When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Jadi Ingin


__ADS_3

Bergerak dengan cepat. Berlari menuju pintu gerbang. Namun, sialnya pintu gerbang itu tertutup sempurna.


"Aku ingin pulang!" teriaknya, menyesali keputusannya untuk pergi ke kota menemui sang ayah. Lebih menyenangkan membuat keranjang anyaman di desa.


Prita melangkah dengan cepat menjambak rambut William."Jadi kamu anak dari Erin? Anak tidak tau untung! Karena ibumu aku pernah hampir keguguran!"


Brug!


Plak!


Sanjaya menarik tangan Prita kemudian menamparnya dengan cukup kencang."Membuatmu hampir keguguran!? Seharusnya aku selidiki baik-baik! Selama ini aku diam, belum tentu aku memaafkanmu! Ada pelayan yang melihatmu menyiram minyak goreng di lantai, dan pura-pura terjatuh! Menuduh Erin yang menyebarkan minyak goreng!"


"Sa...sayang kamu bilang sudah memaafkan ku. Jadi---" Kalimatnya di sela.


"16 tahun aku tidak menyentuhmu! Kamu fikir karena apa!? Aku tidak pernah memandang mu sebagai istriku lagi. Kenapa aku bertahan? Tidak ingin bercerai? Itu karena aku tidak ingin hidup kesepian! Jika aku mati nanti tidak akan ada yang mengurus pemakamanku. Karena Erin sudah pergi! Tapi sekarang putraku sudah pulang! Tentu aku tidak memerlukanmu yang setiap hari menyewa gig*lo!" Kata-kata penuh penekanan dari Sanjaya mencengkeram pipi wanita yang masih berstatus istri keduanya.


William mengenyitkan keningnya, mulai mengerti situasi saat ini. Wajahnya tersenyum menyeringai, wanita yang berani-beraninya menyakiti ibunya? Tidak akan pernah selamat.


"Ayah, ceraikan dan usir dia jika ingin aku kembali." Kalimat yang diucapkan William, terdengar dengan nada yang benar-benar keji.


Sanjaya tertawa kecil, benar-benar mewarisi sifatnya."Kamu akan menjadi pebisnis yang hebat."


"Tidak! Jika ayah mati aku akan menjual perusahaan milik ayah." Kesal William, ingin rasanya diusir oleh ayahnya.


Sanjaya kembali tersenyum."Untukmu apapun... daripada perusahaan, ayah akan membuat pengaturan pengelolaan saham untukmu." Kalimat dari ayahnya mengecup kening putranya.


Rasa syukur ada dalam hati Sanjaya. Vonis tumor otak yang dikatakan dokter beberapa bulan lalu membuatnya takut. Tapi kini tidak, dirinya kembali bertemu dengan orang-orang tulus, setelah belasan tahun. Di penghujung hidupnya. Memeluk tubuh putranya penuh kasih. Sedangkan William hanya diam tertegun.


"Inikah pelukan seorang ayah?" batinnya, menghela napas kasar.

__ADS_1


"Anak sialan! Lebih baik kamu mati!" teriak Prita murka ingin menyerang William.


Namun, ada yang aneh. Sanjaya yang hanya diam 16 tahun ini menendang tubuhnya. Kemudian menjambak rambutnya tanpa ekspresi."Dulu aku mencintaimu, menduakan istriku untukmu. Lalu apa imbalan yang aku dapatkan? 16 tahun ini aku hanya diam, karena cemas tidak ada yang akan menemaniku ketika sakit, saat Erin tidak ada. Tapi apa yang kamu lakukan? Saat sakit pun hanya perawat yang menjagaku. Menghabiskan uang puluhan juta perhari hanya untuk bersenang-senang!"


"Sayang...aku mohon! Anak ini tidak berguna! Masih ada putra kita di pusat rehabilitasi." Pinta Prita.


"Anak? Anak itu terlalu manja! Bahkan aku tidak punya hubungan darah dengannya! Apa peduliku!? Dia sama saja denganmu! Memandang jijik saat aku sakit, dan berpura-pura baik saat meminta uang!" Benar-benar kesal rasanya, kali ini Sanjaya mengatakan unek-unek yang ditahannya, tentang kelakuan anak angkat dan istrinya.


"Aku mau cerai! Tapi jangan lupa harta gono-gininya." Prita tersenyum menyeringai.


Harta gono-gini? Apa uang ayahnya akan terbagi dua? Tidak, tidak boleh! William tidak akan membiarkannya.


