When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Salah Pergaulan


__ADS_3

Dengan langkah angkuh mendatangi kantor Sandayu Group. Walaupun tidak dapat dihubungi, namun William akan membantunya di segala situasi. Giovani? Mungkin hanya pelampiasan bagi William, kala dirinya bersama Dominic.


Hingga sampai di depan meja resepsionis. Suami Ina merupakan salah satu pejabat daerah, memiliki usaha travel. Sedangkan Tias yang ada di sampingnya wanita karier memiliki butik sendiri dengan beberapa cabang. Seorang janda satu anak yang membesarkan anaknya seorang diri, anak laki-lakinya kini baru saja lulus kuliah di bidang bisnis dan manajemen.


Karena itulah Tias menelan harga dirinya beberapa hari ini. Agar putranya dapat bekerja di Sandayu Group, mengikuti kata-kata Yesy. Bahkan membiarkannya mengambil beberapa gaun dari butik miliknya.


Inilah hasilnya. Dirinya akan bertemu dengan Giovani. Putranya akan mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang ditekuninya.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis sopan.


"Saya adik ipar pemilik perusahaan ini. Cepat tunjukkan ruangan Giovani!" Kata-kata Yesy penuh keangkuhan.


Tidak menyadari Tias mulai bersisik pada Ina."Dia tidak tau ruangannya. Apa benar dia mengenal Giovani?"


"Dari cerita dan fotonya dengan William sih, benar dia mengenal William. Tapi kalau mengenal Giovani, entahlah..." gumam Ina, juga sedikit berbisik.


Dua orang yang mulai cemas, telah menuruti dan mengikuti orang yang salah.


"Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis lagi. Berusaha untuk ramah.


"Janji? Kamu mau dipecat!? Aku sudah seperti adik bagi William, suami Giovani! Jika aku marah aku dapat meminta William untuk menceraikan bos kalian!" bentaknya pada wanita di hadapannya.


"Maaf, tapi sesuai prosedur harus memiliki janji dulu. Atau anda silahkan tunggu disana. Kami akan menghubungi sekertaris nona Giovani." Kalimat yang jauh lebih sopan lagi, padahal hati sudah mendidih, bagaikan sudah siap untuk menyeduh mie instan dalam kemasan cup.


"Kalian tidak dengar!? Aku dapat membuat Giovani diceraikan! Kalian berani berlaku tidak sopan padaku!" Kalimat dari Yesy menjaga gengsi dan otoritasnya di depan dua sahabatnya. Menarik kerah kemeja sang resepsionis.


Sang resepsionis menepis tangan Yesy kasar, raut wajah ramah penuh senyuman itu berubah dingin."Semua pegawai di sini terkejut dengan pernikahan nona Giovani. Jika kamu dapat membuat nona bercerai itu lebih bagus. Akan menguntungkan untuk perusahaan. Suami majikan seorang selebriti? Untuk apa seorang selebriti jika tidak berguna? Tunangan nona muda lebih berguna daripada artis yang diteriaki para remaja."


"Berani-beraninya kamu---" Kalimat Yesy dipotong.


"Nona Giovani orang yang fleksibel, kami dapat mengutarakan pendapat kami tanpa takut dipecat. Asalkan kami tidak bertindak keterlaluan, seperti kekerasan fisik atau menyerang psikologis di media sosial. Karena saya pegawai yang royal dan setia pada nona, karena itu saya mengatakan ini. Memiliki adik ipar sepertimu dan suami seorang selebriti tidak ada untungnya. Hanya akan menjadi benalu dan duri dalam pernikahan. Jadi duduk di sana dan tunggu nona datang! Jika tidak saya akan memanggil security untuk mengusir anda." Tegas sang resepsionis dengan raut wajah dingin. Tanpa senyuman sama sekali.

__ADS_1


Pada akhirnya Yesy menghentakkan kakinya kesal. Mengikuti perintah sang resepsionis untuk duduk dan menunggu.


"Di...dia tidak mengenalmu? Kamu baru pertama kali kemari?" tanya Tias duduk di sofa yang terdapat di lobby perusahaan.


"Iya! Tapi dengan perintahku kak William akan mendepak Giovani dengan mudah. Jadi sebenarnya Giovani takut padaku." Jawab Yesy benar-benar tidak mau kalah.


Ina sedikit melirik Tias, memberanikan dirinya untuk bicara."Jika di fikir-fikir Giovani menikah dengan William mungkin hanya untuk kesenangan saja. Kamu yakin Giovani menikah dengannya karena mencintainya?"


Ina mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar, berbisik pada Tias."Tidak tau, tidak masuk akal juga sepertinya. Wajah lebih cantik dari selebriti, harta kekayaan melimpah, tapi malah menyukai pria yang memiliki penghasilan lebih rendah."


