When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Akar Dan Daun


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu dari kejadian di restauran. Pesan berupa beberapa foto Gia dan Dominic dikirimkan Giovani pada Yesy. Maksud buruk dan baik, dirinya ingin membuktikan dapat menghancurkan Dominic yang disombongkan oleh Yesy. Sekaligus ingin mengetahui seberapa dangkal atau dalamnya perasaan manusia.


Menghela napas kasar, jika kali ini gagal dirinya memang cukup untuk sendiri, membesarkan putra tercintanya. Menjauh dari masalah sebelum masalah itu terjadi.


Giovani menyandarkan punggungnya pada kursi putarnya. Menghela napas berkali-kali, air mata tiba-tiba mengalir. Orang tua yang terus mengeluh tentang penyakitnya, tunangan yang berakhir berhubungan dengan sahabatnya. Apa William akan berbeda? Keraguan selalu ada dalam hatinya, dirinya yang memaksa William di awal.


Teriknya matahari tertutup awan gelap, kala itulah Dominic menghubungi travel, meninggalkan penginapan pinggir kota dirinya harus pergi secepat mungkin.


Uang dengan nominal 100 juta di transfer langsung pada istrinya. Dan sisanya dirinya yang harus menikmati hasil kerja kerasnya.


Matanya menatap ramainya hiruk-pikuk jalanan. Dirinya akan sukses di tempat lain, mungkin membuka restauran kelas menengah. Menikmatinya hidup sukses seperti dalam imajinasinya.


Sebuah bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak. Inilah yang terjadi saat ini.


*


Sudah genap dua bulan mereka tinggal bersama. Hari ini Giovani membuat makan malam seorang diri, tangannya begitu cekatan memegang pisau, mungkin kuliah di Jerman seorang diri menjadi penyebabnya. Beberapa notifikasi pesan masuk dari Kenzie, sama sekali tidak ada balasan darinya.


Mengapa Kenzie belum muncul juga menemui Giovani? Pemuda itu menggantikan tugas ibunya yang masih berada di luar negeri. Ditambah dengan dua investor yang melanggar kesepakatan, tentunya ini ada hubungannya dengan Aksa, orang kepercayaan William. Masalah yang sejatinya dapat diatasinya dengan mudah meskipun menelan banyak waktu.


Kembali pada Giovani, wajah wanita itu tersenyum, sedikit mencicipi makanan buatannya. Kemudian mempersiapkan dirinya dan putranya.


Benar, sudah saatnya memperkenalkan Eden pada William.


"Ibu aku pergi ke dalam sebentar. Perutku sakit..." ucap anak itu berlari ke dalam toilet lantai satu. Sedangkan Giovani hanya dapat menertawakannya yang memegang area p*ntatnya. Seperti sudah tidak tahan lagi, ingin mengeluarkan semua hal yang ada di dalam sana.


*


Ada kalanya satu kata dapat menjadi badai besar dalam hati. Manusia memiliki kepribadian yang berbeda, ada yang santai seperti Corrie ada pula yang selalu serius seperti Sakha. Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki gangguan kepribadian? Cara berfikir yang berbeda dalam menyikapi suatu masalah dengan orang kebanyakan.


Mobil milik William melaju dengan Corrie yang berada di kursi pengemudi, sudah dua bulan dirinya berstatus sebagai suami seorang Giovani. Wajahnya tersenyum, matanya menatap ke arah embun yang mulai membasahi jendela mobil.


Hingga dering suara phonecell terdengar. William menghela napas kasar mengangkatnya dengan malas.


"Halo..." ucapnya menyandarkan punggungnya di kursi penumpang bagian belakang.


Suara tangisan Yesy terdengar di seberang sana."Kak, aku tau hubunganku dengan kak Giovani tidak begitu baik. Tapi kenapa dia harus mengirim orang untuk menjebak calon suamiku?"


"Jangan bergurau, Giovani tidak mungkin---" Kalimat William disela.


