When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Kepingan Guci


__ADS_3

Kenzie terdiam menatap ke arah jendela pesawat. Awan-awan bergerak beriringan mungkin sama dengan hatinya yang menerawang entah kemana.


"Tuan..."Faro menyodorkan tab, berisikan hasil kerjasama yang kini diambil alih Eveline, ibu Kenzie.


"Em..." Hanya itulah jawabannya, mengembalikan tab pada Faro setelah membacanya sesaat.


"Apa begini kalau monster sedang patah hati? Persis seperti orang biasa. Ternyata monster juga manusia, punya rasa punya hati. Tidak dapat disamakan dengan pisau belati..." batin Faro mengenyitkan keningnya. Pemuda yang terdiam sejenak, kemudian menghela napasnya.


"Seharusnya nona Giovani memaafkan---" Kalimat Faro disela.


"Kamu tidak tau apa kesalahanku..." Kenzie menghela napas kasar. Mengingat bagaimana ini semua bermula.


*


19 tahun lalu...


Satu persatu peserta menaiki panggung kala itu. Suara tuts-tuts piano terdengar, benar-benar melodi yang indah. Sedangkan seorang anak memakai setelan tuksedo, usianya saat itu menginjak 11 tahun.


Satu persatu peserta di tatapnya, tidak ada yang dapat menyainginya. Anak angkuh yang selalu serba sempurna, berjalan menuju tangga darurat. Memilih mendengarkan rekaman permainannya sendiri menggunakan earphone. Sambil menunggu gilirannya.


Tuk!


Tuk!


Tuk!


Kulit kacang terjatuh dari atas tangga. Kenzie menonggakkan kepalanya kesal. Segera berjalan ke atas tangga. Namun, hanya seorang anak dengan dress pink terlihat, memakan kacang sambil mengangkang kan kakinya. Tidak ada feminim-feminimnya sama sekali. Anak perempuan yang mungkin dua tahun lebih muda darinya.


"Jorok!" bentak Kenzie kala menyadari sang anak perempuan membuka kulit kacang menggunakan mulutnya. Itu artinya kulit kacang dibasahi dengan air liur. Kulit kacang yang dari tadi terjatuh tepat di kepalanya.


"Ini tidak jorok! Ini enak mau coba?" Giovani menyodorkan kacang rebus yang diberinya entah kemana. Sementara Kenzie mengenyitkan keningnya, tangan anak wanita ini pasti juga sudah berlumuran air liur.


"Tidak! Kamu pelayan dari keluarga mana! Tidak mungkin peserta kan!? Tidak punya etika..." Kenzie menunjuk-nunjuk ke arahnya.


"Aku? Aku Giovani, juara dua kompetisi ini..." Sang anak perempuan yang tersenyum. Memakan kacang terakhir kemudian membuang bungkusnya dalam tempat sampah.


"Juara dua? Percaya diri sekali..." Gumam Kenzie, dirinya sudah berlatih berbulan-bulan. Peringkat pertama sudah pasti miliknya. Namun memastikan dirinya juara dua tidak mungkin. Hanya saja anak aneh yang baru pertama kali ditemuinya.


*

__ADS_1


Hingga pada akhirnya namanya dipanggil. Kenzie memainkan tuts-tutsnya dengan tempo cepat. Lagu yang begitu sulit untuk dimainkan, anak seusianya. Senyuman terlihat di wajahnya, ini hanya kompetisi dengan batas usia 15 tahun. Dipastikan tidak akan ada yang mengalahkannya.


Hingga peserta terakhir dipanggil, dialah anak perempuan aneh dengan dress pink. Masuk sambil memakan donat yang enak dibawanya dari mana.


Sang anak yang menghela napas kasar. Perlahan tangannya bergerak memainkan satu persatu nada. Nyanyian seriosa terdengar dari mulutnya, gerakan tangan yang senada dengan lagu menjadi nilai tambah tersendiri bagi para juri.


Kenzie diam tertegun mengepalkan tangannya."Aku kalah..." batinnya.


Hingga anak perempuan itu tersenyum aneh sedikit melirik ke arahnya. Dua nada sengaja dimainkannya dengan salah, membuat juri mengerutkan keningnya.


"Dia sengaja..." Kenzie tertegun menyadari segalanya. Anak perempuan itu terus diperhatikan olehnya, bagaikan menertawakannya. Tapi juga membuatnya tertegun, perlahan tertawa kecil.


Usia mereka memang masih terlalu muda. Seorang anak yang bagaikan menyadarkannya. Usianya masih 11 tahun, walaupun pada kenyataannya sudah hampir lulus sekolah menengah pertama. Karena program lompat kelas.


Akhir kompetisi yang selalu diingat Kenzie, kala dirinya membawa tropi juara pertama. Sedangkan Giovani hanya peringkat ke dua.


*


Dari sanalah keakraban dua keluarga mulai terjalin. Hari ini Kenzie ingin menemui Giovani, membawa brosur kompetisi biola. Kali ini dirinya akan menang, tentunya setelah memohon pada Eveline untuk bertemu dengan Giovani.


Mobil memasuki pekarangan yang benar-benar luas. Suara seorang wanita terdengar.


"Iya! Cerewet!" Giovani melompat turun, bagaikan monyet. Memberikan buah apel pada Fifi (sang anak perempuan).


Tidak peduli, hanya itulah yang ada di fikiran Kenzie saat itu. Memasuki rumah diantar oleh pelayan menuju ruang tamu. Rumah bernuansa Eropa yang cukup kental. Dengan beberapa ornamen unik di dinding. Mungkin sama besarnya dengan rumahnya.


