
"Segera tim Alpha menuju ke ruang komando, saya ulangi, segera tim Alpha menuju ke ruang komando".
"(Sudah waktunya misi)Hei, ambil ini, aku bayarkan dia" menyerahkan kartu dan segera pergi.
Segera kubawa senjata yang aku beli, kuberlari menuju ke ruang komando yang letaknya lumayan jauh dari sini. Sesampainya di ruang komando, anggota Alpha lainnya sudah sampai, dengan tatapan kesal mereka menungguku begitu lama, tanpa berkata, aku segera berbaris. Seseorang yang duduk di depan kami, tidak lain pemimpin dari persatuan Foxy.
"Kalian, diminta untuk menuju ke area K-5" kata pemimpin persatuan.
Seketika kami terkejut, area K-5 adalah area paling berbahaya sepanjang masa, tidak ada orang berani kesana kecuali untuk misi bunuh diri.
"Tim Delta juga akan membantu kalian, begitu juga tim Valkyrja dari persatuan Celirica. Menurut informasi yang diberikan persatuan Gnome, mereka melihat pergerakan, makhluk hidup baru, untuk sekarang informasi masih terbatas. Kalian ke sana hanya untuk mengamati, meneliti, sebaik mungkin hindari kontak langsung dari Blood Driver. Akan kuberi kalian semua alat pelacak dan kamera begitu juga akses kesemua senjata tingkat tinggi, tapi ingat, misi ini tidak bisa menjamin keselamatan kalian. Para Hunter" melambaikan tangan kecil mengatakan menyuruh kita pergi.
Saat Alpha-1 membuka pintu, tim Delta sudah menunggu kami di depan pintu. Dengan tatapan sengit Alpha-1, sepertinya hubungan tim Alpha dan Delta masih belum membaik.
"Ha, apa yang kau bawa itu Alpha-6? Senjata payah lagi ya" ejek Delta-2.
"Untuk apa kamu mengurusi hidup orang lain, pecundang" balasku mengerutkan dahi.
Sudah lama aku ingin membunuh Delta-2, demi masuk ke tim Delta, dia mengorbankan anggota tim, orang seperti dia sudah tidak bisa dipercaya lagi.
3 tahun yang lalu, pelatihan Hunter...
Kami menjalankan tugas terakhir untuk menjadi seorang Hunter, misi yang sesungguhnya. 1 tim diisi 3 orang peserta, dan pemilihannya diacak. Saat itu, aku satu tim dengannya, dan juga seorang wanita yang pertama kali yang mengenalku.
"Wah, Yohan jadi teman satu timku. Hehe" senyum wanita itu langsung menghadap Yohan.
"...." tengok Yohan ke wajah wanita itu.
"Duh, Yohan masih saja dingin. Apakah ini rahasia untuk menjadi ranking pertama?" mengelus-elus rambut Yohan.
Kubiarkan saja dirinya mengelus-elus rambutku, sudah memang begini sejak lama, apa bisa kukatakan sejak kami bertemu, tak lama seseorang datang ke arahku. Aku melirik dirinya, kurasakan hawa tidak enak dari dirinya.
"Hei, ayo cepat ranking pertama. Ini giliran kita" berhenti di hadapan Yohan setelah itu berjalan lagi menuju mobil pengangkut.
"Hoo, ayo Yohan, aku sudah tidak sabar" menarik tangan Yohan.
"....".
Dia menarikku masuk ke dalam mobil pengangkut, di dalam mobil dia masih saja cerewet. Menceritakan semua kejadian yang dia alami selama pelatihan, aku hanya bisa memantukkan kepala.
__ADS_1
"Hei Yohan!! Apa kamu mendengarkanku?! Setiap hari membaca buku, menembak, berpedang, hah, hidupmu membosankan!" cemburunya memalingkan wajah.
"Demi menyelamatkan umat manusia, aku harus berusaha keras, dan juga untuk membalaskan dendam keluargaku!" jawabku meremuk buku yang kubaca.
"Yo..Han" tatap wanita itu sedikit menangis terharu.
"Semuanya sudah sampai!! Ingat! Blood Drive yang disana hanya level satu, walaupun level satu, kalian harus tetap berhati-hati. Kalian bertiga akan ditugaskan untuk membawa bendera kembali ke mobil ini, akan ada Hunter yang berjaga di pintu depan jika saja kalian menemui masalah" kata pelatih membuka pintu.
"Baik!!" jawab kami bertiga serentak.
Segera kami berjalan serentak, laki-laki yang bersama kami itu bekerja sebagai pengintai, aku sebagai penyerang, dan wanita yang tadi bekerja sebagai pembantu. Kami menemui unit Hunter di pintu masuk, mereka menunjukkan arah dimana bendera berada, lebih tepatnya memberikan kami peta kertas. Kuambil petanya, terlihat petanya berada di posisi paling belakang pojok kanan. Kami masih berada di pintu masuk dan merencanakan sesuatu terlebih dahulu.
"Mina, kamu ikut bersamaku, kami akan berjalan ke tempat-tempat terang, kamu entah siapa namamu, akan berjalan sesuai komandoku jika Blood Driver terdeteksi, mengerti?!!" kataku tegas.
"Blood Driver akan nampak jika kalian sudah berada barisan depan" kata salah satu Hunter yang berjaga di pintu depan.
"Terima kasih infonya, ayo semuanya berjuang!!" semangat Mina.
"Panggil aku Kuro, kawan" mengajukan tangan ke Yohan.
"Mohon bantuannya Kuro" jawab Yohan menyalami tangannya.
