
William tertegun kemudian tersenyum, bibirnya bergetar untuk berucap."Ini bercanda kan?"
Jimmy menunduk, kemudian berucap dengan suara lantang. Meminta maaf dengan lebih tegas."Maaf! Ini kesalahan kakakku. Setelah melakukan kesalahan dia kabur! Dia tidak mencintaimu! Rasa sukanya hanya sebatas fans pada Superstar! Seperti aku yang menyukai Balck pink!"
Tawa Corrie terdengar semakin kencang. Pemuda itu bahkan memegangi perutnya sendiri. Benar-benar kram rasanya.
"Dia berkata tidak menyukaiku? I...ini bukan karena dia marah karena aku pulang tanpa kabar selama lebih dari seminggu kan? I... ini hanya bercanda kan?" tanyanya lagi, dengan perasaan menusuk di hatinya benar-benar terasa kosong.
"Aku tidak berbohong." Wajah Jimmy tersenyum berjalan menuju lantai dua, kemudian turun membawa sebuah tab.
Rekaman yang diambil beberapa hari lalu sebelum keberangkatan di putarnya. Wajah Giovani terlihat di sana. Si*l! William benar-benar merindukan wajah itu.
Wanita yang terlihat dalam rekaman mulai bicara."Sebelumnya aku minta maaf. Jika Jimmy memutar rekaman ini berarti aku sudah pergi melarikan diri ke negara lain. Aneh? Gila? Itulah aku, ini terjadi karena caraku untuk mencoba menyembuhkan diri. Dokter mengatakan mengalihkan perasaan pada orang yang mengatakan mencintaiku. 10 tahun lalu, kamu mengatakan mencintaiku. Jadi aku menjadikanmu sebagai obsesiku. Untuk itu aku benar-benar minta maaf. Janji pada Tuhan aku sendiri yang mengingkarinya. Ini semua kesalahanku. Maaf..."
Rekaman itu berakhir seiring dengan William yang menyandarkan punggungnya di sofa.
"Ini kesalahan kakakku. Jadi aku akan mengirim uang ganti rugi padamu. Kakakku memang br*ngsek! Melarikan diri setelah merebut keperjakaan seorang pria." Gerutu Jimmy mengeluarkan phonecellnya hendak menanyakan nomor rekening William.
"Tidak perlu, aku sedang tidak begitu kekurangan uang." Kalimat dari William masih dengan punggung menyandar, matanya menatap langit-langit ruangan."Corrie dia berani membohongiku."
"Yap!" jawab Corrie meraih setoples kue kering.
"Dia berkata hanya fans dan superstar nya saja...." Ucap William masih dengan tatapan kosong.
Jimmy hanya menghela napas merasa kasian sekaligus naas pada nasib pria plin-plan ini. Pemuda yang meraih lemon tea yang dihidangkan pelayan lalu meminumnya.
"Temukan dia hidup atau mati. Ikat dia di tempat tidurku." Perintah Willam bangkit dari tempat duduknya, dengan nada datar terlihat kecewa.
__ADS_1
Pyur!
Jimmy terbatuk-batuk menyemburkan air yang ada di tenggorokannya. Mengeluarkannya melalui hidung dan mulut bersamaan. Benar-benar terkejut dengan kata-kata pria lugu tidak bersalah ini.
"Ka...kamu bilang apa?" tanya Jimmy memastikan pendengarannya.
"Dia bilang ikat kakakmu di tempat tidur. Kurung dia dalam rumah dengan penjagaan ketat. Hingga dapat berkata sudah mencintai suaminya." Corrie tersenyum tanpa dosa membawa setoples kue kering. Menepuk pundak Jimmy.
Jimmy tertegun sesaat, sedangkan William telah meninggalkan ruang tamu bersama Corrie."Ti...tidak mungkin kan? Dia hanya pria polos dan lugu," gumamnya tertawa.
Seorang pemuda yang tidak menyadari dirinya lah yang sejatinya polos dan lugu. Hidup diantara para predator. Kakak yang tegas, berjiwa pemimpin penegak kebenaran. Kenzie yang baik hati bagaikan malaikat. Bahkan William pria yang benar-benar lugu. Siapa sangka tidak ada satupun diantara mereka yang bisa dikatakan normal.
William menatap derai hujan yang turun. Menghela napas berkali-kali, pria yang tiba-tiba berbaring di kursi penumpang bagian belakang. Lalu kembali duduk, perasaan ini tidak asing baginya. Dirinya patah hati sama seperti 12 tahun lalu. Kala dicampakkan nona pemilik villa.
