When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Jerat


__ADS_3

Air danau yang jernih, kali ini William yang mendayung perahu pelan menyusuri area telaga. Dengan Giovani duduk berhadapan dengannya.


Wanita itu terdiam melihat ke arah bintang. Seekor kunang-kunang yang terbang disentuh menggunakan jari telunjuknya. Sedang William hanya tersenyum simpul.


"Aku semakin mencintaimu..." satu kalimat dari bibir William."Kamu terlihat sempurna,"


Giovani membalas senyumannya kemudian menggeleng."Pernah mendengar bipolar? Kata dokter aku mengalami gangguan kepribadian."


"Lalu?" William mengenyitkan keningnya, bagaikan bukan sebuah masalah baginya.


"Emosiku berubah-ubah, bagaimana jika aku menyerang mu tengah malam?" tanyanya.


Pemuda itu menggeleng."Aku tetap ingin berada di sampingmu..." ucapnya, menarik Giovani agar berbaring dalam pangkuannya. Namun, sialnya sampan oleng membuat mereka terjatuh ke dalam air.


Dua orang yang segera bangkit, air telaga memang hanya setinggi pinggang orang dewasa di bagian pinggir. Tubuh yang sama-sama basah terdiam dalam kebisuan sejenak. Hingga sang pemuda menariknya ke dalam pelukan."Kamu tidak dengar, aku mencintaimu? Katakan kamu mencintaiku juga," pinta William memegang dagu Giovani dengan jarinya, mengarahkan pandangan mereka untuk bertemu.


Wanita itu tersenyum, perasaan yang timbul karena sugesti? Dirinya mencintai William itulah yang dikatakan dokter, ingin dirinya tidak menganggap semua kenangan tentang Kenzie.


Namun, hampir dua bulan ini, waktu yang cukup lama, membuat Giovani terjerat perlahan. Wanita itu malah mengalungkan tangannya pada leher William kemudian menciumnya. Pemuda yang merengkuh pinggang istrinya erat.


Rasa hangat menjalar dalam dirinya, detak jantung yang tidak teratur. Dirinya benar-benar merasa serakah ingin memiliki Giovani, seluruh yang ada di tubuh wanita ini adalah miliknya.


Hingga ciuman itu terlepas. Napas hangat mereka beradu. Giovani perlahan mendekatkan bibirnya pada telinga William."Kamu tidak takut buaya? Di tempat ini ada beberapa buaya." Dusta Giovani penuh senyuman.


William membulatkan matanya, merasa ketakutan. Menarik tangan Giovani, guna keluar dari area telaga. Matanya menelisik benar-benar ketakutan bahkan rasa berdebar kala melihat batang pohon mengapung. Sedangkan wanita yang ada di belakangnya hanya tertawa.


"Aku bercanda..." ucapnya.


Tapi tetap saja pemuda itu ketakutan menarik tangan Giovani hingga keluar dari area telaga. Napas keduanya terengah-engah duduk di rumput mengistirahatkan diri mereka. Mata William melirik ke arah Giovani, bipolar disorder hanya kesulitan mengendalikan perasaan bukan? Tidak masalah baginya.


"Aku akan menjagamu..." janji William meletakkan kepalanya sendiri dalam pangkuan Giovani.


*


Siang menjelang, seorang pemuda duduk di tepi ranjang, menunggu seorang wanita yang tengah menata penampilannya dalam sebuah kamar hotel.

__ADS_1


Pemuda yang tidak menggunakan atasan hanya celana panjang berwarna putih, menampakan tubuh atletisnya. Memeluk seorang wanita dari belakang. Mencium aromanya sekilas, William tersenyum menatap bayangan mereka di cermin meja rias."Aku mencintaimu Stevie..."


Wanita itu terlihat gugup."Aku juga, setelah yang kita lalui bersama, aku harap ibumu akan setuju dengan hubungan kita."


"Aku tidak dapat hidup tanpamu..." kata-kata dari mulut William bagaikan menggilainya. Napas beraroma mint tercium menyeruak. Membuat gadis itu berdebar.


"Masalah Annete aku. Aku---" Kalimatnya terhenti kala wanita itu menatap pantulan wajah rupawan William yang bagaikan mendamba ingin memilikinya.


Bibirnya kelu tidak dapat berucap. Bagaimana ini? Bagaikan terbuai sekaligus terjebak sarang laba-laba. Otaknya kosong tidak tahu harus bagaimana.


"Cut! Bisa-bisanya kamu lupa dialog! Padahal akting William sudah sempurna!" Bentak sang sutradara.


Sedangkan William hanya tersenyum. Dengan hati berbunga-bunga, tentu saja aktingnya bagus. Selama ini dirinya yang hanya pernah benar-benar jatuh cinta satu kali, mempelajari pendalaman perasaan pemeran utama pria dari drama China atau Korea. Tapi kali ini dirinya mengalami sendiri, jatuh cinta sampai ke tahap takluk.


Sekarang dirinya mengerti bagaimana perasaan pemeran utama pria yang bucinnya setengah mati. Tidak seperti sebelumnya akting tanpa penghayatan, kali ini aktingnya dengan penghayatan penuh.


