Z World

Z World
Episode 10: Alur yang kian menghitam.


__ADS_3

Dunia, awal dari sebuah kehidupan. Berkembang dan saling mengasihi, seperti itulah mahluk hidup dibentuk. Suatu ketika, batu-batuan langit turun, bukan hanya satu, tapi ribuan. Batu yang berwarna-warni dengan warna merah, biru, kuning, dan coklat sebagai warna utamanya. Aura kuat keluar dari batu-batu itu, memberikan kekuatan kepada mahluk hidup, kekuatan tak terbatas, kekuatan yang membangun kasih sayang dan persatuan, yang sampai sekarang dipanggil sihir. Tapi, entah darimana, Bumi mengeluarkan suatu tarikan kuat, membuat mahluk hidup yang diatasnya kehilangan semua sihir mereka sampai hanya tersisa satu mahluk hidup yang masih mempunyai sihir. Alur kian berkembang, tidak semudah yang dilihat individu, alur tidak bisa diandaikan, kadang seperti api yang berani dan membara-bara, kadang seperti air yang tenang dan terbuka.


Semua cerita ini berawal dari sesuatu yang entah apa, yang mengakibatkan semua ada aksi ada konsekuensi. Setiap langkah yang dibuat mahluk hidup terdapat pula konsekuensi, itu sudah menjadi kunci di dunia. Semakin berkembang semakin rumit, saat itulah manusia lahir. Pemikiran mereka membuat terobosan baru di muka Bumi, tapi semakin majunya pemikiran semakin banyak pula paham-paham maupun pemikiran lainnya. Mereka mengandaikan cahaya yang menerangi Bumi(Matahari) adalah yang mengasihi, jadi mereka tidak takut akannya, menjalani aktifitas dibawahnya dengan senyum, dan juga, kegelapan yang menelan Bumi, mereka anggap sebagai kejahatan nyata, mengkorosi Bumi sedikit demi sedkit, anak-anak mereka tidurkan di malam hari, para orang tua berjaga.


Alur itulah yang membuat semua terikat, saat salah satu alur hilang ataupun musnah, seluruh alur akan terkena dampaknya, sampai ditemukan penggantinya. Seorang manusia yang terlahir dari kegelapan saat itu bertemu dengan klona-nya, terlahir dari kebencian dan ketakutan manusia, perang alur yang semakin rumit dan sulit akan terjadi, akan banyak alur yang hangus terbakar akan panasnya perperangan. Pasti ada yang bertanya-tanya, dimana cahaya sebenarnya berada saat perang terjadi? Tentu kami masih ada dan datang membantu.


Aku membaca buku di perpustakaan orang dewasa, kugaruk beberapa kali kepalaku dengan wajah bingung. Tiap kali aku membaca kata-kata yang ada dibuku, tidak ada yang masuk sama sekali bahkan membuatku stress saja.


"Hahhh, terjadinya perang elemen, bentuk-bentuk elemen, perang sihir, teori asal mula Bumi dan dunia. Aku sudah pusing, haahhh, Kirin, bagaimana denganmu?" membanting buku ke meja, melirik ke arah laki-laki yang sibuk membaca buku.


"Tunggu sebentar, disini belum kubaca kebenaran elemen hitam dan putih, pembentuk elemen kegelapan, dan manusia sihir terakhir. Kira-kira sekitar 10 jam baru selesai" jawabnya sibuk membaca buku.


"Lah, malas ah neladenin kamu. Mendingan ngajak Xentium, lebih asik orangnya" berdiri kursi dengan wajah kecewa.


"Ya maaf, aku masih sibuk" masih sibuk membaca buku.


"(Dasar laki-laki aneh, tiap hari buku ini, emangnya besok pacarmu itu buku, mendingan nikahin buku sekalian sana)" muka cemberut meninggalkan perpustakaan.


Hah, rasanya seperti keluar dari tempat pelatihan untuk pertama kali, sebagai manusia Eternal, kami wajib menjaga kedamaian di dunia, terutama di Bumi. Tapi, sejak kejadian yang menggegerkan, lepasnya wabah elemen campuran, kami menutup serapat-rapatnya kontak dengan Serentina-Zastan-Bumi-Ender, Eternal masih disibukkan dengan beberapa langkah untuk mencari vaksin untuk wabah ini, dan juga, elemen campuran itu, belum pernah ada di buku. Tiba-tiba seorang perempuan menepuk pundakku, diriku langsung terkejut melompat menjauh beberapa langkah darinya. Sudah kuduga, Xentium menungguku, bentuknya cukup mengenaskan.


