
William perlahan membuka matanya. Menghela napas kasar mendengar keributan di luar sana. Meraih piyama miliknya mencoba mengingat segalanya.
Matanya menelisik, mengamati pakaiannya yang sudah diganti. Satu hal yang harus diperiksanya, menyingkap sedikit celana panjangnya. Boxernya sudah diganti. Siapa yang menggantinya? Wajahnya terlihat pucat pasi membayangkan seseorang yang mengganti boxernya pasti sudah melihat...
Bug!
Pintu tiba-tiba terbuka, wajah penuh senyuman dari wanita itu terlihat. Diikuti dengan Shine yang menunduk berdiri di belakang Giovani dengan tumpukan dokumen tebal di tangannya.
"A...apa yang terjadi semalam?" tanya William gelagapan, dengan wajah pucat pasi.
"Tidak ada," jawaban dari Giovani, kemudian sedikit melirik ke arah Shine."Kamu yang bertanggung jawab untuk akuisisi, mengerti!" tegasnya pura-pura tersenyum di hadapan William.
"Iya," jawaban datar dari Shine menahan rasa sakit di punggungnya, setelah beberapa kali dibanting. Dipaksa menjadi latih tanding Giovani.
"Aku berjanji tidak akan membawa William ke club'malam lagi ..." batinnya, menghela napas berkali-kali. Tidak ingin yang berikutnya mungkin akan menjadi sasaran latih tembak Giovani. Membayangkan dirinya yang memakai kostum kelinci, dikejar di tengah hutan oleh Giovani yang membawa senjata laras panjang sambil tersenyum menyeringai mencoba menembak tubuhnya.
"Masih ada 1 jam lagi. Shine pilah beberapa dokumen. 1 jam lagi kita berangkat," perintah Giovani. Pemuda itu hanya dapat meringis memegangi pinggangnya sambil melangkah pergi.
"Sakit... pekerjaan ini begitu menyakitkan. Terkadang aku berfikir menonton konser William lebih baik. Dari pada sengaja memprovokasi Giovani untuk bercerai." Sesal Shine melangkah pergi, kemudian menutup pintu.
"Sekarang tinggal kita berdua. Buka bajumu!" perintah Giovani tersenyum menyeringai.
"Tidak mau! Wanita agresif aku..." Kata-katanya terhenti. Pelukan dirasakan kulitnya, tubuh seorang wanita berhati dingin yang benar-benar hangat.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa," ucapnya mendekap tubuh Willam. Tubuh yang bagaikan enggan digerakkan sang pemuda.
Satu persatu kancing piyama dilepaskan olehnya. Pemuda yang hanya dapat membeku menelan ludahnya. Merasakan tubuhnya berdesir hebat. Sedikit kejadian yang diinginkannya semalam.
Melindungi wanita ini dengan tubuhnya? Apa benar itu yang dilakukannya? Mengorbankan kulit punggungnya yang berharga hanya demi makhluk yang dibencinya.
"Apa aku menyukaimu?" batin William menatap wajah rupawan wanita yang masih berusaha melepaskan kancing piyamanya.
"Kita akan membuat berapa anak? Mau coba melakukannya di kamar mandi?" Pertanyaan Giovani penuh senyuman, sukses membuat William murka mendorong wajah wanita yang berstatus istrinya.
Benar-benar dongkol. Tidak mungkin dirinya menyukai wanita mesum ini.
"Dasar wanita br*ngsek! Aku tidak mau tertular penyakit karena memiliki hubungan denganmu!" bentaknya pada wanita di hadapannya.
Namun, tanpa diduga Giovani mencium telapak tangannya. Wajahnya benar-benar terlihat tulus dan teduh."Tapi aku ingin mengikatmu untuk bersamaku..."
Kalimat yang membuat William tertegun diam.
__ADS_1
"Sebaiknya aku memandikanmu sekarang." Wanita yang tersenyum di hadapannya. Menariknya ke kamar mandi. Tidak dapat menolak keinginannya? Sebenarnya apa yang terjadi pada William? Seakan tubuhnya sendiri bukan miliknya.
Kala merasakan rasa nyaman. Wanita yang membantunya mandi. Tangan dingin bagaikan kelopak teratai terasa membelai punggungnya pelan. Menari tidak ingin menyakitinya sedikit pun, tangan yang mulai membasuhnya dalam bathtub berisikan air hangat.
"Maaf..." hanya itulah satu kata yang keluar. Pemuda yang tidak menyadari tetesan air mata membasahi pipi Giovani. Tidak dapat menjaga seseorang yang dicintainya? Itulah yang dirasakannya.
Tertunduk ingin menyerah, walaupun hanya pemuda ini yang kini ada dalam hatinya. Pemuda yang entah kenapa sedikit melirik, merasakan sakit yang tidak dimengertinya kala air mata itu mengalir.
Reaksi alami? Apa ini reaksi alami? Entahlah, tangan William terulur bagaikan tidak dikendalikan oleh fikirannya. Tidak ingin melihat tetesan air mata itu. Meraih area belakang kepala seseorang yang seharusnya berstatus istrinya.
Tidak masuk akal, kala melihat wanita ini mencemaskannya. Dua pasang bola mata saling menatap."Jangan menangis..." ucap William, memandang wajah wanita yang dianggapnya fans murahan super aneh.
Tapi hanya sesaat anggapan itu. Kini detak jantungnya tidak teratur, bahkan terasa berdegup lebih cepat. Sesuatu yang alami? Tapi apa benar?
