
Kulambaikan tangan selamat tinggal, Andi teman baikku yang selalu bersama sejak kecil tak terduga masuk ke SMP 1, untungnya kita bisa bertemu setiap hari, karena kita tetangga. Bagiku sekolah adalah tempat yang menyenangkan, bercanda dengan teman, menambah ilmu pengetahuan, berbagi informasi, semua itu menyenangkan. Kulihat jam tanganku, wajahku terkejut kaku.
"Sudah jam serengah tu..juh? DASAR PAYAH KENAPA SAMPAI LUPA!!!!" berlari sekencang kencangnya.
Di ruang kepala sekolah. Aku menerima hukumanku untuk pertama kalinya, kupikir, ya mungkin sekali-kali berbuat ekstrim, hidup kan cuma sekali.
Bruakkk...
Pintu tertutup, kepala sekolah killer itu melihatku dengan tatapan kejam. Keringat mulai membanjiri kepalaku, aku mencoba untuk tidak memikirkan kata-kata itu.
"Kenapa kau terlambat?" menatap dingin.
"Eee...itu.." ragu-ragu.
"Jangan A-E-A-E, kamu laki-laki kan?!!!" mulai marah.
"Iya pak!" jawab tegas.
"Bagus, tidak perlu cerita bapak sudah tahu. Sana kembali ke kelas" tersenyum lembut.
"(Heikk, a-aneh banget. Tadi marah-marah, tapi sekarang baik bangettt... sungguh terharu) Terima kasih Pak" memberi hormat.
Aku berjalan menuju pintu keluar, kakiku agak gemetaran masih mengingat amarahnya. Saat aku membuka pintu, kepala sekolah menepuk pundakku. Aku sungguh terkejut, berusaha tidak menengok dan diam di tempat.
"Kalau telat lagiiii... bapak akan memberimu rotannn" berbisik.
"(Hiii, kepribadian ganda) O-Oke Pak" sedikit takut.
Akhirnya aku dapat menghela napas lega, kata teman-teman kelas, kepala sekolah adalah orang paling ditakuti, tidak pernah ada orang yang bisa keluar dari sana. Aku tertawa sedikit, memikirkan apa yang mereka katakan hanya sedikit dibesar-besarkan. Yang bisa kutahu pasti, kepala sekolah hanya mengalami penyakit mental, kepribadian ganda.
"Yohan Sich, silahkan duduk" kata guru menatap Yohan.
"Terima kasih Pak" berjalan menuju tempat duduk.
Teman-temanku bergumam, sebagian dari mereka menatapku. Aku mencoba mengabaikan mereka, melihat jam tanganku, sedikit heran dan kagum. Tidak disangka aku berada di ruang kepala sekolah selama setengah jam, saat berada disana terasa beberapa menit berlalu. Tak lama,
__ADS_1
"Saatnya istirahat dimulai"
Jam istirahat berbunyi,(tidak ada yang menarik disini sih, jadi saya lompati beberapa ya).
Aku berjalan pulang, memikirkan ingin mengajak Andi pergi ke warnet, makan bakso dan bermain kartu, yah kalau bisa menangkap hantu. Dulu kami suka menangkap hantu karena ajakan Ayah Andi, tak disangka ilmu yang diberikan Ayah Andi juga berguna.
"Uh, suara apa itu?" terbangun di meja.
Sudah berapa lama aku tertidur dimeja, hari juga sudah mulai sore. Aku beranjak dari kursiku, mengambil tasku dan segera pergi dari sini. Tapi, baru beberapa langkah dari kelas, aku mendengar jelas seseorang sedang berkelahi. Mungkin itu hanya pikiranku, tapi aku tidak merasa enak jika meninggalkan mereka begitu saja.
"Hai berhenti!!" suruhku.
"Ha siapa kau? Ahahahahaha, jadi ini penyelamatmu, Terena Nova" menatap kejam.
