
Tidak ada perasaan apapun kali ini. Wanita yang membawa putranya untuk tinggal di tempat lain, iklim baru, suasana baru, orang-orang baru, bahkan bahasa yang baru.
Kala itu masih musim semi, sinar matahari melintasi indahnya buah anggur yang terlihat dari berbagai varietas. Anak yang begitu bersemangat, untuk pertama kalinya sang anak kota akan tinggal di perkebunan.
Kacamata hitam dipakai keduanya. Menggunakan pakaian cople ibu dan anak. Ibu yang benar-benar rupawan dan putranya yang manis. Menarik koper, sudah siap-siap untuk bersenang-senang.
Villa yang tidak begitu besar, dengan aliran sungai indah di sampingnya. Terlihat begitu tenang, burung-burung beterbangan perlahan.
Namun hanya kedamaian sementara, kala ibu monster dan anak monster itu hadir. Suara biola yang membengkakkan telinga terdengar hampir setiap hari, kala Giovani melatih Eden. Bahkan keduanya kini lebih banyak menghabiskan aktivitas bersama layaknya ibu dan anak.
Berbagai hidangan, bahkan kini berada di atas meja. Giovani menatap putranya makan dengan lahap.
"Mau ikut petik anggur?" tanyanya, dengan cepat sang anak mengangguk, kemudian tersenyum.
*
Sebuah rahasia tidak dapat selamanya tersimpan. Itulah yang terjadi hari ini, kala Kenzie mencari keberadaan Giovani, setelah pergi ke kediaman Sandayu tanpa hasil sama sekali. Earphone masih terpasang di telinganya, terdengar menghubungi seseorang.
"Cari di kantor! Atau tempat lain, tidak mungkin bunga Peony itu menyembunyikan Giovani!" tegasnya mengira ini perbuatan William.
"Tuan, nona pergi ke France dua hari yang lalu. Tapi tidak bersama William." Informasi yang didapatkan Faro.
"Lalu?" Kenzie mengenyitkan keningnya, dengan tangan masih berada pada kemudi.
"Seorang anak bernama Eden, usianya 9 tahun. Ini---" Kalimat Faro terhenti bagaikan ragu untuk berucap.
Kriet!
Suara rem mobil terdengar, 9 tahun? Kenzie menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi. Tangannya gemetar saat ini bagaikan tidak mampu untuk kembali menyetir.
"9 tahun?" tanyanya dengan air mata yang tertahan.
__ADS_1
"Iya, 9 tahun. Bukan anak kandung tapi anak angkat." Jawaban dari Faro, yang kini tengah berada di panti asuhan tempat Giovani menitipkan Eden untuk sementara waktu. Tidak ingin orang lain mengetahui keberadaan putranya."Aku akan kirimkan fotonya," ucapnya meraih foto Eden, mengambil gambarnya menggunakan kamera phonecell, kemudian mengirimkan pada Kenzie.
Kenzie terdiam, benar-benar terdiam saat ini, menatap foto yang sama persis dengan masa kecilnya. Pemuda yang memukul-mukul dadanya terasa benar-benar sesak."Giovani merawatnya?" gumamnya tertunduk, wajahnya tersenyum, namun air matanya mengalir.
Anak yang sempat diselidikinya 10 tahun lalu. Setelah satu tahun Fifi menghilang entah kemana. Wanita itu terlihat, menggandeng pria kalangan atas, tanpa anak di sampingnya. Tidak ada anak sama sekali, bahkan Fifi terlihat memiliki kehidupan yang cukup mapan saat itu.
Sudah digugurkan, itulah yang ada dalam fikiran Kenzie. Tapi teka-teki bagaikan kepingan puzzle kini mulai terlihat. Mengapa Giovani menjual semua perhiasan miliknya, menarik seluruh tabungannya, bahkan tinggal di tempat sempit di Jerman selama beberapa bulan di masa kuliahnya.
"Sil*an!" ujarnya tidak dapat membendung air matanya. Tunangan kecilnya membeli putranya, membesarkan dengan tangannya sendiri.
"Bodoh!" umpatan yang keluar dari mulutnya, memukul setir berkali-kali. Benar-benar sulit untuk menenangkan dirinya.
"Aku mencintaimu..." hanya satu kalimat yang tertinggal di tengah derai hujan yang mulai turun, kala matahari masih menyinari bumi.
Kenzie hanya dapat terdiam, kaca jendela mobilnya yang basah dengan tetesan air hujan yang sedikit bersinar bagaikan berlian-berlian kecil yang jatuh ke atas bumi, perasaan yang semakin dalam melekat dalam hatinya. Ada kalanya dirinya berharap malam itu tidak terjadi sama sekali. Hanya sebuah mimpi buruk, tapi kini tidak. Pemuda yang mulai menerima kenyataan, semakin mencintai gadis yang selalu ada di hatinya, tidak menyesali keberadaan anak yang telah menemani Giovani.
