Z World

Z World
Episode Z: 1 langkah menang


__ADS_3

"Yohan, kau ada waktu sebentar?" mengetuk pintu kamar Yohan.


"...."


"Yohan, cepat buka pintunya!!" mendobrak pintu.


Sangking teramat kerasnya Grimoire mendobrak, pintunya copot. Tubuhnya sempat terjatuh menghantam lantai, tanpa memikirkan rasa sakit apapun, dirinya langsung menarik selimut Yohan, sungguh terkejutnya dirinya saat melihat pemandangan.


"Loh, dimana dirinya?" membeku.


"Flaming, bunuh dia" menatap sadis.


"Tunggu Tuan, aku memiliki anak dan istri yang aku urus..." bersujud, memohon ampun atas nyawanya.


"Bagus, temukan dia Celia, kita akan membunuhnya bersama keluarganya. Biar dia tahu siapa yang dia hadapi" menginjak kepala orang itu.


"Baik Tuan" memberi hormat lalu pergi.


Ahh, kutemukan satu lalat lagi yang tersangkut dengan peristiwa pembunuhan keluargaku. Kaki kananku masih merasa gatal, hanya menginjak-injak kepalanya tidak menggaruk rasa gatal manapun. Tak lama, Celia, perempuan perwujudan elemen air datang melemparkan tiga orang. Kulihat ke arah mereka yang berkumpul, terlihat seorang wanita tua yang memeluk kedua anaknya. Kuangkat kakiku dari kepalanya, kutawarkan kebaikanku.


"Kutawarkan kebaikanku, jika kamu mau memperkosa anakmu sendiri, kupertimbangkan hidupmu dan hidup keluargamu" menyeringai ke arah pria yang dia injak tadi.


Belum juga beberapa detik, dirinya langsung melucuti tubuh anak perempuannya. Walau anaknya menangis menderu-deru, demikian begitu Ayahnya tetap berusaha keras menelanjangi anaknya diselingi kata-kata kasar yang ia lontarkan. Geraknya berhenti, wajah pria itu seketika berubah, saat kupegangi tangannya yang asyik menyentuh tubuh anaknya. Dengan tatapan jijik nan keji ku lontarkan kata-kataku.


"Dasar orang tua busuk" melempar tubuhnya ke langit, menghantam sampai atap rumah roboh.


"Lain kali, pilihlah laki-laki yang bisa bertanggung jawab, walau nyawa taruhannya" berbalik badan dan segera pergi di bayang-bayang.


Aku berjalan menuju desa selanjutnya, setelah mendapatkan informasi dari air yang menguap milik Celia, dia merasakan ada aura berwarna merah di desa Figril, desa terpencil sebelah utara kerajaan Flame, kira-kira sejauh 160 kilometer lebih. Perjalanan yang sangat jauh diselingi alunan bau bunga kematian, membuatku pusing, kumencoba menahan nyanyian Celia yang begitu merdu sampai-sampai ingin pecah kepalaku.


"(Hoi-hoi, kau kan tuannya, kenapa tidak menyuruhnya berhenti bernyanyi?!)" Kata Flaming berkata dalam hati.


"(Yang benar saja, aku baru saja menyenangkan hatinya, jangan buat dia kecewa lagi, nanti aku kena tumbuknya)" ucapku penuh alasan.


"(Hii, bahkan bunga pada layu, aku kabur dulu, kau kan tuannya, jadi temani dia, dadah)" melihat bunga yang layu dengan wajah geli.


"Ahh, anu, Celia maaf, aku harus kembali ke desa tadi, tongkat sihirku ketinggalan" wajah penuh keringat tidak menyadari memegang tongkatnya sendiri.


"Loh, Flaming, kan tongkatmu kau pegang, apa hari ini kamu sakit? Aku bisa nyembuhin kok" kata Celia dengan wajah gembira menawarkan pengobatan.


"Begini Celia, Flaming.." bisikku ke telinga Celia.


Beberapa kata yang tidak Flaming sadari..


"Oh, ja-jadi kamu begituan ya Flaming? Ka-Kalau begitu, semoga langgeng ya, cepat-cepat periksa" menyalami tangan Flaming dengan wajah tegang.


"Ha, apa? Aku kan.." Flaming belum selesai bicara.


"(Sudah sana, katanya mau pergi)" kataku ke Flaming.

__ADS_1


"Oh iya, terima kasih ya Celia, bye" berubah menjadi api dan menghilang.


Huh, kemampuan nge-les milik Flaming buruk juga, jika aku tidak memotong pembicaraan Celia, apa jadinya perasaannya sekarang. Yang penting bukan tentang Flaming sekarang, kepalaku begitu sakit mendengar nyanyian Putri Air, tuhan tolong aku!!


