When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Karena Perselingkuhan


__ADS_3

...Apa arti sebuah kebahagiaan? Mungkin hanya senyuman saat ini....


...Apa arti sebuah kebahagian? Mungkin tawa yang menghangatkan hati....


...Apa arti sebuah kebahagiaan? Mimpi yang akan menghilang, lenyap seperti cahaya kunang-kunang kecil dalam kegelapan....


...Kala perpisahan menyapa, itulah akhir dari sebuah kebahagiaan. Sinar kecil yang tertelan kegelapan......


William...


Kala fajar menyingsing, saat itu juga mata sang remaja terbuka. Menatap sang ibu yang belum sadarkan diri pasca operasi. Menghela napas kasar, dirinya harus segera bertemu dengan ayah kandungnya. Setidaknya akan ada yang menjaga ibunya.


Status ibunya saat ini? Sejatinya bukanlah janda, sang ibu yang belum diceraikan ayah kandungnya. Atau memang surat resmi belum dikirim? Entahlah, namun setidaknya dirinya akan mencoba untuk menghubungi sang ayah, berbekal alamat yang diberikan ibunya.


Remaja itu mengecup pucuk kepala sang ibu yang masih dalam pengaruh obat bius. Meminta seorang perawat untuk menjaga ibunya. Tidak tahu berapa lama perjalanannya menuju kota nanti.


Beberapa helai pakaian dikemasnya dalam ransel sekolah. Membawa uang tabungannya yang hanya sekitar 900.000 ribu rupiah. Bermodal nekat, foto dan alamat.


Apa yang terjadi? Entahlah sang ibu tidak pernah menceritakan padanya mengapa dapat tinggal terpisah tanpa perceraian dengan ayahnya.


Berjalan perlahan, melewati area villa yang memang harus dilaluinya untuk pergi ke pasar tradisional. Menaiki angkot menuju terminal bus.


Menghela napas kasar, gadis pertama yang dekat dengannya. Itulah gadis yang tidak dikenal nama maupun wajahnya. Rasa penasaran menghinggapi dirinya. Jika dirinya kaya, dirinya akan menemui gadis ini. Itulah tekad cinta monyet anak berusia 16 tahun.


Berusaha mengintip melalui dinding. Namun hanya ada piano putih yang terlihat di dekat gazebo. Apa mungkin si cerewet belum bangun?


Hingga dirinya menghela napas kecewa, namun kala hendak turun, suara yang dikenalnya terdengar.


"Kenapa belum dibersihkan? Aku lelah baru pulang dari rumah sakit," gumam seorang pelayan pria.


Dengan cepat William kembali mengintip. Remaja yang terdiam tertegun di tempat. Pria yang memberinya uang untuk membayar pengobatan ibunya berada di sana. Terlihat dari pakaiannya seperti seorang pelayan.


"Ini kartu milik nona, tolong kembalikan." Kata-kata sang pelayan pada seorang pelayan lainnya.


Jadi benar-benar dia yang menolong ibunya. William menghela napas kasar, kemudian tersenyum, menemukan tempat tinggal malaikat penyelamat sang ibu. Apa yang harus dilakukannya untuk balas budi? Entahlah, sesuatu yang tidak pernah sempat difikirkannya. Hanya tersenyum dengan air mata yang mengalir penuh rasa syukur dan terimakasih mengingat ibunya yang masih hidup hingga saat ini.


*

__ADS_1


Segalanya yang ada di desa ditinggalkannya dalam bus yang melaju meninggalkan terminal. Hangat sebuah cinta pertama dari seorang pemuda yang hanya dapat menunduk sembari tersenyum. Tidak tahu harus bagaimana mengucapkan terimakasih nantinya.


Hingga sekitar 10 jam dilaluinya, sang remaja terbangun di stasiun yang ditujunya. Dengan semangat membawa ransel miliknya.


Benar-benar nekat, tapi cukup cerdas, memberikan alamat ayahnya pada tukang ojek pangkalan. Dadanya terasa sesak mencium aroma debu polusi di kota besar.


Disini kah tempat ayahnya tinggal? Bangunan-bangunan pencakar langit yang megah tapi tetap saja panas terasa menyengat kulit. Mungkin lebih menyenangkan tinggal di desa. Karena itu dirinya akan membawa ayahnya tinggal di desa itulah rencananya.


Hingga ojek dengan motor bebek berkecepatan tinggi dapat membuat post ronda terbang itu terhenti di depan gerbang rumah besar. Pemuda yang tersenyum menyeringai.


"Ayahku orang kaya!" teriaknya kegirangan. Selama ini mengira sang ayah merantau di kota, tinggal di sebuah kontrakan atau mes tapi siapa yang tahu ternyata ayahnya adalah pemilik perusahaan terkemuka.


Sang anak yang begitu gembira. Tapi kenapa ayahnya tidak pernah mengunjungi ibunya?


Bel rumah ditekannya."Spada!" teriaknya, tidak tahu sopan santun.


"Spada!" teriaknya lagi.


William mulai gelisah. Apa mungkin tidak ada orang di rumah? Atau ayahnya hanya pesuruh? Pembantu? Kacung? Tukang kebun? Supir? Tapi masa bodoh, yang penting ayahnya harus segera pulang. Agar ada yang membantunya menjaga ibunya. Enak saja, sudah menghamili ibunya, ketika sakit malah ditinggal kerja di kota.


Bang Toyib hanya meninggalkan istri selama 3 tahun. Tapi ayahnya meninggalkan ibunya selama 16 tahun. Hatinya berdebar ingin bertemu dengan ayahnya.


"Ayah saya, namanya Sanjaya Dinata." Ucap William menunjukkan foto ayahnya ketika muda.


