
Aku berdiri di padang rumput, angin menghembus wajahku. Hatiku serasa tenang, hanya tempat inilah yang bisa melepas beban pekerjaanku. Aku tinggal di kota Ruby, bagiku sulit untuk beradaptasi, suara berisik kendaraan, kerumunan orang-orang, semua tidak familiar denganku. 2 hari yang lalu, aku dipaksa orang tua untuk pergi ke kota, dengan alasan ekonomi dan pendidikan aku rela pergi ke kota dengan sukarela, sulit bagi orang desa untuk beradaptasi di kota.
"Hah, sudahlah. Lagipula apa yang bagus dari dunia ini, hanya makan, belajar, berkata omong kosong. Kenapa manusia melakukan omong kosong ini? Lagian mereka juga akan mati besok, dunia ini hanya sia-sia. Apakah ini omong kosong dunia?" Gumamku.
Tak lama ini aku ingin menjadi novelis, jadi pikiranku harus mengikuti alur ceritaku jika tidak, ceritanya hanya menjadi candaan penerbit.
Kubanting tubuhku, rumputnya lebih nyaman daripada kasur kos-kosan. Suara kicauan burung-burung lebih merdu ketimbang suara mesin-mesin jalanan. Kudengar suara langkah kaki, mungkin saja itu binatang kecil seperti kelinci. Masih kututup mataku, tak kusangka saat bangun hari sudah mulai gelap.
"Uh, aku ketiduran" kataku.
Segera aku berdiri, berjalan menuju kos-an ku. Sesampainya di kos, hari sudah gelap, menunjukkan angka 8. Apa jadinya jika aku ketiduran sampai malam, sudahlah. Kota memang tidak ramah, tetanggaku selalu ribut mulai malam hari, mungkin mereka juga merasa lelah setelah kuliah, jadi wajar saja jika mereka melepas lelah dan stress bersama.
Kringgg...Kring....Kringgg...
__ADS_1
Segera aku menuju kuambil HP-ku yang tersimpan di laci.
"Halo, halo ini siapa?" tanyaku.
"Hah....Hah...Hah...".
"Hei ini tidak lucu, asal kau tahu pulsa-ku hampir habis" gertakku.
"To...long..".
"12..6..cepat..lah".
Seketika sambungan terputus. Aku mencoba tenang, lagipula ini hanya orang asing. 126? Mungkin saja yang dia katakan adalah halte 126. Sudah lama tidak ada orang disana, bahkan halte itu dijadikan base anak jalanan. Semoga saja dia tidak kenapa-napa.
__ADS_1
"Eh, kenapa aku khawatir dengan ini. Lebih baik aku cepat, aku mungkin harus membawa beberapa barang untuk jaga-jaga. Cih, dasar panggilan aneh" marah bercampur khawatir.
Beberapa meter sampai tujuan, jalanan mulai sepi. Hawa semakin dingin dan menakutkan, kulihat sekitar hanya pohon-pohon tinggi. Dari kejauhan mulai terlihat secercak putih, mungkin saja itu kuntilanak. Pikiranku mulai kacau, dengan segenap keberanian aku menghampirinya.
Sungguh bukan main, seorang wanita tergeletak di kursi halte. Tubuhnya mengeluarkan banyak darah, perut bagian kanan terluka berat. Langsung aku mengeluarkan HP-ku.
"Nona bertahanlah. Akan kupanggil Ambulan" khawatir.
"Tunggu...bawa la...ri".
Wanita itu menarik tangan kananku, dia memberiku sebuah kalung permata hijau kecil bernoda darah, tak lama setelah memberikan kalung, wanita itu sudah tidak bernyawa. Karena merasa takut, kupanggil polisi dan segera lari dari sini.
"Hahh..hahh...kenapa dia harus mati?" gumamku.
__ADS_1
Aku melepas lelahku, segera mandi dan beranjak untuk bermimpi indah. Tak lupa kubasuh kalung yangndiberikannya. Kupandangi kalung itu sambil tiduran. Dikepalaku mulai muncul berbagai pertanyaan, jika dilihat-lihat permata ini asli, jika kujual mungkin akan mahal. Tapi, ini amanah yang diberikannya. Kupakai kalung itu, dan segera beranjak tidur, baru ingat besok ada ujian fisika.