Wanita br*ngsek! Aku akan---" Kata-kata sang pemilik club'malam itu yang hendak bangkit terhenti. Kala Giovani membaringkan tubuh William ke lantai.


Prang!


Botol bir lain dipecahkan olehnya, menyisakan pecahan besar yang tajam. Wajah yang terlihat benar-benar dingin, bagaikan ingin menghabisi orang-orang yang ada di hadapannya.


Dua orang security yang baru tiba, menyerangnya. Wanita dengan bentuk tubuh menggoda itu, memegang pergelangan tangan security yang hendak meninjunya. Kemudian menendang tepat pada telur ayam hingga mungkin sepasang sang anak ayam berteriak kesakitan.


"Berikutnya aku akan menggunakan benda tajam..." Giovani tersenyum menatap hina pada lawan. Hanya tiga orang yang masih tersisa. Entah kenapa salah satu security yang baru datang melarikan diri dengan cepat.


Sedangkan pemilik club'malam ketakutan hingga kakinya gemetar untuk bergerak, berusaha keluar mencari bantuan. Dan benar saja, pelayan yang memukul William menggunakan botol bir dirobohkan. Tubuhnya dipojokan pada dinding, pecahan botol bir yang ada di tangan Giovani didekatkan pada pipi sang pelayan.


"Aku akan membunuhmu perlahan. Tidak perlu khawatir, masih ada waktu untuk menjerit lebih banyak..." bisiknya pada pelayan pria yang benar-benar ketakutan.


Para pengawal mengacungkan senjata mereka. Hingga tidak ada yang berani bergerak.


"Jangan begini... jangan membunuh. Yang harus kamu khawatirkan William. Jangan fikirkan yang lain..." Kata-kata dari mulut Shine, memeluk tubuh sahabat sekaligus atasannya.


Giovani terdiam, matanya masih tanpa ekspresi. Namun setetes air mata mengalir disana. Mungkin bayangan buruk itu kembali teringat, kala kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Ceceran darah, mobil yang rusak, mengurus seorang diri pemakaman kedua orang tuanya. Menenangkan adiknya yang masih tidak dapat menerima kenyataan.


Giovani melepaskan pelukan Shine, berjalan dengan langkah gontai terduduk di lantai mendekati William.


"Aku tidak ingin sendiri lagi..." Batinnya, mengusap wajah pemuda itu pelan.


*


"Kenapa belum sadar juga!?" bentak Giovani tiba-tiba pada Devira (dokter pribadi Giovani).


"Aku ini dokter spesialis kejiwaan. Bukan dokter bedah, jadi wajar saja harus pelan-pelan. Hirup napas dalam-dalam, tenangkan dirimu. Sudah minum obat?" tanya Devira.


Giovani tidak menjawab, menatap punggung pemuda yang memar dengan beberapa luka goresan kecil itu diobati.

__ADS_1


"Apa akan berbekas? Dia sangat mencintai penampilannya." Tanya Giovani.


"Tidak hanya luka gores yang tidak terlalu dalam. Tidak akan berbekas!" geram sang dokter kala Giovani benar-benar menggangunya melakukan tugasnya.


"Bisa pelan-pelan? Jangan sampai dia terbangun."


"Apa obat ini kadaluarsa? Atau ini tanggal produksinya?"


"Jangan terlalu intens menyentuh punggungnya! Bagaimana pun kamu wanita! Dan dia pria!"


Berbagai celotehan aneh keluar dari mulut Giovani membuat Devira mati-matian menahan rasa kesalnya.


"Kamu saja yang obati!" geram sang dokter.


"Aku yang obati! Tapi bagaimana caranya agar rapi?" tanyanya pada Devira. Membuat Devira menepuk jidatnya sendiri. Wanita perfeksionis yang tidak ingin ada kesalahan sedikit saja pada pria aneh dari kalangan selebriti.


Hingga akhirnya Devira kembali mengambil alih. Membersihkan luka dan memberikan obat pada punggungnya pemuda yang tengah tertidur.


"Sudah dua butir obat yang tidak kamu minum. Tapi hari ini harus minum obat lagi..." gerutu sang dokter.


Giovani mengangguk, kemudian tersenyum."Aku tidak ingin dia terluka. Jadi aku terlalu emosional."


Devira menghela napas kasar mulai bangkit usai mengobati William."Ingat! Pria ini dapat menjadi obat bagimu. Atau berfungsi sebaliknya, menjadi racun yang membunuhmu pelan-pelan!" Peringatan dari sang dokter, berjalan keluar meninggalkan kamar Giovani.


Wanita itu tersenyum, membaringkan tubuhnya di samping William yang tertidur dalam kondisi tengkurap. Merapikan anak rambut pemuda itu pelan.


"Jika kamu lebih bahagia saat melepaskan diri dariku. Maka aku akan melepaskanmu, tapi biarkan aku beristirahat di sisimu. Walaupun hanya tiga bulan, bersabar lah untuk bahagia dengan wanita yang kamu inginkan..." Kata-kata dari mulut Giovani. Wanita yang tersenyum, perlahan mengecup bibir Willam. Hanya kecupan singkat.


Kala cahaya bulan samar memasuki tirai jendela tipis, kala itulah dua pasang mata telah terlelap. Mungkin untuk menikmati hari mereka esok.


*


Tidak menyadari apa yang sedang dilakukan Yesy saat ini. Wanita itu tersenyum tengah bergabung berbincang dengan club sosialita kelas menengah keatas yang baru dimasukinya.


"Jadi kamu kenal William?" tanya Ina.


"Tidak hanya kenal, aku sudah seperti adiknya sendiri. Bahkan jika bukan karenaku, William tidak akan menikah dengan Giovani," dusta Yesy, tersenyum bangga.


"Kalau begitu kamu bisa membantuku? Putraku baru saja lulus kuliah. Bisa kamu atur untuk masuk ke Sandayu Group, menjadi karyawan biasa juga tidak apa-apa. Gaji karyawan disana kan tinggi." Pinta buk Tias.


"Iya Yesy, perkenalkan kamu pada Giovani ya? Sekedar datang ke kantornya untuk bertemu juga tidak apa-apa." Pinta Ina.

__ADS_1


"Iya, besok aku atur, kita bisa datang bersama..." jawaban darinya enteng. Tiga ekor hamster yang ingin mendatangi sarang rubah? Apa yang akan terjadi?


__ADS_2