Pemuda yang perlahan memejamkan matanya, mendekatkan bibirnya dengan bibir wanita di hadapannya. Tubuhnya masih ada dalam bathtub, sedangkan tubuh Giovani di luar bathub. Basah? Siapa yang peduli?
Kala sepasang bibir itu bertaut perlahan. Hangat dan indah? Mungkin itulah yang dirasakan Willam saat ini. Apa wanita ini adalah miliknya? Apa dapat dimiliki olehnya?
Sepasang lidah yang sedikit keluar dari mulut, bertemu bertaut menikmati setiap detik. Tangan Giovani mencengkeram bahunya, bagaikan wanita itu kehilangan pijakan.
Lagi dan lagi... dirinya menginginkan wanita ini. Benar-benar bodoh.
"Aku bodoh..." batin William. Menikmati sesuatu yang seharusnya dibencinya. Hingga ciuman itu terlepas, diakhiri dengan deru napas tidak teratur.
"Belum cukup..." jawaban ambigu dari bibir William. Kembali menyatukan bibir mereka.
Tidak pernah ada perasaan senyaman ini. Serakah? Sekarang dirinya benar-benar serakah. Bagaikan hendak menelan wanita tidak berdaya.
"Aku sudah gila!" Hanya itulah kesimpulan yang ada dalam dirinya.
*
Hal yang terjadi setelahnya? Tidak ada, hanya hubungan mereka terasa lebih membaik. Giovani perlahan mengobati punggungnya.
"Punggungmu lumayan. Aku beri nilai 70." Kata-kata dari Giovani.
"Cuma 70?" William mengenyitkan keningnya.
"Nilai 100 punggung terbaik adalah punggung almarhum ayahku." Kata-kata dari Giovani masih mengobati William.
"Apa ada yang mendapatkan nilai 80 dan 90?" tanya William memincingkan matanya.
__ADS_1
"Ada! 80 punggung kakak angkatku Sakha. Satu orang lagi bernilai 90 juga ada..." Jawaban jujur dari Giovani.
Sedangkan jangan ditanya lagi, pemuda yang tidak mencintai Giovani iyu tidak cemburu sama sekali. Tidak kesal sama sekali, hanya saja raut wajahnya tidak mengenakkan, mengeluarkan aura kebencian yang menyengat. Tidak cemburu, hanya ingin menghancurkan pemuda dengan nilai 80 dan 90.
"Kamu cemburu? Apa sudah mulai mencintaiku?" tanya Giovani penuh harap.
"Tidak! Aku tidak menyukaimu! Lagipula siapa yang cemburu! Tiga bulan lagi kita akan seperti orang asing!" kata-kata darinya mencari pembelaan. Padahal dalam hati tidak rela. Ingat! Ini bukan karena rasa cinta atau cemburu. Cuma karena ingin memiliki Giovani seutuhnya. Pemuda tsundere yang hanya asal bicara.
Giovani hanya tersenyum, menatap ke arah jendela. Kala matahari memasuki celah tirai. Tidak ada yang dapat diucapkannya lagi. Senyuman yang sejatinya dipaksakan olehnya.
"Kita hanya bersama paling lama 2 bulan. Aku harus pergi mengurus project akuisisi selama sebulan. Apa kamu akan merindukanku?" tanya Giovani.
"A...aku malah senang kamu pergi lama," jawaban dari William, ingin rasanya memukul bibirnya sendiri. Entah ini perasaan apa, tapi dirinya ingin tetap ada di dekat Giovani.
"Kalau begitu aku akan pergi berlama-lama..." Wanita itu tertawa kecil tawa yang benar-benar mengeluarkan aura manis menyengat. Bagaikan malaikat cantik dengan mini dress putih yang kini dikenakannya.
Bagaimana ini? Benar-benar menggemaskan, ingin rasanya mengunyah atau memakannya. Otaknya memikirkan cara untuk sedikit saja mencicipi rasanya.
Satu kecupan mendarat di dahi Giovani."Rasa terimakasih karena sudah mengobatiku..."
"Rasanya benar-benar lembut!" teriak William dalamnya hati. Namun raut wajahnya datar, menahan segalanya.
"Terimakasih..." Hanya itulah yang diucapkan Giovani dengan senyuman mengembang. Mengeluarkan aura kemanisan dengan dosis yang lebih tinggi lagi.
"A...aku aku mau ganti baju!" William berlari dengan cepat ke ruang ganti tidak ingin berbuat hal lebih bodoh yang akan disesalinya.
Sedangkan Giovani hanya terdiam tidak mengerti, masih duduk di atas tempat tidur.
Kini pemuda itu duduk di lantai dengan punggung menyandar pada pintu ruang ganti yang tertutup. Menatap tangannya yang gemetaran.
"A...aku sudah gila!" teriaknya mengingat semua hal yang dilakukannya pagi ini.
*
Semua berjalan seperti biasanya. Giovani kini telah berada di ruangannya dengan seorang manager menjelaskan hasil rapatnya dengan bawahannya.
Wanita yang mendengarkan dengan seksama. Sambil memberi stabilo pada poin penting. Serta lingkaran dengan pena jika ada poin tidak masuk akal atau bermasalah.
Hingga sekretarisnya tiba-tiba masuk ke ruangannya, tertunduk memberi hormat.
"Nona, seseorang bernama Yesy ingin bertemu dengan anda..." ucapnya.
__ADS_1
Giovani menghentikan gerakan tangannya, beralih menatap pada sekretarisnya.