
Entah mengapa pada akhirnya tawaran aneh itu diterimanya, menjadi pengisi acara pada pernikahan. Lebih tepatnya dalam bayangannya memainkan piano sambil bernyanyi kala pengantin wanita berjalan di altar.
Pesta pernikahan dengan dekorasi yang benar megah. Bunga Lily putih menghiasi sepanjang ruangan.
Pintu mobil terbuka, seorang pemuda turun memakai kacamata hitam, topi dan masker. Namun hanya sejenak kemudian membukanya menyadari ketidak hadiran wartawan. Pernikahan konglomerat? Dirinya ingin tahu akan menjadi acara yang bagaimana.
Perlahan berjalan melewati orang-orang yang masih sibuk dengan dekorasi pesta. Matanya menelisik mengamati piano klasik putih yang ada di sana. Perlahan sang pemuda, meraba tuts-tuts yang berbunyi seiiring pergerakan tangannya.
Wajahnya tersenyum, mulai duduk memainkan satu persatu nada. Tidak menyadari seorang wanita yang telah lengkap memakai gaun pengantin mengamatinya dari jauh. Wajahnya tersenyum dengan punggung yang menyandar pada pintu terbuka. Hingga sang pemuda mulai bernyanyi perlahan.
Tetap tegar walau apapun yang terjadi? Itulah William, tetap tersenyum, melantunkan nyanyian dengan suara teduhnya. Dapat dengan mudah menyentuh perasaan seseorang.
Giovani hanya tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya pergi. Tidak ingin kehadirannya disadari William. Lagipula malam ini mereka akan tidur bersama bukan?
*
Ruang makeup teraneh, satu set tuxedo berwarna putih berada di sana. Pemuda itu mengenyitkan keningnya."Ini seperti setelan pengantin pria. Tidak salah kostum kan?"
"Tidak, aku sudah tiga kali bertanya pada EO, ini memang pakaian yang disiapkan untukmu. Mungkin konsep pakaian pengantinnya lebih aneh, misalnya couple gold atau dark blue dengan putih. Jadi pakaianmu terlihat sederhana." Jawaban masuk akal dari Corrie.
William menghela napas kasar, untuk pertama kalinya menghadiri pernikahan konglomerat. Perlahan mengganti pakaiannya di sekat khusus. Dua orang pelayan pria tiba-tiba datang, membantunya merapikan pakaian, bahkan mengenakan aksesoris berupa jam tangan. Tidak lupa juga dengan sepatu, yang pastinya berharga mahal.
Rambutnya dirapikan stylish khusus, bahkan untuk make up juga. William mengenyitkan keningnya."Pernikahan macam apa ini?" gumamnya mengingat ketika tampil di panggung pun dirinya tidak mendapatkan perlakuan seperti ini. Matanya melirik ke arah jam tangan yang dikenakannya. Mungkin harganya mencapai ratusan juta rupiah.
Menatap penampilannya di cermin. Benar-benar seperti mempelai pria, tapi tetap saja tidak mungkin. Matanya sedikit melirik ke arah Corrie yang tengah main game dengan tenang.
"Benar kata Corrie mungkin konsep pernikahan ini memang aneh..." gumam William, menghela napas kasar. Sejenak memuji ketampanannya sendiri dalam hati.
*
Suara instrumen musik klasik terdengar. Tidak ramai, hanya ada beberapa orang yang hadir. Dengan santai dirinya hendak berjalan menuju piano, sedangkan mikrofon kecil sudah ada di pakaiannya.
Matanya sedikit melirik, beberapa orang yang hadir berbisik-bisik kala dirinya berjalan menuju piano.
"Ada apa? Apa ada yang salah dengan penampilanku," batinnya tidak mengerti sama sekali.
Namun samar-samar terdengar suara orang-orang yang berbisik-bisik.
"Kenapa mempelai prianya tidak menunggu di altar?"
__ADS_1
"Mungkin saking tegangnya mempelai pria jadi tidak konsentrasi,"
Itulah kata-kata yang didengar William. Pria yang dengan konyolnya malah mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan mempelai pria. "Apa mempelai prianya tampan?" itulah yang mungkin ada dalam benaknya.
Sekali lagi, dirinya ada di sini hanya untuk sekedar mengisi acara. Juga mengobati rasa penasarannya pria mana yang berhasil menikahi putri keluarga konglomerat.
Namun setelah mengedarkan pandangannya, tidak ada satupun yang berpenampilan seperti mempelai pria. Apa dirinya kurang teliti mengamati? Tapi altar juga masih kosong. Mempelai pria belum juga datang.
"Maaf, ini tempatku duduk." Ucap seorang pria memakai setelan jas putih sederhana.
"Ta...tapi aku harus duduk dimana? Lalu apa tugasku? Apa hanya bernyanyi, jadi tidak perlu bermain alat musik?" tanyanya lugu. Tidak mengerti situasi sama sekali. Bahkan Corrie terlihat acuh masih mengunyah keripik singkongnya.
