When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Back


__ADS_3

"Aaa...aaa!" suara teriakan Giovani terdengar dari bawah panggung. Sebulan ini dirinya melakukan hal yang dikatakan oleh dokter, menganggap kenangan yang biasa-biasa saja sebagai kenangan yang indah dan romantis.


Dirinya akan membuat anggapan yang sama dengan William. Selain itu menjadi fans lebih baik bukan? Melihatnya bersinar dari jauh. Kala itu William belum begitu terkenal, Giovani menghubungi beberapa kenalannya agar sang pemuda dijadikan brand ambassador. Walaupun tanpa sepengetahuan William.


Wajahnya dapat tersenyum, Simson berdiri di sampingnya ikut menonton pertunjukan panggung kampus. Setidaknya nonanya tidak terpuruk, entah ini benar-benar oase atau hanya fatamorgana. Tapi yang terpenting wajah itu kembali tersenyum.


"Kenapa tidak menemuinya?" tanya Simson.


"Mencintai dari jauh lebih menyenangkan. Karena jika dilukai tidak akan terlalu menyakitkan," kata-kata dari Giovani kembali berteriak mengangkat poster, memakai kaos dengan print wajah William.


Fans berat? Ini kesalahan sang psikiater, Simson hanya dapat memijit pelipisnya sendiri melihat perilaku nona mudanya kini. Berteriak bagaikan bocah alay.


Ada ratusan penonton, mungkin William tidak melihat Giovani sama sekali. Pemuda yang tersenyum ramah mulai memainkan gitar akustik, artis yang belum begitu terkenal. Walaupun memiliki wajah rupawan dan bakat luar biasa.


Pemuda yang tidak menyadari, karena seorang psikiater yang mencari jalan pintas kini cinta pertamanya menjadi fans beratnya yang berteriak dari bawah panggung. Bercampur dengan para remaja yang mengaguminya.


*


Pada awalnya segalanya baik-baik saja, hingga Fifi dengan sengaja menunggu Giovani di depan kampus, mengatakan ingin bicara dengannya. Simson yang selalu menemaninya karena masalah mental yang dideritanya diminta untuk menunggu di mobil. Sementara mereka bicara di kantin kampus yang cukup sepi.


"Ada apa?" Giovani mengenyitkan keningnya, meminum-minuman di hadapannya.


Mata Fifi menelisik menahan tawanya, menatap kaos dengan print wajah artis yang tidak begitu terkenal."Kamu menjadi alay? Ini bukan gayamu."


"Kali ini jangan menyentuh milikku. Jika menyentuhnya aku akan membunuhmu..." senyuman terlihat di wajah Giovani.


"Kamu menyukai selebriti? Setelah dengan Kenzie seleramu menurun." Fifi kembali tertawa. Apa kelebihan seorang selebriti. Tidak ada, itulah yang ada di otaknya. Wanita yang tidak mengetahui betapa kayanya pangeran berkedok artis pendatang baru.


"Jadi apa tujuanmu? Setelah ini aku lumayan sibuk." Tanya Giovani berusaha bersabar.


"Aku hamil, ini anak Kenzie. Dia tidak mau bertanggung jawab, bahkan mengusirku," ucapnya dalam isak tangis.


"Lalu?" Giovani mengenyitkan keningnya.


"Kamu tidak iba padaku?" tanya Fifi.


"Tidak," jawaban dari Giovani. Benar-benar singkat padat dan jelas mengekspresikan perasaannya yang biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Kalau begitu anak ini akan aku gugurkan!" bentaknya sambil menangis berusaha agar Giovani menghentikannya yang ingin beranjak. Tapi setelah tiga langkah Giovani belum juga memanggil namanya, bahkan masih minum dengan tenang.


Sedikit melirik."Aku akan membunuh bayi ini!" ucapnya kembali berjalan sekitar lima langkah tapi tidak juga ada reaksi dari Giovani.


Tidak bisa seperti ini, dengan cepat Fifi kembali duduk di kursi."Kamu tidak menghentikan ku?"