"Huh, apa saja sih yang kamu lakukan sama Kirin, Lyona?" tanya Xentium dengan wajah marah.

__ADS_1


"Loh, kamu sudah menungguku dari tadi. Maaf, tadi Kirin yang mengajakku" menggaruk-garuk kepala dengan wajah tegang.


"Heh, jangan tegang begitu. Ngomong-ngomong, bagaimana prosesnya" menggoda Lyona.


"Hah, dia tidak merespon padaku. Dia sudah punya pacar" jawabku lesu.


"Siapa?!!" kata Xentium terkejut.


"Buku" jawabku singkat.


"Huhhh, apalah bocah itu. Yuk cari misi, katanya vaksin untuk wabah sudah hampir ditemukan, tapi aku tidak peduli" kata Xentium mulai berjalan.


Ku ikuti langkahnya di samping, kulirik wajahnya yang tidak pernah takut akan siapapun, dialah Xentium yang menjagaku, dia juga yang mengajariku agar tidak terlalu lembut kepada siapapun. Setiap hari dia selalu ada untuk menemaniku, diperjalanan kembali ke rumah, kami sudah banyak sekali berkata-kata di tengah perjalanan. Sungguh lucu candaannya, walau terbilang receh.


"Sssttt, Lyona berjanjilah untuk tidak beritahukan siapa-siapa" mengeluarkan sesuatu dari kantong celana.


"Ada apa Xentium?" tanyaku mengintip apa yang dia lakukan.


"Kamu pasti akan tahu nantinya. Ini" memberikan sebuah foto.


Maklumlah Xentium menyukai laki-laki. Tapi, tak kusangkan seleranya serendah ini, bahkan sampai merahasiakannya di bawah selimut pula. Kutampakkan foto itu ke dirinya, dengan wajah malas aku berkata.

__ADS_1


"Tak kusangka seleramu serendah ini" nada mengejek.


"Eh salah" segera mengambil foto dari tangan Lyona.


"Ini baru yang benar" memberikan foto satunya lagi


Masih sama dengan topik utama, dirinya masih saja begitu terobsesi dengan laki-laki, tapi laki-laki ini terlihat begitu rupawan dan berkarisma.


"Lihatlah dengan seksama" kata Xentium.


Kucoba melihatnya dengan seksama, aneh, dari foto ini mengeluarkan aura kegelapan. Dan yang lebih aneh dari aneh adalah laki-laki ini memiliki kekuatan elemen murni. Yang pasti kekuatan kegelapannya sangat murni, lebih murni dari yang pernah aku lihat di buku, aura kegelapannya tidak terlalu kental bahkan tidak terlalu cair, seperti di tengah-tengah.


"Aku sudah tahu kan?" tanya Xentium dengan nada serius.


"Aku tahu, apakah kamu bercanda? Sudah beribu-ribu tahun tidak adanya kegelapan semurni ini" aku terkejut.


"Aku mengambil gambarnya saat terjadinya wabah, aku melihat kejadian-kejadian aneh di Bumi. Aku tinggal jepret saja, tapi tak sengaja aku memotret dirinya, bukan hanya satu gambar, tapi ada empat gambar, dan masing-masing gambar mengeluarkan aura yang berbeda" jelas Xentium.


"Apakah ini ada kaitannya dengan penguasa elemen, Mana?" tanyaku menatap wajah Xentium.


"Kemungkinannya sangat besar, sudah kuteliti jauh-jauh hari dan saat kukombinasikan elemen murni dari foto itu dengan elemen lainnya. Hal aneh terjadi, seperti hubungan yang merantai. Pernah aku coba, meletakkan foto ini yang dilingkari 5 benda ber-elemen murni berbeda, benda-benda ini bergerak menuju ke foto, bahkan geraknya terorganisir, 4 elemen murni selain elemen cahaya terletak 4 sisi foto dengan jarak antara foto dengan benda dan benda dengan benda sama panjangnya, walau tadinya sudah kuletakkan sedikit lebih jauh. Dan elemen cahaya, bergerak menuju foto dan mereka saling menempel. Kulihat di tengah-tengah antara foto dengan elemen cahaya terlihat aura keungu-unguan" panjang lebar Xentium.

__ADS_1


j


v


__ADS_2