When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Kesalahan


__ADS_3

Tangan wanita itu gemetar saat ini. Tidak mungkin sifat Giovani berubah dalam semalam bukan?


"Meminjam! Bukannya semua perhiasan itu surat-suratnya masih ada padaku. Dan tentang kalung berlian hadiah dari ibuku tahun lalu. Kenapa kamu berani menjualnya..." Giovani tersenyum acuh. Inilah yang didapatkannya dari psikiater yang ditemuinya semalam. Dirinya terlalu takut kehilangan orang yang terlanjur dekat dengannya. Hingga memilih memendam sendiri ketika dilukai. Luka yang perlahan menumpuk, dapat merubah jalan fikirannya, menyakiti diri sendiri sebagai pelampiasan.


Karena itu, membunuh atau dibunuh. Istilah yang aneh bukan? Namun, psikiater yang menanganinya sengaja mengatakannya. Mencegah pasiennya melakukan tindakan melukai diri sendiri lagi. Bukan membunuh atau dibunuh tepatnya, hanya keterangan klise dengan penjelasan lebih detail. Tidak apa-apa meluapkan amarah tapi berusaha sekeras mungkin mengendalikan diri. Tidak apa-apa kehilangan satu orang, karena orang lainnya dapat masuk dan hadir di hidupmu.


"Giovani kita sudah seperti saudara. Bahkan berbagi banyak hal bersama. Aku---" Kalimatnya tiba-tiba disela.


"Anak pelayan adalah pelayan. Apa anak pelayan berharap disamakan dengan anak majikan? Punya uang? Berapa yang kamu punya hingga dapat menjadi saudaraku? Sakha membelikan gaun seharga jutaan rupiah yang disisihkan dari uang sakunya sebagai hadiah ulang tahunku tahun lalu. Dan kamu? Setelah aku berbagi uang sakuku pun, kalung senilai tiga miliar masih dijual?" cibirnya tersenyum menatap pelayan yang ingin menjadi nona muda ini.


Gila pujian membuat Fifi lupa diri. Memiliki banyak teman dari kalangan atas, membeli hal yang tidak perlu, ingin dipuji-puji semua orang karena dapat mentraktir. Bahkan pakaian dan aksesoris Giovani tidak cukup untuk menunjang penampilannya. Giovani terlalu malas untuk belanja jika tidak sesuai dengan stylenya. Mungkin karena itu, setiap ada teman yang menyombong tenang jam atau tas keluaran terbaru, Fifi memutar otak. Pada akhirnya menjual perhiasan milik Giovani, senilai satu setengah milyar mengingat tidak memiliki surat-surat sama sekali.


Kemana uang tersebut? Kini hanya tersisa sekitar 300 juta. Selebihnya untuk membeli barang-barang agar dapat melebihi mahasiswi lain yang memang berasal dari keluarga kaya. Keperluan lainnya, hanya mengadakan sekitar tiga kali pesta di club'malam, merayakan ulang tahunnya, dan nilai terbaik yang pernah sekali diraihnya karena dosen tercintanya. Dalam setahun uang satu setengah milyar hanya tersisa 300 juta.


"Gi... Giovani aku---" Kalimatnya kembali terhenti.


"Simson! Ibunya tidak bekerja di sini lagi. Singkirkan barang-barang yang ada di kamarnya. Kemas pakaiannya saja, biarkan barang-barangnya yang dipinjamnya dariku, tetap ada di rumah ini." Giovani kembali makan dengan tenang.


"Giovani! Kamu tidak bisa seperti ini! Nyonya Denisa akan---" bentakan Fifi terhenti.


"Masih sadar dengan status nyonya? Ibu kami adalah nyonyamu. Aku dan kak Giovani menyayangi kak Sakha karena dia menganggap kami adiknya. Kalau kamu? Setiap hari ingin menyingkirkan kami kan? Berharap kami semua akan cepat mati." Tebak Jimmy menunjuk-nunjuk dengan garpu penuh senyuman. Dirinya mengetahui segalanya, apapun yang diberikannya pada Giovani akan berkahir di tangan Fifi. Karena itu acara apapun yang menyangkut tentang kakak perempuannya dirinya akan memberikan hadiah termurah.


Mulai dari coklat pasta kacang dengan harga 1000 rupiah di kantin sekolah, es Boba, bahkan ada kalanya sang adik hanya menggoreng nugget untuk kakaknya di hari ulang tahun. Tidak apa hadiah yang paling aneh, yang penting masuk ke perut kakaknya. Itulah prinsip tuan muda keluarga konglomerat. Jika Fifi berakhir tidak diusir hari ini, mungkin hadiah ulang tahun kakaknya tahun ini adalah wafer coklat dari coklat Italia asli, dapat di geser, dengan harga 1000 rupiah kemasan hematnya di warung.