Beberapa menit yang memusingkan.


Akhirnya kita sampai ke desa terdekat, kami masuk ke sebuah penginapan, tanpa pikir panjang dan secara tak sengaja ku pesan kamar khusus untuk bulan madu. Kubanting tubuhku ke kasur, ahh, rasanya seperti ribuan jarum menusuk kepala lepas begitu saja. Kulirik Celia yang tertunduk malu di pinggirku. Aku mencoba duduk, sambil kulihati wajahnya.


"Celia apa ada yang salah?" tanyaku masih merasa pusing.


"Emm, anu Yohan" memalingkan pandangan.


"Iya ada apa?" tidak peka sama sekali.


"Itu, apakah kamu yakin Falming beneran punya pacar?" malu-malu.


"Hah? Tidak, dia hanya menjarah beberapa rumah goblin, biasa latihan dasar" jelasku sedikit mabuk.


"Benarkah?" tanya Celia gembira.


"Tidaklah!! Mana mungkin kita menyerang mahluk tidak bersalah, sudah aku mau tidur, kalau sudah sore bangunkan aku ya" segera menyiapkan diri.


"Baik" tertunduk lesu.


Sore hari tiba, kuterbangun, melihat keluar jendela, hanya aktifitas warga desa biasa, tapi ada yang terasa janggal. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di lantai bawah, segera kumenuju ke lokasi. Saat aku turun ternyata, terlihat sekumpulan orang bodoh yang merasa diri mereka hebat sedang meminta uang keamanan.


"Beri kami uang!"


"Wah-wah siapa ini? Bocah perunggu" melirik ke arah Yohan.


"Tak perlu basa-basi, ayo adu kekuatan" kataku menantang.


"Wah bocah perunggu tak tahu malu, jangan sampai mati ya" katanya sadis.


"Heh, mati? Tapi ada syarat, jika aku kalah, aku akan menjadi budak kalian dan kedua pacarku kamu apakan lah tidak mau tahu, tapi jika kalian kalah, bersiaplah mengembalikan uang haram kalian ke orang-orang sambil mencium kaki mereka" tersenyum.


"Hah, mudah saja. Ayo semuanya keluar!!" mengajak anak buahnya keluar.


Peringkat gold apanya, kami berjalan keluar menuju ke tanah yang dibilang cukup luas. Orang-orang desa ikut menonton kami, kulirik ke arah mereka dan berkata.


"Kalian semua masuklah, akan kuwakili keadilan bagi kalian" ucapku.


Tak lama, para warga desa kembali ke rumah mereka masing-masing, karena masih penasaran, sebagian ada yang mengintip daru jendela. Tiba-tiba seorang dari mereka menyerangku menggunakan rantai, sontak aku melompat tinggi, sangking tingginya aku lupa bahwa aku seorang penyihir. Kuarahkan kedua tanganku ke arah mereka, bukannya komat-kamit membaca mantra, malah kotoran burung yang menetes ke arah mereka. Aku menginjakkan kaki ke tanah dengan perasaan lega.


"Hahh, sudah lama tidak seenak ini" kataku tidak peka melihat situasi.


"Hihh!! Nasibmu buruk sekali bocah perunggu!! Semua serang bersama!!" mengeluarkan pedangnya dipenuhi marah yang meluap-luap.


Tak peduli apa yang mereka katakan, sekarang mereka hanya merintih kesakitan dan memohon ampun kepada Flaming dan Celia. Tak kusangka, mereka bisa muncul tanpa kupanggil. Flaming dengan kelribadian gandanya sedang menginjak-injak punggung pemimpin mereka. Celia dengan perasaan gembira sudah merasakan menghajar orang untuk kedua kalinya datang ke arahku yang sedang menikmati tidur sore hari.

__ADS_1


"Hahh, ada apa Celia?" terbangun dari tidur.


"Emm, anu, bisakah nanti kamu datang ke Flaming?" tanya balik Celia.


"Hah, baiklah. Apakah mereka sudah memberikan uang ke warga?(semoga bukan kakaknya)" jawabku sedikit khawatir.


Warga desa berteriak bahagia, setelah para cecunguk itu membagi uang, mereka langsung pergi menuju ke kerajaan Doman, sambil berlari mereka mengancamku akan mengirim orang. Huh, memang orang kaya banyak lagak. Kuhiraukan saja perkataan mereka, kuberdiri dari tidurku, menuju ke pohon terdekat untuk mengambil batu. Untung, batunya sebesar genggaman tanganku, kuambil dan kulemparkan ke kepala bocah itu. Dia pingsan seketika di tempat.


"Bawa tuanmu itu, lebih bagus dia menyuruh orang dengan skill beneran bukannya abal-anal, lumayan, buat ngelatih Flaming dan Celia" menghampiri dengan lagak orang bijak.


