
Kesal? Tentu saja, kepalanya sampai saat ini masih ditodong dengan senjata api, entah itu asli atau tidak. Yang jelas dirinya belum ingin mati.
Giovani melempar buket bunga dengan wajah tersenyum. Terlihat beberapa wanita memperebutkannya.
Matanya kemudian sedikit melirik ke arah William."Kita pulang," ucapnya tersenyum, menggandeng tangan pria idamannya.
"Aku bertambah membencimu," tegas William.
"Tapi bagaimana ya? Aku tambah mencintaimu," Giovani tersenyum mencubit pipi pemuda di hadapannya.
Tubuh wanita itu berjalan dengan cepat diikuti William yang masih diancam oleh pengawal. Hanya dapat menghela napas kasar menatap pada pendeta yang juga terlihat ketakutan sekaligus iba padanya.
Seharusnya dirinya hari ini tidak perlu datang jika mengetahui pemilik Sandayu Group adalah Giovani. Apa sebenarnya maunya wanita ini? Entahlah...
Popularitas? Tapi wanita ini memiliki wajah rupawan, uang dan kekuasaan. Tentunya untuk menjadi sosialita ternama bukanlah hal yang sulit. Apa Giovani mengetahui sesuatu?
Hanya menurut, itulah yang akan dilakukannya untuk sementara waktu ini. Mencari kelemahan wanita ini. Benar-benar ingin mencekik rasanya, melihat senyuman memuakan dari wajahnya.
"Apa lihat-lihat!? Apa kamu sudah menyukaiku?" tanya Giovani dengan wajah yang benar-benar dekat dengan William, mungkin hanya berjarak sekitar 3 centimeter.
Sialnya ada yang aneh. Dirinya menyukai kala tubuh mereka berdekatan. Wajah itu semakin cantik saja dari dekat.
"Jangan dekat-dekat!" ucap William dengan telapak tangannya ada tepat di wajah Giovani, sedikit mendorongnya.
Giovani malah tersenyum."Pengantin priaku tersipu malu..." sindirnya berjalan memasuki mobil.
"Masuk!" perintah pengawal di belakangnya.
Hanya menjadi anak baik yang pasrah dan penurut. Dirinya pada akhirnya memasuki mobil. Menghela napas berkali-kali, menyesali kenapa ini dapat terjadi pada hidupnya. Dirinya hanya ingin menikah dengan Yesy, hidup tenang bersamanya dalam rumah kecil sederhana bersama anak-anak mereka nanti.
Dalam mobil yang melaju Giovani terlihat sibuk memakai earphonenya menghubungi seseorang menggunakan bahasa Prancis. Jemari tangannya memegang tab, membuka e-mail yang dikirimkan seseorang.
Hingga sekitar 15 menit wanita itu menghentikan kegiatannya.
"Nona, nanti malam ada rapat dengan---" Kata-kata Shine yang duduk di kursi penumpang samping pengemudi disela.
"Tunda sampai besok. Untuk besok buat jadwal padat dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Setelahnya aku tidak ingin diganggu." Perintahnya.
__ADS_1
Wajah dingin yang terlihat serius ketika membicarakan pekerjaan. Wanita yang keren, tapi William pada akhirnya hanya menatap ke arah jendela. Wanita karier tidak akan menjadi istri yang baik.
Dirinya dan Yesy lebih cocok. Yesy yang sudah pasti pintar memasak dan menjaga anak. Sedangkan wanita ini? Kerjaannya pasti clubbing, kemudian mencari pria penghibur, atau memiliki banyak kekasih pengusaha. Sudah pasti.
"Nanti malam kamu ingin makan apa?" tanya Giovani penuh senyuman.
"A...aku ingin melaporkan ini pada petugas kepolisian. Aku---" Kata-katanya terhenti tiba-tiba saja Giovani naik ke pangkuannya dengan posisi tubuh berhadapan dengan William.
"Konsentrasi pada jalan!" bentak Shine pada sang supir yang sedikit melirik ke belakang.
"Giovani hentikan ini! Jika tunanganmu pulang dia akan murka," batin Shine mengingat seorang CEO yang sama mengerikannya dengan Giovani.
William mencoba menyingkirkan Giovani dari atas pangkuannya. Tapi tanpa diduga, dagunya diraba, bibirnya dicium, hanya ciuman singkat, flash kiss.
Pemuda yang ingin bergerak, tapi entah kenapa tubuhnya terasa kaku. Apa sebenarnya yang terjadi? Entahlah, namun senyuman teduh wanita itu terlihat. Benar-benar cantik.
"Tidak! Dia tidak cantik! Dia sudah gila!" batinnya menelan ludah menatap wanita di hadapannya.
Giovani mendekati area lehernya kemudian berbisik."Selama ini ada banyak wanita yang menggodamu. Tapi kamu selalu terpaku pada Yesy. Apa kamu mencintainya? Apa kamu pernah tidak dapat mengendalikan tubuhmu saat bersamanya?"
William hanya terdiam, otaknya bagaikan beku dan mati. Tidak dapat memikirkan apapun selain makhluk yang ada di pangkuannya.