"Giovani! Apa kesalahanku? Aku tidak pernah memiliki kesalahan padamu." Ucap Fifi memohon, tidak ingin meninggalkan segalanya. Apa yang bisa didapat dengan uang 300 juta yang tersisa di rekeningnya? Dirinya mungkin hanya bisa membeli rumah kecil. Lalu perabotannya? Biaya hidup? Pelayan? Dirinya biasa dilayani.


Giovani tersenyum, menghentikan aktivitas makannya."Ingat kotak musik hadiah kedatanganku dari rumah sakit 5 tahun lalu. Sudah aku katakan jangan menyentuhnya. Kamu boleh mengambil sisanya! Tapi malam ini, kamu berani menyentuhnya..."


Jimmy mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Sedangkan Fifi hanya dapat diam tertegun melirik kopernya yang hanya berisikan baju-baju murah. Dirinya terlalu ceroboh, terlalu sombong, seharusnya tidak terang-terangan menunjukkan kejadian semalam di depan Giovani. Tangannya gemetar mengingat hadiah pertama Kenzie pada Giovani lima tahun lalu. Satu-satunya hal yang tidak boleh disentuhnya sama sekali.


Sebuah ancaman sekaligus peringatan tentang hal yang tidak boleh dilanggarnya. Dan kemarin dirinya melewati batas, mencoba mengambil Kenzie.

__ADS_1


*


Tangan Kenzie gemetar saat ini, berdiri di atas tangga, mendengar semua percakapan mereka. Dirinya mengingat kembali noda darah pada pisau, termasuk air dalam bathtub yang dengan noda merah samar. Matanya sedikit melirik ke arah pergelangan tangan kiri Giovani.


"Giovani mengetahuinya?" batinnya, menatap tunangan kecilnya melangkah menaiki tangga.


"Jika hanya kasihan padaku lebih baik pergi. Bawa dia (Fifi) ke rumahmu. Ini kesempatan yang aku berikan agar kalian dapat bersama." Tiga kalimat yang membuat Kenzie tertegun. Kalimat yang diucapkannya, tapi bukan itu maksudnya. Bukan...


Dengan cepat sang pemuda melangkah menatap pintu kamar Giovani yang tertutup sempurna.


"Giovani! Buka! Giovani! Aku tidak sengaja! Gio..." ucapnya mengetuk pintu kamar dengan keras. Hanya suara tangisan seorang wanita yang terdengar dari dalam sana. Itulah suara tunangannya.


"Giovani, maaf. Aku mencintaimu..." Kalimat yang diucapkan Kenzie terduduk di lantai, menitikkan air matanya. Masih berusaha mengetuk pintu kamar Giovani, walaupun tidak ada suara lagi yang terdengar selain tangisan dari dalam sana.


*


Hari demi hari berlalu, Kenzie tidak henti-hentinya meyakinkan Giovani. Mendatangi tempat kursus maupun rumahnya. Tidak membawakan hasil, gadis itu tidak mau menemuinya sama sekali.


"Kamu kesulitan melupakan segalanya?" tanyanya. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan, tatapan matanya terlihat kosong.


Sang psikiater tidak dapat memaksa Giovani untuk memaafkan seseorang. Menghela napas kasar, memikirkan solusi lain untuk mengalihkan fikirannya, menjadi cara instan paling cepat. Tidak ingin pasiennya melukai diri sendiri lagi.


"Begini, jika kamu ingin melupakan kenangan buruk, buatlah kenangan indah. Sugesti dirimu sendiri untuk mencintai orang yang mencintaimu. Apa ada orang yang mencintaimu?" tanya sang psikiater.


Giovani mengangguk."Ada yang menyukaiku. Tapi hanya memiliki hubungan sebagai teman. Dia yang menganggap sebagai mantan kekasih. Tapi aku tidak."


Sang dokter tersenyum menemukan celah. Dirinya harus lebih berhati-hati, tidak ingin remaja di hadapannya ini mengalami tekanan."Kalau begitu jadikan anggapannya sebagai kenyataan. Kenangan indah tentang Kenzie dapat kamu ganti dengannya. Walaupun pertemuan dengannya (William) singkat, tidak selama dengan kamu mengenal Kenzie, anggap itu pertemuan panjang. Jika dia mencintaimu, kamu mungkin dapat mempengaruhi dirimu untuk mencintainya. Hidup ini begitu panjang, jangan persingkat masanya dengan kematian. Jika ada kenangan buruk, buat kenangan indah untuk melupakannya."