"Kamu ibunya," Hanya dua kata yang diucapkan Giovani. Tapi hanya sejenak, gadis itu memincingkan matanya, dirinya kesepian. Apa anak itu dapat menjadi pengganti Kenzie atau Fifi? Itulah yang ada dalam bayangannya. Cara berfikir yang aneh, sudut pandang yang aneh dan berbeda. Jika wanita pada umumnya akan mengutuk anak itu atau iba. Dirinya berbeda, apa anak itu dapat menggantikan sahabat dan tunangannya?


"Berapa harganya?" tanya Giovani tiba-tiba berubah antusias. Senyuman picik terlihat di wajahnya."Aku menginginkannya, aku ingin anak itu."


Gadis yang pada awalnya tidak mengerti betapa berharganya menjadi seorang ibu. Anak yang menghilangkan rasa kesepiannya itulah yang ada di fikirannya saat ini.


Fifi menelan ludahnya tidak mengerti."Aku ingin semua tabungan dan perhiasanmu. Ditambah 3 miliar setelah anak ini lahir." Kalimat iseng yang diucapkannya.


Mungkin Giovani akan marah dan menamparnya. Tapi tidak, wanita itu masih terlihat antusias."Aku akan meminta Simson mengurus pada notaris. Perjanjian hitam diatas putih. Ditambah juga dengan rekaman kata-katamu yang ingin menggugurkannya. Agar kamu tidak dapat menuntut anak itu kembali."


"Kamu setuju?" tanya Fifi tidak mengerti sama sekali.


Giovani tersenyum, mungkin karena anak itu kehidupannya akan kembali seperti dulu. Kala belum mengetahui perasaan Kenzie pada Fifi. Anak yang akan menggantikan kedua orang tuanya.


Nilai perhiasan dan tabungannya? Mungkin mencapai belasan miliar. Wanita aneh bukan? Lebih mementingkan perasaan dari pada uang yang harus dikeluarkannya.


*


Dirinya hanya ingin menyakinkan Giovani agar mendapatkan lebih banyak. Wajahnya tersenyum, setelah ini dirinya akan membuka usaha dan menyaingi keluarga Sandayu. Itulah tujuannya. Anak ini hanya beban, dari semenjak Kenzie tidak ingin menikahinya.


Sementara Giovani sendiri melanjutkan pendidikannya di Jerman. Kenzie yang berusaha menghentikannya di bandara hanya mendapatkan tepisan tangan. Gadis yang tersenyum mengatakan."Aku tidak mencintaimu lagi."


*


Terkadang musim demi musim berlalu. Kenzie harus kembali ke luar negeri, menyelidiki anak Fifi, tapi tidak menemukan hasil. Mungkin sudah digugurkan itulah yang ada di fikiran Kenzie mengingat sifat Fifi. Pada akhirnya pemuda itu menyibukkan diri mengurus perusahaan keluarganya. Menemui Giovani untuk minta maaf setiap ada kesempatan.


Musim gugur berlalu, gadis yang bekerja di kedai makanan cepat saji. Pada malam hari menjadi bartender, tidak begitu fokus pada kuliahnya, tapi juga harus mendapatkan beasiswa. Ada kalanya gadis itu mimisan kala cuaca dingin musim salju menerpa.


Namun kepalanya menonggak, membiarkan bulir salju jatuh ke tangannya. Gadis yang membayangkan anak seperti apa yang akan terlahir.


Hingga 7 bulan berlalu setelah kedatangannya ke Jerman. Tiga miliar di luar perhiasan dan tabungan yang sudah diberikannya pada Fifi. Anak itu sudah lahir dengan metode sesar. Sang ibu yang bahkan enggan menyusuinya. Mengingat anak itu akan menjadi milik orang lain. Tidak ada rasa sedih sama sekali, kala Giovani menggendongnya memberikan susu formula.

__ADS_1


Wajahnya hanya tersenyum, mendapatkan uang tiga miliar sebagai sisa pembayaran. Setelah perhiasan dan tabungan yang lebih dulu diperolehnya.


