
Beberapa pesan dikirimkan oleh William. Namun, setelah balasan terakhir belum ada balasan sama sekali. Meletakkan ramen instan yang baru dimakannya setengah.
Dirinya saat ini masih berada di luar kota. Mencari keberadaan Dominic tentunya, berpacu waktu untuk dapat segera pulang. Pulang? Rumah mana yang akan ditujunya?
Pemuda yang menghela napas kasar, lebih memilih tidur di mobil beberapa hari ini. Mungkin sudah seminggu lebih dirinya pergi. Wajahnya terlihat muram."Si*l!" umpatnya.
Phonecellnya kembali berdering dengan nama pemanggil Aksa.
"Aku sudah menangkapnya. Temui di gudang jalan Miora nomor 5." Hanya itulah yang dikatakannya, mengakhiri panggilannya.
William menghela napas lega. Dirinya dapat segera pulang setelah ini. Cup ramen kembali diraihnya, sungguh pemuda aneh menghabiskan ramen instan yang dibelinya di minimarket dengan seragam pramuniaga merah, icon lebah menjadi maskotnya.
Mobilnya kembali melaju wajahnya tersenyum. Sudah diduganya mereka memang dapat diandalkan. Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan perkotaan.
Butuh sekitar 6 jam perjalanan untuk mencapai tempat tinggal Yessy sementara. Seperti janjinya ini adalah pertolongan terakhir darinya, tidak akan melunasi hutang Yesy pada pihak bank, atau membayar pelayan dan supir pribadi lagi.
Memang wanita itu masih memiliki pemasukan dari minimarket yang belum disita bank atau dapat tinggal di rumah yang dibelikan William dulu. Namun, dirinya terlanjur memiliki banyak hutang setelah William tidak pernah membelikan barang-barang mewah padanya.
Cukup banyak, hingga harus mengontrakkan rumahnya selama setahun. Penghasilan minimarket? Juga harus digunakannya untuk membayar angsuran bank yang cukup besar. Habis, semuanya habis kini, yang tersisa hanya tas dan perhiasan miliknya, serta sebuah mobil.
Mencoba mengalihkan fikirannya, menghubungi salah satu temannya saat kuliah. Mungkin saja ada lowongan untuk jabatan minimal manager di tempat temannya, itulah yang ada di fikirannya saat ini. Mungkin ini akan menjadi opsi terakhir jika Dominic masih menghilang. Mungkin hanya satu keyakinannya, pengusaha muda seperti Dominic, mungkin saja ini perbuatan Giovani untuk balas dendam padanya.
Perlahan panggilannya pada salah satu temannya di masa kuliah diangkat.
"Halo Salma..." ucap Yesy menggunakan loadspeaker sembari menggunakan skincare di wajahnya.
"Halo ada apa telepon malam-malam?" tanya Salma dengan nada malas.
"Kamu punya lowongan tidak di perusahaan tempatmu kerja? Minimal manager..." ucap Yesy dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. Tentu saja nilainya walaupun tidak berada di peringkat teratas bisa dibilang cukup tinggi.
"Untuk apa bekerja, bukannya sudah ada kakak artismu yang membiayai?" tanya Salma dari seberang sana.
"Tidak usah banyak omong! Kamu itu cuma staf biasa dengan gaji UMR. Ada lowongan sebagai manager atau tidak!?" tanya Yesy dengan nada tinggi.
Salma yang cukup emosional terdengar kesal."Jika bukan karena kamu yang ceroboh, mengambil baut untuk pemasangan lampu, mana mungkin aku mendapatkan sangsi DO dari kampus! Kita sama-sama menjadi senat, nilaiku lebih tinggi dari nilaimu! Sedangkan nasibku lebih buruk! Karenamu aku memiliki catatan kejahatan kelalaian!"
"Itu salahmu kan? Lagipula aku sudah menebus kesalahanku, karena itu Rektor tidak melaporkanku pada polisi. Menyelamatkan nyawa itu mahal. Jika tidak dengan darahku mana mungkin William dapat hidup..." Jawaban yang benar-benar santai dari mulut Yesy.
