When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Sekarang


__ADS_3

"Brutal?" Kenzie mengenyitkan keningnya, tidak mengerti dengan pemuda di hadapannya.


"Corrie sudah memindahkan barang-barangku ke kamar Giovani, bahkan juga barang-barang Eden. Kami bertiga akan tidur satu kamar." Benar-benar pria tidak tahu malu sejati.


"Tidak bisa begitu! Kamu---" Kalimat Kenzie disela.


"Walaupun menganggapku hanya superstar atau Superman. Tidak akan merubah kenyataan kami sudah menikah." Kalimat tegas dari mulut William.


"William sebaiknya kamu kembali." Giovani berjalan mendekatinya. Benar-benar kesal sudah dibanting pun pemuda ini tidak pergi juga.


"Superstar? Apa seorang fans dapat membenci superstar nya? Seorang fans tidak dapat membenci superstar nya. Tapi seorang istri yang marah dapat membenci suaminya." Gumam William penuh senyuman, berjalan melangkah menuju lantai dua. Benar-benar pandai bersilat lidah bagaikan Sengkuni.


"Omong-ngomong Kenzie, untuk menghadapi batu, tidak boleh selembut air. Karena seiiring waktu, kesempatan akan hilang dengan mudah." Kata-kata yang diucapkan William membuat pemuda itu terdiam sejenak.


Matanya sedikit melirik ke arah Giovani yang melangkah dengan kesal menuju ke kamar mandi guna membersihkan dirinya. Berbagai caci maki terdengar, terlihat murka pada sosok William.


*


Malam semakin larut, kala itu Giovani memutuskan untuk tidur di kamar Eden. Mengambil barang-barangnya dan putranya membiarkan William di kamar seorang diri.


Bau arang tercium dari kayu bakar yang tertelan api sedikit demi sedikit. Perapian yang benar-benar hangat.


Kenzie terdiam duduk bersandar di sofa dengan tatapan kosong. Menenggak sekaleng soda hingga tandas, kemudian melemparkannya ke dalam tempat sampah.


Matanya menelisik mengamati Corrie yang duduk tanpa ragu di sampingnya.


"Menyesal?" tanya Corrie memulai pembicaraan.


"Tidak, apa yang perlu disesali. Aku hanya perlu---" Kalimat Kenzie terhenti.


"Aku tidak begitu tau, tapi 10 tahun lalu perusahaan ibumu tiba-tiba mendapatkan banyak peluang bisnis. Hingga kamu begitu sibuk selama setahun penuh kembali ke Eropa membantu ibumu." Corrie tersenyum melirik padanya.


"Kenapa kamu bisa tau?" Kenzie mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Satu tahun adalah jangka waktu yang lama. Jika saja kamu tinggal di sisi Giovani, hatinya yang keras akan luluh. Tapi kamu malah tinggal di luar negeri, membantu ibumu di perusahaan. Sebenarnya, ini perbuatan almarhum tuan Sanjaya. Dia ingin membuatmu tinggal di luar negeri lebih lama. Hingga dirinya dapat mendekati keluarga Sandayu." Corrie tersenyum, memilin tangannya.


"Mendekati keluarga Sandayu? Kenapa?" tanya Kenzie tidak mengerti.

__ADS_1


"Putranya menyukai Giovani. Mendengar hubungan pertunangan kalian retak. Dia ingin memberikan hadiah pada putranya. William tidak dibesarkan olehnya, bertemu dengannya dalam keadaan dirinya yang sudah sakit keras. Aku tidak membujukmu untuk meninggalkan Giovani. Hanya saja, kemana hati beralih, andai saja saat itu kamu tinggal di sisinya seperti saat ini." Kalimat ambigu darinya.


"Kami saling mengenal dari kecil. Selain itu, aku mencintainya. Kamu tidak akan mengerti karena." Kenzie menghela napas kasar."10 tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu."


"Kenzie, kamu mencintainya? Bawa dia kabur malam ini. Aku akan menahan William, bahkan membuatnya mengajukan surat pembatalan pernikahan. Bagaimana?" tanya Corrie padanya.


"Benar?" Kenzie mengenyitkan keningnya curiga.


"Benar." Jawaban dari mulut Corrie.


Pria yang segera bangkit berjalan menuju kamar Eden. Mungkin benar-benar berfikiran untuk pergi ke tempat yang lain bersama Giovani.


Sedangkan Corrie terdiam, masih menyandarkan punggungnya pada sofa. Bagaikan bermain di papan catur menantikan langkah selanjutnya.


*


"Pergi dari sini?" Giovani menghela napas kasar tidak mengerti.


Kenzie mengangguk."Corrie akan mengatur semuanya. Kamu tidak tau apa yang akan dapat dilakukan William. Dia putra tunggal Sanjaya."


Wanita itu terdiam sesaat kemudian tersenyum."Aku merasa seperti istri yang kabur dengan pria lain saja. Kenzie, aku memang akan pergi dengan Eden jika ada kesempatan. Tapi tidak denganmu, aku sengaja menghindar 10 tahun ini. Bukan karena perasaan yang akan hilang dengan mudah. Tapi kita memang tidak dapat bersama lagi."


"Luka, kejadian malam itu selalu aku ingat. Luka yang membusuk pelan hingga ke dalam. Mungkin jika saat itu kamu mengobatinya, ada saatnya aku akan berbalik. Saat itu aku kesepian, karena itu psikiater ingin aku belajar menyukai orang yang mencintaiku. Sebab itu juga aku mengadopsi Eden. Karena kehilangan sosok kalian. Jika difikirkan lagi, semua orang memang terlalu sibuk, orang tuaku dan Jimmy pergi ke luar negeri segera setelah pesta ulang tahun Jimmy berakhir. Sakha, tidak dapat menemaniku seperti sebelum masuk sekolah militer." Kalimat yang diucapkan Giovani mengusap pelan rambut putranya yang sudah tertidur.