Menghela napas berkali-kali berusaha menenangkan dirinya, kembali menghubungi Faro."Pesankan tiket pesawat tujuan France, urus visanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Aku tidak mau tau, kamu ingin menyogok petugas migrasi dengan uang atau tubuhmu!" Ucapnya segera setelah panggilan tersambung. Mematikan panggilan seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya guna mengemasi barang-barangnya.
Pemuda yang duduk dengan tenang, menatap anak-anak panti asuhan yang bermain. Sudah dapat ditebak olehnya Kenzie sudah memiliki anak, yang tidak diketahuinya siapa sebenarnya ibu dari anak tersebut. Apa Kenzie melakukannya dengan Giovani? Kemudian Giovani menyembunyikan kehamilannya? Tapi kenapa? Kalau hamil tinggal menikah saja kan? Lagipula mereka sudah bertunangan.
Lalu kenapa William dapat hadir diantara mereka? Apa karena Sanjaya mengirim putranya untuk menguasai Sandayu Group? Mengingat perangai jahat dari Sanjaya membuatnya menghela napas kasar. Mungkin dua tahun sebelum meninggal barulah sifat itu berubah.
*
Hari kini berganti, penerbangan yang benar-benar panjang, mengantarkan seekor monster untuk bertemu dengan dua orang yang ingin dimilikinya. Mobil miliknya melaju, mengetahui aset milik Giovani di negara ini. Sebuah villa kecil yang benar-benar indah, perlahan dirinya turun dari mobil setelah memarkirkan kendaraannya.
Hanya tertegun dalam diam kala melihat Giovani menggendong seorang anak di punggungnya. Anak yang terlihat tertawa, memegang keranjang kecil berisikan buah anggur.
"Aku seperti Spiderman..." ucap Eden tertawa.
"Kenapa Spiderman? Kenapa tidak Superman saja?" tanya Giovani.
__ADS_1
"Karena Spiderman lebih tampan." Jawaban darinya membuat Kenzie tertawa dalam tangisannya.
"Aku akan melindungi ibu, saat besar nanti aku akan seperti Shinichi Kudo. Kita tidak memerlukan ayah, karena semua pria itu jahat! Terutama ayah kandungku. Menurutku wajahnya pasti seperti kudanil, hidung dan telinganya seperti b*bi, bibirnya tebal dengan gigi seperti keledai..." Kata-kata penuh canda yang menusuk dari bibir Eden. Kalimat yang didengar oleh ayah kandungnya.
"Dasar anak kurang ajar! Sifat siapa yang ditirunya." Gumam Kenzie.
Namun anak itu tiba-tiba bersandar di punggung ibunya."Ibu tidak memerlukan seorang pria pun di hidup ibu. Kecuali aku, tidak perlu cemas aku tidak memerlukan sosok seorang ayah. Aku berjanji tidak akan merindukan ayah lagi atau merengek ingin bertemu dengan ayah." Wajah lelah Giovani terlihat tersenyum tipis.
Sedangkan Kenzie tertegun, perlahan senyuman juga mengembang di wajahnya. Membuka pintu mobil, kala itulah pasangan ibu dan anak itu menyadari keberadaan Kenzie.
Perlahan sang anak turun dari gendongan ibunya. Menatap wajah seorang pemuda yang mirip dengan wajahnya. Jemari tangannya mengepal. Apa ini ayahnya?
"Kenzie? Ke... kenapa datang kemari?" tanya Giovani gugup, menarik Eden guna menyembunyikan sang anak di belakang tubuhnya.
"Itu putraku kan? Eden... Eden kemari..." pinta Kenzie, matanya memerah menahan rasa sakit kala mengetahui anak yang disangkanya telah digugurkan masih hidup.
Giovani terdiam sesaat, tidak dapat lebih lama lagi menyembunyikan segalanya."Eden dia ayahmu..."
Anak yang bersembunyi di belakang Giovani segera mengintip berjalan mendekati ayahnya. Sedangkan Kenzie berlutut mensejajarkan tinggi dengan putranya.
Satu tangan Eden memegang bahu sang ayah."Ayah lihatlah ke tanah." pinta sang anak.
Kenzie yang tidak mengerti segera menunduk.
Brak!
Sang anak menendang dada Kenzie menggunakan lututnya.
Sedangkan Giovani mengenyitkan keningnya menatap adegan mengharukan menjadi adegan sadis.
Kenzie meringis mencoba bangkit."Ini baru anak ayah..." kalimat darinya.
__ADS_1