
Pak!
Bug!
Satu tendangan melayang tepat di betis sang pemuda. Membuatnya terjatuh di tempat tidur menahan sakit di area betisnya.
Giovani menahan senyumnya, meletakkan paperbag di atas meja. Kemudian naik ke atas tubuh William."Aku terbiasa ada di atas..." bisiknya pada sang pemuda.
William membulatkan matanya. Bukan seperti ini rencananya. Dirinya benar-benar ketakutan pada rubah ini.
"A...aku hanya ber... bercanda," ucapnya terbata-bata.
Giovani turun dari tubuhnya, mulai berjalan menuju ruang ganti. Sungguh benar-benar memalukan, William pergi dengan cepat dari kamar mencari kamar mandi terdekat. Mungkin ingin pipis, tapi bukan pipis yang biasanya.
Suara aneh terdengar dari kamar mandi yang terletak dekat kolam renang. Suara pemuda dengan deru napas tidak teratur, sambil berteriak."Si*l! Br*ngsek! Kenapa aku jadi seperti ini!?"
Kata-kata yang aneh bukan? Seorang pria yang tidak pernah terlibat dengan wanita seumur hidupnya. Berpura-pura menjadi Casanova agar segera dapat bebas dari penjara ini. Tapi sang CEO wanita terlalu badas. Pria yang ketakutan tapi juga selalu terbayang wajah rupawan sang wanita yang menggodanya.
"Si*l!" teriaknya lagi dari dalam kamar mandi.
*
William menghela napas kasar, terlihat benar-benar letih, berjalan menaiki anak tangga perlahan. Hingga dirinya berpapasan dengan kepala pelayan yang meletakkan sebuah kalung dan kotak musik dalam kotak kaca khusus.
Matanya sedikit melirik, menghela napas kasar. Memang orang-orang aneh, kalung dengan harga miliaran rupiah hanya menjadi pajangan saja. Sedangkan Giovani sendiri lebih senang menggunakan aksesoris dari silver. Tidak memiliki citra feminim ataupun maskulin. Memakai cincin memanjang di jari tengahnya.
Kala bepergian memakai anting yang memberikan kesan modern. Memakai warna cerah? Tidak, wanita itu selalu memakai pakaian hitam, jika bukan hitam maka putih. Benar-benar wanita yang aneh.
Tidak peduli sama sekali, hingga pintu kamar dibukanya. Matanya menatap ke arah Giovani yang menyalakan lilin.
"Hari ini aku ulang tahun. Mau bernyanyi untukku!? Mungkin saja aku tersentuh dan membiarkanmu beraktivitas seperti biasanya dalam 3 hari." Kata-kata darinya tersenyum, tidak ada wanita mendominasi seperti biasanya. Malah terkesan begitu manis dengan piyama putih yang dikenakannya.
William mengalihkan pandangannya. Gila! Dirinya bagaikan bertemu dengan wanita yang berbeda.
Pada akhirnya menghela napas kasar."Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday... happy birthday day... happy birthday to Giovani..."
Wanita itu tersenyum, senyuman yang benar-benar manis, meniup lilin di hadapannya. Sedangkan William menelan ludahnya sendiri bagaikan seekor singa yang melihat seekor kelinci memakan wortel.
"Tidak! Dia itu iblis! Sifat jahatnya cepat atau lambat akan terlihat!" batin William, dengan tangan gemetar, tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Mau mengabulkan satu permintaanku? Maka aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Tapi kecuali pengajuan pembatalan pernikahan kurang dari 3 bulan." Ucap Giovani.
__ADS_1
"Aku tidak ingin dikurung di tempat ini. Berikan phonecellku! Satu lagi biarkan Corrie dan satu temanku datang!" Ucapnya sedikit membentak, sejatinya hanya ingin mengelak perasaan aneh di dalam dirinya.
Giovani mengangguk."Permintaanku, selama 3 bulan ini aku ingin tidur denganmu. Walau tidak melakukan apapun sudah cukup. Setelah 3 bulan aku akan melepaskanmu."
Kata-kata darinya membuat perasaan tidak nyaman dalam diri William. Aneh, ada perasaan tidak rela yang aneh. Wanita hanya baru ditemuinya beberapa hari. Tapi mengapa seperti ini?
"Deal!" Ucapnya tegas.
Apa yang terjadi setelahnya? William berusaha memejamkan matanya. Memunggungi Giovani yang sudah tertidur nyenyak. Tidak dapat tidur sama sekali, memikirkan bagaimana caranya keluar dari tempat ini secepatnya.
Hingga tangan gadis itu terulur memeluknya dari belakang. Wajah yang tidur dengan damai ada di punggungnya. Entah kenapa perlahan William berbalik mensejajarkan letak wajah mereka.
Ada yang aneh, matanya menelusuri lekuk demi lekuk wajah itu. Hingga satu ciuman singkat mendarat di bibir Giovani. Pemuda itu terdiam sesaat merutuki kebodohannya sendiri. Tapi wajah ini terlihat benar-benar damai. Perlahan dirinya memejamkan mata, tangannya terulur memeluk tubuh wanita di hadapannya.
*
Hari ini dirinya membuka mata. Tidak mendapati keberadaan Giovani. Namun ada yang aneh, dua orang mengamati dirinya yang baru saja terbangun.
