When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Apa Susahnya


__ADS_3

Yesy mengepalkan tangannya, mencoba memberanikan dirinya."Aku akan meminta kak William menceraikanmu!" teriaknya.


Sedangkan Giovani tersenyum."Coba saja, tau bagaimana istri yang tersakiti dalam novel atau film? Seorang ibu rumah tangga menjadi wanita mandiri dan berdiri tegar, berdoa pada Tuhan agar wanita perusak rumah tangganya dibalas. Tapi tidak denganku, bisa saja aku mematahkan kaki dan tanganmu. Membuat wajah mulusmu cacat. Menembakmu dari jarak jauh, atau tiba-tiba meracuni makananmu."


Wajah Yesy mulai terlihat pucat pasi. Wanita teraniaya? Itu bukan wanita di hadapannya. Wanita ini benar-benar berbeda, sepertinya CEO pria dalam novel yang menggunakan kekuasaannya untuk berbuat apapun.


"Kamu akan ditangkap po... polisi!" ancam Yesy tergagap, mulai kebingungan, otaknya bagaikan kelu untuk berdebat.


"Polisi? Kalau begitu mari kita mati bersama." Ucap Giovani tersenyum terlihat antusias."Sekalian saja aku membunuhmu. Menguliti dagingmu setiap hari, goresan demi goresan..."


Kalimat yang mengerikan membuat Yesy melangkah mundur. Tangannya gemetar saat ini. Sedangkan Ina dan Tias menatap kagum, inikah caranya menghadapi ipar julid dan pelakor?


"Kamu tidak akan berani. Kak William tidak akan mengampuni mu!" teriak Yesy, bagaikan sailor moon yang mengatakan dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu.


Tapi yang dihadapi sailor moon kali ini Kaguya Otsusuki pada kisah animasi Naruto. Wanita keji berparas rupawan itu terdiam tanpa ekspresi."Gadis kecil sepertimu bisa apa? Selain membuka pakaian?" tanya Giovani, dengan jemari tangan menyentuh dagu Yesy, mengarahkan wajahnya agar menatap pada dirinya. Giovani yang tersenyum terlihat tenang.


"Kak William mencintaiku! Aku saja yang menolaknya berkali-kali! Dia hanya mencintai ku! Bahkan jika aku berpisah dengan Dominic, kak William akan segera menceraikanmu untuk bersama denganku!" teriaknya di depan semua orang.


Orang-orang yang lewat mulai membicarakan dan mencibirnya. Kalimat bodoh! Mengakui dirinya sendiri berniat menjadi pelakor. Bahkan menjadikan William sebagai cadangan.


Giovani mengenyitkan keningnya."Jadi jika Dominic meninggalkanmu, kamu akan meminta Willam bercerai denganku kemudian menikahimu?"


"Iya! Kamu hanya sebagai pelampiasan! Jangan sombong!" bentak Yesy penuh percaya diri merasa sudah menang berdebat.


Senyuman semakin mengembang di wajah Giovani. Jemari tangannya menyisir pelan rambut Yesy."Tidak lihat wajah teman-temanmu?"


Yesy membulatkan matanya baru menyadari dirinya salah bicara. Dua orang sahabat di belakangnya merekam segalanya. Beberapa karyawati yang lewat bahkan mulai mencibir.


"Yesy, tagihan gaun yang kamu ambil dari butikku, sudah mencapai 64 juta. Itu akan aku anggap hutang, jika tidak membayarnya dalam sebulan aku akan melaporkannya pada penegak hukum atas tuduhan penipuan." Tias menatap tajam memandang remeh.


Sedangkan Ina menipiskan bibir menahan tawanya. Tangannya bergerak cepat memposting semuanya di group what's up geng sosialita mereka. Cukup sudah beberapa minggu ini menjadikan wanita simpanan ini sebagai ratu.

__ADS_1


Wanita simpanan? Wanita simpanan yang ingin memerintah istri sah? Ini adalah hal paling memalukan, yang pernah di posting Ina.


"Omong-ngomong menjijikkan. Pertemuan depan kamu tidak usah datang, juga jangan lupa bayar hutang pada Tias. Dia itu janda karena ditinggal selingkuh suaminya, kasihan. Tapi aku juga harus hati-hati, takut suami tergoda gadis murahan..." sindiran telak dari Ina.


"Giovani aku akan---" Yesy yang hendak menjambak Giovani terhenti. Wanita itu, menendang tepat di tulang keringnya. Menciptakan rasa sakit yang teramat sangat. Hanya dapat berbaring di lantai.


"Aku mempunyai lebih banyak urusan daripada meladenimu. Mungkin lebih tepatnya urusan ranjang setiap malam, orang yang kamu panggil kakak itu tidak pernah mau berhenti..." dusta Giovani tersenyum, berjalan pergi diikuti asisten dan sekretarisnya.


