
Namun, segalanya tidak berakhir begitu saja. Ada kalanya wanita itu terdiam kala kembali ke negara tempatnya dibesarkan. Menatap kedatangan seseorang yang tidak disangkanya.
Fifi kembali hadir setelah 9 tahun membawa uang puluhan miliar rupiah. Mata wanita itu menatap ke arah Eden."William bawa Eden ke kamarnya." Kalimat yang diucapkan Giovani.
William membimbing anak itu pergi. Membawanya ke lantai dua.
"Hai, itu anakku bukan?" tanya Fifi pada Giovani.
"Bukan, dia anakku." Jawaban dari Giovani penuh senyuman.
"Sudahlah, kedatanganku kemari hanya untuk mengatakan aku berubah fikiran! Aku ingin hak asuh Eden." Kalimat yang diucapkan Fifi terlihat masa bodoh.
"Kenapa?" Jimmy yang baru datang mengenyitkan keningnya.
"Aku ibunya aku berhak mengasuhnya!" bentak Fifi.
"Kembalikan uangku termasuk bunganya. Satu lagi kembalikan biaya hidup Eden selama denganku." Giovani berucap dengan tenang menadahkan tangannya.
"A...aku," kata-katanya dipotong.
"Tidak bisa kan? Kenapa? Kamu kehabisan uang? Karena itu datang kemari untuk meminta uang dariku. Atau kamu ingin mengambil Eden kemudian menjadikannya alasan untuk mendapatkan Kenzie?" tanya Giovani lagi.
"Memang! Apa maumu!? Kamu sendiri bukannya kembali bersama Kenzie malah menikah dengan pria yang sudah seperti pria penghibur (William)!" Wanita itu tidak menurunkan nada bicaranya juga.
"Kita punya surat perjanjian kamu jangan sampai lupa. Jikapun masalah ini dibawa ke pengadilan aku atau Kenzie yang akan menang. Karena jika aku kalah sebab membeli Eden darimu, kamu juga akan kalah di pengadilan karena menjual anakmu sendiri. Saat itu, hanya Kenzie yang akan mendapatkan hak asuh selaku ayah kandungnya!" Kali ini Giovani berucap dengan penuh penekanan.
"Pelayan! Bawa nona ini pergi!" perintah dari Giovani. Hanya ada umpatan yang kemudian keluar dari mulut Fifi.
Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Gaya hidup hedon tetap diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lima tahun lalu dirinya menikah dengan pria kaya. Tapi akhir yang sama dengan perkiraan Eveline (ibu Kenzie), usaha suaminya hancur karena Fifi menyinggung banyak klien. Ditambah dengan gaya hidupnya, wanita yang benar-benar pergi meninggalkan anak keduanya pada suaminya saat suaminya terpuruk.
Karena itulah, setelah semuanya habis, dirinya ingin kembali memanfaatkan Giovani Sandayu. Atau setidaknya membawa Eden untuk kembali berusaha mendapatkan Kenzie.
"Aggh!" geram Fifi kala dirinya diusir keluar. Tidak ada pilihan lain, dirinya harus berusaha mendapatkan lelaki kaya lainnya.
*
Kejadian yang tidak terduga sama sekali. Kala William pergi untuk menerima panggilan dari Aksa, Eden mendengar semuanya dari lantai dua. Air mata anak itu mengalir, menatap ibunya yang menangis setelah kepergian wanita yang kini diketahuinya sebagai ibu kandungnya.
Jemari tangannya mengepal, menghela napas berkali-kali. Bahagia Giovani adalah bahagianya. Anak yang kembali berjalan menuju kamarnya, mendapati William sudah selesai bicara dengan Aksa melalui sambungan telepon.
"Paman." Panggil Eden tiba-tiba.
"Jangan panggil paman, panggil aku ayah," Ucap William penuh senyuman.
"Aku akan panggil ayah jika kamu bisa memberikanku adik. Jika aku memiliki adik, aku berjanji akan menjaganya..." Entah kenapa anak itu mulai menangis, air matanya tidak henti-hentinya mengalir. William memeluk tubuhnya erat, belum mengerti sama sekali.
"Jika ibu memiliki adik, setidaknya aku tidak akan merasa bersalah menikmati rasa kasih ibu seorang diri. Aku hanya anak dari wanita yang menyakiti ibu..." batinnya mengeratkan pelukannya pada tubuh William.
