
Ada alasan tersendiri mengapa William begitu mengukuhkan perasaannya pada Yesy. Terkadang satu perbuatan baik kecil dapat memberikan pengaruh yang besar.
Tepatnya tiga tahun yang lalu. Kala pemuda itu masih mengejar impiannya menjadi penyanyi. Mengisi acara dengan bayaran nasi kotak dan uang ratusan ribu rupiah.
Beberapa orang beruntung mungkin mendapatkan kesempatan sekali tampil langsung viral. Tapi tidak dengan William, pemuda itu memulai segalanya dari nol.
Menatap ke arah panggung dengan grup band terkenal yang tampil. Tibalah gilirannya yang dulu tidak terkenal. Mendapatkan bayaran yang kecil, menjelajahi kota demi kota bersama Corrie.
Namun ada kalanya satu insiden tidak terduga terjadi. Kala mengisi acara di salah satu kampus, lampu terjatuh menimpa tubuhnya.
Semua orang khawatir membawanya ke rumah sakit. Darah tidak henti-hentinya mengalir dari tubuhnya. Saat itu Yesy merupakan mahasiswi semester akhir, dirinya yang bertanggung jawab mengatur pencahayaan.
Lupa, benar-benar lupa untuk memanggil reparasi, mengingat salah satu baut terlepas lima jam sebelum pertunjukan dimulai. Semua orang menyalahkannya saat itu, karena itu ketika William membutuhkan donor darah, dirinya yang memiliki golongan darah sama mendonorkan darahnya. Tidak ingin menjadi gunjingan di kampus lagi.
Bahkan dirinya yang merawat William di rumah sakit, dengan tujuan agar dirinya tidak dituntut untuk kecerobohannya. Cinta? Hanya rasa terimakasih sejatinya.
Seorang pemuda yang salah mengartikan perasaannya. Selama tiga tahun mengejar Yesy tidak kenal lelah. Mungkin karena dirinya memang tidak pernah dekat dengan wanita, selalu berfokus mengejar cita-citanya.
Salah tanggap dengan perasaan pria pada wanita. Pemuda baik hati yang benar-benar aneh bukan? Tapi pemuda itulah yang kini dibuang oleh Yesy.
Wanita yang menganggap setelah karier William tamat. Transfer bulanannya juga akan terhenti. Selama tiga tahun ini William selalu menjamin hidupnya, entah dengan uang yang berasal dari mana.
Membelikan rumah mewah, sebuah minimarket yang sejatinya memiliki dua cabang, ditambah dengan dua mobil, supir dan pembantu yang William gaji setiap bulan.
Kini kala pemuda itu tersandung kasus, dirinya harus memutuskan hubungan secara total. Tidak ingin minimarket, rumah dan mobil miliknya diambil kembali oleh William. Lagipula dirinya telah bertemu pria yang lebih mapan dari seorang selebriti.
Dominic, seorang pemuda yang katanya memiliki perusahaan batu bara. Katanya juga ibunya memiliki beberapa butik yang memperjualbelikan tas branded. Ayahnya sendiri memimpin perusahaan keluarga.
Katanya juga Dominic adalah anak tunggal. Harus digarisbawahi ini baru katanya, karena penulis belum sempat pergi ke rumah Dominic untuk mencari informasi sesungguhnya. Jadi kita pakai 'katanya' dulu.
"Kenapa kamu blokir nomornya?" tanya Dominic berusaha keras untuk tersenyum.
__ADS_1
"Itu demi kamu dan kita. Kak William sudah terpuruk, walaupun rumah dan minimarket atas namaku, tapi tetap saja mungkin Kak William setelah ini akan menumpang hidup. Lebih baik putuskan hubungan sekarang..." Gumamnya mengecup bibir kekasihnya.
"Aku berjanji setelah menikah nanti aku akan membahagiakanmu. Omong-ngomong kamu ingin tinggal dimana nanti setelah kita menikah? California? Inggris?" pertanyaan tidak masuk akal darinya. Bagaimana mungkin seorang pria yang katanya pemilik perusahaan tidak mempertimbangkan letak rumah untuk kedepannya setelah menikah.
"Aku ingin tinggal di Singapura. Katanya di sana ada banyak barang branded dengan harga murah." Ucap Yesy tersenyum.
Dan seperti biasa jika sang pelayan datang membawa bill maka Yesy yang harus membayar. Dirinya ingin membuat citra baik di hadapan Dominic yang selalu memakai setelan jas setiap bertemu.
Wajah pemuda itu tersenyum pada kekasihnya. Minimarket dan rumah mewah dengan harga yang mungkin dapat mencapai jutaan dollar. Dirinya tidak perlu mencemaskan apapun hanya perlu hidup dengan tenang, maka uang akan mengalir.
"Iya, aku akan membelikan mu kediaman besar disana. Lengkap dengan supir, bodyguard pribadi dan supir. Aku mencintaimu, satu-satunya wanita yang dapat membuatku takluk seperti ini," ucapnya mencium jemari tangan Yesy.
