
"Hehe, tak kusangka aku berhadapan dengan legenda boneka yang dibicarakan itu. Sebuah kehormatan bertarung denganmu" mengelap darah yang mengalir dari mulutnya.
"Jadi, kau manusia super itu ya. Yang bisa menahan tekanan 3 pelayan skaligus, mempunyai keahlian spesial amukan. Hebat" melepas tali dari tubuh Yohan.
"Woo, pemirsa, pertarungan menjadi tem.."
"DIAM!!!" Yohan dan legenda boneka berteriak keras.
Aku bangun dari tengkurapku setelah dia melepas sihir bonekanya. Aku sangat terbantu setelah Gandasvara dan Bonnie datang tanpa diketahuinya. Aku mencoba menarik perhatiannya dengan berdiskusi sebentar, Gandasvara dan Bonnie sedang mengkombinasi kekuatan mereka. Beberapa menit bertarung aku mengetahui kelemahannya, palayannya tidak bisa berubah menjadi suatu barang dan ketahanan fisiknya lemah. Sejauh yang kurasakan selama pertarungan, saat aku mencoba mendekati pelayannya serasa banyak sekali tali menjerat tubuhku dalam jarak tidak lebih 4 meter, ini yang membuatku hampir kalah. Aku mencoba berbicara lebih lama dengannya, tapi dia menanggapi sebaliknya. Dia sudah bersiap dengan tali cahayanya.
"Jika kau menang, akan kuberitahu namaku" kata legenda boneka.
"Jika kalah?" tanyaku.
"Ya sudah, aku jadi pemenang" berisyarat meremehkan Yohan.
"(Kesempatan bagus)" mengnagkat pedang jiwa.
Singgg...Singgg...
9 pedang jiwa melayang mengitari kami. Aku sudah bersiap melawan dirinya. Kalungku mulai bersinar, akhirnya kekuatan Yuna sudah bangkit. Hatiku tidak merasa khawatir lagi, karena aku akan...
"Huhuhu, kenapa bisa kalah" memelas sambil menempelkan kantung es ke pipinya.
"Kau terlalu meremehkan Anamel, tyer-nya crystal 3. Tapi, pertarungan tadi sungguh menegangkan, bahkan Anamel luka berat, selama ini aku hanya bisa bertahan melawannya 2 menit" menghidupkan mobil.
"Kakak Yohan hebat sekali, baru pertama kali aku melihat 2 hal mengagumkan bersamaan" takjub Yolanda.
"Apa yang bisa dikagumkan dari bocah manja" mengejek Yohan.
"Biarlah, tapi terima kasih Yolanda(berkat Yolanda aku mampu lepas dari jeratan Yuna)" menghadap ke bawah sambil tersenyum.
__ADS_1
Perjalanan pulang diwarnai canda tawa. Aku dan semuanya saling bercanda, aku masih bertanya-tanya di dalam diriku, apakah aku sudah membuat mereka bahagia? Mungkin, tapi pasti akan kutmbuhkan mawar di dalam diri mereka, mulai darimu Tee-chan, calon istriku.
"Paman Zajik memang hebat, apa yang akan dikatakan bibi Hanna saat aku sudah mempunyai pasangan?" tersenyum melihat ke arah langit, mengelus kucing dipangkuannya.
"Hahhh, memang menyenangkan. Tapi, saat kartu As paman kalah, entah kenapa menjadi tidak menarik. Kitty, iblis bodoh, entah darimana kau datang" pergi dari kursi penonton membawa kucing yang ada dipangkuannya.
Dunia Ender, dunia yang masih menjadi misteri para ahli dimensi. Dimensi memang sering disalah artikan sama dengan dunia, tapi memang hampir sama. Hanya saja dimensi adalah hanya jalan dimana kamu akan menuju ke dunia itu. Aku sudah membaca buku buatan para ahli dimensi ini, tapi semakin lama kenapa kepalaku pusing. Mungkin, sudah dari dulu aku payah dalam pelajaran sekolah.
"Apa belum selesai membacanya?" tanya Tee-chan menuju ke Yohan bertangan penuh membawa cangkir kopi.
"Oh, terima kasih Kak Tee-chan" menerima secangkir kopi.
"Tidur sajalah dulu Yohan. Jangan paksakan dirimu" duduk di kursi sebelah Yohan.
"Kenapa Kakak peduli denganku sekarang? Tidak perlu dijawab Kak, aku hanya ingin mengetahui bagaimana cara membuat mereka mewujudkan impian mereka. Aku tahu kenapa Yuna datang kemari. Karena ia ingin aku mengalahkan Sena" membaca buku.
"Hahh, kalau begitu sudahlah. Kau memang keras kepala, jangan tidur larut malam. Besok ada tugas lapangan khusus hanya untukmu" Beranjak pergi.