"Apanya yang tidak mungkin!? Dia dapat memaksamu untuk menikah! Bahkan dia juga dapat mempermalukan ku di depan orang banyak. Aku hamil... aku hamil tiga bulan, tapi harus melihat foto calon suamiku tidur dengan wanita lain!" tangisan Yesy terisak. Menghela napas kasar mencoba menenangkan diri.


"Kalau kakak tidak percaya aku akan mengirim screenshot-nya! Dan periksa sendiri apa itu nomor Giovani!?" suara Yesy terdengar histeris.

__ADS_1


Wanita itu mengirim screenshot pesan yang dikirimkan Giovani. Tapi tentunya dengan foto Gia dengan wajah yang disamarkannya. Tidak ingin dirinya ketahuan mencoba menjebak William sebelumnya.


"Kakak sudah menerimanya!? Terserah! Aku tidak peduli lagi pada kehidupanmu, tapi nasehati istrimu. Aku yang sudah menyelamatkan hidupmu." Kalimat yang disampaikan Yesy membuat William gusar. Panggilan yang diakhiri sepihak oleh Yesy.


"William jangan bilang kamu ingin menasehati Giovani?" tanya Corrie menghela napas kasar, masih berusaha konsentrasi mengemudikan mobilnya.


William mengangguk."Giovani harus berusaha berprilaku lebih baik lagi."


"Dengar! Apa kamu yakin Giovani mencintaimu sampai ke tahap dimana dapat mengerti yang kamu katakan? Ini pengalamanku sebagai pakar cinta, sang Casanova, playboy sejati. Kalian baru menjalin hubungan, belum saling mengenal prilaku masing-masing. Jadi---" Kalimat Corrie disela.


"Dia orang yang pengertian, dan tegar." Hanya itulah kata yang diucapkan William. Bersamaan dengan mobil yang memasuki gerbang.


Dua orang yang mulai masuk ke dalam rumah, setelah memarkirkan mobilnya. Giovani terlihat di sana menyambut kedatangannya. Prilaku yang cukup aneh seperti merendahkan dirinya untuk sesuatu.


"Aku punya kejutan untukmu ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Ucap Giovani penuh semangat. Ingin segera menarik William ke meja makan. Hari ini dirinya pulang lebih awal untuk makan malam bersama keluarganya yang lengkap.


Namun, William melepaskan pegangan tangan Giovani. Menghela napas kasar mencoba bicara baik-baik padanya."Apa kamu membayar orang untuk tidur dengan Dominic?"


Giovani menggangguk, ekspresi wajahnya berubah, badai yang diundangnya sendiri sebelum perasaannya terlalu dalam."Aku yang melakukannya."


"Kenapa?" satu pertanyaan lagi dari Willam mengenyitkan keningnya.


"Karena aku membencinya," senyuman menyeringai di wajah Giovani."Jika bisa aku ingin mendorongnya untuk menikah dengan pria b*jingan."


"Kenapa tidak menikah dengannya saja?" tanya Giovani dengan perilaku yang semakin aneh, wajahnya masih tersenyum cerah."Satu bulan lagi, kita bukan pasangan suami-istri lagi,"


William mengepalkan tangannya, menahan emosinya."Kamu yang memaksaku untuk menikah."


Bukankah pasangan memang begitu? Ketika bertengkar akan mengungkit kelemahan pasangannya masing-masing. Tidak mau mengalah bagaikan anak kecil. Namun, setelah pertengkaran itu berakhir, bahkan mereka tidak akan mengingat bagaimana pertengkaran itu dimulai. Dan yang tertinggal hanya sesal.


Giovani tertawa tiba-tiba."Kamu yang mengatakan kita adalah kekasih dan menyatakan cinta terang-terangan padaku. Ini semua dimulai darimu."


Wajah wanita yang terlihat tegar. Namun benar-benar rapuh seperti sebuah cermin yang retak.