"Break!" perintah sang sutradara murka, mengacak-acak rambutnya frustasi. Pasalnya sudah lima kali pengambilan gambar tapi pemeran utama wanita masih saja melakukan kesalahan.


Sedangkan Corrie memberikan air mineral pada William. Berjalan bersamanya menuju kursi yang disediakan. Mengenyitkan keningnya, pemeran utama wanita sudah berkali-kali lupa pada skrip karena terpengaruh akting pemuda ini. Apa yang terjadi hingga dapat membuat bakat akting William yang biasa-biasa saja, meningkat?


"Aku berkencan dengan istriku. Apa salahnya?" Ucap William masa bodoh, meminum air mineral.


"Apa kalian pernah melakukannya? Maksudnya lebih baik segera punya anak. Kalau beruntung anak kalian akan normal memiliki otak bisnis seperti istrimu. Tapi ingat! Jangan main pedang-pedangan dengan Kenzie." Corrie tersenyum pada sahabatnya.


William menghela napas kasar."Dalam hal ini Giovani terlalu profesional. Aku terlalu gugup."


"Jadi belum? Kamu tidak berani?" pemuda itu menyimak dengan antusias, meraih jusnya atas meja kemudian menyedotnya.


"Bukannya tidak berani. Tapi, aku...dia terlalu agresif..." Ucap pemuda itu malu-malu mengalihkan pandangannya.


Hingga seorang figuran wanita berjalan mendekati mereka."Kak William, aktingmu hebat. Perkenalkan namaku Safitri, sebenarnya ada temanku yang sedang sakit keras. Dia fans beratmu, bisa bertemu dengannya sepulang syuting lagi. Aku mohon..." pintanya memelas.


William sedikit melirik ke arah Corrie. Corrie mengangguk pertanda dirinya tidak memiliki terlalu banyak kegiatan sore nanti.


Pemuda yang selalu ramah pada fansnya itu menjawab."Boleh, tapi hanya 15 menit."

__ADS_1


"Itu cukup..." senyuman terlihat di wajah sang figuran. Entah apa yang ada dalam fikirannya.


*


Restauran yang cukup mewah seorang wanita cantik yang katanya teman sang figuran, ada di sana menunggu kedatangan William. Tidak ada yang aneh sama sekali. Corrie menunggu di area depan restauran membeli minuman kaleng.


Seperti acara jumpa fans biasa. Tapi fans wanita kali ini memang benar-benar cantik, memakai pakaian yang terlihat sopan.


Tidak ada yang aneh, William mengulurkan tangannya menjabat jemari tangan sang wanita."Gia..." Ucap sang wanita malu-malu.


Makan malam seperti biasanya, meminta foto dan tandatangan. Tidak ada yang aneh sama sekali. Hingga pada akhirnya keluar dari area restauran.


Bukan Corrie yang menunggunya namun Yesy."Kak ..." panggilnya.


William hanya menghela napas kasar berjalan melaluinya. Namun dengan cepat Yesy memeluknya dari belakang. Air matanya mengalir."Aku hamil, kakak tidak iba padaku? Aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri."


Sang pemuda berbalik menatap ke arah Yesy."Dengar, kamu sudah memiliki Dominic. Apa dia tidak cemburu jika kita terlalu dekat? Seharusnya kamu memikirkan perasaannya."


Yesy mengangguk."Aku akan segera menikah. Kita masih seperti saudara kan? Aku hanya ingin kakak menasehati kak Giovani. Tidak lebih, aku merasa dipermalukan," gumamnya terisak.


William menghela napas kasar."Aku tidak akan menasehati Giovani karena itu urusan kalian. Tapi jika kamu memiliki masalah yang benar-benar sulit aku akan datang untuk membantumu."


Hanya itulah kalimat yang diucapkan William pergi penuh senyuman. Sedangkan Yesy terdiam mengepalkan tangannya. Sisa uang investasi digunakannya untuk ini, menghancurkan hubungan William dan Giovani.


*


Tapi apa bisa? Segera setelah mobil William dan Corrie melaju. Yesy berjalan masuk ke area restaurant. Tentu saja menemui gadis bernama Gia dan beberapa wartawan yang bersembunyi. Senyuman terlihat di wajahnya. Apa yang mendasarinya? Hanya ingin memiliki Dominic dan William sebagai kakak. Tidak ingin William menikah atau dirinya harus berbagi waktu dengan wanita lain.


Kala memasuki area restauran dirinya mematung. Giovani ada di sana, duduk di kursi dengan ukiran yang indah, senyuman terlihat di wajahnya. Bagaikan sudah bosan menunggu kedatangan Yesy yang masuk.


Para wartawan yang bersembunyi ditodong menggunakan senjata api. Bahkan wanita bernama Gia roboh dilantai dengan beberapa luka.


"Ingin membuatku marah?" tanya Giovani masih setia tersenyum.


Sedangkan Shine yang memang mengirim orang untuk membututi William mengenyitkan keningnya."Mampus!" hanya itu kata yang ada di otaknya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2