"Tidak!" tegas William dengan kesadaran yang kembali. Mendorong kepala Giovani dengan telapak tangannya. Pada akhirnya wanita itu turun juga dari pangkuannya.
Giovani menghela napas kasar. Kembali fokus pada pekerjaannya. Tidak menyadari apa yang terjadi pada William, pemuda menelan ludahnya.
"Sial! Sial! Sial! Terjadi lagi dalam 29 tahun hidupku, sudah dua kali terjadi termasuk kali ini. Aku memerlukan kamar mandi!" batinnya, menghela napas berkali-kali, tidak ingin terpengaruh bujuk rayu iblis untuk memakan wanita ini.
*
Tidak dapat berbuat apapun. Phonecellnya pun sampai saat ini masih dibawa Corrie yang menghilang entah kemana. Rumah besar dengan penjagaan ketat terlihat, tembok yang tinggi, CCTV dimana-mana, inilah penjara sesungguhnya.
"Giovani, kita tidak saling mengenal. Kamu memaksaku untuk menikah. Jadi kita berpisah baik-baik, aku---" Kata-kata William dipotong.
"Tinggal disini satu minggu, jangan meninggalkan rumah ini sedikitpun. Setelahnya kamu boleh beraktivitas seperti biasanya, aku akan mengatasi semua berita bohong tentangmu." Kini wajah Giovani terlihat serius dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Dengar! Aku tidak mencintaimu! Kamu juga tidak mencintaiku. Ini hanya obsesi saja, kamu harusnya tau! Fans dan artisnya!" tegas William dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Jangan meninggikan nada bicaramu!" bentak Shine dari kursi penumpang bagian depan.
Raut wajah Giovani yang sebelumnya tersenyum berubah. Secepat membalikkan kertas."Tiga bulan! Aku akan membuat pernikahan ini menjadi pernikahan berdasarkan cinta. Jika aku gagal, bukan perceraian, aku akan mengajukan pembatalan pernikahan, memberikan semua bukti jika aku yang memaksamu untuk menikah."
"Tapi kamu dapat dipermalukan di hadapan publik. Mana mungkin kamu---" kalimat pemuda itu kembali disela.
"Aku dapat terhindar dari jeratan hukum atau sangsi sosial dengan mudah. Tinggal stay di luar negeri selama sebulan atau dua bulan, maka mereka akan melupakanku. Lagipula aku bukan publik figure." Kali ini Giovani kembali tersenyum.
Sedangkan William mengenyitkan keningnya, masih ingin mengomel dan menatap curiga pada wanita di hadapannya. Tapi bagaimana pun juga dirinya dapat dibebaskan dalam tiga bulan. Selain itu dirinya ingin mengetahui lebih banyak tentang maksud dan tujuan wanita ini.
*
Malam semakin menjelang. Dirinya hanya sedikit melirik ke arah Giovani dan Jimmy yang tengah menikmati makan malamnya. Rumah ini hanya memiliki dua orang penghuni? Kemana orang tua mereka?
"Aku ingin segera berpisah! Kamu tahu sendiri aku menyukai Yesy." Ucap William memulai pembicaraan.
Brak!
Jimmy menggebrak meja tiba-tiba."Aku tidak pernah menyukaimu. Setiap sudut rumah dipenuhi dengan postermu! Apa bagusnya pria br*ngsek sepertimu! Kakakku saja yang masih terlalu polos!"
"Polos di bagian mananya!? Kakakmu benar-benar agresif..." batin William mengomel dalam hatinya.
"Jimmy hentikan! Makan dengan tenang!" perintah sang kakak yang langsung dituruti adiknya tanpa membantah sedikit pun.
"Kakak jangan lupa makan sayur! Kurangi daging!" tegas sang adik menyuapi kakaknya dengan sayur-sayuran.
William membulatkan matanya, menghela napas berkali-kali."Apa mereka memiliki hubungan khusus? Hingga aku dijadikan kambing hitam, agar hubungan kakak adik yang terlarang tidak diendus media?" fikirnya memincingkan matanya.
"Kalau makan jangan berantakan," Kali ini sang adik, mengelap ujung mulut kakaknya yang kotor akibat barbeque sauce.
Benar-benar mesra kakak adik kandung ini, sensasi aneh yang tidak pernah dirasakan William. Menghentakkan kakinya ke lantai tidak sabaran. Tangannya mengepal, ingin mengucapkan sumpah serapah dan kata-kata kotor rasanya.
"Kak, nanti datang ke kamarku ya untuk---" Kata-kata Jimmy yang kali ini disela.
"Untuk apa!? Ini malam pertama kami! Dan kalian ingin tidur bersama!? Aku sebagai suaminya. Aku---" Kalimat penuh emosi itu terhenti kala menatap senyuman tertahan di wajah Giovani.
"Jadi nanti malam kita akan benar-benar melakukannya? Katanya tidak cinta..." sindir Giovani, menipiskan bibir berusaha tidak tertawa.
__ADS_1
"Aku salah bicara! Mulut si*lan!" geram William mengumpat pada dirinya sendiri dalam hati.