"Cih, rendahan. Berani saja rempuyukan, maju sini kalau berani!!" terlalu percaya diri.
"Hah?!!! Kau salah minum obat? Lagi pula, anggotaku belum puas" melambaikan tangan*kode-kode*.
Bawahannya langsung mengerotok diriku, perempuan yang tidak lain adalah pemimpin mereka hanya tersenyum melihat pertarungan kami. Apapun niat mereka, aku harus menang.
Perempuan itu melayangkan kakinya, tak sengaja aku melihat celana dalam merahnya. Aku meloncat mundur menahan godaan.
"Hai, Kakak, hati-hati kelakuanmu. Nanti dijarah laki-laki gak bertanggung jawab menyesal lohh" menggoda.
"Ini hanya teknik jitu melawan laki-laki sepertimu" jelasnya.
Aku sedang tidak senang sekarang, kuambil kain hitam dari tasku. Kututup mataku, mengikat kainnya kuat-kuat, mulutku berkomat-kamit membaca mantra.
"Hai bocah, kau aneh seperti dia juga ya. Kau pikir ini Anime?!!!" Ejek pemimpin mereka.
"Ainyu, ambil alih tubuhku. Sebatas membuat mereka takut agar tidak menyakiti Kakak itu" menunjuk Kakak yang dibully.
"Hee, akhirnya kau mengundangku Yohan" nada seram.
Perempuan-perempuan itu sedikit bergetar, merasa ketakutan dan mundur beberapa langkah. Pemimpin mereka memerintahkan untuk menyerang bersama, tapi itu percuma. Tubuhku serasa ringan, hanya berjalan kedepan pasukannya seketika berhenti dan tumbang. Wajahnya cemas dan ketakutan, dia mengeluarkan catter dari balik seragam sekolahnya.
__ADS_1
"Mundur, aku mempunyai benda tajam" ketakutan.
"Saat ketakutan dan keputusasaan melanda, kalian bersembunyi dibalik benda mati. Sungguh rendah" merendahkan.
"Mati kau!!!!" Berteriak, menutup mata menusukkan catter ke arah Yohan.
Kubuka penutup mataku, kulihat mereka yang tergeletak tak sadar. Sudah kuduga, kekuatan Ainyu sangat efektif melawan manusia. Kulihat Kakak yang tergeletak ditanah, banyak luka diwajah dan tangannya, dia terlihat ketakutan denganku setelah apa yang kulakukan pada mereka tadi. Ku ulurkan tanganku, dengan senyum palsu aku membujuknya.
Kami berjalan pulang bersama, dia menjaga jarak dariku. Aku juga tidak bisa memaksanya mendekat kepadaku, kubiarkan dia berjalan seperti itu karena dia belum tahu siapa diriku.
"Kakak suka Anime ya?" Tanyaku.
"I-Iya, teman-temanku memanggilku aneh. Tapi, aku tidak aneh!!" marahnya.
"Eh?" kagetku.
"Ma-Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu" maafnya.
"Tidak apa Kak, kita sama. Aku juga menyukai Anime" berhenti berjalan.
"Iya, baru pertama kali melihat orang yang peduli sekali padaku" berhenti, mulai menangis.
"Jika Kakak kesepian, aku bisa menjadi teman baik Kakak" membalas senyum.
"Terima kasih, jika ada waktu maukah kamu pergi kencan denganku?" menunduk malu.
"Eh? Ka-Kakak kenapa blak-blakan begitu? Ya, baiklah jika ada waktu" terkejut.
"Terima kasih...Yohan" berlari, wajah senang.
Dari balik pohon, dia, kegelapan muncul dengan senyum palsunya.
"Jadi kau juga suka Anime ya Yohan?" tanya bayangan hitam.
"Anime? Cih, tak sudi aku menontonnya. Tapi, demi Kakak itu, akan kubahagiakan dia" Tersenyum memandang langit.
__ADS_1