When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Nekat


__ADS_3

Seperti sudah diduga, Yesy menghela napas kasar sejak semalam mencoba menghubungi William. Namun, pemuda itu tidak mengangkatnya. Bahkan mematikan panggilan darinya. Dimana sejatinya Willam? Kepergian Giovani besok membuatnya memadatkan jadwal untuk tour ke beberapa kota. Menyibukkan diri sendiri, entah apa tujuannya. Yang jelas tidak mungkin karena rindu. Ingat! William tidak sayang, tidak rindu, tidak cinta. Hanya dihantui oleh perasaan ingin selalu melihat wajah Giovani. Merasa nyaman di dekatnya, takut kehilangannya.


Langkah lebih ekstrim diambilnya agar dapat mengalihkan fikirannya dari rasa rindu, eh salah maksudnya perasaan aneh kala ingin selalu dekat dengannya. Bahkan mengambil project film tentang daerah pesisir yang mungkin menghabiskan waktu syuting setengah bulan. Benar, satu bulan ini pemuda itu menyibukkan diri dengan pekerjaannya, atau kita dapat menyebutnya sebagai hobi?


Sebenarnya apa yang terjadi padanya hingga dapat menjadi seperti saat ini?


*


Semuanya berawal dari 28 tahun yang lalu. Dimana seorang wanita diusir oleh suaminya dalam keadaan hamil besar, hanya karena memiliki selingkuhan lain yang tengah mengandung.


Benar, sang istri pertama diusir dalam keadaan hampir melahirkan. Tidak memiliki kesalahan apa-apa hanya karena dituduh ingin mencelakai istri kedua. Wanita yang berasal dari luar pulau. Berjalan tertatih dalam keadaan kaki terluka.


Ada kalanya gelap menyapa, rintikan hujan menerpa tubuhnya bagaikan jutaan jarum yang menusuk.


Matanya menatap ke arah langit, dengan air mata yang mengalir tiada henti. Wanita hamil yang menaiki sebuah angkot, menuju desa terdekat. Ingin menghemat biaya hidup mengingat statusnya sebagai istri terusir, janda bukan, tapi seorang istri yang dicintai juga bukan.


Pandangan matanya tidak henti-hentinya menatap ke arah jendela angkutan umum. Menikmati setiap tetesan hujan yang turun. Sejenak terfikir dalam benaknya, kala dirinya pertama kali menginjakkan kakinya dengan suaminya di kota ini.


Mulai dari mengontrak, hingga memiliki rumah kecil. Dan kini berbagai usaha telah mereka miliki, namun semakin tinggi sebuah pohon semakin kencang juga badai yang menerjangnya. Kala itulah orang ketiga memasuki pernikahan mereka, suaminya menikah lagi dengan alasan ingin memiliki anak. Tapi kala dirinya mengandung, malah diusir dengan tuduhan tidak berdasar.


Jika sudah bosan katakan saja. Wajahnya memang tidak secantik istri muda. Tapi dirinya juga berhak dilepaskan untuk bahagia. Suami yang tidak menceraikannya, namun mendorongnya keluar dari kehidupannya.


"Inilah hasilnya, seharusnya aku tinggal di desa dengan suamiku. Hidup sederhana, tidak perlu menjadi orang kaya. Jika hasilnya hanya dibuang..." jerit tangisnya terdengar. Wanita yang menganggap sebuah takdir hanyalah kesalahannya.


Namun setidaknya dirinya masih memiliki sang anak dalam kandungannya. Wanita itu terdiam melirik ke sebuah toko buku bekas dari dalam angkot yang tengah melaju. Tempatnya sempat bekerja dahulu, membantu perekonomian suaminya, kala mereka masih ada di bawah.


Wanita desa yang tersenyum."William, nama anak laki-lakiku adalah William. Dia tidak akan menjadi pengusaha seperti ayahnya..." pintanya pada janin dalam perutnya. Menginginkan putranya tumbuh menjadi pria yang setia pada pasangannya.


*


Tahun demi tahun berlalu, William tumbuh di lingkungan kelas menengah ke bawah. Sang ibu bekerja di ladang orang. Sementara anak itu sendiri lebih banyak belajar, bermain gitar akustik lusuh dan membuat keranjang anyaman.

__ADS_1


Ada kalanya anak tetangga mengajaknya untuk ikut bekerja di ladang memanen semangka."Will! Ayo ikut panen semangka! Uangnya lebih banyak! Dari pada menganyam!"


"Kalian saja! Aku tetap membuat keranjang! Kalau ikut panen nanti kulitku jadi hitam." Ucap anak laki-laki yang benar-benar menjaga penampilannya. Akan menjadi artis? Itulah cita-citanya.


Sampai-sampai ibunya yang baru istirahat makan siang dari ladang terbatuk-batuk menyemburkan air dari hidungnya."Wi... William anak laki-laki itu harus tangguh. Kamu lihat Subarjo dan Reihan, mereka---" kata-kata sang ibu disela.


"Mereka hitam," Kalimat dari William, membuat sang ibu tidak dapat berkata-kata.


