When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Tidak Apa-apa


__ADS_3

Lokasi syuting yang berada dikawasan pesisir pantai. William menghela napas kasar, duduk seorang diri setelah syuting usai. Terdiam melihat ke arah laut, dari resort yang ditempatinya.


Hari ini adalah hari kematian ibunya. Pemuda itu menyalakan banyak lilin di tepi kolam renang. Dengan sebuah lentera di tangannya, lentera yang akan diterbangkannya.


"Aku baik-baik saja, ibu harus bahagia melihatku tersenyum dari sana..." gumamnya dengan air mata mengalir, menuliskan kata-kata yang diucapkannya.


Tangannya terulur, menerbangkan sang lampion, berharap lampion dapat mencapai surga. Menyampaikan pesan pada sang ibu. Hari ini begitu menyakitkan untuknya, mengingat kematian ibunya yang tiba-tiba akibat asma.


Tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu pucat pasi.


"Sedang apa? Kamu selingkuh ya? Sampai-sampai begitu antusias menunggu selingkuhanmu disini." Suara yang dikenal William terdengar, wanita yang memang jadwal keberangkatannya besok itu tiba-tiba berada di sampingnya.


William melangkah mundur, menyipitkan matanya mengira dirinya mabuk hanya karena minuman soda dalam kaleng.


"Kenapa? Sudah mencintaiku?" tanya Giovani.


"Belum! Siapa yang akan menyukai wanita agresif kasar sepertimu!" bentak William, menelan ludahnya sendiri. Ada perasaan gugup yang aneh dalam dirinya.


"Apa kamu masih mencintainya? Tidak masalah, aku akan menyerah sebentar lagi..." batin Geovani, melangkah mendekatinya.


"Aku akan pergi besok, mau pergi denganku?" tanyanya.


"Tidak! Pekerjaanku banyak! Jadi---" Kalimat Wiliam terpotong, tiba-tiba Giovani mengecup bibirnya sekilas.


"Kita pasangan suami-istri. Aku akan pergi, mau menghabiskan malam ini bersamaku?" tanya Giovani lagi.


"Meng... menghabiskan malam?" gumam William menelan ludahnya sendiri, membayangkan hal yang dikatakan Corrie. Bagaimana jika tiba-tiba Giovani merebahkan tubuhnya, melepas ikat pinggang serta boxernya, kemudian menjerit kala memberikan keperawanannya. Benar-benar fikiran mesum yang ambigu.


"Hanya kita berdua. Kamu ingin kan?" tanya Giovani, membuat jantung William semakin berdegup kencang.


*


Namun, angan tinggal angan. Bukan malam yang panas seperti bayangannya. Hanya dua orang yang membakar jagung, kemudian berjalan di pinggir pantai entah kemana tujuannya. Bertelanjang kaki membiarkan ombak menerpa kaki mereka.


"Kita benar-benar hanya jalan-jalan?" tanya William dijawab dengan anggukan kepala oleh Giovani.


"Aku akan mengajarimu hal yang menarik." Ucap Giovani, merogoh sakunya mengeluarkan senter. Sinar kecil yang menyorot ke arah batu karang tempatnya berada saat ini. Mencari kerang dan bintang laut adalah tujuannya.


"Aku malas..." celoteh William kedinginan. Namun wanita itu tetap antusias.

__ADS_1


Hingga beberapa saat, mata Willam membulat menyadari ular laut ada di terumbu karang yang terendam air.


"Ada ular laut!" teriak pemuda itu menunjuk-nunjuk.


Dengan cepat Giovani berlari mendekati William. Bahkan meluknya erat, hingga keduanya jatuh ke dalam air kebasahan.


"Dingin! Wanita agresif!" teriak William tidak terima, melempar rumput laut, tepat mengenai kepala Giovani.


"Apa aku s*ksi?" tanya wanita itu, meraih dua buah kerang. Menempelkan pada area sensitif bagian atasnya yang masih berselimut pakaian. Membuat pose ala putri duyung terdampar.


"Aku tidak bisa berkata-kata..." gumam William masih tidak mengerti wanita di hadapannya. Wanita yang berhasil membuatnya tersenyum, melupakan rasa dukanya di hari kematian ibunya.


Tangan pemuda itu kembali di tarik. Berjalan penuh semangat tidak peduli berapa kilometer yang akan mereka tempuh. Yang penting berjalan saja, toh setok air mereka masih ada.