"Kapan aku mengatakannya? Kamu yang memaksaku untuk menikah. Lalu kamu juga yang membuatku mencintaimu. Aku..." William menatap wanita di hadapannya. Air mata mengalir di pipi Giovani. Wanita itu menangis untuk pertama kalinya di hadapannya.


"Gio...aku---" Jemari yang ingin mendekat terhenti. Suara phonecell miliknya terdengar, Corrie yang mengangkatnya. Setelah mendengarkan kata-kata orang yang ada di seberang sana phonecell segera diberikannya pada William.


Jenuh, itulah perasaan Corrie saat ini."Yesy," ucapnya memberi tahu William identitas si penelepon.


"Halo..." Kalimatnya terhenti sejenak, seperti mendengarkan dengan seksama kata-kata yang Yesy ucapkan.


"Dia tidak ada di apartemen!?" Ucap William pada seseorang di seberang sana terdengar cemas, segera menutup telponnya.

__ADS_1


"Giovani aku... masalah ini besok kita selesaikan." Ucap William memegang kedua bahunya.


Wanita itu tersenyum tipis."Dia hanya seperti adik bagimu kan? Temui dia!" perintah dari Giovani.


William hanya tersenyum mengecup keningnya."Maaf untuk hari ini..." satu kalimat darinya. Pemuda yang segera pergi diikuti Corrie. Tidak menoleh ke belakang sama sekali.


Menemukan jalan pulang? Rumah yang dimiliki William telah runtuh. Wanita itu terdiam tanpa ekspresi dengan air mata yang masih mengalir.


"Ibu..." Eden melihat semuanya, memeluk tubuh Giovani."Aku tidak apa-apa jika tidak memiliki ayah. Cukup dengan ibu,"


"Ayo kita makan," ucap Giovani menggendong putranya penuh senyuman.


Dentingan suara garpu dan pisau beradu, saat ini Jimmy baru saja tiba. Sang adik yang tidak mengetahui tentang anak kecil yang tiba-tiba bergabung di meja makan. Mata Jimmy menelisik, benar-benar mirip dengan Kenzie saat kecil.


Matanya sedikit melirik ke arah Giovani yang terlihat makan dengan tenang.


"Apa kakak diam-diam hamil dan melahirkan di Jerman?" itulah yang ada di fikirannya tentang asal-usul tuyul berambut ini. Wajah rupawan, gaya anak kalangan elite, ini benar-benar seperti Kenzie.


Sedangkan Eden menatap cemas ke arah ibunya yang menatap dengan tatapan kosong. Tidak memiliki hubungan darah, namun bagaikan anak ini yang paling memahami ibunya, dan benar saja.


Srak!


"Ibu!"


"Kakak!"


Teriak Eden dan Jimmy bersamaan. Menatap Giovani yang menancapkan garpu pada punggung tangan kirinya. Darah mengalir membasahi lantai, bagaikan kesemutan. Apa dengan rasa sakit semua akan menghilang? Itulah yang ada di fikirannya saat ini.


Dua orang yang menangisinya. Berusaha mengobatinya dengan cepat. Hingga Shine yang memang berada di ruang kerja mengambil beberapa butir obat. Memasukkannya dalam mulut Giovani.


Tangannya bergerak cepat menghubungi psikiater.


*


Dalam mobil yang melaju, William menghela napas berkali-kali, merasa perasaan tidak nyaman dalam dirinya. Pemuda yang tidak mengetahui akar Giovani dapat membalas perasaannya adalah psikiater.


...Akar yang kotor. Karena itulah daun dapat tumbuh....


...Akar yang tumbuh dalam kubangan lumpur. Karena itulah pucuk yang segar akan terlihat....


...Akar yang lapuk. Saat itulah aku ingin mati, kala melihat perasaanmu terluka....


...Karena aku hanya sehelai daun, yang makan dan tumbuh darimu. Jika ibu lapuk, maka aku ingin tumbang, bersatu dengan tanah untuk menemanimu....

__ADS_1


Eden...


__ADS_2