
Wajah Giovani tersenyum menatap ke arah Willam. Dirinya diakui sebagai istri? Rasanya ingin berguling-guling saking senangnya.
Mengapa dirinya dapat mencintai pemuda ini? Ada alasan tersendiri, semuanya dimulai 10 tahun lalu. Kala dirinya ada dalam fase terburuk, menatap ke arah panggung kecil menampakan sosok pemuda yang diajarinya bermain piano, kini mengisi acara ulang tahun anak-anak. Wajah cerah itu tersenyum dengan kemeja kotak-kotak dan celana panjang jeans. Pakaian seadanya.
Itulah pertama kalinya dirinya melihat Willam setelah 2 tahun tidak bertemu. Tidak mempedulikan apapun, hatinya merasa hangat, bagaikan mawar hijau segar terkena deru air hujan kala mendengar suara itu.
Walaupun dengan nada yang salah, namun melihatnya bernyanyi sepenuh hati membuat Giovani tertegun. Ingin sepertinya, ingin memiliki hati hangat itu. Apa Giovani serakah? Mungkin iya.
Banyak luka hati lagi yang terjadi setelahnya. Melihat Willam dari bawah panggung merupakan satu-satunya penghiburan baginya. Bagaimana pemuda desa dengan sandal jepit itu dapat begitu bersinar kini?
Mungkin tidak ada yang mengenal nama Willam sebelum benar-benar debut, kecuali dirinya. Diam-diam membantunya mendapatkan beberapa job sebagai brand ambassador.
Hingga pada akhirnya Giovani tetap harus kuliah di luar negeri melanjutkan pendidikannya. Terkekang rantai orang tuanya, mengatur kemana pun dirinya melangkah. Hingga hari itu tiba, kedua orang tuanya tiada, meninggalkan lebih banyak rasa sakit dan sesal.
Kali ini pemuda itu ada di hadapannya. Mengatakan dirinya adalah pasangan suami-istri.
"Sudah mau ke ranjang?" tanya Giovani tiba-tiba. Dengan cepat Willam membulatkan matanya. Mendorong dahi istrinya.
"Aku mau pergi ke kamar..." ucapnya melangkah pergi dengan cepat. Benar-benar malu rasanya. Ada apa dengan dirinya? Entahlah...
Corrie mengikuti langkah Willam, mengenyitkan keningnya."Katakan iya!"
"Ti... tidak!" William tergagap menarik kopernya. Bahkan lupa memberikan buket bunga mawarnya pada Giovani.
"Kamu kecewa? Jangan terlalu kecewa! Selebriti memang seperti itu. Tidak seperti tentara yang setia..." Kata-kata dari Sakha didengar oleh William. Segera menghentikan langkahnya.
Dengan cepat melempar buket bunga tepat mengenai wajah Sakha."Tidak semua selebriti itu tukang selingkuh!"
William kembali melangkah menuju kamarnya. Cukup kesal rasanya, memiliki istri bagaikan kaisar dengan ribuan selir, dan dirinya adalah permaisurinya. Membiarkan Corrie pergi entah kemana.
Hingga dirinya mulai mengaktifkan handphonenya yang satu bulan ini dipegang oleh Corrie dengan alasan agar lebih konsentrasi pada syuting.
Ratusan panggilan tidak terjawab terlihat disana dengan nama pemanggil Yesy. Menghela napas kasar, pada akhirnya dirinya menghubungi Yesy kembali. Bukan karena cinta kali ini, namun dalam darahnya tetap ada darah Yesy. Hutang budi yang tidak akan dilupakannya. Mungkin akan lebih baik memang menganggap Yesy sebagai adik.
"Halo Yesy," ucap Willam menggunakan mode loadspeaker, sembari menghapus riasan efek khusus pada wajahnya. Bahkan melepaskan softlens merah sebagai properti panggungnya ketika bernyanyi dengan tema vampire.
"Kak William!" teriak Yesy dari seberang sana sembari menangis terisak.
"Ada apa?" satu pertanyaan dari Willam. Apa mungkin ingin sesuatu lagi?
"Is... istrimu Giovani! Dia mempermalukan ku! Mengatakan aku sebagai pelakor! Padahal kakak tau kalau aku tidak ada niatan seperti itu. Aku hanya ingin mencarikan pekerjaan untuk anak temanku di Sandayu Group. Tapi---" kalimatnya terpotong.
"Jangan libatkan Giovani dalam hal ini, dia memiliki perusahaan sendiri. Lagipula kalian tidak begitu akrab jadi---" kali ini kalimat William yang disela.