Delisa ( ibu Giovani) berjalan cepat menuruni tangga."Eveline?" ucapnya bagaikan sudah mengenal lama. Namun memang benar mereka terlihat akrab.


"Jadi kamu menikah dengan si cungkring?" tanya Eveline (ibu Kenzie).


Dengan cepat Delisa mengangguk."Kamu sendiri menikah muda dengan anak pak lurah," tawanya terdengar.


Memang benar Eveline menikah dengan pria yang memiliki status lebih rendah darinya. Bahkan hingga saat ini suaminya lebih memilih bekerja di BUMN dari pada membantu Eveline di perusahaan keluarganya.


Dua orang yang berpelukan hangat.


"Kenalkan ini bongkahan es jaman prasejarah yang aku besarkan namanya Kenzie," Eveline mengenalkan putranya tercinta. Anak 11 tahun yang sok cool, padahal aslinya dingin.


"Sebentar!" Denisa berjalan keluar."Sakha! Giovani!" panggilnya.

__ADS_1


Tiga orang anak segera berlari. Satu orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.


"Perkenalkan ini anak angkatku, si kaku Sakha, kelihatannya dia seusia dengan Kenzie. Dan ini anak perempuanku Giovani, yang paling horor, bajunya putihnya berlumuran saus dan lumpur lagi..." geram sang ibu menahan rasa kesalnya. Tapi sang anak hanya tertawa cengengesan.


Sedangkan satu anak lagi yang memakai pakaian mahal terlihat bersih tidak diperkenankan olehnya. Anak yang mengepalkan tangannya.


"Kamu memakai baju bekas?" cibir Kenzie terlihat tidak suka padanya. Pakaian yang pernah dipakai Giovani saat kompetisi, kini dipakai olehnya.


"Be... begini..." Kalimat Fifi, sang anak perempuan yang terlihat tertunduk malu di sela. Giovani pasang badan melindunginya.


"Kalau dia memakai pakaianku kenapa? Lagipula peringkat pertamamu itu juga aku yang memberikannya kan?" tanya Giovani membawa kipas, tapi dengan sengaja menutupnya, meletakkan ujungnya pada bibirnya. Bagaikan bangsawan jaman dulu yang tersenyum memandang hina.


"Akan ada kompetisi biola! Kamu pasti tidak bisa main kan?" Kenzie tersenyum remeh.


"Tentu saja aku bisa! Tidak ada ceritanya seorang Giovani kalah..." Ucap Giovani penuh kesombongan. Jika dilihat dari kata-katanya mereka bertengkar bagaikan orang dewasa.


Tapi sejatinya tidak, dua orang yang saling sikut dan dorong. Itulah mereka, menggertakan gigi. Saling tidak suka.


Sementara Sakha hanya dapat menghela napasnya sembari meraih segelas teh hangat di dapur."Rumah ini akan menjadi lebih ramai setiap harinya..." gumamnya melihat siluman rubah dan ular berkelahi. Bahkan mulai serius hingga susah payah ibu mereka memisahkan dua monster kecil itu.


Jimmy saat ini masih berada di kamar mungkin tidur siang. Sakha berjalan naik ke lantai dua mengawasi adiknya agar tidak terbangun sebagai seorang anak angkat yang bertanggung jawab. Dirinya sudah benar-benar dimanjakan selama ini, namun tidak juga mengambil kesempatan untuk merebut segala. Sudah diadopsi saja sudah syukur, mungkin itulah yang ada dalam hatinya.


Namun anak dengan dress pink itu masih terdiam di sana. Menatap betapa sempurnanya keluarga Sandayu. Mengapa dirinya tidak diadopsi saja, seperti Sakha yang diambil di panti asuhan?


Sejatinya dirinya adalah anak dari seorang pelayan dengan pria tidak bertanggung jawab. Ibunya masih menjadi pelayan bekerja di tempat ini, diijinkan untuk membawa Fifi tinggal bersama, dengan alasan sang pelayan tidak memiliki siapapun untuk menjaga Fifi.


Terkadang anak perempuan berusia 12 tahun itu menginginkan agar ibunya mati. Jika ibunya yang hanya seorang pelayan mati, tuan Sandayu mungkin akan mengadopsinya, memiliki kehidupan seperti Giovani. Tentunya sebagai nona muda, tidak ada nona muda yang memanjat tembok. Nona muda harus sepertinya yang cantik dan rapi.


Denisa (ibu Giovani) sendiri sedikit melirik ke arah Fifi. Ada alasan tersendiri mengapa dirinya tidak menjadikan Fifi anak asuh. Ibu Fifi, sejatinya mencuri beberapa barang di rumah ini. Sedangkan Fifi sendiri? Belum dijadikan anak asuh, sudah berani memerintah pelayan, bahkan meminta ini itu dari Giovani.


Putrinya Giovani sejatinya, tidak begitu banyak memiliki teman. Mengingat penyakit jantung yang dideritanya, membuat sang ibu terlalu takut menyekolahkannya di sekolah umum. Khusus untuk Giovani diadakan home schooling.


Hal yang membuat putrinya mungkin menganggap Fifi sebagai satu-satunya temannya untuk bicara.


Brak!


Giovani membanting tubuh Kenzie. Menatap penuh senyuman pada anak laki-laki yang meringis kesakitan.


"Aku akan balas dendam! Aku akan belajar bela diri!" teriak Kenzie berusaha bangkit tidak terima.

__ADS_1


Sedangkan Denisa mengenyitkan keningnya."Apanya yang mempunyai penyakit jantung. Tenaganya seperti monster..." batinnya melihat kelakuan putrinya yang tersenyum manis, masih membawa kipas ala bangsawan kerajaan jaman dulu.


__ADS_2