When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Terima


__ADS_3

Sama seperti malam sebelumnya. Dua orang itu terlelap bersama. Namun, perlahan mata Giovani terbuka membelai pelan pipi William. Pemuda polos yang sering mengkonsumsi mie instan.


Wanita yang mulai bangkit kala jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi. Terkadang dirinya tidak dapat tidur, tapi juga terkadang dapat tertidur dengan mudah.


Jalan fikiran yang berbeda dari orang kebanyakan, kesulitan mengendalikan perasaannya. Itulah Giovani, wanita yang terlalu takut kesepian, dikekang oleh orang tuanya karena penyakit jantung yang diidapnya dulu.


Pernahkah kalian di rumah seharian selama bertahun-tahun hanya ditemani guru privat dan pelayan? Hanya Fifi yang menjadi sahabatnya dan hanya Kenzie yang menemaninya. Diluar Sakha dan Jimmy yang memang saudaranya. Karena itu seperti kata psikiater jangan takut kehilangan seseorang, mungkin itu akan membuka jalan bagi orang lain yang lebih menyayangimu untuk hadir.


Jalan pemikiran itulah yang membuatnya mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan Eden. Memiliki sosok pengganti Kenzie dan Fifi yang berusaha untuk dilupakannya. Namun, malah rasa bersalah yang timbul kala melihat makhluk kecil itu begitu memerlukannya. Obsesi gilanya berubah menjadi kasih seorang ibu.


Untuk William? Hanya dengan itu dirinya dapat bersembunyi, sekali lagi seperti kata psikiater. Melupakan Kenzie, tidak ingin lagi mempercayainya. Lalu bagaimana dengan Yesy? Apa tidak merasakan sakit kala William mengejarnya?


Pada awalnya tidak, dirinya terobsesi ingin memiliki William seperti seorang fans fanatik yang terobsesi dengan kenangan yang tiba-tiba dianggapnya indah. Namun semakin dekat melihat wajah pemalunya, tingkah yang kekanakan. Perlahan perasaan aneh dan cemburu muncul.


Apa itu cinta? Takut kehilangan? Karena itu, Yesy begitu menakutkan baginya. Mungkin hal yang terjadi dengan Kenzie akan terulang.


Apa William mencintainya? Atau hatinya masih pada Yesy. Entahlah, satu hal yang pasti, untuk tetap hidup dirinya harus dapat mengendalikan perasaannya sendiri. Jika William tidak mencintainya, dirinya akan menghindar agar tidak melihat hal yang lebih menyakitkan, seperti yang dilakukannya pada Kenzie.


Tidak ingin lepas kendali dan mencoba bunuh diri. Dirinya masih memiliki Eden, putranya tercinta. Membesarkan anak orang yang pernah dicintai dengan wanita lain, seharusnya itu hal yang menyakitkan bukan? Untuk Giovani hal yang berbeda, dirinya tidak kesepian, kala melihat wajah Kenzie dalam anak itu. Sama polos dan sombongnya dengan ayahnya ketika kecil. Untuk apa membenci anak yang menyayanginya?


Berjalan guna membersihkan dirinya. Seperti hari-hari sebelumnya wanita itu duduk seorang diri di balkon menikmati teh hangat. Tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, meminum obat jika perasaan tidak wajar timbul, banyak aturan yang harus dipatuhinya.


Hingga tiba-tiba suatu keajaiban terjadi kebo, maaf salah William, memeluknya dari belakang. Benar-benar keajaiban dunia pemuda yang tidurnya seperti orang mati itu terbangun jam 3 pagi.


Hawa dingin menusuk lapisan kulit, bagaikan jarum kecil yang tipis."Hangat..." William bermanja-manja pada wanita yang dipeluknya dari belakang. Menggosok-gosokan wajahnya pada pipi Giovani.


"Sudah! Duduk!" perintah mutlak dari Giovani membuat William duduk sambil memandangi wajahnya, tersenyum-senyum sendiri, menampakan deretan gigi putihnya yang lebih cemerlang dari iklan Pepsodent.


Wanita yang mulai merasa tidak nyaman. Ada apa dengan pemuda ini? Biasanya tidak seperti ini.


"Menurutmu siapa yang tertampan di dunia?" tanya William berharap Giovani kembali gombal menjawab dirinya. Agar setidaknya dirinya lega, mengetahui kedatangan Kenzie hari ini.


Tapi jawaban narsistik didengarnya."Aku... jika aku terlahir sebagai pria. Aku akan menjadi pria tertampan..." jawaban Giovani dengan tatapan dingin mematikan. Membuat William tidak dapat berkata-kata. Wajahnya berusaha tersenyum, melihat kenarsisan wanita s*alan ini.


"Asal nyonya senang..." batinnya, menatap istrinya menampakkan aura CEO sombong mendominasi, ala pria maskulin. Tapi ini yang mengeluarkan aura adalah wanita cantik dengan bentuk tubuh yang tidak perlu diragukan lagi.


"Seperti apa tunanganmu?" tanya William penasaran memasang wajah memelas ingin tahu.