Sang security membulatkan matanya. Segera mempersilahkan masuk, bahkan ikut mengantarkannya. Semua orang terlihat sibuk begitu mendengar kedatangannya. Para koki bahkan pelayan.


Dalam hitungan menit berbagai hidangan manis memenuhi meja. Lengkap dengan hampir sepuluh gelas minuman berbagai rasa.


"Apa-apaan ini?" batinnya mengenyitkan keningnya. Membayangkan berapa banyak kalori pada makanan dan minuman. Mungkin jika terlalu lama tinggal di sini dirinya akan menjadi gemuk.


Security yang mengantarnya kembali ke gerbang, bahkan mengunci gerbang. Sedangkan dua orang pengawal menjaga pintu depan rumah. Ada apa ini? Dirinya seperti akan disekap.


Hingga seorang pria berjalan cepat menuruni anak tangga. Pria yang menghela napas kasar tersenyum padanya. Mirip dengan seseorang yang ada di foto.


"Namamu siapa?" tanyanya memeluk tubuh William."Maafkan ayah..." kalimat dipenuhi dengan air mata, bahkan nama putranya sendiri tidak diketahui olehnya.


"William..." Ucap sang remaja, terdiam tidak bergerak sama sekali. Belum dapat menerka-nerka sepenuhnya situasi saat ini.

__ADS_1


"William? Nama yang bagus, dimana ibumu? Apa dia ikut mengantarmu kemari?" tanyanya, melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah putra yang bahkan tidak sempat dilihat kelahirannya.


Hanya demi istri keduanya. Istri kedua yang pada akhirnya keguguran akibat kecelakaan lalu lintas dengan rahim diangkat. Mungkin ini suatu pelajaran untuknya, agar lebih menghargai wanita yang menemaninya dari nol.


Istri kedua yang taunya hanya bersenang-senang, mengangkat seorang anak laki-laki dari panti asuhan. Anak laki-laki yang tidak memiliki sopan santun, taunya hanya mabuk-mabukan dan membuat masalah. Kini mendekam di penjara akibat kasus narkotika.


Sedangkan putra kandungnya entah dimana. Mencari di kampung halaman istri pertamanya pun, keberadaannya tidak ditemukan. Hanya gubuk tua yang sempat dirinya dan Erin tinggali dulu, dipenuhi dengan tanaman rambat. Pria yang membayangkan masa-masa kala masih tinggal di pulau lain dengan istrinya. Hanya sebuah penyesalan yang tertinggal. Namun, kini setelah 16 tahun berlalu putranya datang menemuinya.


Menggenggam erat tangan itu, tidak akan melepaskan darah dagingnya lagi.


"Ibu sedang sakit, terkena usus buntu. Ada orang dermawan yang menolong ibu untuk operasi. Ayah kenapa tidak pulang?" tanya William, masih belum mengerti situasi yang terjadi. Mengira sang ayah merantau ke kota meninggalkan ibunya di desa.


Sanjaya terdiam sejenak, menatap betapa jernihnya raut wajah putranya. Apa Erin belum menceritakan semuanya? Bagaimana dirinya mengusir Erin dalam keadaan hamil besar, hanya karena napsu dan tuduhan tidak berdasar sang istri kedua yang saat itu tengah hamil muda?


"Ayah sedang sibuk bekerja. Setelah ini kita akan tinggal bersama-sama ya?" Ucap Sanjaya, memegang erat jemari tangan putranya. Takut jika William mengetahui segalanya, sang anak akan meninggalkannya.


Hingga suara mesin mobil terdengar. Seorang wanita dengan pakaian ala sosialita keluar dari mobil. Tidak pulang semalaman, itulah yang dilakukan Prita sang istri kedua. Ini sudah biasa terjadi.


Wanita paruh baya dengan pakaian minim. Melenggak-lenggok masuk ke dalam rumah. Matanya mendelik menatap seorang anak berwajah sedikit mirip dengan suaminya duduk di sofa.


"Sayang dia siapa?" tanya Prita pada Sanjaya.


"Sa...sayang!?" William mengenyitkan keningnya. Apa ini alasan ibunya pergi? Perselingkuhan?


"Dia cuma pelayan! Jangan fikirkan!" Geram Sanjaya, menyesali dirinya yang tidak menceraikan Prita saja. Mungkin karena tidak ingin hidup seorang diri mengingat dirinya yang belum menemukan Erin.


"Aku pulang!" Kalimat mematikan dari putranya, dengan raut wajah datar membuat Sanjaya membulatkan matanya.


Dengan cepat Willam berjalan hendak pergi, setelah kembali menggendong ransel lusuhnya. Benar-benar menyesal rasanya pergi ke kota. Seharusnya dirinya hidup tenang menjaga ibunya di rumah sakit, kemudian kembali belajar piano dari seorang nona muda yang tidak dikenalnya.


Tapi dengan cepat juga Sanjaya menghalangi langkah putranya."Ayah akan menceraikannya!" ucapnya dengan intonasi tinggi.


"Tidak peduli!" jawaban dari sang anak acuh. Malah berbelok, mengindari sang ayah yang menghalangi jalannya, kembali berjalan menuju pintu keluar.


"Hidup dalam bayanganku kini lebih sederhana. Tinggal di desa dengan ibu dan dia... Membuat keranjang bambu yang banyak, setelah kaya menikah dengan dia, hidup bersama di desa sampai aku mati." Batin remaja berumur 16 tahun, membayangkan masa depannya tanpa masalah rumit di kota.


"Dia tuan muda kalian! Jangan biarkan dia melarikan diri!" perintah Sanjaya.

__ADS_1


"Mampus!" batin William mulai berlari, mencari celah untuk kabur, dari para pelayan dan pengawal yang ingin menangkapnya.


__ADS_2