Beberapa menit setelah meledaknya bom. Gudang hancur lebur, oli hitam mulai berceceran menuju ke laut. Aku memerintahkan Gandasvara untuk memblokir oli, musuh yang kuhadapi seperti boss game saja. Serangan ribuan peluru Tee-chan seakan tidak mempan.
"(Bagus, masuk perangkap) Bonnie, jadilah senjataku" mengnangkat tangan kiri ke langit.
Cahaya meresap ke tangan kiriku, berangsur-angsur berubah menjadi rantai hitam berduri yang membalut tanganku. Shadow berhasil masuk ke perangkap Yuna, sekarang hanya aku dan Bonnie saja yang harus melawan dirinya, kekuatan Tee-chan tidak mempan karena bayangan menyebalkan ini kebal serangan fisik. Kami terperangkap bersama, keberhasilan misi ini tertuju penuh padaku. Yuna berada di luar perangkap untuk menyeimbangkan selama mungkin.
"Shhhhaaaaaa" desisnya.
"Yohan menghindar!!!" teriak Bonnie.
"Cih, aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama" menutup mata sambil berkomat-kamit membanca mantra.
Sihir ilusi Shadow berhasil aku blokir, sekarang aku mengerti. Dia memiliki 2 bentuk tubuh, tubuh manusia untuk melancarkan serangan fisik yang langsung terasa dan serangannya lebih kuat, tubuh roh atau tubuh elemen, dia mampu menghindari semua serangan fisik, tapi serangannya tidak terlalu berasa dan hanya menyerang mental targetnya. Dengan begitu, aku mengetahui cara menyerangnya, butuh waktu untuk dirinya berubah ke bentuk tubuh lain, sekitar 2 detik. Waktu itu terasa cepat bagiku, tapi setelah mempelajari sihir Gandasvara dan Yuna, aku tidak perlu khawatir dengan serangan tubuh roh-nya.
__ADS_1
Shadow berubah, asap hitam mulai bersatu membentuk tubuh manusia hitam yang padu, beraelimutkan kain hitam, hanya mata merahnya yang terlihat. Tanpa aba-aba, dia seketika berada di belakangku, aku yang sedang membatalkan mantraku terpental menghantam perangkap, sangat keras sampai terasa sekali sakitnya. Aku mencoba bangun kembali, tapi entah kenapa tubuhku menolaknya. Aku terasa mengantuk, mungkin ini akhirku.
Cringggg...
Kulihat, cahaya terang. Bukan, gelap gulita. Bukan, mereka bersatu. Lama-kelamaan kulihat tubuh manusia, tapi tidak terlihat perawakannya secara jelas. Dia berdiri menghadapku, berhenti tak bercakap. Sudah beberapa menit kami saling pandang, perasaan aneh apa yang merasukiku, aku serasa mengenalnya. Tidak, tidak mungkin. Aku mengingatnya, dia bukan siapa-siapa, tapi adalah parasit.
"Lepaskan" kata cahaya gelap.
"Tidak akan!" tolakku.
"Lepaskan" bergema.
Suara itu seperti menghantuiku, bergema dari seluruh penjuru, menghantuiku. Aku tutup telingaku erat-erat, serasa pecah telinga ini. Aku merangkak pelan-pelan menuju dirinya. Kuberdiri langsung memukulnya kencang-kencang. Dia sempat terjatuh, tapi rasanya berbeda, suara melengking tinggi keluar dai dirinya. Kepalaku serasa pecah, tubuhku tergeletak tak berdaya merasakan sakit ini. Beberapa detik, suaranya merendah tak beraturan.
"Lepaskan saja Yohan" nada perempuan.
"Tidak akan, aku tidak akan melepaskan diriku" tolak Yohan tergeletak di tanah.
"Aku mohon Yohan, lepaskan diriku. Aku ingin bebas" menangis tak berdaya.
"Kenapa? Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi, Ainyu" meneteskan air mata.
"Aku ingin merasakan apa itu dunia Yohan. Aku ingin merasakan cinta, bahagia, sedih, marah, senang, kecewa, dan mati. Jika aku hanya disini, menerima perasaan palsu, apa artinya hidup itu. Hik" mengelap air mata.
"Tapi, aku tidak ingin kehilanganmu lagi Ainyu" merayap mendekati Ainyu.
"Apakah kau lupa Yohan. Janjimu, ingin membuatku bahagia?" kata Ainyu mengelus pipi Yohan.
"Ainyu, bergabunglah denganku!!!"
Aku berdiri, kulihat dunia asli kembali. Akhirnya kekuatan yang kunantikan sejak dulu, entah kenapa bangkit begitu saja.
__ADS_1