Wanita itu tersenyum, menatap ke arahnya."Aku melupakannya, psikiater ingin aku melupakannya. Hanya kamu yang ada di ingatanku..."


Tidak melupakan, masih ingat, hanya membalikkan perasaan pada memory. Hari-hari yang dilaluinya dengan Kenzie tersugesti sebagai hari biasa, bagaikan bermain dengan kenalan. Keadaan berbalik, menganggap ingatan yang biasa-biasa saja dengan remaja desa (William) menjadi detik-detik paling romantis.


Apa dapat semudah itu? Tidak, butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun baginya. Tidak mudah sama sekali, bahkan ada kalanya dirinya berusaha menyakiti diri sendiri, jika mengingat malam kala Kenzie menyatakan perasaannya pada Fifi, berciuman bahkan memasuki ruangan yang sama malam itu.


"Aku?" William mengenyitkan keningnya. Tidak mengetahui pacar yang mencampakkannya adalah istrinya."Apa aku terlalu keren saat berada di atas panggung?"

__ADS_1


"Tidak terlalu..." wanita itu meminum teh dengan tenang, menahan senyumnya.


Dengan cepat William merebut cangkir teh, meminum sedikit. Kemudian menahan tengkuk Giovani meminumkan teh pada wanita itu lewat mulutnya.


Sensasi aneh yang baru pertama kali dirasakan sang pemuda. Memeluk erat tubuh istrinya, memainkan lidahnya dalam mulut Giovani. Apa ini rasanya mengkonsumsi narkotika? Dirinya bagaikan kecanduan.


Jantungnya berdegup cepat tidak teratur. Inilah wanita yang dicintainya. Itulah keyakinan dalam hatinya. Hingga sedikit teh bercampur ludah mereka tertelan dalam mulut masing-masing. Membelitkan lidahnya diluar area mulut.


Entah setan atau malaikat yang merasukinya. Yang jelas pemuda kembali memperdalam ciumannya. Tangannya bergerak tidak terarah, mencengkeram piyama yang dipakai sang wanita.


"Sial!" batinnya kala menyadari celananya terasa sesak.


Jembatan liur terlihat kala ciuman itu terlepas, napas tidak beraturan menerpa wajah mereka."Kamu adalah milikku..." Ucap William dengan sorot mata berbeda. Deru napas masih tidak teratur, jakunnya bergerak naik turun dengan keringat yang melintas.


Tapi hanya sejenak, pemuda itu berlaku aneh. Secepat kilat bangkit, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal."Maaf aku harus pipis!" teriaknya kabur.


Pemuda aneh yang tidak menggunakan toilet dalam kamar. Malah turun ke lantai satu, memasuki toilet yang berada dekat kolam renang.


Ada alasan tersendiri kenapa dirinya melakukannya.


*


Suara shower terdengar, setelah melepaskan seluruh pakaiannya. Membiarkan tubuhnya basah. Napasnya terengah-engah dalam kamar mandi.


"Giovani! Agh... agh," gumamnya, dirinya benar-benar s*al. Kenapa harus membayangkan tubuh wanita agresif itu ada dalam kekuasaannya. Tidak memilih toilet di kamar, terlalu gengsi jika ada suara yang terdengar.


Wanita yang benar-benar tidak peka, berjalan ke dalam kamar guna mengambil laptop dan earphone. Kembali bekerja walaupun matahari belum terbit. Tidak romantis sama sekali adalah sifatnya. Langsung terkam saja, itulah prinsip Giovani.


*


Tepat pukul sebelas siang pesawat telah mendarat. Suasana bandara yang benar-benar ramai. Faro berjalan cepat mengikuti langkah kaki Kenzie. Beberapa mata melirik ke arahnya, para wanita bahkan berbisik-bisik, mungkin ingin mendekati putra tunggal kalangan atas tersebut.


Wajah dingin yang tidak mengindahkan pandangan orang-orang. Seorang supir pribadi membukakan pintu untuknya dan Faro.


"Siapa William?" tanyanya dari kursi penumpang bagian belakang kala mobil mulai melaju.


Sang supir pribadi memberikan map yang dititipkan seseorang padanya. Mungkin orang sewaan Eveline. Satu persatu data yang ada pada map dibacanya. Menghela napas kasar tidak menemukan alasan Giovani menyukai pemuda ini.


9 tahun bukan waktu yang singkat untuk saling mengenal. Ditambah setelah 10 tahun, permintaan maafnya belum diterima. Pemuda yang terdiam sejenak mengenyitkan keningnya."Aku harus bertindak di luar nalar kali ini..." gumamnya tidak dapat diam saja, pemuda yang tersenyum menyeringai.


*


Segalanya telah dipersiapkan, dirinya tidak pernah bertindak romantis bahkan ketika hubungan mereka belum retak dahulu. Kali ini harus ada sesi romantis. Membayangkan pemuda lebay yang menikahi tunangannya. Siapa yang akan terima?