"Sebenarnya aku terlambat datang bulan. A...apa kita akan menikah? Kapan kamu memperkenalkan ku pada orang tuamu?" tanya Yesy manja.
"Iya, tapi masalahnya tidak semua anggota keluargaku ada di negara ini. Jadi harus ditunda dulu, kamu tidak apa-apa kan sayang?" ucapnya mengelus pucuk kepala Yesy.
Wanita itu mengangguk, membayangkan kehidupan bak Cinderella, atau tokoh utama wanita dalam novel. Dimana menemukan cinta sejatinya yang ternyata seorang CEO perusahaan besar, sedangkan William hanya figuran dalam hidupnya.
Tapi sejatinya ada yang aneh. William yang hidup sederhana di apartemen bersama Corrie dapat membeli rumah dan minimarket untuk Yesy? Uang darimana? Mungkinkah dari honornya sebagai selebriti yang bekerja siang dan malam?
*
Malam semakin larut di tempat yang berbeda. Pemuda itu diseret kemudian dikunci dalam kamar Giovani. Takut? Tentu saja, apa dirinya akan menjadi budak napsu sang CEO wanita?
Menelan ludahnya sendiri mendengar suara nyanyian dari dalam kamar mandi. Suara seorang wanita yang menyanyikan lagu ciptaanya. Wanita yang tidak buta nada, memiliki suara yang benar-benar indah.
Sudah pasti itu adalah sang harimau putih yang ingin menerkam dirinya. Mata William menelisik, disana sudah terlipat rapi piyama bermotif Doraemon kesayangannya. Ulah siapa? Tentu saja Corrie.
Tidak lupa sebuah notes tempel ada di sana.'Selamat berbulan madu. Jangan lupa caranya, buka baju, cium lalu masuk dan keluarkan, hingga akhirnya lega dan lelah,' itulah kalimat yang tertera di sana, membuat William benar-benar murka.
Bug!
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, menampakan keindahan ciptaan Tuhan yang harus dirinya dustai. Wanita yang hanya mengenakan handuk, tidak mengenakan jubah mandi, entah apa tujuannya.
Hal yang dilakukannya berikutnya? Tentu saja memakai piyama berbentuk kimono selutut tanpa menggunakan dalaman sama sekali.
William menelan ludahnya, segera menatap ke arah lain. Wanita itu bergerak di atas tempat tidur sebelah kanan sedangkan dirinya berada di tempat tidur sisi sebelah kiri.
"Berbaringlah! Atau aku akan membunuhmu!" ancaman dari Giovani. Pemuda itu menurut kemudian berbaring di sampingnya. Dua orang yang hanya mengamati langit-langit ruangan.
Rasa takut menerpa William. Dalam imajinasinya Giovani akan merayap di atas tubuhnya, mencium bibirnya. Kemudian, melakukan itu...itu...itu...
Entah apa makna kata itu, tapi tubuhnya semakin menegang. Perlu pergi ke kamar mandi. Tapi tidak, Giovani memeluknya."Biarkan seperti ini sebentar," ucap wanita itu dengan air mata yang menetes di sudut pelupuk matanya yang terpejam.
Apa yang terjadi? William tidak mengetahuinya sama sekali. Namun dirinya menatap setetes air mata yang mengalir tidak mengerti. Perlahan membalas pelukan Giovani, tidak ada reaksi aneh lagi dalam tubuhnya. Semua terasa tenang dan hening.
"Terimakasih..." ucap Giovani mengeratkan pelukannya. Sedangkan William hanya terdiam sesaat. Sebelum pada akhirnya bernyanyi dalam tempo lambat. Ingin menghibur makhluk yang terlihat begitu rapuh ini? Mengapa?
Tidak ada jawaban di otaknya. Hanya saja setiap detik yang terasa nyaman hingga dirinya terlelap bersamaan tanpa dendam atau pertengkaran sama sekali.
*
"Sayang! Ayo bangun! Bangun!" teriak seorang wanita sudah membawa sarapan.
"Corrie 15 menit lagi!" Ucap William belum sepenuhnya sadar dari mimpinya.
Wanita itu mengenyitkan keningnya kesal. Namun wajahnya tersenyum, menaiki tubuh William. Duduk tepat di aset untuknya memperbanyak populasi manusia.
Sontak pemuda itu segera terbangun."Kamu mau melecehkan ku!?" bentaknya pada wanita yang telah lengkap mengenakan mini dress hitam.
"Tidak," Giovani enggan beranjak, mengecup singkat bibir William."Morning kiss..."
Pemuda itu membulatkan matanya, otaknya masih di start untuk menerima segalanya. Wanita yang tersenyum bagaikan malaikat, tapi kelakuannya seperti iblis, membuat William terdiam tanpa berkedip.
__ADS_1
"Aku akan menyelamatkan kariermu hari ini, mau melayaniku di ranjang sebagai imbalannya?" tanya sang rubah betina, berbisik di telinganya.