"Intinya bukan itu, rasa dapat tergerus dengan mudah. 10 tahun ini kita hanya bertemu beberapa kali. Jika ditanya apa aku masih mencintaimu. Jawabannya masih, setiap hadiah yang kamu berikan akan aku simpan dengan baik. Tapi semakin aku menyimpannya aku merasa itu hanya sebuah kenangan. Cinta akan lebih dalam, jika kamu peduli dan merindukannya. 10 tahun ini, aku tetap merasa sendiri. Karena itu semua akan sama saja. Kamu mengerti?" tanya Giovani lembut.


Kenzie menggeleng."Aku tidak mengerti! Aku mencintaimu!"


"Dulu iya, perlahan hanya menjadi iba dan rasa bersalah. Tahun pertama kamu masih menghubungiku, tapi tahun selanjutnya kamu sudah terbiasa. Aku mencintaimu, tapi jika kita kembali malam itu akan kembali terbayang. Juga saat bersama denganku nanti, kamu hanya akan merasa hambar." Jawaban yang keluar dari mulut Giovani membuat Kenzie berlutut, pemuda yang berusaha tersenyum.


"Iba dan rasa bersalah? Aku---" kalimatnya terhenti kala Giovani ikut berlutut memeluknya.


"Aku memaafkanmu. Aku akan bahagia, aku janji." Wanita yang mendekap erat tubuh Kenzie.


Pemuda itu mengangguk, tidak seperti 10 tahun yang lalu. Mengetuk pintu kamar Giovani putus asa. Waktu memang dapat menggerus rasa cinta. Iba dan rasa bersalah? Perasaan cinta itu masih ada, tapi tidak dapat kembali seperti dulu. Dapat terbiasa hidup tanpa Giovani 10 tahun ini. Apa jika bersama yang tersisa adalah hambar?


Tapi pelukan yang begitu nyaman. Wanita ini telah memaafkannya. Perasaan lega yang aneh ada dalam dirinya. Air matanya mengalir.

__ADS_1


"Kita tetap orang tua Eden?" tanya Kenzie.


Giovani mengangguk, kemudian tersenyum."Kita orang tuanya."


"Jika ada kehidupan yang lain, aku ingin memiliki perasaan yang lebih kuat lagi padamu. Dasar wanita si*l!" gerutu Kenzie kini dapat tersenyum.


"Pria si*lan! Kenapa dapat dijebak dengan mudah!" Giovani tertawa kecil.


"Lain kali tidak akan lagi." Jawaban dari mulut Kenzie penuh senyuman.


Hati yang terasa lebih nyaman baginya bukan untuk merubah masa lalu. Tapi mengikhlaskannya, karena hanya satu hal yang tertinggal dari masa lalu yang menyakitkan. Kata 'Jika', tidur dengan Fifi bukan kesalahannya, dirinya juga mencoba untuk memperbaikinya. Tapi tidak benar-benar berusaha, jika...jika saja saat itu dirinya keras kepala untuk ada di samping Giovani mungkin saja batu yang ditebasnya akan runtuh. Begitu juga perasaannya, dirinya sudah terbiasa hidup tanpa wanita yang dicintainya.


Hanya kata jika yang tersisa. Untuk memulai hidup baru, dengan lebih baik.


"Bantu aku berkemas!" Ucap Giovani antusias. Dirinya dan Eden memang harus tetap kabur dari William.


*


Adakalanya, William terdiam menghela napas berkali-kali. Dirinya tidak dapat terlelap, bau parfum yang dirindukannya ada di kamar ini.


Berjalan menuju rak yang dipenuhi dengan buku. Beberapa foto berada di dalam album, wajahnya tersenyum menatap foto Giovani ketika berumur 16 tahun. Rupanya inilah wajah nona aneh.


Seperti katanya, akan bertingkah brutal. Pemuda yang mulai mengeluarkan isi kopernya. Ada tali, lilin aroma pembangkit ga*rah, obat untuk pria dan satu lagi obat untuk wanita. Tentu saja dirinya harus melakukan ini, jika tidak Giovani akan pergi meninggalkannya.


Hutan budi? Tidak ada lagi cinta karena hutang budi. Karena dirinya tidak kenal lagi pada seseorang dengan nama Budi.


Tatapan mata kejam darinya, masih teringat jelas, bagaimana nona pemilik villa menyeret, bahkan menggodanya dengan hanya melihat jemari tangan yang lincah di atas tuts. Dirinya dicampakkan 12 tahun lalu.


Kemudian dinikahi, karena berbuat kesalahan kembali dicampakkan. Tidak akan terima, jadi kali ini William akan melepaskan keperjakaannya.


*


Tidak berselang lama, minuman di buatkan olehnya. Wajahnya tersenyum cerah, berjalan menuju kamar Eden. Mengetuk pintu berkali-kali tanpa jawaban sama sekali.


Dengan cepat William membuka pintu yang tidak terkunci. Jantungnya berdegup cepat saat ini, menyadari tidak ada orang di dalam sana.


Sedangkan Corrie tiba-tiba berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Giovani pergi 20 menit yang lalu, mungkin dia kawin lari dengan Kenzie. Ingin menggunakan cara brutal? Lakukan sekarang!" seringai terlihat di wajah Corrie melempar kunci mobil, dan sebuah phonecell yang terhubung dengan GPS.


__ADS_2