When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Jaga Perasaannya


__ADS_3

Pagi menyapa, membuat sang pemuda membuka matanya perlahan. Merenggangkan otot-ototnya. Ingin rasanya kembali ke dalam selimut.


Hingga.


Brug!


Wanita itu melompat dengan jurusnya, mendaratkan diri di atas tubuh Willam.


Agh!


Gumam pemuda itu bukan karena tengah berkembang biak tapi dikejutkan dengan wanita yang tiba-tiba mendarat di tubuhnya. Lebih tempatnya pekikan karena beban tubuh Giovani.


"Bangun!" teriak Giovani duduk di atas tubuh pemuda, yang kalau sudah tidur seperti kebo itu. Wanita yang sudah lengkap menggunakan mini dress hitam hendak pergi bekerja.


"Iya..." William akhirnya bangkit dengan satu kata dari Giovani. Menguap beberapa kali.


"Dengar! Aku akan pergi bekerja sampai jam 5 sore! Ingat untuk pulang dan makan bersama!" tegas Giovani mencium setiap sudut wajah Willam.


Pemuda itu tersenyum, mungkin sedikit mulai merasa nyaman dengan tingkah aneh gadis yang ada di atas tubuhnya. Wanita itu segera bangkit, berjalan keluar setelah membangunkannya. Tapi hanya beberapa langkah, kembali menengok ke belakang.


"Setiap hari aku akan membangunkanmu dengan cara ini. Terbiasalah..." Kalimat yang diucapkan Giovani, seiiring dua orang pelayan yang menutup pintu.


Istrinya mengeluarkan aura mengerikan, bucin yang mendominasi, seperti CEO pria mendominasi dalam novel atau film. Membuatnya bagaikan akan takluk."Aku sudah gila!" teriaknya tertawa sendiri.


Bagaimana mungkin dirinya jatuh cinta dengan wanita yang diluar kriteria kedua orang tuanya. Dirinya selalu mengingat pesan dari almarhum sang ibu, cari istri harus yang pintar masak, merawat rumah dan menjaga anak. Sedangkan pesan almarhum ayahnya tidak muluk-muluk, mencari pasangan yang bersedia menemani kala susah maupun senang.


Pemuda itu menghela napas kasar, merasa menjadi anak nakal yang melanggar perintah almarhum orang tuanya. Wanita karier seperti Giovani tidak mungkin bisa memasak, mengurus anak atau bersedia hidup susah bersama suami. Tapi tetap saja, dirinya memeluk bantal guling kemudian menciumnya beberapa kali menganggap itu adalah Giovani.

__ADS_1


Berlari dengan cepat membersihkan dirinya, walaupun jadwal manggungnya nanti sore. Bertemu dengan CEO wanita mendominasi di meja makan adalah jalan ninja nya.


Ini adalah hari pertama pacaran, Willam harus memberi kesan yang baik. Melangkah cepat menuruni tangga, namun deru suara mobil terdengar pertanda Giovani sudah pergi.


Dengan langkah kecewa dan ornamen di gigi putihnya yang melekat akibat belum sikat gigi William kembali masuk ke dalam rumah. Duduk di kursi meja makan berhadapan langsung dengan Jimmy. Pemuda yang masih mengambil kuliah kedokteran, dari pakaiannya yang rapi menandakan sebentar lagi juga akan berangkat.


"Apa kamu sudah menyukai kakakku?" tanya Jimmy dengan mulut penuh.


William mengenyitkan keningnya, bertingkah bagaikan pemuda berhati dingin."Apa pedulimu?" Padahal dalam hatinya ingin lebih dekat dengan pemuda ini. Tapi akibat gengsi malah kalimat aneh yang terucap.


"Tentu saja aku peduli. Dulu kakakku begitu menyukai tunangannya. Mereka pasangan sempurna tidak terpisahkan. Tapi entah karena apa hubungan mereka retak 10 tahun lalu. Sejak itu bagaimana pun tunangan kakakku merebut perhatiannya, kak Giovani hanya akan acuh. Kamu tau apa saja usaha yang dilakukannya? Menyusul kakakku ke Jerman, mengirimkan 100 tangkai bunga mawar, berbagai perhiasan unik juga akan dihadiahkannya. Walaupun kak Giovani selalu acuh, mereka tetap pasangan yang sesungguhnya menurutku. Kadang aku berharap keadaan kembali seperti semula. Kakakku dapat tersenyum..." Jimmy menghela napas kasar, menghentikan aktivitas makannya sejenak.


"Jadi kamu menentang keputusan kakakmu?" tanya Jimmy.