"Bodoh!" hanya itulah umpatan yang diucapkan Fifi pada Giovani. Tidak ada yang bersedia membesarkan anak hasil perselingkuhan pria yang dicintainya. Walau di bayar berapa pun, pasti masih ada dendam yang tersisa.


Cara berfikir yang berbeda. Giovani lebih picik dan memiliki obsesi tinggi."Namamu Eden, kamu akan menggantikan orang tuamu untuk menemaniku." bisiknya pada bayi mungil yang berkedip beberapa kali.


Tapi ada yang aneh, perasaan yang hangat. Tidak seperti berhadapan dengan Kenzie atau Fifi. Gadis yang tertegun diam kala jarinya digenggam erat bayi yang menguap. Bibirnya kelu sesaat untuk berucap, air matanya tiba-tiba mengalir merasa bersalah atas ucapan yang sebelumnya terlontar."Pu... putraku."


Satu kata yang diucapkannya, wajahnya tersenyum. Anak ini bukan pengganti Kenzie ataupun Fifi. Anak itu adalah putranya, mendekapnya hangat. Monster yang luluh, menunjukkan senyuman seorang ibu.


Isi surat yang ditandatangani Fifi, membuatnya tidak dapat menggugat hak asuh atau menemui Eden suatu hari nanti.


Eden, artinya kebahagiaan. Kebahagiaan aneh yang didapatkannya dari anak yang bahkan tidak dapat memberi hadiah atau mengucapkan kata-kata manis.


Anak yang pada akhirnya membuatnya bertahan hidup kala orang tuanya dan Simson meninggal dalam kecelakaan. Jika dirinya mati siapa yang akan mengasuh putranya? Karena itulah Giovani hanya tertunduk dan menangis dapat bangkit perlahan dengan jemari kecil yang menemaninya.


*


Saat ini...


Giovani memainkan pianonya dengan nada cepat, menghela napas kasar. Matanya menelisik mengingat suara biola seseorang yang berdiri di dekatnya belasan tahun lalu.


William yang mengintip dari pintu ruang musik, segera masuk. Pemuda yang mulai duduk memakan sandwich yang dibawanya, mengunyah dengan cepat hingga tandas. Foto-foto tunangan Giovani yang terdapat di ruang musik membuat hatinya tidak nyaman, hanya tidak nyaman. Bukan cemburu, karena cemburu adalah hal yang kekanak-kanakan. Dirinya hanya orang dewasa, pria tegas mendominasi.


"Kamu suka musik klasik? Aku lebih menyukai musik dengan ritme sedikit cepat," ucap William, mengambil gitar listrik yang tersimpan.


Menyanyikan lagu, terlihat benar-benar keren. Namun, Giovani hanya menipiskan bibir menahan tawanya. Wanita yang ikut memainkan piano classic berusaha mengimbangi, di sela-sela lagu. Lagu yang kini terdengar lebih unik.


"Pencemburu! Kekanak-kanakan..." cibir Corrie yang sejatinya datang bersamaan dengan William. Menyandar pada pintu menatap segalanya, memakan sandwich yang memang mereka beli diperjalanan.


"Aku tidak cemburu!" kalimat yang diucapkan William menghentikan permainan gitarnya. Entah kenapa pemuda itu dapat mendengar gumaman Corrie yang tidak keras.


Corrie hanya mengenyitkan keningnya. Menghela napas kasar, menatap e-mail terakhir yang dikirimkan Aksa.


'Kenzie kembali besok siang,' itulah pesan yang sempat dibaca William sebelumnya.


Pemuda yang menjadi sedikit sensitif hari ini. Lagipula bagaimana sebenarnya sosok Kenzie? Corrie tersenyum, benar-benar ingin mengetahuinya, memakan sandwich nya dengan kasar.

__ADS_1


Corrie dan Aksa dua orang yang dipilih secara hati-hati untuk melindungi William, oleh almarhum ayah pemuda itu. Untuk William sendiri, terkadang ada sesuatu di dalam hatinya yang tidak perlu ditunjukkan. Hanya tersenyum sebagai selebriti yang lugu, topeng yang benar-benar indah.


__ADS_2