__ADS_1
*
Hari ini adalah hari yang aneh bagi William. Pemuda yang didorong masuk ke dalam kamar Giovani oleh Eden. Kemudian mengunci pemuda itu. Ingin ibunya memiliki sandaran di saat seperti ini.
Suara derasnya air shower terdengar, diselingi suara isakan dari kamar mandi. Pintu perlahan dibuka oleh William terlihat Giovani di sana dengan sekujur tubuh yang basah. Tangannya memegang pecahan kaca. Benar, kaca di depan wastafel pecah, bekas dilempar menggunakan sesuatu.
William membulatkan matanya, menatap tatapan kosong dalam diri Giovani. Hendak memotong urat nadinya sendiri.
Pemuda yang dengan cepat bergerak menghentikannya, melempar pecahan kaca ke sudut ruangan."Jangan menangis..." ucapnya ketakutan.
"Fifi..." gumam Giovani mengingat segalanya. Sejatinya hal yang membuatnya seperti ini bukan hanya Kenzie, tapi juga Fifi. Separuh hidupnya dihabiskan bersama wanita itu, hingga tiba-tiba ingin memiliki Kenzie, dan sekarang Eden.
"Kenapa? Dulu kamu tidak serapuh ini. Tenang ada aku, kamu percaya padaku?" tanya William namun Giovani hanya diam.
Taukah kalian berhubungan dapat melepaskan hormon eksitosin, endorfin, dan prolaktin? Membuat merasa lebih rileks dan tenang. Rasa yang benar-benar nyaman.
Tubuh mereka sama-sama basah. Giovani hanya terdiam masih terhanyut dalam pemikirannya.
"Apa kamu mencintaiku? Jika iya bertahan hiduplah untukku dan Eden." Pinta William.
Giovani menggeleng."Aku tidak..." Kalimatnya dipotong.
"Ingat saat kita bersama di perahu? Katakan kamu tidak mencintaiku." Kalimat yang diucapkan William.
Wanita yang diam, tatapan matanya kosong. Tanpa aba-aba William mencium bibirnya pelan, benar-benar dingin namun bagian dalam mulut mereka terasa hangat. Wanita yang benar-benar dirindukan olehnya.
Perasaan yang sejatinya benar-benar ada. Namun tertutup sebuah keraguan. Kala. dirinya tidak memiliki tempat untuk bersandar. Bolehkah dirinya menyerah?
William kembali memeluk erat tubuhnya. Mencium aroma yang dirindukannya. Sepasang bibir itu kembali berpangut perlahan. Lidah mereka menyapu pelan.
Bagaikan efek obat penenang yang membuatnya lebih tenang. Seperti memiliki tumpuan. Serakah dengan tumpuan ini, dua orang yang saling berpangut tidak mengerti akan apapun hanya meresapi rasa hangat ini.
Helai demi helai pakaian yang basah terjatuh di lantai kamar mandi. Semakin hangat terasa menjalar, kala dua kulit itu bersentuhan.
Tidak ada yang tersisa, entah siapa yang memulai. Adakah tempat yang lebih nyaman dan hangat?
Brak!
Sepasang tubuh itu terjatuh di tempat tidur. Air shower masih menyala deru napas yang tidak teratur terdengar. Saling memeluk entah apa yang mereka cari, mungkin hanya rasa nyaman.
Pemuda yang tidak henti-hentinya membuatnya tidak mengerti. Mempermainkan tubuhnya, membiarkannya berbuat semaunya. Hanya dapat menjambak rambut itu pelan kala bibirnya merayap ke seluruh tubuhnya. Menciptakan rasa hangat yang aneh, kepalanya menonggak, memeluk tubuh William.
Tidak ada satupun kata dari bibir mereka. Tanpa rayuan atau apapun."Agh!" Kalimat memekik yang tertahan, dalam sebuah ciuman. Giovani tidak tahu harus bagaimana, mencakar punggung pemuda yang ada di atas tubuhnya.
Detak jantung mereka senada berpacu dengan cepat. Tidak ada kata yang terucap dari bibir William selain deru napas yang tidak teratur. Sesekali sepasang lidah itu bermain mengimbangi tubuh mereka yang terombang-ambing.