Giovani sedikit melirik ke arah sang psikiater. Dirinya menatap luka di pergelangan tangan kirinya belum mengering dengan sempurna. Tiba-tiba saja air matanya mengalir.


Dari sanalah keberuntungan William dimulai. Dari seorang psikiater yang mencari solusi untuk pasiennya. Kegilaan yang dimulai oleh Giovani dari awal, William menganggap mereka pasangan kekasih dan saat itu. Giovani yang mencampakkannya? Maka Giovani akan menganggap hal yang serupa.

__ADS_1


Membuat kenangan biasa-biasa saja sebagai sahabat oleh Giovani, kini berusaha diingatannya menjadi kenangan romantis oleh sang gadis. Mengsugesti diri sendiri bahwa dunia itu indah. Walaupun tidak sengaja menginjak kotoran kerbau, tapi setidaknya langit masih cerah. Meteor belum menghantamnya, tabung gas tidak menggelinding di pemakamannya. Bahkan kuburannya tidak mengeluarkan minyak. Dirinya orang baik, maka tidak boleh menangis.


*


Satu bulan setelahnya...


Fifi menelan ludahnya sendiri, memberanikan dirinya menemui Kenzie. Rencananya berhasil, dirinya kini tengah mengandung anak Kenzie. Sudah dipastikan dengan statusnya sebagai istri Kenzie dirinya dapat menginjak keluarga Sandayu.


Tapi apa benar? Pemuda itu terlihat meminum Vietnam ice coffee-nya dengan tenang, mengingat tidak mungkin ada sianida di dalamnya seperti kasus yang viral beberapa tahun lalu.


Tidak terlihat kepanikan dalam raut wajahnya, kala Fifi menunjukkan tes pack dengan dua garis.


"Hanya denganmu aku tidak memakai pengaman. Bertanggung jawablah! Jika tidak aku akan mengatakan ini pada nyonya Eveline," ucapnya tegas, kandungan rapuh yang masih berusia 4 minggu.


Kenzie tersenyum, menyodorkan kartu ATM padanya."Didalamnya ada 400 juta rupiah. Terserah kamu mau menggunakannya untuk apa, merawat anak itu atau menggugurkannya. Jika dibuang di panti asuhan juga tidak apa-apa."


"Kamu tidak dengar? Aku akan mengatakan segalanya pada ibumu!" bentak Fifi.


"Sebelum kamu mengadu pada ibuku. Aku sudah menceritakan segalanya, termasuk membawa bekas gelas wine yang aku minum. Jawaban dariku dan ibuku cukup mudah. Jika aku memiliki istri sepertimu, dalam 10 tahun keluargaku akan hancur, karena cara-cara picik yang kamu lakukan nanti, anakku tidak akan memiliki budi pekerti, karena dibesarkan olehmu. Saat keluargaku terpuruk dan hancur kamu akan meninggalkanku. Pergi mencari pria lainnya. Jadi aku tidak bisa menikahimu, terserah ingin aborsi atau membesarkannya..." Jawaban tenang dari Kenzie.


Lagipula Fifi sendiri yang ingin melenyapkan anaknya, jika menggugurkan menjadi pilihannya. Tapi jika menitipkan di panti menjadi pilihannya, Eveline (ibu Kenzie) dapat mengadopsinya.


"Aku akan mengatakan ini pada media!" ucap Fifi belum mau menyerah.


"Tinggal panggil polisi untuk menangkapmu, aku punya bukti ada wanita bayaran yang menjeratku." Kalimat dari Kenzie masih tetap tenang, mengantongi hasil lab tentang sisa minuman yang tertinggal. Serta rekaman CCTV rumah keluarga Sandayu.


Fifi menarik napasnya dalam-dalam pada akhirnya meraih kartu di hadapannya."Aku akan menggugurkannya!" Berjalan pergi dengan langkah cepat.


Sedangkan Kenzie mengepalkan tangannya. Bagaimana pun itu kemungkinan anaknya. Tapi untuk membawa Fifi ke keluarganya, itu tidak akan dilakukannya. Benar-benar menjijikkan makin mengetahui profilnya. Menjadi simpanan dosen, merokok, berhubungan dengan sembarang pria jika mabuk di club'malam.


Dirinya menatap ke arah langit dari kaca etalase cafe tempatnya berada saat ini. Tatapannya kosong, dirinya merindukan Giovani.

__ADS_1


__ADS_2