Kami mulai bergerak ke arah kiri, jika kami langsung bergerak ke arah kanan, bisa dikhawatirkan akan ada banyak Blood Drive di sana, lagipula, tempat yang dibuat latihan adalah labirin yang lumayan sempit di tengah gurun. Kami berhenti sejenak setelah beberapa 200 meter jauh dari pintu depan, kami terduduk di balik tembok, menunggu informasi dari Mina yang sedang memindai keberadaan Blood Drive.
"Didepan kita, Kuro kau urus Blood Drive di depan kita, Mina ikuti aku mengeksekusi dua Blood Drive lainnya" kataku mengambil ancang-ancang, memegang senjata api di tangannya.
Tak lama Kuro langsung meloncat ke tembok di depannya, pandangannya mengarah ke kirinya, pelan-pelan tapi pasti, dia diam-diam mendekati targetnya. Aku juga tidak boleh kalah, jika menggunakan senjata jarak dekat mungkin berbahaya, Blood Drive yang satunya bisa menyerang dari arah lain dan kemungkinan aku untuk menghindari sangat kecil. Setelah bergerak melewati beberapa lapis tembok yang membingungkan, aku menempel di tembok, tepat di sebelah kiriku terdengar suara geraman mereka.
"Rekomendasi peluru?" tanyau sambil mengintip.
"Rekomendasi peluru Blatz-1" kata Mina memberikan amunisi.
"Sekitar 6 meter ya, Mina, berikan aku perrdam suaranya" tangan menengadah.
Kupasang peredam suara di pistolku, kuintip dari balik tembok, menunggu salah satu dari mereka menatap ke arah sebaliknya. Saatnya, pelan-pelan kuarahkan pistol ke kepala Blood Drive yang mengadap diriku. Seperti pembunuh handal, tanpa meninggalkan jejak, tubuhnya sudah tumbang. Hany tinggal satu, tidak ada kesulitan apapun.
"Target berhasil dibereskan" kataku mengisi amunisi.
"Hei, hebat juga kamu" puji Ruko terduduk di atas dinding.
__ADS_1
"Sama-sama, ayo lanjutkan!" mulai berjalan.
Kami melanjutkan perjalanan kembali, Ruko berjalan di atas dinding untuk mengintai, kadang-kadang aku juga melihat peta dan menyilang beberapa coret dimana tempat kami melewati sebelumnya. Sudah banyak Blood Drive yang kami bunuh, tanpa diketahui sedikitpun.
"Hah, tes ini mudah sekali. Setelah ini selesai aku ingin cepat-cepat mandi" kata Mina menggeliat.
"Ssssstttt.." diam Ruko mengerutkan dahi.
Kurasakan hawa tidak enak di depan kami, memang kami sudah berada dekat dengan bendera yang terletak di atas tiang. Terdengar suara Blood Drive yang menggeram-geram. Bukan hanya satu, tapi banyak. Tiba-tiba, saat aku melangkah, akar merah entah apa itu muncul tepat di depan kami, begitu juga dengan tempat lainnya. Akar yang menjulang tinggi itu masuk kembali ke dalam tanah, Mina terkejut melihat pemindai penuh tanda merah di sekililing kami.
"Tidak mungkin!! Kita terkepung" kejut Mina.
"Apakah? Ini jebakan" Kuro menatap kosong di depan.
"Apa?!! Kita harus segera lari!! Ada Blood Drive tingkat 3, warnanya abu-abu dan 5 Blood Drive tingkat 2, warnanya jingga" mengeluarkan senjata dari tasnya.
"Cih, ayo naik ke dinding Mina" seketika sudah naik ke dinding, mengulurkan tangan.
Mina menangkap tanganku, kusuruh dirinya untuk membuang alat pemindainya yang berat. Tanpa kusadari Kuro sudah meninggalkan kami, dia melemparkanku daging busuk berbau menyengat ke arahku, dia melakukannya agar bisa selamat.
"Keparat!! Mina cepat!!" melompat dari dinding satu ke dinding lain.
Kami terlalu kwalahan, banyak sekali Blood Drive yang mengerubungi kami, tangan mereka mencoba meraihku. Aku terus mencoba melompat dengan cepat, tapi Mina terlalu lambat.
"AAAAA" teriak Mina terpeleset.
"Mina!!" langsung berbalik menarik tangan Mina.
Dirinya berteriak kesakitan, aku mencoba menarik dirinya ke atas sambil beteriak meminta tolong. Kakinya di cakar dan ditarik-tarik Blood Drive. Dirinya hanya tersenyum dengan beberapa bulir air mata kepadaku.
"Tidak, Mina"
"Mina, jangan lakukan!!!"
"Maaf Yohan, kurasa perjuanganku hanya sampai di sini"
"MINA!!!!"
Tangannya dengan lembut melepaskan peganganku, kurasakan hatiku mulai sakit, kenapa diriku bodoh? Padahal aku belum membahagiakan dirinya, belum bercanda tawa dengan dirinya, berrpacaran dan saling mencintai, padahal dia wanita yang baik, kenapa? Kenapa semua orang baik yang kukenal semuanaya mati.
__ADS_1
"Kalian!! Mati!!!" seketika mata berubah menjadi ungu pekat.
Entah apa yang merasuki diriku, aku ditemukan tergeletak di atas dinding oleh tim Rescue, mereka mengatakan tidak ada Blood Drive yang selamat dari kejadian itu, tubuh mereka kering seperti habis disedot oleh sesuatu, kejadian ini juga begitu aneh, kejadian ini juga tidak dipublikasikan dan menjadi rahasia, mereka menyuruhku untuk tutup mulut akan kejadian ini, tapi untuk apa tutup mulut, jika aku sudah tidak membicarakan omong kosong lagi. Semenjak itu diriku berubah, mulai kujauhi orang-orang, aku hanya pembawa nasib buruk, tapi seperti kucing, mereka yang berhati mulia dan baik selalu mendekatiku, dan mencoba memelukku hangat.