
Yesy tersenyum pada Dominic yang ada di hadapannya. Tanpa menyadari keberadaan William disana.
"Jadi William tidak menyukai Giovani?" tanya Dominic, menyuapi kekasihnya.
Yesy mengangguk."Kak William sangat menyayangiku. Jadi jika kak William bersama dengan Giovani mungkin akan mempekerjakanku dengan jabatan tinggi di kantor pusat Sandayu Group. Aku juga akan meminta kak William untuk memperlancar kerjasama Sandayu Group dengan perusahaanmu. Mereka punya relasi dengan luar negeri, mungkin dapat menjadi suplayer perusahaan batu bara milikmu nanti."
"Terimakasih sayang. Tapi aku tidak perlu relasi untuk kerjasama dengan Sandayu Group. Aku hanya memerlukanmu ada di sisiku..." Ucap Dominic, mengecup kening Yesy.
Tentu saja tidak memerlukan relasi dengan Sandayu Group. Karena mungkin dari awal perusahaan batu bara yang entah berada di mana, atau mungkin berada dunia lain itu tidak memiliki tambang, tidak juga memiliki pekerja, maupun kantor, tidak memiliki batu bara. Lalu apa yang perlu dipasarkan?
*
"Aku pulang..." Ucap William pada Shine, antara rasa enek dan kesal bercampur menjadi satu.
"Tunggu dulu! Kita ikuti mereka lagi." Shine menghela napas, tersenyum pada William.
Pemuda itu menurut terlihat makan dengan tenang. Tidak berniat melabrak atau melakukan apapun. Pemuda yang mulai ragu dengan perasaannya sendiri pada Yesy.
Tidak ada perasaan cemburu, hampir setiap hari dirinya mengetahui kemesraan Dominic dan Yesy, jadi merupakan hal yang biasa untuknya.
Hingga bill dari pelayan datang, seperti biasanya juga Yesy yang membayar. Sementara William dan Shine yang melihat kepergian mereka mulai berjalan mengikuti dari belakang.
Mengapa harus mengikuti mereka? Itulah yang ada di fikiran William saat ini. Hingga mobil berhenti di sebuah kompleks apartemen. Dua orang yang saling merangkul sesekali mengecup mesra memasuki area apartemen.
Kompleks apartemen yang cukup mewah. Shine berjalan diikuti William yang baru turun dari mobil. Hingga dihentikan petugas keamanan.
"Maaf kalian siapa? Ada keperluan apa kemari?" tanya sang security.
Shine menunjukkan name tag nya."Saya dari Sandayu Group, perusahaan yang memiliki salah satu tower di apartemen ini. Bisa bertemu dengan atasanmu, atau kamu hubungi saja?"
Sang security membaca name tag yang ada di sana. Salah satu perusahaan pengelola dan bekerja sama dalam pembangunan tower apartemen. Perusahaan yang menggajinya.
Dengan cepat sang security menghubungi atasannya. Hal yang ditanyakan Shine hanya tentang unit apartemen yang dimiliki Dominic. Tapi tidak ada datanya disana. Hanya ada data penyewa apartemen dengan nama Dominic, bukan pemilik unit. Nomor unit bahkan termasuk kunci cadangannya didapatkan Shine dalam waktu 20 menit. Sungguh asisten profesional.
__ADS_1
"Kita mau apa?" tanya William sudah jenuh rasanya.
"Ikut saja!" Ucap Shine menarik tangannya, memasuki lift.
Lift bergerak naik menuju lantai 9. Mereka berjalan menuju unit yang dimaksud, kemudian memasukinya. Suara kencang dari dua insan terdengar dari dalam salah satu kamar dalam unit apartemen mewah. Apa yang mereka lakukan? Pastinya hanya dapat membuat dua perjaka itu menelan ludahnya.
"Kamu tidak masuk dan melabrak mereka?" tanya Shine pada William.
"Mereka pacaran. Kenapa harus dilabrak?" William bertanya balik.
"Begini, kamu pasti pernah memainkan peran sebagai pria yang melihat perselingkuhan kekasihnya kan? Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa dalam hatinya. Tapi kamu? Datar-datar saja, yakin kamu mencintainya? Maksudku mencintai dalam artian ingin memilikinya sebagai istri? Atau mungkin perasaanmu hanya berdasarkan rasa terimakasih atau rasa bersalah." Shine mengenyitkan keningnya, bagaikan dapat menebak segalanya.
William tertunduk sejenak menghela napas kasar. Suara teriakan Yesy yang memanggil nama Dominic, meracau keenakan masih terdengar hingga saat ini. Apa dirinya hanya terikat rasa terimakasih?
"Berterimakasih boleh, memiliki rasa bersalah juga boleh. Tapi Tetang hati itu hal yang berbeda. Kamu mau mengorbankan sisa hidupmu hanya untuk terimakasih?" Kata-kata dari Shine, sesuatu yang tidak pernah difikirkan William hingga saat ini.