"Corrie, beri Aksa perintah yang sama. Cari cara menemukannya." Kalimat itu kembali diucapkan William.
"Tidak..." jawabannya, padahal sejatinya beberapa tetes air matanya sudah keluar. Seharusnya dirinya tidak perlu merasa berhutang budi pada Yesy. Jika saja, malam itu dirinya memilih tinggal, Giovani mungkin sudah dieksekusinya di tempat tidur. Hidup bahagia memanjakan istrinya.
"Aku akan mencarinya. Tenangkan dirimu, jangan pergi kemana-mana karena mungkin Giovani melarikan diri ke luar negeri. Jika kamu ikut mencarinya, akan menghambat waktu untuk menyusulnya." Corrie melirik ke arah William, menghela napas berkali-kali.
Seperti dirinya di masa lalu, mungkin Giovani tidak akan pernah berbalik lagi. Namun tetap saja tidak tega melihat William saat ini. Siapa tau keajaiban akan terjadi, Giovani bersedia untuk berbalik.
*
Semua pekerjaan Aksa diambil alih olehnya. Benar-benar menyibukkan dirinya. Kala malam datang segalanya kembali membuatnya menginginkan segalanya. Dirinya mencintai Giovani, memang... bahan sangat. Entah mengapa, dan entah sejak kapan dimulai.
Melajukan mobilnya meninggalkan apartemen yang ditempatinya bersama Corrie. Hingga pada akhirnya berhenti di tempat yang sedikit terpencil. Telaga itu masih terlihat sama. Beberapa lilin dibawa oleh William, serta beberapa lentera teratai yang dapat mengapung.
__ADS_1
Mulai naik ke atas perahu kecil, setelah menghidupkan lentera yang menerangi bagian atas kapal.
Menuju bagian tengah telaga, kini dirinya hanya sendiri. Tidak ada suara apapun selain kesunyian, satu persatu lentera kecil berbentuk teratai dinyalakannya, dibiarkan mengapung di atas telaga.
Pemuda yang terdiam dengan tatapan kosong."Fans dan superstar nya?" gumamnya.
Tidak itu bukan perasaannya, jika Giovani tidak mencintainya memangnya kenapa? Tatapan mata Willam tetap kosong. Kini keadaan telaga terlihat lebih terang. Sinar-sinar indah mengelilingi perahu kecil.
Kala itulah sebuah fikiran menjadi lebih jernih. Hanya karena mengatakan menyukai pada Giovani, wanita itu menjadi terobsesi padanya. Tapi kapan? Bukankah beberapa bulan lalu pertemuan pertamanya dengan Giovani?
Pernyataan cinta 10 tahun lalu, kalimat yang membuat William tidak mengerti. Matanya menelisik mengamati beberapa lentera yang mengapung tidak tentu arah.
"Aku merindukanmu..." Kalimat yang terucap, dari sang pemuda. Air telaga sedikit tidak tenang membuat tubuhnya sedikit bergerak mempertahankan keseimbangan.
Kring!
Suara kecil dari lonceng, hal yang membuatnya melihat kearah sekitar. Memory yang sedikit kembali ke 12 tahun lalu. Tapi William terdiam sejenak menyadari suara berasal dari kantongnya bukan dari topeng yang digunakan nona pemilik villa.
Pemuda yang mengeluarkan lonceng yang terlepas dari topeng, belum sempat diperbaiki olehnya. Dirinya tertegun, wajahnya tersenyum."Sebuah pernyataan cinta?" gumamnya, tertawa kecil dalam air mata yang mengalir.
Pernyataan cinta di stasiun radio kala dirinya baru memulai debutnya. Mungkin masih berharap wanita itu akan kembali. Dan benar saja dia kembali, wanita yang seharusnya menjadi miliknya.
Jemari tangan Willam menyentuh lampion berbentuk teratai yang mengapung."Obsesi dan cinta yang menjadi satu..." kalimat darinya.
Terobsesi pada cinta pertamanya walau akhirnya menyerah karena tidak dapat menemukannya. Dan kini kembali jatuh cinta pada wanita yang sama?
Wajahnya tersenyum hangat. Kali ini akan melakukan apapun termasuk cara terpicik sekalipun.
__ADS_1
Sedangkan Corrie yang berada di semak-semak takut jika bosnya bunuh diri, mengenyitkan keningnya."Kenapa dia tersenyum? Apa kemasukkan dedemit?" gumam Corrie memakan kue kering yang didapatkannya dari kediaman Sandayu.