"Gio..." Akhirnya kata itu diucapkan William, sekujur tubuhnya bagaikan telah menyatu. Harum napas wanita ini. Mengguncangnya perlahan, wanita yang terus menariknya, ingin menyesap bibirnya.
__ADS_1
Rasa yang benar-benar aneh. Rasa sakit yang telah hilang perlahan. Begitu tenang untuknya.
"Giovani..." bisik William di telinganya. Tidak terdengar begitu jelas.
Wanita itu masih bungkam, hingga dirinya hanya dapat berbisik pelan memanggilnya."Will... William..."
Entah mengapa dua orang itu saling memanggil. Hingga jeritan panjang mereka terdengar bersamaan. Mengantar rasa hangat dalam cairan yang menyatu.
William mendekap erat tubuh Giovani."Aku sudah tidak perjaka," gumamnya.
Giovani terlihat jauh lebih tenang saat ini."Minggir! Aku mau tidur!"
"Tapi kamu sudah mengambil keperjakaanku. Jadi aku ingin lagi! Kenapa!? Mau berdalih fans dan superstarnya? Kamu fikir ada berapa wanita yang menulis di nama akunnya sebagai istriku. Jadi kamu selaku istriku seharusnya merasa menjadi fans yang beruntung." Kalimat tidak masuk akal kembali terucap dari bibir William.
"Kita akan... aaagghhh..." Kalimatnya terhenti, pemuda ini kembali mencium bibirnya, bahkan mengulangi segalanya. Tapi ingatkah mereka mematikan air shower sebelum tidur?
Entahlah ...
Namun pemuda ini benar-benar melakukannya hingga dirinya terlelap, hanya sepasang cairan dari tubuh yang berbeda kembali menyatu. Apa William tau tentang seorang perawan? Tentu saja tidak.
Pemuda itu menyadari cukup sulit, tapi ini pengalaman pertama dari seorang William jadi menganggap dirinya amatir. Walaupun pada pagi tiba dirinya baru menyadari ada bercak darah.
"Bagaimana bisa istriku masih perawan!" teriaknya di pagi hari yang dingin, mengetahui segalanya. Lalu Eden lahir dari mana?
*
Tapi segalanya kini berjalan lebih baik. Kenzie masih di luar negeri, sesekali mendatangi Eden. Kerjasamanya kali ini dengan Aksa, dalam kata lain dengan William.
Segalanya memang benar hanya kepingan masa lalu. Walaupun itu bukan kesalahannya sepenuhnya. Tapi jika tidak ada kesalahan itu Eden tidak akan ada. Mungkin hanya satu sesal yang tertinggal, kenapa 10 tahun yang lalu dirinya tidak nekat saja, mendekati Giovani.
Namun segalanya perlahan diterima olehnya, menyibukkan diri dalam pekerjaan. Hingga mungkin ibunya kembali akan mencarikan istri untuknya.
William tetap menjadi seorang selebriti, bahkan memiliki dua orang anak yang diperlakukannya dengan adil. Eden selaku anak tertua membawa adik laki-lakinya kemana-mana.
Suara teriakan penonton terdengar kala dirinya menyanyi menggunakan gitar akustik. Matanya menelisik ribuan orang yang datang untuk menyaksikannya.
Hingga matanya fokus pada satu titik. Giovani ada di sana bersama kedua anak mereka.
"Aku berjanji akan setia pada satu orang. Karena itu, Aku mencintaimu..." Kalimat yang diucapkannya, tersenyum ke arah Giovani. Tapi wanita itu tidak membalasnya.
"CEO dingin..." cibiran dari William disambut dengan jeritan penonton.
Lagu dimulainya, bernyanyi dalam tempo tidak begitu cepat.
Satu hal yang disadari William. Sebuah keluarga yang retak dapat menyatu kembali, atau tidak tergantung usaha dan ketulusan hati seseorang. Wajah wanita yang ada diantara penonton itu tersenyum.
Apa Giovani telah sembuh? Tidak sampai saat ini tidak. Yang dilakukan William hanya menjaganya seumur hidupnya. Karena hal yang rapuh bukan kekurangan tapi bagian bagaikan anggota tubuh bagi wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Dua pasang mata yang beradu dalam jarak jauh kala di panggung. Namun bergurau, berkeluh kesah di atas tempat tidur saat lelah menyapa.
Tamat