"Dia yang merebut calon istrimu," bisik Corrie pada pria yang ada di sampingnya.
William segera bangkit, menatap sahabat yang telah bekerja padanya selama 12 tahun."Aksa!" ucapnya segera bangkit memeluk tubuh satu-satunya orang yang dapat diandalkan olehnya.
"Melakukan apa?" tanya William dengan penampilan yang belum maksimal, mungkin karena sisa air liur belum dihapusnya.
"Sudah! Giovani menunggumu di meja makan." Ucap Corrie sedikit menahan tawanya.
William melangkah pergi, sedikit melirik ke arah Aksa yang bagaikan ingin menelannya bulat-bulat. Ada apa sebenarnya? Dirinya akan membicarakan baik-baik setelah ini.
Hanya selang 20 menit pemuda itu sudah membersihkan dirinya. Hanya tengah memakai beberapa produk perawatan kulit untuk pria.
Sedangkan Aksa dan Corrie masih duduk menunggunya.
"Dimana kamu mengenalnya?" tanya Aksa.
"Siapa? Giovani? Aku tidak mengenalnya sama sekali. Mungkin fans..." jawaban dari William, mengenakan jam tangan miliknya.
"Aku ingin membunuhmu! Br*ngsek! Aku bahkan sudah memesan pembunuh bayaran, saat Giovani mengaku sudah menikah denganmu!" Umpatnya hendak bangkit, namun Corrie memegangi Aksa dengan cepat, tidak ingin ada pertengkaran antara sahabat.
"Memangnya kenapa?" tanya William tidak mengerti.
"Giovani...dia wanita yang disukai Aksa saat kuliah di luar negeri. Kamu ingat kakak seniornya tercinta yang menghajar 5 orang pria sekaligus?" Jelas Corrie tertawa kencang melihat kekacauan di hadapannya. Sejatinya dirinya-lah yang berperan paling penting dalam kekacauan ini.
__ADS_1
"Jadi kalian...dia..." William menghela napas kasar menetralkan keterkejutannya."Masa bodoh! Dalam tiga bulan aku akan kembali lajang. Lalu kembali lagi mendekati Yesy."
"Jadi kamu tidak menyukai Giovani?" tanya Aksa, dengan cepat William mengangguk.
"Lagipula aku tidak tau, tujuannya apa memaksaku untuk menikah." Ucapnya lagi dengan raut wajah berubah. Memandang aneh dan sinis pada pantulan wajahnya di cermin.
"Senior (Giovani) tidak mungkin mendekatimu karena uang atau ingin perusahaannya semakin berkembang. Kamu tau sendiri kan aku mengelola warisan ayahmu diam-diam. Mana ada orang yang mengetahui jumlah kekayaanmu. Mungkin hanya orang pajak yang tau..." Aksa menghela napas kasar.
"Tetap harus waspada. Dia seperti rubah yang picik. Tunggu tiga bulan, setelah ini selesai aku akan membalasnya!" William menggebrak meja di hadapannya dengan cukup keras.
"Apa tidak sakit?" tanya Corrie melihat tangan William yang memerah.
"Sakit! Lumayan sakit!" Ucap William memegang pergelangan tangannya. Menggebrak meja penuh emosi tapi yang rugi diri sendiri.
Sedangkan Corrie tertawa, sementara Aksa hanya dapat menghela napas kasar menatap kelakuan bos, sekaligus sahabatnya.
"Batalkan memesan pembunuh bayaran! Kalau aku mati kamu mau kerja dimana!" Komat-kamit mulut William mengomel sembari memegang pergelangan tangannya sendiri.
Sedangkan Aksa menghela napas kasar."Iya! Aku hanya bercanda! Tapi ingat! Dalam 3 bulan ini jangan menyentuh calon istri masa depanku!" tegasnya mengingat betapa kerennya Giovani yang menyelamatkannya 7 tahun lalu. Wanita yang melawan 5 orang perampok bersenjata seorang diri.
"Aku tidak napsu dengannya! Yesy lebih cantik!" tegas William.
"Cantik tapi muka seperti lintah." Sindiran menyakitkan dari Aksa.
*
Suasana meja makan yang lebih ramai kali ini. Beberapa lauk bertumpuk di piring Giovani. Tentunya dengan Aksa yang mengambilnya.
"Aku tidak tau akan bertemu senior lagi..." Ucap Aksa berprilaku menggemaskan. Tidak sesuai dengan kepribadian aslinya.
"Kamu teman kakakku? Jika saja kakakku lebih pintar memilih pria, kamu pasti akan pasangan yang cocok untuknya!" Ucap Jimmy menaruh perhatian, sedikit melirik tidak suka pada William.
"Ah... biasa-biasa saja. William memang begitu kekanak-kanakan. Tidak begitu pintar," Aksa terkekeh.
"Aku ingin membunuhmu. Kemudian mencincang-cincang mayatmu..." batin William berusaha tersenyum. Sejenak membulatkan matanya kala Aksa berusaha memegang tangan Giovani.
Brak!
Suara meja digebrak oleh William terdengar, membuat Aksa yang terkejut mengurungkan niatnya memegang tangan Giovani.
"Hari ini aku akan pergi bekerja! Ada jadwal apa saja Corrie?" tanya William sengaja.
__ADS_1