Pemuda itu hanya menggeleng, kemudian tersenyum."Aku menghargainya, karena kakakku tersenyum. Aku tau dia begitu lelah, tiba-tiba pulang dari luar negeri mengurus pemakaman kedua orang tua kami. Tidak menangis sama sekali, memelukku dengan tenang. Hanya menangis diam-diam seorang diri di belakang."


Jimmy tertunduk dengan air mata mengalir, tangannya gemetar. Tiba-tiba saja bangkit dari kursi kemudian mendekati Willam dan berlutut."To... tolong cintai kakakku! Buat dia selalu tersenyum seperti pagi ini. Tidak peduli apapun. Jangan lukai dia, jika tidak mencintainya, pura-pura lah mencintainya. Aku akan membayarmu."


Pemuda itu menghela napas kasar."Aku akan mencoba membahagiakannya..." hanya itulah kata-kata yang terucap dari bibir William. Pemuda di hadapannya masih begitu muda, mungkin saja Jimmy hanya mencemaskan kakaknya. Tidak mungkin CEO wanita sombong yang setegar batu karang adalah kaca yang rapuh.


Jimmy menonggakkan kepalanya."Benar!? Kamu akan menyukai kakakku! Sebenarnya dia orangnya baik. Hanya saja sedikit tidak tau malu dan sok berkuasa. Makanan kesukaannya chicken teriaki, tapi tidak boleh terlalu sering memberinya chicken teriaki. Perbanyak salad, dia malas makan sayur. Satu lagi film yang disukainya Boboho. Setiap serinya dikoleksi olehnya. Ditonton ulang sampai aku bosan jika menonton dengannya. Bunga kesukaannya---"


"Cukup! Biar aku mengenalnya pelan-pelan ya..." Ucap William pada pemuda yang begitu cerewet jika sudah tentang sang kakak.


Jimmy menutup mulutnya kemudian mengangguk. Kembali duduk di kursinya, makan dengan tenang. Sedikit senyuman terukir di bibirnya tidak seperti sebelumnya lagi.


Namun senyuman yang sejatinya membuat Willam merinding."Apa dia penyuka sesama jenis?" pemikiran buruk yang segera ditepis olehnya.

__ADS_1


"Apa kamu mengenal seorang stylist?" tanya Willam sudah bertekad, ingin berpenampilan seperti Sakha.


"Kenal Siapa." Jawaban dari Jimmy.


"Stylist, siapa namanya?" William kembali bertanya.


"Memang Siapa namanya." Jimmy kembali memakan makanannya dengan tenang. Sedangkan Willam memijit pelipisnya sendiri.


"Stylist yang bisa dipanggil ke rumah. Aku terlalu malas keluar rumah. Jadi apa kamu kenal stylist panggilan?" Kali ini Willam bertanya pelan-pelan.


"Kenal, Siapa." jawaban Jimmy, masih makan dengan tenang.


Benar-benar mengajak gelud adik ipar satu ini. Namun, sang kakak ipar masih bersabar."Begini aku tidak dapat keluar rumah, terlalu malas. Jadi harus memanggil stylist ke rumah. Kamu kenal? Jika tidak aku akan bertanya pada Corrie." Tanya Willam pelan-pelan, dalam mode biksu yang menahan kesabarannya.


"Kenal Siapa." Jawaban dari Jimmy tanpa dosa. Mungkin dalam hatinya benar-benar geram.


"Aku akan meminta bantuan Corrie saja..." Kalimat Willam disela kepala pelayan yang tengah meraih tea pot, guna dituangkan dalam cangkir mereka.


"Namanya Siapani Muisi Alkari. Biasa dipanggil Siapa, dia sering dipanggil mengatur pakaian pelayan, tuan muda dan nona jika ada acara penting." Jelas kepala pelayan, mengenyitkan keningnya.


"Jadi namanya Siapa. Kenapa bisa Siapa?" pertanyaan aneh dari Willam.


"Dulu dia sakit-sakitan. Setelah bertanya pada orang pintar, namanya harus ada kata Siapani. Dia menurut, ajaibnya penyakitnya berangsur sembuh." Jelas kepala pelayan lagi, mengingat cerita dari stylist pria berumur 40 tahun tersebut.


Kenyataan yang benar-benar aneh, namun ada beberapa orang yang mengalaminya. Harus berganti nama dengan berbagai alasan.


*

__ADS_1


Sore menjelang, dengan alasan menumpang makan malam, anak angkat yang telah memiliki rumah sendiri itu mendatangi rumah adiknya tercintanya. Benar, Sakha kali ini melangkah masuk mendapatkan lirikan dari beberapa pelayan. Bahkan security pun terlihat masih membulatkan matanya tidak percaya, kala pemuda itu turun dari mobil.


__ADS_2