
"Tuan, informasinya sudah saya kirimkan"
"Oh, oke, kau tidur saja Hanna, aku akan urus mulai dari sekarang. Sudah malam" menutup telepon.
Dia sibuk dimeja kerjanya, sibuk mengurus beberapa tumpuk berkas yang harus diselesaikan besok. Wajahnya terlihat serius, begadang sampai malam habis. Dengan ambisi yang dia miliki sejak dulu, dia selalu bisa menyelesaikan masalah tanpa pandang bulu. Sudah 2 jam berlalu, tapi tubuhnya masih kuat bekerja. Beberapa detik dia meregangkan tubuhnya, terdengar suara decitan. Dia beranjak dari kursi nyamannya, menghampiri orang yang sudah tidur lama di sofanya yang tidak lain adalah Yohan. Dia menyelimuti Yohan dan mengecup dahinya.
Dia sedikit membuka pintu, celingak-celinguk melihat keadaan sekitar yang sudah lama sepi. Dia menatap jam dengan wajah heran, tak terasa baginya bekerja dari jam 21:00 sampai 23:00 yang hanya terasa beberapa menit. Dia mulai melangkah keluar, berjalan sambil melihat kesekitar. Saat dia berjalan, dia dikejutkan dengan suara ketikan keyboard yang semakin cepat. Pelan-pelan dia menghampiri suara, semakin lama semakin keras. Dari balik papan, dia melihat seorang pekerja, pekerja itu terlihat sangat serius, di komputernya terpampang beberapa nama kontestan Absolute Duo. Dia kembali melangkah, entah kemana dia sekarang, tapi seseorang menunggu di depan kantor. Segera dia menuju ke anak kecil yang berdiri terdiam.
"Oh, Venom. Maaf paman tidak menjemputmu" Wajah sok bersalah.
"Tak apa Paman. Lagipula aku sibuk dengan iblis yang baru-baru ini mengganggu hidupku" wajah dingin.
"Iblis? Kenapa kamu tidak membunuhnya?" herannya.
"Karena.."
Tiba-tiba seorang wanita muncul dari balik Venom. Pemimpin terkejut setengah mati, dia melihat baik-baik yang disembunyikan keponakan angkatnya. Telinga kucing, rambut hitam pekat, mata hitam mengancam, memakai jaket cukup tebal, dan celana pendek. Sekejap pemimpin tersenyum lebar menatap Venom. Venom kebingungan melihat pamannya.
"Apa?" tanya Venom.
"Hemmmm, apa kau tidak tahu? Ini namanya hoki" berbisik ke telinga Venom.
(Venom membalas dengan senyuman lebar, dia menarik pamannya berbicara di pojokan dengan suara pelan).
"Ehehehe, lihatlah body-nya Venom. Uhh, apa kau tidak terangsang? Telinga kucing asli, seperti di anime. Beneran gak tertarik?" nada menggoda.
"Ehehehe, apa paman tidak sayang nyawa saat Bibi mendengar apa yang paman katakan?" senyum jahat.
__ADS_1
(Venom mengangkat telepon)
"Ya, halo Bibi, ini loh paman lagi nonton video por..."
Pemimpin langsung mengambil telepon Venom, membantingnya ke lantai. Wajahnya sangat ketakutan saat Venom mencoba memberitahu kebiasaan pemimpin.
"Langsung ke intinya saja Venom. Aku butuh bantuanmu kemari seperti biasa. Mengamati potensi para kontestan Absolute Duo besok. Apa kau keberatan" mendadak berubah serius.
"Seperti dulu ya. Baik, tapi jika tidak ada petensi yang menarik seperti dulu, akan kuadukan Bibi kumpulan file terlarang Paman. Bagaimana?" mengajukan tangan dengan senyum beralasan.
"Hah, baiklah-baiklah" terpaksa.