"(Orang bijak apanya, barusan di ranjang sama Celia ngapain?)" ucap Flaming menyinggung Yohan.


"Ukkhh, aku tidak melakukan apapun ke Celia!!" marah ke Flaming.


"(Booosan, tiap hari latihan, ya sedikit enak-enak kan gak apa?)" wajah penuh aura kebosanan.


"Enak-enak gundulmu! Nanti yang tanggung jawab aku!" memukul kepala Flaming.


"(Kenapa dengan Yohan ya?)" bisik Celia dalam hati.


"Ce-Li-A, apakah kamu lupa batin kita bertiga tersambung?" kata Flaming.


Warga desa dengan perasaan yang membara-bara ingin berterima kasih kepada Yohan berbondong-bondong menuju ke TKP, sesampainya di sana, bukan terima kasih yang terucap, tapi mereka hanya diam membeku, canggung ingin berbuat apa jika ada satu laki-laki dan dua perempuan yang begitu dekat. Mereka berpikir, bukan terima kasih namanya jika mengganggu orang bermesraan. Pelan-pelan warga desa mundur ke rumah masing-masing dan beraktivitas seperti biasa. Mengetahui itu dan juga uangku mulai menipis, kugunakan ksempatan emas ini untuk nanti.


"Hemm, palingan disini hanya ada hewan dengan sihir level rendah. Flaming, Celia, coba buru mereka, lagian kan ini latihan, dan siapa yang mendapatkan materi sihir hewan paling banyak, akan aku kasih hadiah" tersenyum penuh siasat.


"Siap Tuan!!" jawab Celia dan Flaming serentak menghilang di balik pohon.


"Hahh, sekarang mau kultivasi dulu ah, lumayan buat ningkatin level sihir" bersila di bawah pohon.


Beberapa saat kemudian...


Kubuka mataku, rasanya sangat segar sekali badanku ini, sangking segarnya, aku tak menyangka hari sudah malam. Aku berjalan menuju ke alun-alun desa, "Flaming dan Celia belum pulang juga", gumamku. Aku terduduk di kursi dekat air mancur kecil, kulihati bawa sekitar memang dingin, kugunakan sihir anginku untuk mengurangi hawa dinginku. Aku masih termenung, berpikir untuk sementara waktu. "Bulan purnama, bukankah ini kekuatanku mencapai puncak ya?", gumamku. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, seseorang menyerangku, dia melemparkan beberapa belati ke arahku. Sudah kuduga, hanya menggunakan sihir anginku pasti belatinya berbalik arah.


Tidak sesuai dugaanku, belatinya tidak terkena sihirku sedikitpun. Segera aku melompat ke atas, angin dingin menembus pakaianku, ini membuatku tidak bisa bergerak leluasa. Terlihat, 2 orang berpakaian gelap-gelap bersembunyi di balik atap rumah. Berbahaya jika melawan mereka di desa, setelah diriku menapak tanah, belum juga bergerak, dia sudah melemparkan belatinya lagi. Ini akan menjadi pertarungan yang sulit.


Segera aku berlari secepat angin menuju ke tanah lapang, tak disangka mereka mengikutiku. Aku berhenti tepat di tengah padang rumput, kubalik badanku, sudah terlihat. Dua orang yang saling melindungi, satu orang terlihat sedang memegang beberapa belati, dan satu orangnya memeganf tongkat sihir, kombinasi untuk selalu menyerang.


"Apa yang ingin kalian lakukan kepadaku?" bertanya, kaki gemetar.


"Kami? Apa yang kau bicarakan?" tanya balik orang yang membawa belati untuk memusingkan Yohan.


"Hah, sungguh sulit bicara dengan orang bodoh. Satunya laki-laki bodoh, dan satunya wanita sok cantik" wajah kecewa.


"Ba-Bagaimana kau tahu?!!" orang yang membawa tongkat sihir terkejut.


"Sudah, tingkatakan kalian itu masih... Bayi untuk mengalahkanku(Flaming, Celia, cepat jawab kalian dimana? Aku tidak bisa mengalahkan mereka berdua sendirian)" semakin takut, tidak sengaja mengompol di celana.


"Hoo, mari kita lihat siapa yang bayi" posisi bersiap untuk menyerang.

__ADS_1


"(Baiklah kalau kalian tidak ada, akan kulawan mereka walau tubuhku bayarannya)" mengeluarkan tongkat sihir En.


Tongkat sihir En adalah tongkat sihir yang terbuat dari kayu pohon sihir yang mulai sulit ditemukan keberadaannya, hanya mampu dibuat oleh tangan handal, terdapat banyak di desa Flame. Hadiah dari Kakek tua yang dulu pernah memberikan buku kepada Yohan.


__ADS_2