"Bibi ingin meminta harta gono-gini!? Ayah kenapa tidak kita bunuh dia diam-diam saja sebelum perceraian?" ancam William sedikit melirik wanita yang masih terlihat kacau.


Hanya ancaman. Agar milik ibu dan ayahnya selamat. Tidak ingin rugi, itulah prinsipnya.


Sanjaya mengenyitkan keningnya. Tidak melihat adanya sifat keji yang asli dalam diri putranya. Hanya ancaman kosong, tapi cukup bagus juga.


"Kalian! Kamu! Br*ngsek!" teriaknya didorong pergi oleh security.


*


Sedangkan William kini menatap tajam ke arah ayahnya."Aku mau pulang!" keputusan mutlak darinya.


"Ini rumahmu! Dimana ibumu!? Ayah akan menjemputnya!" Sanjaya memeluk putranya lagi, tidak disangka putranya dapat setampan ini.


"Aku ingin kembali ke desa bersama ibu. Ayah sudah membohongi---" Kalimat William disela.


"Maaf..." satu kata yang tersisa. Tidak terdengar isakan hanya bahu William yang sedikit basah. Apa ayahnya menangis?

__ADS_1


"Hidup ayah mungkin tidak lama lagi, jadi jangan pergi. Ayah mohon...kita tinggal bertiga ya?" pinta Sanjaya lagi.


"Tidak lama lagi?" tanya William tertegun tidak mengerti.


"Ayah akan mati... akan mati..." Kalimat lirih putus asa, mendekap tubuh sang remaja. Kemoterapi? Mungkin hanya dapat sedikit memperpanjang hidupnya. Jalan operasi? Dokter sudah menerangkan operasi beresiko tinggi, lumpuh? Cacat otak? Atau mungkin mati di meja operasi? Semuanya bagaikan kenyataan yang menghantuinya.


Tidak terlalu mengerti, namun tangan William terangkat, berucap lirih."Jangan menangis, aku akan tinggal..."


*


Hatinya begitu bahagia saat ini, seorang supir pribadi mengantarkan dirinya. Sedangkan mobil sang ayah mengikuti dari belakang. Datang dengan dua mobil terpisah, ingin mengemasi barang-barang miliknya dan sang ibu. Tujuan pertama mereka datang adalah rumah sakit.


Menyisakan tangis kala Erin terlihat telah sadarkan diri pasca operasi. Pria yang mengepalkan tangannya, memberanikan dirinya masuk.


Wanita itu sedikit melirik dengan wajahnya yang pucat. 16 tahun sudah tidak pernah bertemu dengan suaminya. Keduanya hanya tersenyum dengan air mata yang mengalir.


"Perbolehkan aku bertemu dengan William jika kamu ingin mengambilnya." Kalimat dari seorang ibu yang tidak egois. Menyadari ketidak berdayaannya membahagiakan sang anak.


Sanjaya menggeleng."Maaf..." Ucapnya berlutut di hadapan istrinya.


"Maaf..." satu kata lagi darinya.


Sedangkan William hanya terdiam, enggan memasuki ruangan. Menatap ibu dan ayahnya yang hanya diam dengan air mata mengalir.


Seperti novel dimana wanita akan menjadi lebih sukses dari suaminya setelah bercerai? Kemudian sang suami akan bangkrut? Tidak juga, hukum alam dapat berjalan berbeda. Jika didasari dengan banyak pelajaran kejam dan jalan berbeda. Di penghujung hidupnya, Sanjaya menemukan dua orang yang sungguh-sungguh menyayanginya. Sungguh-sungguh ada di hatinya.


Tidak ada kata yang terucap. Hanya jerit tangis sang ibu, dengan Sanjaya yang memeluk tubuhnya. Ini salahnya, bagaimana pun Sanjaya pernah berusaha menjadi suami yang terbaik, mati-matian bekerja siang dan malam. Hingga godaan itu tiba, sebuah tamparan keras dari Tuhan mungkin menyadarinya. Selama bertahun-tahun membiarkan Prita dan anak angkatnya melakukan apapun. Hanya karena tidak ingin hidup sendiri. Mencoba mencari Erin, bagaikan Tuhan menyembunyikan istri pertama dan putra kandungnya.


"Terimakasih..." hanya satu kata yang terucap dari bibir Sanjaya. Hanya tenang dengan orang yang benar-benar menyayanginya di akhir hidupnya adalah keinginannya.

__ADS_1


"Aku jadi ingin menikah..." celetuk William tiba-tiba masuk.


__ADS_2