Dua orang yang bagaikan detektif dapat mengutarakan deduksi seperti detektif Conan. Bahkan sebenarnya detektif Conan pun kalah, mengingat dua orang ini dapat menerka situasi tanpa bukti.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Yesy mengalihkan pandangannya dari phonecellnya.


"Tas kamu bagus! Baru ya?" tanya Tias mengalihkan pembicaraan.


"Iya! Sudah pasti baru! Barang mahal harganya murah kok cuma 200 juta. Dominic pacarku yang pengusaha batubara membelikannya." Kata-kata Yesy penuh senyuman dengan sengaja meletakkan tas kecilnya di atas meja, agar orang-orang dapat melihat tas yang beberapa minggu lalu dibelikan William.


Yesy tersenyum."Tentu bisa, tapi perusahaannya berpusat di Kalimantan."


"Yah... susah kalau gitu ya? Soalnya aku tidak mau jauh dari anak." Ucap Tias menghela napas kasar. Mungkin kalau perusahaan di luar pulau anaknya sudah direkrut saudaranya di Batam. Mungkin hanya Giovani yang dapat memberikan pekerjaan pada putranya yang baru lulus. Pasalnya sudah beberapa perusahaan yang diajukan lamaran, namun memang cukup sulit mendapatkan panggilan, mengingat belum memiliki pengalaman bekerja.


Yesy melihat area sekitar. Seorang office boy tengah membersihkan area lobby."Kamu kemari!" perintahnya.


"Iya?" sang office boy berjalan mendekat.


"Buatkan tiga lime tea, jangan terlalu manis!" perintah dari Yesy.


Sang office boy mengenyitkan keningnya, melirik ke arah resepsionis yang tengah menerima paket untuk karyawan.


"Siapa? Kenapa memintaku membuatkan minuman?" ucapnya tanpa suara hanya dengan gerakan bibir.

__ADS_1


Sedangkan resepsionis yang menerka kata-kata office boy hanya mengangkat bahunya, pertanda tidak tahu dan tidak peduli. Semua memang harus menjalankan tugasnya sesuai peraturan di kantor ini. Jika ada tamu penting di lobby maka resepsionis yang menghubungi petugas pantry untuk membuatkan minuman.


Begitu juga di ruangan lain. Menerima perintah langsung dari orang tidak dikenal. Tentu saja sang office boy akan berkata dalam hati."Siapa dia?"


Namun hanya kata yang tertahan. Karena pada kenyataannya tetap melaksanakan tugasnya. Berjalan menuju pantry, membuat tiga minuman. Tidak ada yang aneh sebenarnya. Hingga minuman itu sampai di atas meja lobby tempat Yesy duduk saat ini.


Tangannya menekan handphone. Sedangkan satu tangannya lagi, meraih gelas hendak meminum.


Byur!


Tiba-tiba Yesy berdiri. Seolah-olah kantor ini adalah milik nenek moyangnya. Menyiram sang office boy dengan lime tea."Kenapa tidak manis!" bentaknya.


Sedangkan Tias dan Ina mengenyitkan keningnya. Bukannya tadi Yesy yang meminta jangan terlalu manis. Apa wanita ini tidak waras? Apa mereka berteman dengan orang yang salah.


"Tadi katanya tidak manis..." sang office boy membantah.


Plak!


Satu tamparan dilayangkannya sedikit melirik pada kedua sahabatnya. Ini saatnya menunjukkan dirinya orang berkuasa."Aku bisa membuatmu dipecat dari kantor ini. Jadi---"


"Jadi apa?" suara seseorang terdengar. Giovani berdiri di belakangnya, tepatnya berjarak sekitar tiga meter di belakangnya, Sean dan sang sekretaris tentu saja mengikuti majikannya. Mengingat setelah ini mereka akan berangkat ke daerah lain.


"Kakak ipar! Lama tidak bertemu, dia membuat masalah padaku. Ajukan pemecatan padanya." Yesy tersenyum, William selalu berpihak padanya. Tentu saja Giovani otomatis juga akan berpihak padanya.


"Kakak ipar? Tidak salah?" Giovani berjalan mendekati Yesy, kemudian berbisik padanya dengan senyuman menyeringai."Kamu hanya wanita simpanan suamiku. Jadi setiap detik aku selalu ingin mencabik-cabik tubuhmu sampai habis..." Kalimat mengerikan darinya, membuat Yesy membulatkan matanya.


Sedangkan Ina dan Tias yang juga mendengarnya mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Yesy si*lan!"


"Yesy si*lan!"

__ADS_1


Umpat mereka dalam hati bersamaan. Ternyata teman mereka selama ini hanyalah wanita simpanan.


__ADS_2