"Kamu fikir aku tidak tau? Ada rektor dan dosen yang memiliki golongan darah sama. Tapi kamu malah menangis dan berlutut di hadapan mereka, agar kamu saja yang donor. Sebagai penebus rasa bersalah, padahal kamu cuma takut di drop out sepertiku kan!?" bentak Salma yang emosinya sudah benar-benar terpancing.
__ADS_1
"Intinya ada lowongan manager atau direktur tidak?" tanya Yesy kembali.
"Tidak!" bentak Salma mengakhiri panggilannya.
"Miskin..." cibir Yesy masih fokus membalut kulit mulusnya menggunakan masker.
Hingga pintu yang setengah terbuka itu pada akhirnya terbuka lebar. Menampakkan William yang tersenyum menatapnya.
Raut wajah Yesy berubah seketika, wanita yang tadinya biasa-biasa saja tiba-tiba menangis terisak."Kak apa Dominic sudah ditemukan?" tanyanya.
"Sudah..." ucap William penuh senyuman."Sekarang kamu tidak perlu takut lagi anak yang ada di dalam kandunganmu akan memiliki seorang ayah."
Jemari tangan sang pemuda yang mengusap pucuk kepalanya. Sedangkan Yesy hanya mengangguk, penuh rasa syukur. Pada akhirnya dirinya tidak miskin lagi. Tinggal di rumah mewah yang lebih luas dari istana presiden, dengan para pelayan yang memberi hormat padanya, dilengkapi Giovani yang menjadi tukang cuci piring. William yang kembali menyayangi dan memanjakannya.
Dalam imajinasinya seorang CEO (Dominic) yang telah menjadi suaminya memperebutkan dirinya dengan seorang artis (William). Benar-benar impian semua wanita bukan? Sementara Giovani yang menjadi tukang cuci piring mengharapkan William kembali tapi dengan tegas William menolaknya. Pada akhirnya Giovani hanya dapat merasa iri wanita lemah lembut seperti dirinya hidup bahagia dengan Dominic. Ditemani William yang terus mengejarnya.
Satunya Dominic yang dingin dan berkuasa satunya lagi William yang baik hati dan menebarkan aura hangat. Yesy benar-benar beruntung.
*
Setidaknya itulah yang ada dalam imajinasinya. Hingga mobil milik William yang akan mengantarkannya menemui sang pujaan hati terparkir.
Bukan hotel, restauran, atau tempat mewah lainnya. Tapi gudang pabrik tebu terbengkalai, sudah hujan, becek, tidak ada ojek lengkaplah penderitaan kaum atas seperti dirinya. Wanita hamil yang memakai sepatu hak tinggi.
Pemuda yang kabur dengan uang 14 miliar rupiah. Tertangkap di Kalimantan kala mencoba menyebrang menggunakan skoci, menuju perbatasan negara. Bandara, stasiun kereta api, jalur laut, banyak orang yang mencarinya.
Dominic sampai sekarang tidak mengerti masih menangis. Artis macam apa yang dapat menangkapnya di pedalaman hutan Kalimantan. Dirinya bahkan dibekuk oleh orang-orang profesional seperti tentara bayaran. Kepalanya ditodong senjata api saat itu.
"Gila!" itulah yang ada di fikiran Dominic saat ini.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa? Apa kamu marah padaku? Atau Giovani merencanakan semua ini untuk menjebakmu. Aku akan selalu ada untukmu..." Yesy menangis terisak, memeluk Dominic yang masih berlutut gemetaran.
"Hidup senang, aku datang!" batin Yesy seolah-olah melupakan orang-orang aneh yang ada di sekitarnya.
"William, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa harus menghubungi polisi? Atau mempersiapkan rumah baru atas nama Yesy dan pernikahan meriah untuk mereka?" tanya Aksa.
"Ambil uangnya, masih tersisa sekitar 13 miliar..." Ucap William penuh senyuman, raut wajah yang berbeda dari saat mengantarkan Yesy ke gudang ini.