Pemimpin membawa Venom ke tempat rahasia dimana mereka selalu bekerja sehari sebelum kontes Absolute Duo dimulai. Mereka memasuki ruangan, Venom melihat kesekitar. Sudah lama tidak bercengkerama dengan ruangan mereka membuatnya teringat akan kejadian dulu. Dulu sekali saat pemimpin masih belum memiliki Hanna sebagai pelayannya. Venom mengambil daftar peserta kontes Absolute Duo. Dia mengamati dengan serius, tak lama senyum seringainya keluar.
"Aku menemukanmu"
"Tidak apa. Hanya kontestan dengan potensi agak menarik" balas Venom dingin.
"Hah, aku ketiduran di kantor toh. Ahhhh, pulang dulu" berdiri.
Aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin, tapi aku berniat untuk kembali ke rumah. Tubuhku agak terasa berat, mungkin karena mimpi buruk terburuk yang pernah kualami selama enam kali. Sesampainya di pintu depan, kulihat Tee-chan dengan pakaian mewah sedang bersender di mobil mewahnya juga. Memakai kacamata hitam biar terlihat keren. Tapi, ternyata tidak.
"Yohan, cepat!! Kita akan termlambat pergi kontes!!" menarik tangan Yohan.
"Jangan lempar aku!!" teriakku.
Diriku dilemparnya masuk ke kursi penumpang. Tulang leherku serasa hampir patah menghantam pintu mobil. Belum juga aku duduk dengan benar, Tee-chan sudah tancap gas, ugal-ugalan seperti pembalap jalanan. Wajahnya terlihat khawatir.
__ADS_1
"Cepatlah pakai pakaianmu" melempar tas ke wajah Yohan.
"Ha, apa kau gila?!! Kenapa aku harus mengganti bajuku? Dan lagi, kemana kita akan pergi?!!" marahku.
"Tidak ada waktu bodoh, kontes dimulai 3 menit lagi. Dan jaraknya masih 1 KM jauhnya. Cepat dan ganti, Yuna sudah menonton lama payah" balas marah Tee-chan.
"Oh-O-Oke" takutku.
(adegan tak tergambarkan).
Tee-chan langsung menginjak rem dalam-dalam, aku terpental sampai ke depan, wajahku retak menghantam kaca depan mobil. Tee-chan menarik tanganku keluar, kepalaku pusing tidak bisa melihat dengan benar. Tiba-tiba Tee-chan melemparku jauh kedepannya, seperti barang rusak saja. Tubuhku tergesek tanah beberapa meter, wajah gantengku hancur begitu saja.
"Dan inilah kontestan kita selanjutnya. Yohan dan Yuna melawan Ceren dan Biscuit"
Aku tidak berpikir apa-apa lagi, penonton bersorak keras. Aku berdiri dengan terhuyung-huyung karena adegan ganas yang baru saja kualami. Aku tidak mampu melihat lawan dengan jelas, tiba-tiba suara lonceng berbunyi. Dia langsung menyerangku, aku terpental menyentuh tanah beberapa kali, dengan tulang patah dimana-mana. Amarahku tidak bisa kupendam lagi, aku berdiri mengeluarkan pedang jiwaku. Kulihat wajah musuhku, aura mengganas keluar. Bajuku mengambang.
"Mati kau!!!" teriakku.
"Sekarang baru menyenangkan" gertak musuh.
Crasss....
"Wooo, apa ini?!! Yohan menang dalam sekali gores, tak dipercaya Biscuit ahli pedang kalah dalam satu gores oleh peringkat perunggu. Dan pemenangnya, Yohan dan Yuna!!"
(Teluk tangan bergemuruh)
"Apaan ini? Kenapa kekuatan Yohan bisa sebesar itu?" Yuna menatap tak berkedip.
__ADS_1
"Hoo, menarik. Paman memang mempunyai kartu andalannya, tapi tunggu saja Yohan. Saat kartu andalanku muncul, kita lihat saja" tersenyum senang.