"Aku sudah menganggapnya seperti kakak iparku sendiri! Kak William tidak mengerti dengan perasaanku! Aku bahkan menyelamatkan nyawamu! Tapi ini balasan kakak..." teriaknya dengan suara membentak, disertai dengan tangisan.
"Sudah! Lusa aku ke rumahmu. Sekalian memberikan uang bulanan. Jangan mengganggu Giovani dalam hal ini. Lagipula dia istriku..." Kalimat dari mulut Willam dengan senyuman tipis.
Giovani yang mendengar semuanya menghela napas kasar. Berjalan kembali menelusuri lorong. Awalnya dirinya bahagia dengan pengakuan Willam. Tapi tetap saja, jika kalimat itu dilanjutkan akan berakhir dengan pembatalan pernikahan yang akan terjadi 2 bulan lagi.
Dirinya akan tetap berakhir seorang diri sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
*
Malam menjelang, Giovani belum masuk juga ke dalam kamar. Pemuda yang mundar-mandir tiada henti. Pada akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tapi sialnya matanya belum juga bisa tertutup sempurna.
Hingga pada akhirnya suara pintu terbuka terdengar. Dengan cepat Willam berpura-pura tertidur, ingin tau apa yang dilakukan CEO mendominasi pada pria tidak berdaya sepertinya.
Namun, ada perasaan aneh kala tubuh itu berbaring. Keningnya dicium sang wanita, terjeda sejenak, kali ini bibirnya yang dikecup singkat.
Hatinya berdebar-debar menunggu apa yang akan dilakukan Giovani. Hingga sesuatu yang basah dirasakannya pada bibirnya. Apa ini? Lidah?
Matanya terbuka, meraih tengkuk Giovani. Dirinya benar-benar luruh saat ini, merasa takut kehilangannya. Dua orang yang memejamkan matanya, bertaut penuh h*srat.
Ini sulit dijelaskan olehnya. Kala ciuman itu terlepas, satu kata yang diucapkannya."Aku mencintaimu..."
Kalimat yang tidak dimengerti Giovani. Mengetahui Yesy masih ada dalam hati Willam. Tapi apa boleh dirinya membohongi diri sendiri?
"Mau bermain alat musik?" tanya Giovani bangkit penuh senyuman. Terlihat energik, begitulah dirinya. Ada fase terpuruk, tapi ada juga fase yang membuatnya lebih ceria dari orang pada umumnya. Bagaikan satu orang dengan dua topeng dalam dirinya.
William mengangguk, tersenyum. Duduk di atas tempat tidur kemudian mengecup bibir Giovani singkat. Kini dirinya benar-benar memiliki kekasih? Tidak percaya rasanya. Maaf, salah memiliki istri.
Berjalan menelusuri rumah, melewati taman anggur yang rindang. Hingga sampai di ruang musik, bergandengan tangan bersama. Seakan takut kehilangan. Perasaan yang tumbuh secara alami.
Hingga pada akhirnya, Giovani duduk di depan piano yang 10 tahun sudah tidak disentuhnya."Aku tidak pandai bermain piano. Jadi lagu yang gampang saja!"
"Bermain piano memang susah jadi---" kalimat Willam terhenti mendengar suara Giovani dengan permainan piano yang sempurna.
Yang, kemarin ku melihatmu
Ku rasa sekarang kau masih
Memikirkan tentang dia
Apa kurangnya aku didalam hidupmu
Hingga kau curangi aku
Katakanlah sekarang
Bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu
Tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong
Kau masih menginginkannya
Ku rela kau dengannya
Asalkan kau bahagia
__ADS_1
Yang ku rasa sekarang kau masih
Memikirkan tentang dia
Apa kurangnya aku didalam hidupmu
Hingga kau curangi aku
Katakanlah sekarang
Bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu
Tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong
Kau masih menginginkannya
Ku rela kau dengannya
Asalkan kau bahagia
Katakanlah sekarang
Bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu
Tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong
Kau masih menginginkannya
Ku rela kau dengannya
Asalkan kau bahagia
Asalkan kau bahagia
Asalkan kau bahagia
(Armada, asal kau bahagia)
Wanita itu menghentikan permainan pianonya."Aku tidak bisa memainkan terlalu banyak lagu, hanya tergantung mood dan kata hatiku." Ucapnya tersenyum hangat.
William membalas senyumannya."Kamu benar-benar melow. Kalau debut mungkin akan terkenal..." suara tawa dari mulutnya, mendengarkan Giovani bernyanyi lagu dari salah satu group band terkenal. Suara yang indah dan penampilan fisik yang mendukung.
Melupakan makna lagu itu, kala melihat wajah tersenyum wanita di hadapannya.
__ADS_1