"A...apa maksudnya? Ini uang dari menggadaikan rumah dan minimarket milik---" Kalimat Yesy disela.
__ADS_1
"Minimarket dan rumah yang aku berikan. Jadi uang ini adalah milikku, setelah digadaikan." William mulai duduk di atas kotak kayu yang lumayan besar.
"Kak William! Jangan lupa hutang budi! Jika bukan karena darahku kamu..." Yesy terlihat gugup kala pemuda itu mendekat masih tersenyum menatap tajam padanya.
"Kamu juga jangan lupa hutang nyawa. Jika baut-baut saat perbaikan tidak kamu pindahkan. Aku tidak perlu dirawat di rumah sakit," William kini berada di hadapannya mencengkeram pipinya.
"Aku adalah orang yang selalu mengingat timbal balik. Menerima berarti harus memberi. Mobil masih atas namamu. Kamu ambil saja, jual untuk biaya pernikahan dan hutang judi suamimu yang menumpuk." Kalimat dari William penuh seringai dingin. Dirinya bagaikan kelu, entah dimana pria polos yang selalu mengabulkan keinginannya.
Namun Yesy tiba-tiba tersenyum, mengingat William tidak ada apa-apanya dibandingkan bos batubara yang ada di dekatnya."Hutang judi? Jangan bercanda, jika Dominic mau, dia bahkan dapat menjadikan Giovani sebagai pelayan dan kamu mungkin akan menjadi tukang kebun jika beruntung."
Sedang Dominic hanya tertunduk saat ini bingung bagaimana harus mengatakannya. Atau apa sebaiknya diam saja?
"Pemilik perusahaan batubara?" William mengenyitkan keningnya menahan tawanya. Corrie sudah memberikan informasi padanya semenjak dirinya mulai menyukai Giovani. Semuanya secara mendetail tentang kehidupan Dominic.
Dengan alasan Corrie menyembunyikan semua informasi. Tidak ingin William mengatakan segalanya pada Yesy dan berakhir menikahinya, saat Yesy terpuruk mengetahui semua kenyataan tentang Dominic.
"Benar!" jawab Yesy penuh percaya diri.
"Dia tinggal menumpang di rumah yang dikontrak orang tuanya. Hidupnya menumpang pada istri, membuka sebuah warung kecil." Ucap William, kalimat yang membuat Yesy melirik pada kekasihnya.
"Sayang! Ancam mereka! Hubungi pengawalmu!" Yesy menyodorkan phonecellnya.
Tapi tidak ada jawaban dari Dominic. Pemuda itu hanya tertunduk diam, diam yang bagaikan membenarkan semua kata-kata William.
"Pengusaha batu bara atau batu kerikil?" Cibir Aksa mati-matian menahan tawanya.
"Dominic!" bentak Yesy yang kini mulai ketakutan.
"Maaf..." Hanya satu kata yang terucap dari bibir Dominic, meruntuhkan segala angan dalam diri Yesy.
"Ambil sisa uangnya," perintah William hendak melangkah pergi.
Namun Yesy yang tertegun menyadari segalanya, benar-benar panik saat ini. Memegang kaki William agar tidak pergi darinya.
"Kak, aku hamil! Kak William tega padaku. Se... sebenarnya aku mencintai kakak. Tapi Dominic mengancam untuk melukaimu, jadi---" Kalimat penuh tangisan Yesy disela.
"Jadi?" William menghentikan langkahnya.
"Tolong menikahlah denganku. Aku bersedia menjadi istri kedua. Aku---" Pipi Yesy dicengkeram oleh William. Mengenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Aku pernah bertemu dengan wanita sepertimu saat masih muda. Wanita yang membuatku harus tinggal di desa dengan ibuku. Istri kedua? Jangan bercanda, seumur hidupku aku tidak akan melepaskan istriku. Jika aku melepaskannya, artinya saat itu aku sudah menjadi mayat..." Kalimat mengerikan darinya, berjalan pergi meninggalkan gudang.
Siapa sangka manusia menggemaskan sepertinya dapat menjadi mengerikan.