Seorang pria yang memakai earphone terlihat disana."Tugasmu ada di tempat lain. Mohon ikut saya."
William menghela napas kasar. Setidaknya dirinya tidak dipermalukan dengan dipaksa turun dari panggung atau dilempari telur. Pemuda itu melangkah mengikuti sang pria yang terlihat seperti pengawal.
Namun ada yang aneh pria ini tidak membimbingnya menunju tempat para musisi. Namun malah membimbingnya menuju altar.
"Berfikiran positif William. Mungkin kamu diminta bernyanyi solo saat janji pernikahan dan saat acara pertukaran cincin." Batinnya masih positif thinking.
Bug!
William mengenyitkan keningnya. Sungguh ajaib, pengantin pria dan wanita datang bersamaan. Biasanya pengantin pria akan menunggu kedatangan pengantin wanita di altar. Sedangkan pengantin wanita akan masuk dibimbing pendamping pengantin wanita, bisa ayah atau dari pihak keluarga.
Tapi ini? Pengantin pria dan wanita masuk bersamaan? Mungkin perbedaan kebudayaan? Mungkin saja bukan?
"Aku titipkan kakakku padamu. Jaga perasaannya baik-baik sayangi dia." Ucap Jimmy yang mengantar sang kakak ke altar.
Sedangkan William mulai merasakan firasat tidak enak. Matanya kembali menelisik, apa pengantin pria ini bicara padanya?
Jimmy kemudian berbalik, duduk berdampingan dengan orang-orang yang menyaksikan pernikahan ini.
Hingga pendeta mulai menanyakan apa ada orang yang tidak setuju dengan pernikahan ini?
William hanya terdiam, mulai melangkah mundur. Matanya terlihat panik mencari diantara semua orang dimana sebenarnya pengantin pria berada. Tidak mungkin dirinya kan? Tidak, pasti ada salah paham, apa dirinya yang kurang cermat mengamati.
Hingga suara pendeta mengejutkannya."Wiliam Virgon Nugraha, apa kamu bersedia menerima Giovani Sandayu sebagai istrimu? Mencintainya dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang. Hingga maut memisahkan,"
"A...aku?" Wiliam terbata-bata. Hingga tiba-tiba mempelai wanita mengacungkan senjata api.
__ADS_1
"Menikah atau mati..." Suara yang dikenalnya wajah yang tidak asing di balik lain putih tipis itu.
William kini melirik ke arah pendeta yang pada awalnya ingin protes. Namun senjata api juga kini berada di pelipis sang pendeta.
Kini pandangan beralih pada Corrie, pemuda itu tidak menghubungi polisi, malah makan dengan santainya. Orang tidak tahu malu yang hanya tersenyum, satu-satunya orang yang terlihat paling bahagia.
"Kamu menjual ku?" batin William ingin memaki managernya.
Tak! Tak!
Suara pelatuk senjata ditarik terdengar.
"Aku, aku bersedia..." ucap William ketakutan. Sedangkan Giovani masih mengacungkan senjatanya. Seolah-olah ingin William melanjutkan kata-katanya.
"Mampus! Aku menikah!" geramnya dalam hati.
"Aku bersedia menerimamu sebagai istriku, mengasihimu dalam senang maupun susah. Dalam sakit maupun sehat. Hingga maut memisahkan. Janjiku di hadapan Tuhan." Ucap William ingin rasanya menangis, bagaimana kehidupannya setelah ini. Yesy pasti akan kecewa padanya.
Pendeta kembali bertanya pada Giovani. Dengan tangan gemetar."Giovani Sandayu apa kamu bersedia menerima William Virgon Nugraha sebagai suamimu? Mencintainya dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang. Hingga maut memisahkan,"
"Aku bersedia menerimamu sebagai suamiku, mengasihimu dalam senang maupun susah. Dalam sakit maupun sehat. Hingga maut memisahkan. Janjiku di hadapan Tuhan." Ucap Giovani tanpa ragu sedikitpun.
Wanita itu meletakkan senjata apinya, memberikan pada pengawal lain di belakangnya. Sementara seorang pengawal di belakang William mengacungkan senjata api pada kepala sang pemuda.
Tangan William gemetar saat ini, bertukar cincin dengan seseorang yang mungkin pernah dua kali ditemuinya.
"Cium!"
"Cium!"
"Cium!"
Teriak semua orang dengan Corrie sebagai provokatornya. Dan benar saja, Giovani membuka kain tipisnya sendiri. Kemudian berjinjit mencium William yang lebih tinggi darinya.
Wanita yang begitu menawan, siapa pria yang tidak akan terpikat? Bodohnya William membalas, merindukan rasanya berciuman. Pada akhirnya ciuman itu terlepas. Kemudian Giovani berbisik.
"Senjatanya hanya mainan. Mau senjata asli? Nanti malam keluarkan senjatamu di ranjang. Aku akan pasrah menerima tembakannya," bisiknya, membuat William benar-benar murka.
"Kamu... dasar..." Belum sempat mengumpat, bibirnya malah dicium lagi.
__ADS_1