Terpaku pada satu wanita selama bertahun-tahun. Mengira Yesy satu-satunya wanita yang ikhlas menemaninya dalam susah maupun senang. Tapi memang ini kenyataannya. Fikirannya mengelak segalanya, mengsugesti dirinya menjadikan Yesy pusat dari dunianya.
"Sebaiknya kita keluar sebelum dituntut memasuki properti orang tanpa ijin." Shine menghela napas kasar, berjalan keluar diikuti oleh William.
*
"Bayangkan jika aku yang meniduri Giovani, seperti adegan Dominic dan Yesy. Apa yang akan kamu lakukan?" Shine terkekeh sambil menyetir.
Plak!
"Dia itu majikanmu!" bentak William emosi, berimajinasi tentang apa yang dikatakan Shine.
"Sakit!" pekik Shine.
Pemuda itu menghela napas kasar."Apa kamu menyukai Giovani?"
"Tidak! Dia kasar! Agresif! Tidak ada lembut-lenbutnya sebagai wanita!" Masih juga pemuda itu mengelak. Padahal dalam hatinya...ya sudahlah... tidak dapat dijelaskan.
__ADS_1
"Terserah, jika kalian berpisah itu malah lebih baik untukku. Aku hanya ditugaskan untuk mengikutimu seharian ini oleh Giovani. Jadi sekarang kita kemana? Apa boleh aku pergi ke apartemenmu?" tanya Shine mengenyitkan keningnya.
William hanya mengangguk. Sejujurnya fikirannya saat ini sedang kacau.
*
Hari sudah mulai gelap pada akhirnya mereka sampai di tower tempat apartemen milik William. Melangkah hingga ke depan unit apartemen tersebut. Tapi hanya sejenak, William membulatkan matanya menyadari sesuatu.
"Tunggu disini! Jangan masuk! Kecuali aku keluar dan mengijinkanmu masuk!" perintah William. Menutup pintu secara kasar di depan Shine. Membuat Shine mengenyitkan keningnya, benar-benar pemuda aneh kekanak-kanakan. Apa yang disukai Giovani dari William? Itu masih menjadi misteri dalam hidup Shine hingga saat ini.
*
William menghela napas kasar menatap apartemennya yang bagaikan diterjang badai Katerina. Menelan ludahnya sendiri, piring kotor masih ada di meja makan, pakaian berceceran, debu ada dimana-mana. Dirinya lupa memesan jasa pembersih apartemen.
"Bagaimana ini!?" teriaknya panik, bagaikan seorang menantu yang kedatangan kunjungan ayah mertuanya.
Bergerak cepat mengambil piring yang menumpuk, meletakkannya di wastafel. Meja makan dibersihkanya. Robot pembersih dinyalakannya.
Seorang pemuda yang benar-benar panik saat ini. Bahkan celana panjang milik Corrie masih bertengger di sofa. Memiliki teman yang sama joroknya dengan dirinya.
Ini benar-benar gila, Tempat tidur dengan seperai yang acak-acakan dibenahi olehnya. Tidak ingin ketahuan tentang hidupnya yang berantakan. Bagaimana jika Shine mengadu pada Giovani? Benar-benar gerakan yang cepat dalam 22 menit, pengharum ruangan disemprotnya. Menghela napas kasar kala pakaian kotor sudah ada di tempatnya, piring kotor dengan sisa makanan yang membusuk juga sudah beres. Siap menyambut ayah mertua masuk, salah maksudnya Shine masuk.
Suara pintu terbuka terdengar Shine perlahan memasuki unit apartemen. Matanya menelisik mengamati ke segala arah. Sedangkan William tersenyum canggung, berharap tidak ada yang dilupakan olehnya. Hingga kala William berjalan dirinya menginjak sesuatu.
Boxer milik Corrie tergeletak disana.
"Mampus!" batinnya, dengan cepat menendang boxer sahabatnya hingga masuk ke kolong sofa.
Citra pria rapi? Itulah yang ingin ditampilkan olehnya di depan Shine. Namun pemuda itu terlihat memincingkan matanya, memeriksa lemari es, kamar, kamar mandi, juga balkon.
"Kamu menyembunyikannya dimana!?" Tanya Shine.
"Me... menyembunyikan apa?" William balik bertanya dengan keringat dingin menetes di pelipisnya. Mungkin dalam anggapan Willam yang ditanyakan Shine adalah boxer Corrie yang baru saja ditendangnya. Tidak masuk akal memang, tapi namanya juga orang panik.
__ADS_1
"Wanita lain. Kamu menyembunyikan wanita lain dalam apartemen ini kan? Karena itu tidak mengijinkan aku masuk? Jika sudah menemukan buktinya aku akan mengadukan ini pada Giovani!" tegas Shine.
"Hah?" William mengenyitkan keningnya tidak mengerti dengan pemuda di hadapannya. Selalu berfikiran buruk tentangnya.