*


Hal apa saja yang dilakukan pasangan suami istri itu. Dua orang berlainan jenis menelan ludah mereka.


"Yang lebih cepat... lebih cepat! Aku hampir keluar!" pekikan suara wanita.


"Agh... aggh... aggh... Aku juga hampir sampai! Tunggu! Balik posisi! Kamu yang ada di atas..." suara seorang pria terdengar.


Pemuda aneh itu menampar dirinya sendiri membayangkan adegan itu dilakukannya pada wanita di sampingnya.


"Aku ingin..." gumam Giovani membuat William membulatkan matanya. Menyadarkan diri dari lamunannya.


Dengan cepat sang pemuda menarik istrinya. Sebelum benar-benar khilaf. Kembali melanjutkan perjalanan mereka yang entah kemana tujuannya.


"Tinggal coblos Corrie bilang. Tapi aku bahkan belum tau apa aku menyukainya." Batin William, menatap wajah Giovani yang tersenyum sambil menggandeng tangannya.


Ini sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Beberapa nelayan terlihat di pinggir pantai, mendorong kapal mereka.


"Ayo kita bantu!" ucapnya penuh semangat. desiran suara ombak yang nyaring. Mendorong kapal nelayan sekuat tenaga.


"Kalian suami istri?" tanya seorang nelayan.


"Iya!"


"Bukan!"

__ADS_1


Jawaban dari William dan Giovani hampir bersamaan. Dia orang yang saling melirik kemudian membuang muka. Mendorong kapal nelayan kembali ke laut.


"Terimakasih! Semoga rumah tangga kalian langgeng!" ucap sang nelayan, dengan kapal kecil yang mulai berlayar.


"Iya!" teriak Giovani, menatap kapal kecil yang mulai menjauh.


Berbeda dengan William, pemuda itu tertegun, menatap lekat wajah wanita di hadapannya. Angin berhembus semakin kencang, menambah rasa dingin yang kembali menusuk.


Tangannya bergerak cepat, fikirannya terasa kelu. Menegang tengkuk kepala Giovani.


"Ini nyaman..." batinnya dengan jantung yang berdegup semakin cepat tidak ingin ini berakhir.


Kala sepasang lidah itu bertemu. Dua pasang mata yang terpejam, mencari rasa hangat, saling mendekap dalam kegelisahan. Hingga sebuah ciuman yang diakhiri dengan deru napas tidak teratur. Adrenalin mereka bagaikan terpacu, saling menatap menginginkan lagi.


Giovani berjinjit, menjilat bibir yang telah tertutup tersebut, sambil mengalungkan tangannya pada leher William. Pada akhirnya sang pemuda kembali takluk, membuka mulutnya sembari memejamkan matanya. Menikmati setiap detik yang terasa indah ini.


Saat itulah William semakin yakin."Aku mencintainya..." Kalimat yang tersimpan dalam memorinya. Jemari tangannya memeluk tubuh Giovani lebih erat. Seakan takut kehilangannya.


*


Pada akhirnya hanya duduk di atas baru besar pinggir pantai. Tidak ada yang mereka lakukan lagi. William kini tertidur dengan kepala berada di pangkuan Giovani.


"Esok akan tiba. Ibumu sudah lama pergi. Jadi lepaskan saja..." bisiknya pada wajah tenang William yang masih tertidur.


Perlahan pagi yang dingin menghilang, bergantian matahari terbit yang menghangatkan.


Hingga pada akhirnya Corrie yang mengendarai mobil menemukan mereka."William kenapa? Apa mabuk cinta karena melakukannya denganmu? Berapa kali gol? Dan bagaimana cara melakukannya? Teknik apa saja yang kalian pakai?" tanyanya penasaran.


"Teknik ayam goreng, berguling di atas pasir seperti ayam berguling pada bumbu dan tepung. William bahkan melakukannya di dalam air..." Dusta Giovani dengan raut wajah datar.


"Kalian sudah sampai sejauh itu!?" tanya Corrie di jawab dengan anggukan penuh senyuman dari Giovani.


"Gila! Kemarin saja nolak, sekarang malah hajar istrinya tanpa ampun." Geram Corrie, memasukan William ke dalam mobil dibantu Shine.


Satu bulan lagi, dirinya baru akan bertemu dengan William lagi.


"Aku mencintaimu!" teriak Giovani, menatap William yang mengorok, malah belum juga terbangun setelah di lempar kasar dalam mobil.


"Kebo!" bentak Corrie menatap ke arah sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2