Sedangkan Tias mulai mengejar Giovani. Namun, pegawai resepsionis menghentikannya."Ada perlu apa ingin menyusul nona?" tanyanya.


"Aku ingin memasukkan lamaran untuk putraku. Dia baru saja lulus S2 universitas negeri, tapi kesulitan mencari pekerjaan, karena tidak memiliki pengalaman. Aku---" Kalimat Tias disela.


Sang resepsionis yang tadinya dingin kini tersenyum ramah."Sebenarnya ada lowongan di bagian accounting untuk dua orang, karena pegawai sebelumnya di tempatkan nona pada perusahaan cabang yang baru diakuisisinya. Karena itu jika putra anda memiliki kemampuan bisa berkompetisi dengan 60 pelamar kerja lainnya. Kami tidak mengutamakan pengalaman, tapi royalitas, kepintaran, dan semangat kerja. Penilaian akan dilakukan secara adil tanpa adanya KKN." Jelasnya.


Tias mengangguk, putranya memang mendapat IPK tertinggi di kampus. Jika hanya mengalahkan 60 orang mungkin akan bisa."Terimakasih! Besok saya akan membawa CV anak saya!" ucapnya kegirangan. Tidak ingin putranya bekerja terlalu lama di butik milik sang ibu. Mau jadi apa anaknya nanti? Desainer? Bahkan menjahit saja tidak bisa.


"Jalan jujur memang lebih bagus. Dari pada cara kotor..." Cibir Ina, berjalan pergi meninggalkan Yesy yang masih terduduk di lobby perusahaan.


*


Tangan Giovani gemetar saat ini, segera meminum beberapa butir obat sekaligus. Menghela napas berkali-kali menatap ke arah cermin. Air matanya mengalir saat ini, emosi yang benar-benar tidak stabil.


"Agghh!" teriaknya dalam toilet ruang kerjanya.


Prang!


Suara pecahan kaca terdengar. Menampakkan bayangannya dengan kaca yang retak. Jemari tangannya mengeluarkan darah segar. Air matanya terus mengalir, wanita yang bagaikan ketakutan. Apa yang ditakutinya? Hanya rasa kesepian yang ditakutinya.


Brak!


Pintu itu dibuka paksa oleh Shine, matanya menatap ke arah jemari tangan Giovani.

__ADS_1


"Tidak ada yang memahamimu kan? Tetaplah tersenyum." Ucap Shine menarik tangan majikan rangkap sahabatnya. Seorang pemuda yang terlihat tertunduk mengobatinya.


Giovani tetap saja masih menangis menitikkan air matanya. Dua sisi yang berbeda berlian yang keras dan kaca yang rapuh itulah dirinya.


"Kamu harus segera bekerja. Jika perusahaan ini bangkrut aku tidak punya uang bensin lagi..." Kalimat yang diucapkan Shine, penuh senyuman. Bagaikan kalimat yang selalu diucapkan Jimmy.


Giovani hanya mengangguk."Biarkan aku tidur selama satu jam di perjalanan." Hanya itulah yang diucapkannya.


Dan benar saja, wanita itu tertidur menantikan hari esok. Apa mungkin lebih baik? Atau lebih buruk?


*


Hangatnya pasir hitam di pantai dirasakannya oleh William. Menatap ke arah laut di bawah pohon kelapa.


"Sedang apa?" tanya Corrie duduk di sampingnya.


"Baru selesai menghafal skrip. Omong-ngomong Gio..." Kalimat William terhenti, memukul-mukul bibirnya sendiri, karena salah bicara.


"Kamu tidak menyukai Giovani?" tanya Corrie.


Dengan cepat Willam mengangguk yakin.


"Sayang sekali, wanita secantik itu, perusahaan sebesar itu, ditambah dengan kecerdasan yang begitu mempesona. Aku tidak rela menyerahkan pada orang lain. Bagaimana jika untukku saja. Kamu juga tidak mau menidurinya, aku mau. Biarpun jadi tempat sampah, kalau sampahnya Giovani aku ikhlas." Kata-kata dari mulut Corrie.


"Tidak boleh!" tegas William.


"Kenapa tidak boleh? Aku masih perjaka, dia masih perawan. Jadi tinggal tusuk saja!" Ucap Corrie, tanpa aba-aba mengambil kelapa muda milik William. Kemudian mencoblosnya menggunakan sedotan.


"Apa yang kamu lakukan!?" bentak William dengan nada tinggi, merebut kembali kelapa muda miliknya, seolah-olah itu adalah istrinya.


"Mengambil keperawanan kelapa mudamu..." jawaban polos dari Corrie, menghisap sedotan yang sempat dimasukkannya ke dalam kelapa milik William, kemudian meraih kelapa lainnya.

__ADS_1


Sedangkan William melotot tidak suka pada Corrie."Kenapa melihatku seperti itu!? Takut keperawanan istrimu aku ambil!? Makanya coblos saja! Apa susahnya!" kesal Corrie pada sahabatnya.


__ADS_2