
"Hai, kapan kita sampai?" tanyaku mengantuk.
"Tunggu saja, kota Doman sangat jauh. Butuh 1 hari jika menggunakan kuda. Jika mau tidur, tidur saja, aku tidak mengantuk" kata polisi amatir yang hanya senyam-senyum.
"Gila kau, aku naik kudamu tidak boleh. Dan juga, aku harus mengurusi sekitarmu, banyak sekali predator. Isitirahat napa?" menyeringai menakuti predator.
"Ini juga latihan untukmu. Kamu kan masih amatir" bujuk polisi amatir.
"Cuih(bukankah kau yang lebih amatir? Padahal aku ingin pergi sendiri, tapi malah ada dirimu. Payah sekali pemikiranmu)" marah, mengepalkan tangan.
Hari sudah sore, kuberi cabuti beberapa rumput di halaman depan. Dirasa cukup, kubawa ke kandang kuda miliknya, aku mengerti perasaan hewan ini, belum makan selama beberapa jam, cukup lama. Aku masih tidak habis pikir, siapa sebenarnya wanita payah ini? Mungkin tentara bayaran. Kuamati mentari yang mulai tenggelam, pemandangan yang bagus dilihat di tempat lain.
Aku celingak-celinguk, kubuka banyak sekali pintu, tapi tidak ada kasur. Hanya satu kasur di kamar wanita itu.
"Hahh, lebih baik aku istirahat. Daripada mati di luar" berjalan menuju kasur.
"Hai, berhenti!"
Tiba-tiba dia mengarahkan busur silangnya ke arahku, sejak kapan dia mengambil busur itu. Dalam hati aku tertawa hebat, apa dia tak merasa, busur itu tak mempunyai amunisi. Sudahlah, payah tetap payah.
"Cepat tembak, aku tidak akan merasa sakit" berjalan mendekat.
"Berhenti atau aku tembak!" tangan bergetar.
"Tembaklah, atau malam ini kau akan begadang" wajah bejat.
"Tidak!!"
Dia menembakkannya, nyawaku melayang. Hahh, belum membahagiakan orang tuaku, aku anak yang payah. Selamat tinggal Kakek, maaf atas paketnya, selamat tinggal Venus, Kakakmu tidak bisa menemanimu tumbuh dewasa. Tubuhku tergeletak ke tanah, aku mencoba tidak bernafas. Wanita itu langsung beranjak dari kasur, wajahnya sangat khawatir.
"(Ihihi, mampus. Salahnya mengancamku)" kata Yohan dalam hati.
"Tidak, kenapa kau mati. Hai, bangunlah. Bangun!!" menepuk-nepuk pipi Yohan.
"(Payah, sakit banget. Tapi aku harus tahan)"
__ADS_1
"Hei, aku belum membalas budimu,(aku merasa malu)jika kau hidup, akan kulakukan apapun demimu" meneteskan air mata.
"Benarkah?!!" kejutku, langsung terduduk.
Dia masih menunduk nangis, tak kusangka bodohnya merasuk ke tulang. Aku melihatnya menangis, tapi sepertinya itu sepadan. Dalam hatiku terbersit, ingin sekali menjahilinya sekali lagi.
"Yohan. Namaku Yohan" kataku sekarat.
"Namaku Charlotte. Hik, apakah kau bisa bangun. Kakak?!" membuka mata, mengelap air mata.
"Hii, Kakak gundul mu. Umurku baru 14 tahun" berdiri di pojokan.
Tak kusangka kebodohannya sampai kesitu, sampai-sampai tubuhku merasa jijik dekat dengannya. Kuberjalan menyusuri dinding menuju ke pintu, dia melihatiku tak berkedip. Kulihat dia dengan wajah jijik, kuambil tasku, berjalan kembali menutup pintu. Daripada tinggal bersamanya, lebih baik aku mati tercabik-cabik singa tadi.
Dan akhirnya sampai seperti ini. Pagi hari tiba, tiba-tiba dia berhenti, aku bingung dengan wanita ini. Aku hanya duduk, tidak peduli lagi apa yang dia lakukan. Dia berjalan kesana-kemari mengumpulkan ranting yang berjatuhan, mengumpulkannya menjadi satu. Mungkin dia ingin membuat api unggun, tapi ini sudah pagi. Dia mengambil sesuatu di tas yang dibawa kudanya. Dia mengeluarkan selimut, menggelarnya di tanah, seakan-akan ini malam hari. Kulihat terus wajahnya, mungkin saja kebodohannya merasuk ke dalam diriku dengan begitu aku tahu maksud apa yang dia lakukan.
"Hai, apa yang kau lakukan?" tanyaku kesal.
"Hahhhh, aku mau tidur" wajah mengantuk.
"Mungkin ini akan membuat kebodohannya berkurang" bersendeh di pohon.