Karena itu dirinya harus lebih romantis lagi kali ini bahkan teks sudah dipersiapkannya. Berlatih di depan cermin mengucapkan kata-kata yang sejatinya membuatnya mual. Tipikal orang seperti Giovani, itulah Kenzie. Lebih menyukai langsung terkam saja. Mungkin karena pengaruh usia, dan pengawasan Eveline hubungan mereka dulu benar-benar sehat. Karena itu kala dua monster itu masih saling mencintai, keduanya hanya bersama saling memberikan perhatian. Cukup tau hati masing-masing.

__ADS_1


Tapi kini monster tercintanya direbut bunga Peony yang mendayu-dayu. Karena itu dirinya harus menggunakan cara lain, merendahkan harga dirinya.


Sudah pukul 7 malam menurut informasi dari sekretarisnya Giovani akan segera muncul di taman samping.


Alunan dari beberapa musisi terdengar, setelan tuxedo putih, makan malam romantis, 1000 tangkai mawar merah. Tidak ada wanita yang tidak akan luluh. Tapi apa tunangannya akan luluh?


Seperti yang dipesankannya pada kepala pelayan baru yang mungkin baru bekerja dua tahun ini. Tidak boleh ada yang masuk ke lorong taman samping kecuali Giovani.


"Benar-benar memalukan!" Kenzie mengacak-acak rambutnya frustasi. Tapi ini demi mengembalikan Giovani seperti sedia kala.


*


Sedangkan di tempat lain William baru saja menerima pesanan dari Giovani. Rapat dilanjutkan hingga larut, karena banyak kesalahan dalam proposal. Wanita yang tidak mengetahui sama sekali tentang kedatangan Kenzie.


Tapi sayangnya William tau. Berjalan cepat memasuki rumah menatap mobil yang terasa asing baginya. Diikuti Corrie yang tengah memakan kripik kentang yang bergelombang rasa barbeque.


Aneh, kali ini tatapan William tidak biasa. Ditambah dengan riasan panggungnya kali ini menambah kesan maskulin.


Matanya menelisik mengamati kepala pelayan yang berdiri di salah satu lorong."Tuan, mohon jangan lewat sini." Pintanya mengetahui status Kenzie yang memang dulu sering datang sebagai tunangan Giovani.


"Tidak boleh lewat sini? Istriku pemilik rumah ini, berarti aku adalah majikanmu. Tapi jika kamu tidak menuruti perintahku." William perlahan mendekatkan bibirnya pada sang kepala pelayan."Jangan salahkan aku jika ada yang menabrakmu hingga salah satu kakimu cacat. Jadi istriku akan mencari kepala pelayan baru..."


Kalimat ancaman yang terdengar sedikit ganjil dari mulut William. Apa benar ini William? Sedangkan Corrie hanya tersenyum, seperti sudah mengetahui segalanya dari dulu, berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Ingin mencari tempat yang cocok untuk menyaksikan apa yang terjadi. Apa akan terjadi baku hantam? Entahlah...yang penting seru.


*


Pada akhirnya kepala pelayan mengijinkan William memasuki lorong. Bayangan tubuh seseorang yang melewati lorong terlihat.


Kenzie menghela napas saking menahan malunya. Memberi kode untuk musisi memainkan instrumen mereka.


Pemuda yang memejamkan matanya, mulai berlutut kemudian tertunduk, masih dengan mata sedikit terpejam merapalkan kata-kata rayuan tingkat tinggi yang dituliskan Faro.


Masih berusaha agar musik tidak membuyarkan rayuan lebaynya. Tangannya terangkat menyodorkan buket mawar Juliette masih berlutut. Tidak melihat siapa yang ada dihadapannya. Saking nervous dengan kata-kata memalukan yang harus diucapkannya.


"Se... senyumanmu seperti mentari pagi, aromamu seperti nasi hangat yang selalu membuatku merindukan dan memerlukanmu. Wajahmu bagaikan oase di tengah panasnya gurun. Aku memang melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan. Namun, aku ingin kesempatan. Dia (William) ada diantara kita karena kesalahanku dulu. Aku memahami itu. Jika dapat mengulang waktu aku tidak ingin melakukan kesalahan sedikitpun."


"Karena itu, aku mohon akhiri ini. Kita kembali ke masa belasan tahun lalu, tinggalkan dia. Menikahlah denganku, aku mencintaimu... matahariku..."


Kalimat tanpa jeda yang diucapkan Kenzie sambil mengeluarkan cincin dari sakunya. Tapi kala dirinya membuka mata hendak merogoh saku bukan sepatu wanita yang terlihat tapi sepatu pria.


Wajah Kenzie mendadak pucat pasi, firasatnya tidak enak. menelan ludahnya, berharap pemilik sepasang sepatu ini adalah Giovani.


Kepalanya menonggak, saking terkejutnya pemuda itu sampai kehilangan keseimbangan dan duduk di rumput."Ka... kamu siapa?"


"William..." kesal William menahan malunya.

__ADS_1


Pelayan mulai kasak kusuk menahan tawa mereka. Bahkan para musisi yang disiapkan Kenzie juga.


Lebih parahnya Corrie yang ada di balkon lantai dua kamar tamu berteriak."William terima lamarannya!" disertai gelak tawa.


__ADS_2