"Anak si*lan! Entah darimana dia belajar mengumpat!" batin ibunya berusaha tersenyum menatap anaknya dengan tekun membuat keranjang anyaman. Setidaknya anaknya membantunya seperti anak-anak desa yang lainnya. Walaupun tidak banyak, tapi putra kecilnya yang masih berusia 10 tahun terlihat mandiri.


Wajah manis rupawan terawat, benar-benar seperti anak orang kaya. Walaupun pakaiannya hanya pakaian murah yang satu setnya seharga 25 ribu. Tapi putra kecilnya selalu menjadi trend fashion. Kesimpulannya semua ibu-ibu di desa ini selalu membelikan anak mereka pakaian yang sama dengan William. Agar dapat terlihat sama tampannya.


Bayangkan saja, saat Erin (ibu William) membelikan William set pakaian hitam. Maka ibu-ibu di desa itu yang memiliki anak sebaya, akan membelikan anaknya pakaian hitam serupa. Tidak peduli cocok atau tidak dengan warna kulit anaknya, mau kulitnya putih, hitam, atau sawo matang. Yang jelas harus setampan anak Bu Erin (ibu William).


*


Begitu juga ketika remaja. Putranya selalu menjadi incaran para wanita. Walaupun wajah dingin William tidak pernah menyapa mereka. Tetap mengerjakan dan menjual anyaman bambunya pada pengepul, sepulang sekolah. Sama seperti anak-anak desa lainnya mengerjakan pekerjaan sambilan hanya untuk uang jajan yang tidak seberapa.


"Aku adalah yang tertampan disini," gumamnya melirik ke arah cermin ketika tengah menganyam. Sedikit memperbaiki model rambutnya.


*


Namun ada kalanya saat hari hujan. Dirinya baru saja memperbaiki atap tetangga yang bocor. Saat itu usianya telah menginjak 16 tahun, mendapatkan upah 15 ribu rupiah.


Matanya menelisik mendengar suara piano dari rumah peristirahatan yang ada di desanya. Terlihat seperti rumah orang kaya. Remaja yang benar-benar penasaran.


Berusaha sekuat tenaga, melihat bentuk piano klasik yang hanya pernah di lihatnya di televisi. Tertarik ada alat musik dengan suara indah.


Seorang wanita memainkan piano klasik terlihat seusia dengannya. Jemari tangannya bergerak cepat, tidak seperti pianis di televisi. Menari dengan lincahnya di atas tuts-tuts. Cara bermain yang tidak dimengertinya. Punggung gadis itu terlihat tegak. Namun perlahan alunan melodi terhenti, suara batuk terdengar.


"Sudah menghubunginya?" tanyanya pada seorang pelayan.

__ADS_1


"Sudah nona. Tapi semua orang sedang sibuk saat ini. Orang tua nona membawa adik anda ikut serta. Sedangkan tuan muda---" Kata-kata pria berpakaian pelayan itu disela.


"Tidak apa-apa, lanjutkan pekerjaanmu. Ambilkan beberapa buku referensi dan catatan buku besarku." Kata-kata dari sang gadis yang memunggungi William.


Remaja yang mengintip dari tembok besar rumah peristirahatan.


Beberapa saat mengamati situasi, gadis itu masuk ke dalam villa pada akhirnya. Sedangkan William menelan ludahnya, benar-benar ingin memainkan piano classic walaupun hanya sekali saja.


Wajahnya tersenyum penuh rencana saat itu.


*


Malam menjelang, rencana sudah dibuatnya. Hasrat jiwa muda yang menggebu-gebu untuk menjamah pemilik piano, eh salah maksudnya menjamah piano classic dengan harga yang mungkin mencapai ratusan juta itu.


Berjalan kaki menggunakan sandal jepit. Dengan cepat mengamati situasi. Melompati tembok tinggi villa.


"Aku sudah gila! Bagaimana jika ketahuan?" batinnya bergerak ragu.


Hingga pada akhirnya memberanikan diri, berusaha menyentuh piano yang berada di gazebo. Ruangan terbuka di villa tersebut.


Senyuman mengembang di wajahnya. Satu persatu tuts coba untuk ditekannya. Mencari nada sambil melihat partitur. Cukup kesulitan memang, namun rasa ingin tahu yang tinggi membuat jemari tangannya tidak ingin berhenti.


Hingga seorang security yang datang hendak menegurnya.


"Ka---" kata-kata sang security terhenti. Tangan nona pemilik villa menariknya.


"Sttt... biarkan saja." Ucap sang gadis kesepian itu tersenyum, mengamati apa yang dilakukan sang pemuda.


Pada akhirnya sang security pergi, mengikuti perintah majikannya. Gadis yang terdiam mengamati sambil bersembunyi, menipiskan bibir menahan tawanya. Kelakuan remaja desa yang aneh.


Setidaknya ada orang yang mengunjunginya, kala dirinya terlupakan. Membiarkan pemuda itu, ingin melihatnya kembali di hari berikutnya. Apa akan datang lagi?

__ADS_1


__ADS_2