Mulai kututup mataku, rasa kantukku mulai terasa. Tiba-tiba seseorang menduduki tubuhku, dadaku merasa sesak, posisiku yang tengkurap membuatku tak mampu bergerak sedikitpun. Kepalaku kuusahakan melihat ke belakang diriku, ternyata Charlotte yang hanya senyam-senyum melihatiku.
"Hai payah. Minggir atau aku bunuh" ancamku sekarat.
"Wehhh, mudah banget. Tidak boleh, orang bejat harus dihukum setara, atau lebih berat lagi. Jika kamu mau minta maaf sudah meninggalkanku, aku akan duduk di anu-mu yang biasa kau gunakan untuk berpikir" goda Charlotte.
"Goblog, hempaskan!" mengarahkan tangan ke tubuh Charlotte.
Charlotte terpental, aku menggunakan sedikit sihirku, dia hanya terpental sampai telapak kakiku. Kuberdiri merenggangkan badan, tak kusangka hari sudah malam. Tapi, aku sangat terkejut sampai-sampai yang kulihat didepanku seperti mimpi, mimpi terbaik yang pernah kurasakan. Aku berdiri tepat di depan gerbang masuk kota Doman, bukan, sebenarnya ini kerajaan. Terlihat lampu-lampu dari pasar yang aku masuki, bahkan kota Doman belum tidur walau masih malam. Charlotte tiba-tiba meloncat ke atas punggungku. Badanku hampir kehilangan keseimbangan, kulirik dia dengan wajah kesal.
"Hai, tirunlah Charlotte!" kesalku sedikit berteriak.
"Hai, terima kasihlah telah kuantar sampai tujuanmu. Ayo kuda!! Antar aku sampai istana" menari-nari kegirangan.
__ADS_1
"Hai, diamlah. Dan biarkan aku..uhhh(masa depanku, pe..cah)" menahan sakit.
Sungguh bodoh wanita ini, dia tak berhenti menunjuk kemana-mana, dia ingin kesana kesini kesitu, setiap warung dia tunjuki. Hanya bermodalkan wajah kegirangan yang cantik dia merebut perhatian para jomblo yang ada di alun-alun. Pertama, anu-ku dia tendang cukup keras, rasanya tidak karuan. Kedua, kebodohannya yang sudah merasuk dalam sampai ketulang-tulang. Ketiga, para jomblo alun-alun melihatku dengan mata sinis, ini membuatku membuatku berkeringat banyak.
"Hai Charlotte, bisakah kau turun dulu. Aku sangat lelah, apalagi didepanku adalah tangga yang panjang" terengah-engah.
"Hahh, Yohan tidak seru. Kalau begitu bopong aku" turun dari punggung Yohan.
"Apa kau gila!! Tadi minta gendong sekarang bopong. Aku tidak akan melakukannya!!" bentakku.
"Tidak apa nih, aku pecahkan **** yang Yohan bawa" mengambil guci dari tas kuda.
"(Sejak kapan dia berubah pintar) Ehehe, Charlotte kita bisa membicarakan ini. Akan kubopong dirimu, tapi jaga baik-baik gucinya" khawatir, keringat mengalir deras.
"Oke" melompat ke tangan Yohan.
Kuberjalan mengarungi samudera. Berapa banyak tangga ini, tanganku mulai merasakan pegal, seperti perjalanan menuju Surga saja. Tangan Charlotte memeluk leherku, hawa seksualku seketika tidak mempan, rasa lelah ini melebihinya. Kesadaranku mulai hilang, mataku sudah melihat buram. Charlotte hanya kegirangan, kakinya yang mengayun ke depan-belakang membuat bebanku bertambah.
"Ya Tuhan. Berilah hambamu kekuatan(hampir sampai)" semangatku.
Mulai kulihat gerbang kerajaan yang dipenuhi kilatan cahaya batu. Sesampainya di depan gerbang, Charlotte kujatuhkan begitu saja. Dia langsung mengomeliku, aku tak mampu mendengarnya. Akhirnya paketku tersampaikan.
Bruukkk....
"Lotta, kau kembali kerumah. Berani-beraninya membawa laki-laki ke sini" mengeluarkan pedang langsung mengacungkan ke leher Yohan.
"Grimoire hentikan!! Dia milikku, aku tahu Kakakku sudah mati, tapi jangan renggut pacarku ini!!" menampar pedang, berdiri di depan Yohan.
"Kalau begitu baiklah, tapi jika aku melihatnya sekali-kali berbuat bejat. Akan kubunuh pacarmu itu" pergi dengan gaya.
Charlotte memeluk tubuh Yohan yang masih pingsan di kasur.
"Tak lama lagi, kau akan menjadi milikku, Yohan" mencium pipi Yohan.
"....."
__ADS_1